NovelToon NovelToon
Wanita Kedua

Wanita Kedua

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Contest / Cintamanis / Patahhati / Perjodohan / Tamat
Popularitas:374.7k
Nilai: 4.9
Nama Author: Sun Shine

Erika yang polos dan miskin jatuh cinta pada Evans, lelaki tampan dan kaya, lelaki yang sangat diidam-idamkan banyak wanita.

Mencintai Evans sama seperti menggenggam mata pisau, semakin menggenggamnya erat semakin berdarah-darahlah yang kamu rasakan.

Rasa kecewa dan sakit hati, itulah yang dirasakan Erika sejak bersama Evans. Tapi Erika tidak mampu melepaskan lelaki itu.

Mampukah Erika meraih hati Evans sepenuhnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sun Shine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Upaya

Visual Evans👆

Erika yang sudah segar sehabis mandi tampak berbaring di atas tempat tidur sambil memeluk boneka beruang pemberian Evans.

"Bagaimana ini? Ibu dan Kak Danish tidak setuju." Erika menghela nafas panjang. Lalu dia bangkit dan meraih ponsel di atas meja.

"Eh? Ada panggilan dari Kak Evans. Huhuhu aku nggak punya paket nelpon. Baru ketemu, aku sudah kangen lagi."

Erika duduk di kursi belajar. Terukir senyum di wajahnya. Dia menyentuh bibirnya. Ciuman Evans masih terasa di dalam hati dan pikirannya. Lalu wajahnya berubah serius kembali.

"Aku harus bisa yakinkan Kak Danish dan Ibu sebelum Kak Evans datang kemari Sabtu depan."

Erika keluar dari kamar. Mengetuk pintu kamar Danish dan ibunya. Wilma dan Danish pun keluar. Mereka duduk dan mulai berbicara.

"Ibu tidak setuju kamu dengan laki-laki itu." Wilma membuka pembicaraan.

"Ibu, berilah kesempatan untuk Kak Evans. Aku janji kalau dia sakiti aku lagi, aku akan meninggalkannya."

"Erika... Kami tidak mau kamu terluka lagi. Dia bukan laki-laki baik," ucap Danish khawatir.

"Aku mencintai Kak Evans. Aku mohon Kak. Justru aku akan terluka kalau Ibu dan Kakak tidak merestui kami. Sabtu depan dia akan kemari, Bu." Erika kembali memelas.

"Kalau kamu terluka, Ibu akan tertawa karena kebodohanmu," jawab Wilma dengan ketus.

"Ibu..?" Erika tak menyangka akan kata-kata ketus ibunya. Wilma menghela nafas kasar lalu masuk ke kamar meninggalkan mereka berdua.

"Kamu istirahatlah, Erika. Kakak mau istirahat juga ke kamar." Erika mengangguk dan masuk ke kamar.

Danish yang duduk termenung cukup lama di kamar, meraih ponselnya dia menelepon seseorang yang tidak lain adalah Evans. Dia mendapat nomor tersebut dari ponsel Erika tanpa sepengetahuan Erika.

Danish melakukan panggilan,

bip.

"Halo," sapa Evans

"Halo. Apa benar ini Evans?" tanya Danish.

"Iya saya sendiri. Ini siapa?"

"Aku Danish."

"Khkhkhkhkh." Terdengar kekehan dari seberang.

"Kenapa tertawa?" tanya Danish.

"Ada apa menelponku?" tanya Evans santai.

"Mari bertemu di gedung lapangan Wild Rose, besok jam sepuluh pagi. Ada yang ingin kubicarakan," ajak Danish. Evans di seberang mengernyitkan dahi.

"Kenapa harus di sana?" Evans bertanya karena di sana cukup sepi.

"Hehehe, kau takut?" ejek Danish.

"Kau merencanakan apa?" tanya Evans berupaya tenang.

"Kan sudah kukatakan, ada yang ingin kubicarakan."

"Kita bertemu di salah satu kafe aja," usul Evans.

"Hahahhaha.. Ternyata kau cuma seorang pengecut," ejek Danish.

"Dalam khayalanmu!" Evans terpancing emosi.

"Aku datang sendirian. Aku minta kau juga datang sendirian. Kalau kau tidak datang berarti kau memang pengecut," ucap Danish tegas.

bip bip bip

Danish menutup panggilan.

Evans terdiam cukup lama. Apa dia harus pergi?

Ting!!

Satu pesan masuk dari Erika. Cepat-cepat Evans membukanya.

Erika

"Kakak lagi apa? Maaf tidak telepon balik, pulsanya nggak cukup, Kak. 😭"

Evans tersenyum membacanya. Evans langsung melakukan panggilan.

Tuutt tuuutt ... Panggilan tersambung

"Halo, Kak Evans." Terdengar suara Erika penuh semangat.

"Halo, Erika. Lagi apa?" tanya Evans sambil bersandar di kepala ranjang.

"Lagi tiduran Kak. Hehehe. Kakak lagi apa?"

"Lagi kangen."

"Kangen siapa, Kak?" Di seberang Erika kegirangan.

"Kangen Ibu kantin." Evans terkekeh.

"Uuuhh.. Apaan sih Kakak?" Suara Erika manis manja.

"Kangen Erika dong. Itu makanya tadi aku menelponmu langsung." Di seberang, wajah Erika merona.

"Aku juga kangen, Kakak." Erika menutup wajahnya dengan sebelah tangannya karena malu.

"Sayangnya aku sibuk seminggu ini. Pokoknya Sabtu depan aku akan ke rumahmu. Dan besoknya, kita harus kencan seharian." Evans terdengar antusias penuh semangat.

"Baiklah, Kak. Aku akan dandan cantik untuk Kakak." Suara Erika terdengar lembut.

"Hmmm. Aku jadi pengen kecup kamu, Erika." Evans memang gemas mendengar suara Erika.

"Iiihhh, Kak Evans genit." Erika berbunga-bunga.

"Heheheh. Oh iya, aku juga akan memberimu hadiah yang jauh lebih bagus dari sepatu itu," ucap Evans merasa geli karena teringat wajah Erika yang sedih sekali sewaktu menyinggung soal sepatu di dalam mobil waktu perjalanan pulang tadi.

Di seberang Erika mengerucutkan bibirnya. "Kakak nggak bohong kalau sepatu itu Anna sendiri yang mengambilnya tanpa izin kakak?" tanya Erika belum merasa yakin.

"Beneran. Kalau baju-baju itu dia sendiri yang memang minta, ya aku bilang terserah, karena aku waktu itu di toilet. Tapi kalau sepatu, dia ambil sendiri tanpa minta izin," jelas Evans apa adanya berupaya berlogat serius. Evans nggak menyangka kalau sepatu itu begitu berarti bagi Erika. Jadi Evans berupaya menanggapi dengan serius pada Erika saat membahas soal sepatu itu agar Erika tidak tersinggung.

"Baiklah, aku percaya sama kakak." Erika tersenyum maklum, memutuskan untuk percaya saja.

Ya sudah kalau begitu, ini sudah malam. Kamu istirahatlah. Selamat malam, Sayang."

"Selamat malam juga, Kak."

Bip bip bip

Evans memutuskan panggilan.

Terukir senyuman manis di wajah Evans. Begitu pula Erika di seberang sana.

***

Hari Sabtu yang cerah, Erika sibuk membersihkan rumah. Danish keluar dari kamar.

"Kakak mau ke mana? Kok kayak mau pergi gitu?"

"Iya. Ada kerjaan, Erika. Kakak pergi dulu ya bilang ke Ibu." Erika mengangguk.

Danish pergi lalu menaiki angkutan umum. Sementara Evans sendiri cukup penasaran akan apa yang nanti dilakukan Danish. Dia pun bersiap-siap berangkat.

"Sepertinya dia jago berkelahi. Bagaimana kalau nanti...?" Evans menggelengkan kepala mengusir kekhawatiran yang ada dalam pikirannya.

"Pokoknya aku tidak boleh kalah."

Bersambung.

Visual Danish 👆

1
Anonim
bgsss bgtt
Pitriya BiMe
Evans bodo banget yaa,, tanpa konfirmasi udah nyimpulkan sesuatu yg jelas2 itu salah..
Aisyah Nabila
aku mampir thor smoga bgus ceritanya dan gk bnyk typo
Diana Susanti
dibukak nggak bisa
Sumini Harrni
peran semuanya ga ada yg aku sukai . semangat thor
Sumini Harrni
putus aja aku ga suka karakter Evan aku juga ga suka karakter Erika..putus dulu biar Evan. memantapkan rasanya dia cinta Erika apa ga
Sumini Harrni
putus Evan itu ga cinta erica.pria plin plan
🇮🇩Imelda🇰🇷
ada ya saking cinta rela jadi yg kedua
Mamanya Vin Van
up
Yanti Palamani
Erika yg bodoh.
Han Yonggi
Visual Evans tdk keren !
Sun Shine: khayalin tokoh lain aja, kak..
total 1 replies
Redflow
erika kekanak kanakan sekali..terlalu bucin sampai ga inget keluarga...
Redflow
erika kok lama lama ngeselin..gak inget perjuangan kakaknya...gak ada kasihan ma kakaknya yg di penjara gara2 dia
arin
akhiry bahagia,semoga ngga ad kuman amiin
arin
mabok dech si Evans,semoga bucin trs ngga jdi nkhin Alexa...😍
arin
semoga Evan ngga jdi nikahin alexa
arin
haha ad ya yg kaya gni,demi cinta rela jdi yg kedua...klo sy wlpun cinta bngt mah ogah jdi yg kedua🤣
Riski Agustika
akhirnya 😘😘😘
dayutz 💕
makasih kk udah nulis cerita yg bagus,aq tunggu cerita revin dan lisa😊
Kusuma Wardhani Wiwin
makasih kk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!