Deg.
Vina terhuyung ke belakang setelah mendengar perkataan Devan barusan.
Tadinya Vina datang berniat memberitahu Devan bahwa dirinya hamil, tapi siapa sangka Vina malah mendengar kabar menyakitkan tentang hubungan mereka.
Tanpa pikir panjang Vina langsung berlari keluar dari apartemen itu dengan air mata yang terus mengalir dari pelupuk matanya.
Vina pergi tanpa memberitahu Devan soal kehamilannya. Toh hubungan mereka tidak bisa lagi di perjuangkan, itu sebabnya Vina memutuskan untuk merawat sendiri bayi yang masih ada di dalam perutnya.
Vina memutuskan pulang ke kampung halamannya meninggalkan semua kenangan yang ada di kota itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delfi Sofya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 29
Pagi-pagi sekali orang rumah sudah sibuk menyiapkan sarapan dan bekal untuk dibawa oleh tuan mereka.
Pagi itu Bayu yang paling bersemangat di antara mereka.
“Ayo cepat sarapan, habis itu kita langsung berangkat ke sana.” Seru Bayu di atas meja makan.
“Dimana Parto, kenapa dia tidak bergabung dengan kita untuk sarapan. Mbok suruh pak Parto kemari, dia harus makan yang banyak agar punya kekuatan yang banyak untuk menyetir.” Perintah Bayu.
“Baik tuan.” Jawab ART itu lalu berlalu menuju kamar Parto.
Devan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah sang papa yang begitu bersemangat ingin bertemu cucunya.
Devan dan Bayu pun memulai acara sarapan mereka sambil menunggu Parto datang.
***
Ditempat lain, tepatnya di sebuah desa.
Pagi itu Vina tengah bersiap-siap untuk mengantarkan Naya ke sekolah sebelum pergi ke warung.
“Bunda ayo nanti Naya terlambat.” Seru gadis kecil itu dari depan pintu rumah, gadis itu seperti tidak sabar untuk segera pergi.
“Iya, iya.” Sahut Naya sambil bergegas keluar dari kamar.
“Ada apa sih, hari ini anak bunda kok kayak semangat sekali ke sekolahnya.” Sambung Vina bertanya.
“Naya mau cepat-cepat ke sekolah, biar pulangnya juga cepat. Ayah kan mau datang, jadi Naya mau pulang cepat biar bisa ketemu Ayah.” Jawab Naya menjelaskan.
Adi yang saat itu sedang duduk di teras, hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah laku sang cucu.
“Ayah, lihat cucumu ini.” Goda Vina yang disambut tawa oleh Adi.
Sedangkan Naya, gadis itu hanya diam dengan senyum dan mata yang sesekali berkedip menambah kesan lucu di wajahnya.
“Bunda kasih tau ya, ayahmu itu akan tiba mungkin siang menjelang sore. Jadi mau Naya pergi cepat atau lambat tetap masih bisa ketemu ayah.”
“Kan ayah kesini juga untuk ketemu Naya, tanpa Naya tunggu juga ayah kamu tetap akan datang lebih dulu mencarimu.” Lanjut Vina berbicara.
“Iya ya bunda.” Polos gadis kecil itu.
“Tapi bunda, teman-teman Naya juga mau ikut untuk melihat ayah. Mereka kira Naya berbohong, jadi Naya suruh ikut saja kalau tidak percaya.” Lanjut Naya.
Vina dan Adi saling menatap mendengar ucapan malaikat kecil mereka.
“Ayo berangkat, nanti telat.” Seru Vina mengalihkan topik pembicaraan.
Kalau sudah menyinggung soal teman-teman Naya yang belakangan ini selalu mengejeknya karna tidak memiliki ayah, Vina tidak akan mau mendengarkan dan membahasnya. Topik itu terlalu sensitif dan rasa bersalah dalam diri wanita itu akan kembali muncul karna Naya harus hadir dari keluarga yang tidak lengkap seperti anak-anak lain.
Sebelum pergi mereka terlebih dulu pamit pada Adi.
***
Setelah mengantarkan Naya ke sekolah, Vina pun melanjutkan langkahnya menuju warung.
Dengan cekatan ia melakukan semuanya sendiri, mulai dari memasak bahkan membersihkan warung sebelum di buka.
Saat semua sudah siap, barulah warung di buka.
Saat di buka pun silih berganti orang datang untuk mengisi perut mereka yang kosong.
“Pesan nasi campurnya dua ya.” Ucap salah satu ibu-ibu yang Vina ketahui sebagai orangtua dari teman Naya di sekolah.
“Sebentar ya Bu.” Balas Vina.
Orang itu berdiri di samping sambil memperhatikan apa yang sedang Vina lakukan.
“Anak saya bilang, di sekolah Naya selalu memamerkan pada teman-temannya kalau dia sebenarnya punya ayah dan rencanannya hari ini akan datang. Apa itu benar, memangnya laki-laki itu mau mengakui dia?” Tanya ibu itu tanpa rasa bersalah.
Vina hanya menanggapi dengan senyuman sambil tangannya cepat-cepat membungkus nasi itu. Vina ingin segera menyelesaikan pesanan ibu itu agar tidak terlalu lama mendengar cibiran terselubung orang itu.
“Kamu diam berarti berita tentang ayah Naya yang akan datang itu tidak benar. Lagian mana mungkin juga laki-laki itu mau, apalagi ini sudah bertahun-tahun lamanya.”
“Saran saya ya, lebih baik kamu carikan ayah baru untuk anakmu. Kasihan dia mungkin karna sering di bully oleh teman-temannya sampai dia harus berbicara seperti itu pada teman-temannya.” Lanjut ibu-ibu itu.
“Ini pesanannya bu, semuanya tiga puluh ribu.” Potong Vina sambil menyerahkan kantong plastik berisi nasi bungkus itu.
Ibu itu pun memberikan tiga lembar uang sepuluh ribu untuk membayar pesanannya.
“Terima kasih.” Ucap Vina sambil beralasan membawa piring ke belakang.
Percuma juga Vina mengatakan yang sebenarnya pada mereka, pastilah mereka tidak percaya. Vina juga malas meladeni cibiran mereka, biarlah mereka mengatakan apapun sesuka mereka.
Hanya doa yang setiap hari Vina panjatkan atas hinaan dan cibiran mereka.
***
Kembali pada Devan dan Bayu.
Mereka tiba lebih awal dari perkiraan yang tadinya mungkin sore menjadi siang, karna Devan dan Bayu yang terus menyuruh Parto mengemudikan mobilnya lebih cepat saking tidak sabarnya bertemu dengan Vina dan Naya.
Mobil mewah yang jarang terlihat di desa itu berhenti di depan halaman rumah keluarga Vina.
Para tetangga yang tak sengaja melihat itu menatap heran kearah rumah itu, banyak pertanyaan yang muncul dalam pikiran mereka.
Salah satunya bu Romlah dan Frans yang dari jauh melihat mobil itu.
Tadi saat dijalan Frans yang entah dari mana berhenti di depan mereka untuk menawarkan tumpangan, dengan senang hati bu Romlah bersama anaknya dan Naya pun ikut.
“Ibu kenal mobil itu, kok berhenti di rumah Vina ya?” Tanya Frans bingung.
Lama bu Romlah memperhatikan mobil itu, sampai motor mendekat barulah bu Romlah ingat.
“Oh itu mobilnya teman Vina waktu di kota dulu, dia juga yang waktu itu menolong kakek Naya waktu pingsan di jalan.” Jelas bu Romlah.
“Naya tau itu siapa?” Kali ini Frans beralih pada Naya. Jawaban bu Romlah rupanya belum memuaskan rasa penasarannya.
“Itu ayah Naya om.” Celetuk Naya dengan polosnya.
“Ayah?” Seru Frans dan bu Romlah serempak. Mereka kaget mendengar ucapan gadis kecil itu.
Saat salah satu dari mereka ingin bertanya lagi, motor sudah berhenti di halaman depan rumah Vina.
Cepat-cepat Naya turun dari mobil itu, sebelum berlari menjangkau mobil itu terlebih dahulu Naya mengucapkan terima kasih atas tumpangan yang di berikan.
“Ayah.” Suara nyaring Naya mengagetkan semua orang yang ada disana.
Para tetangga yang saat itu sedang memperhatikan mobil mewah itu dibuat terkejut dengan panggilan Naya pada laki-laki yang baru saja keluar dari mobil dan hendak masuk ke dalam rumah sederhana itu.
Tak kalah terkejutnya dengan mereka, Devan seketika berbalik ke asal suara yang sangat di kenalinya itu.
Dengan melebarkan tangannya Devan menyambut Naya dalam pelukannya.
“Sayang.” Balas Devan.
Melihat pemandangan dua orang itu semakin menambah keterkejutan mereka yang ada disana, tak jarang ada yang berbisik-bisik satu sama lain.
Bayu yang sejak tadi diacuhkan oleh cucunya pun bersuara “Apa opa tidak di sambut juga.” Goda Bayu.
Naya mengeluarkan kepalanya dari dekapan dada bidang ayahnya sambil mendongak ke atas melihat Bayu.
“Hai Opa.” Sapa Naya sambil beralih memeluk Bayu.
Adi yang mendengar suara nyaring Naya dari luar pun bergegas keluar untuk melihat cucunya.
Betapa kagetnya Adi melihat semua orang yang berada di depan rumahnya, terlebih tatapan para tetangga yang seperti meminta jawaban atas apa yang mereka lihat.
“Nak Devan.” Panggil Adi
“Ayah.” Balas Devan sambil meraih tangan Adi untuk di ciumnya.
“Masuk dulu, tidak enak dilihat orang.” Ucap Adi pelan di sebelah Devan.
Seolah mengerti Devan pun menuntun anak dan papanya masuk ke dalam rumah.
❤️
Jangan lupa tinggalkan jejak☺️😘