happy reading
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon سسكي, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 29
Setelah selesai sholat subuh, Cika duduk di sisi ranjang. Wajah gadis ini sedih. Sampai pagi ini juga belum ada satu orang pun yang ngucapin selamat ulang tahun pada dirinya.
Tidak terasa sudut mata gadis ini menitikkan air matanya. Biasanya kalau di rumahnya, ayah dan ibunya pasti kasih surprise. Namun, kali ini berbeda.
Ustadz Hafid yang baru masuk kamar mengerutkan kedua alisnya. Khawatir. Melihat istrinya kecilnya itu menangis.
"Kenapa menangis, Cika?" tanyanya lalu duduk di samping istri kecilnya itu.
"Ustadz jahat! Ulang tahun istri sendiri nggak ingat! Nggak romantis!" ucapnya dengan derai air matanya. Cika memukul Ustadz Hafid meluapkan kekesalannya.
Ustadz Hafid menepuk jidatnya, gara-gara kejadian istri kecilnya itu mengompol. Ia jadi lupa untuk mengucapkan selamat ulang tahun.
Ustadz Hafid menahan tangan Cika agar berhenti memukul dirinya. Jari jempol dan telunjuknya mengapit dagu Cika, lalu diangkat perlahan-lahan agar mau menatapi dirinya. "Ustadz nggak lupa, mabruk alfa mabruk. Barakallah fii umrik, istriku. Yeah, udah besar. Semoga saja nggak ngompol lagi." Ustadz Hafid mengacak-acak rambut Cika dengan gemas. Tertawa kecil mengingat kejadian semalam.
Cika mengembungkan kedua pipinya. "Palingan Ustadz lupa! Ustadz baru ingat 'kan, setelah aku ingatin?" tanyanya. Cika menyingkirkan tangan Ustadz Hafid dari pipinya. Kenapa pria itu suka sekali mengelus pipinya, dirinya jadi merasa geli sendiri.
"Nggak. Semalam Ustadz udah mau ngucapin. Tapi kamu ngompol. Terus nggak jadi," ucap Ustadz Hafid mencoba menjelaskan sejujur-jujurnya.
"Hanya ngucapin, nggak ada kue ulang tahun atau adegan tiup lilin gitu?" tanyanya penuh harap. Biasanya ia dikasih surpise seperti itu.
Ustadz Hafid tersenyum simpul mendengarnya. "Agama kita melarang hal itu Cika. Karena itu menyerupai tradisi umat non-muslim. Tradisi tersebut juga sering dilakukan oleh kaum yahudi dan nasrani. Untuk itu Allah Subhanahu Wata'ala, dan Rasullullah sangat melarang keras seorang muslim untuk menyerupai dengan suatu kaum, karena bila itu terjadi, kita akan termasuk dari bagian kaum itu," jelas Ustadz Hafid.
Cika menggangguk paham. "Berarti perayaan ulang tahun nggak boleh dong, Tadz?" tanya Cika penasaran.
"Boleh aja tapi lebih ke hal yang bermanfaat saja. Jika ingin merayakannya lakukanlah dengan cara islam yakni undang anak-anak yatim piatu, kasih mereka makan. Itu lebih bermanfaat dan mendapatkan pahala."
"Bertambahnya umur kamu sekarang memang menjadi hari yang spesial, Cika. Namun, harus kamu sadari, bahwa di hari inilah umur kamu pada hakikatnya berkurang. Satu tahun dalam hidup telah berakhir dan tahun demi tahun akan terus berganti.
Moment berkurangnya umur pun dapat kamu jadikan sebagai moment untuk bermuhasabah, apakah kiranya yang akan kamu lakukan di sisa hidupmu dalam ketaatan kepada Allah. Sekarang ustadz mau tanya. Selama tujuh belas tahun ini kebaikan apa yang sudah Cika lakukan untuk kedua orang tua, dan tentunya Allah?" Ustadz Hafid memandang intens wajah istrinya. Telunjuk bergerak menghapus jejak air mata yang masih ada di pipi Cika.
Cika menggelengkan kepalanya pelan. "Nggak ada sepertinya, Tadz. Cika sering sekali membuat ibu dan ayah marah, ngebantah perintah mereka terus, sholat pun baru aku lakukan kembali sejak masuk pondok pesantren ini. Hamba macam apa aku ini, huft ...," sahutnya. Suara Cika terdengar sedih, mengingat dosa-dosa yang dilakukan.
Ustadz Hafid menarik tubuh Cika ke dalam dekapannya. "Allah penerima taubat Cika. Nah, sekarang maksimalkan umur kamu dengan sebaik-baiknya untuk berbuat baik, dan beribadah kepada Allah. Biar jadi bekal kamu di akhirat kelak."
Cika membalas pelukan hangat suaminya itu. "Makasih, Tadz. Udah mengingatkan Cika," ujarnya lalu menatap balik Ustadz Hafid.
Cika gugup tidak karuan. Ustadz Hafid mendekati wajahnya ke wajahnya. Hingga deru napas hangat milik Ustadz Hafid menerpa wajahnya. Refleks ia memejamkan mata.
"Ehem!" Entah sejak kapan Kiai Abdullah masuk dalam kamar. Pria paruh baya ini tersenyum tipis melihat wajah malu putranya yang tertangkap basah. Dengan secepat kilat Cika membuka kedua bola matanya. Ia juga malu.
"Kedatangan kita ganggu sepertinya,"
ucap Nyai Hana, merasa sangat bersalah menggangu moment putra dan menantunya.
"Lain kali tutup pintu, Fid," ujar Kiai Abdullah dengan senyum di bibirnya.
Dengan gerak cepat Nyai Hana menarik tangan suaminya untuk keluar kembali. "Abah ini nggak mau nimang cucu cepat apa?" omel Nyai Hana.
"Siapa yang tidak mau, Ummi. Jelas abah sangat mau."
Setelah mertuanya keluar Cika buru-buru berlari ke kamar mandi untuk menyembunyikan rona merah di wajahnya.