NovelToon NovelToon
Mutant : Katana Holder

Mutant : Katana Holder

Status: tamat
Genre:Action / Romantis / Sci-Fi / Tamat
Popularitas:185.4k
Nilai: 5
Nama Author: Swag131

Eric Pratama, seorang remaja berusia tujuh belas tahun, mengungkap jati dirinya sebagai seorang mutan. Eric dibesarkan oleh ibunya tanpa sosok seorang ayah karena suatu alasan yang belum boleh diketahui Eric.

Dirinya memiliki dendam pribadi terhadap pemimpin mafia yakuza yang bernama Tatsumi Shojo, karena kematian keluarga ibunya di Rusia sejak tujuh belas tahun silam akibat tragedi pembunuhan yang dilakukan para Yakuza.

Namun saat ini Yakuza sudah sangat jauh berkembang pesat dari segi bertempur di medan perang. Hal itu sangat jauh tak sebanding bagi orang biasa seperti Eric, apalagi dengan pemimpin mereka Shojo yang mempunyai kekuatan iblis di dalam dirinya, hingga Eric berniat untuk membentuk kumpulan gangsternya sendiri dengan sang kekasihnya Yuri dan adiknya Ardhias.

Dengan sebilah pedang katana, bersama sang kekasih, adik, dan teman-temannya memerangi mafia yakuza dengan saling bahu membahu, akankah Eric berhasil membalaskan dendamnya di masa depan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Swag131, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 29 : Sebuah Paket

Matahari sudah mulai terbit, Eric baru saja terbangun dari tidurnya, ia menolehkan pandangannya ke samping kanan. Adiknya Ardhias masih tengah tertidur pulas, ia tak berniat untuk membangunkan Ardhias karena semalam mereka terlalu larut untuk tidur, "Biarkan saja dia tidur sepuasnya dulu," gumam Eric pelan.

Eric beranjak keluar dari tempat tidurnya ke ruang tengah cottage, ia melihat pintu kamar para gadis itu masih tertutup rapat.

"Mereka semua masih tidur? hm, mungkin." Gumam Eric bertanya dalam hati.

Ya, setidaknya Eric menikmati kesendiriannya pagi ini untuk melakukan pemanasan dan olahraga kecil di ruang tengah. Sesekali dia mencoba gerakan tendangan sabit pencak silatnya, sembari tangannya mengepal seperti genggaman pukulan KickBoxing, beberapa gerakan beladiri dia lakukan untuk mencoba seberapa ringan tubuhnya setelah mengetahui kekuatan mutannya aktif.

Ia tak sadar jika saat ini ada seseorang yang memperhatikannya. Itu adalah Gea, dia baru saja beranjak keluar dari kamar mandi. Dengan wajah mengernyit, Gea menyaksikan dengan apa yang sedang dilakukan Eric saat ini.

Eric akhirnya menyadari keberadaan seorang gadis di sekitarnya sembari menghentikan aktivitas serta menoleh ke arah gadis itu.

"Gea ..." sebut Eric menjadi merasa malu.

"Sinting ..." tutur Gea sinis memutar kedua bola matanya dan kembali beranjak ke dalam kamar.

Eric mengerutkan keningnya merasa malu, keringat di dahinya keluar setetes, "Astaga." Gumamnya pelan.

Eric memutuskan keluar cottage untuk menghirup udara segar, namun saat membuka pintu keluar, tiba-tiba ia melihat ada sebuah paket tergeletak di depan teras cottage. Ukuran kotak itu terlihat memiliki panjang kurang lebih sekitar 80 cm, kotak itu cukup tebal, di atas kotak itu tertulis, "Untuk Eric, Yuri, dan Ardhias," tidak diketahui pasti oleh Eric siapa yang mengirimkan paket itu, tiba-tiba saja di pagi cerah seperti ini paket itu muncul di depan teras cottage.

Karena Eric penasaran, ia langsung membuka kotak itu. Ia melihat empat buah bentuk benda, benda itu merupakan pedang katana yang masih lengkap dengan sarung pedangnya. Dua di antara pedang memiliki ukiran gambar harimau putih, satunya memiliki gambar ukiran naga, dan satunya lagi memiliki ukiran gambar elang emas.

"Pedang ini ..." ucap Eric lirih, seperti Eric kembali mengingat tentang apa yang diceritakan oleh pamannya Natsumi Oga.

Ardhias baru saja terbangun dari tidurnya, ia memutuskan untuk beranjak dari tempat tidurnya menuju ke pintu keluar cottage, sambil menguap dan merenggangkan seluruh tubuhnya, ia kaget ketika melihat Eric sedang berjongkok di depan teras. Ardhias yang penasaran pun menghampiri Kakaknya Eric. Seketika Ardhias semakin kaget melihat benda-benda yang dipegang kakaknya.

"Bukankah itu pedang ayahku?" tanya Ardhias kaget sembari mengambil kedua pedang bergambar ukiran harimau.

"Tidak salah lagi, ini tiga pedang anak katana." Ujar Eric.

"Kenapa ini ada di sini? dari mana kakak mendapatkannya?"

"Aku juga bingung, tiba-tiba aku menememukan kotak ini di sini, ada tulisan untuk Eric, Yuri, dan Ardhias." Jelas Eric.

Ardhias pun pergi ke halaman luas cottage, ia berlagak tengah mengendalikan kedua pedang samurai di tangannya. Tiba-tiba saja muncul seseorang di hadapannya, orang itu mengenakan pakaian hakama berwarna putih, rambutnya berwarna putih lebat panjang lurus menjutai, di tangannya terpegang sebilah pedang dengan ukiran petir hitam di logam besinya.

Ardhias bingung, dari mana pria tua itu muncul, begitu juga Eric. Eric juga memegang pedangnya sembari menuju ke sebelah Ardhias.

"Kak, siapa dia? kau kenal?" tanya Ardhias.

"Aku tidak tau pasti, mungkin dia yang membawa pedang ini." Sahut Eric lirih.

Pria tua itu membentuk sikap kuda-kuda pada tubuhnya, pedangnya ia condongkan lurus ke depan, lebih tepatnya condong ke arah Eric dan Ardhias.

"Washi ..., ehm, maaf ... kalian tak bisa bahasa jepang?" tanya pria tua itu.

"Eee ...?" raut wajah Eric dan Ardhias bertanya-tanya kebingungan sambil saling menatap satu sama lain.

Yuri yang baru saja selesai mandi tengah mengenakan pakaian santai hendak keluar dari cottage, sama persis seperti Ardhias, dia terkejut saat melihat sebentuk pedang di dalam kotak dengan ukiran elang emas di sarung pedangnya, Yuri mengambil pedang itu sembari ia mengingat cerita ayahnya tentang empat anak katana.

Sontak Yuri kaget melihat tiga sileut yang ada di halaman cottage, tampak Eric, Ardhias, dan seorang kakek-kakek berpakaian hakama putih dengan rambut beruban panjang lurus sepunggung.

"I-itu ..." ucap Yuri lirih tertegun.

Pria tua itu masih mencondongkan pedangnya ke arah Eric dan Ardhias dengan sikap kuda-kuda. "Buka bilah pedang kalian dari sarungnya." Perintah kakek itu, sontak Eric dan Ardhias menurutinya.

Eric tak mengenal kakek itu, ini pertama kalinya ia bertemu dengannya, hanya saja ia merasa sedikit familiar dengan kakek-kakek yang ada di hadapannya, Begitu juga Ardhias.

"Sekarang lawan aku sampai kalian berhasil merobek lengan bajuku." Perkataan Kakek itu menantang.

"Baiklah, aku suka tantangan," tutur Ardhias sembari mengayunkan kedua pedangnya, meski ini baru pertama kalinya dia memegang sebuah pedang. Tidak, lebih tepatnya dua bilah pedang.

"Hey kau yang memegang dua pedang, aku minta tinggalkan satu pedangmu, ini masih tahap awal." Perintah Kakek itu.

"Tahap awal ...? maksudnya apa?" batin Ardhias bertanya-tanya begitu juga Eric.

Tiba-tiba Yuri datang di sebelah mereka dengan memegang pedangnya yang berukiran elang emas, "Aku juga ikut." Tutur Yuri kepada kakek itu.

"Lengkap sudah ..." batin kakek itu berbicara pada diri sendiri.

Ardhias meletakkan satu pedang miliknya di permukaan tanah, hingga satu pedang yang masih di tangannya, ia buka dari sarung pedang miliknya, begitu juga Eric dan Yuri.

Eric bingung, ia sama sekali tak tau apa yang akan dia lakukan dengan pedang di tangannya, sebelumnya ia sama sekali tak pernah memegang pedang, ia hanya pernah memegang gagang nunchaku (Double Stick). Jadi Eric memutar-mutar pedang itu di pergelangan tangannya.

Pria tua itu tersenyum melihat cara Eric mengayunkan pedang dengan memutarkannya, seketika Yuri yang di sebelah kanan Eric juga membuka sebilah pedang katana ukiran elang emasnya.

Ketiga sileut yang terdiri dari dua lelaki dan seorang gadis itu bersama-sama mengacungkan pedang mereka ke depan.

Ardhias yang penasaran dengan pedang di tangannya sudah tak sabar ingin melakukan tantangan pria tua yang ada di hadapan mereka.

Eric lebih dulu berlari maju ke arah pria tua itu sembari menyabetkan pedangnya, dentangan pedang terdengar dua kali saat kakek itu memblok dua sabetan pedang Eric hingga pedang di tangan Eric terlepas jauh tertancap di permukaan pasir dalam jarak cukup jauh dari Eric, "Kuatkan genggamanmu," ujar pria tua itu, sontak Eric mengejar pedang miliknya.

Sementara itu Ardhias maju mengayunkan pedangnya ke arah sang kakek, beberapa kali dentangan pedang Ardhias dan kakek itu terdengar jelas.

"Amatiran ..." hina Kakek itu pada Ardhias.

"Oh ya ..." sahut Ardhias sinis.

Emosi Ardhias menggelegar, amarahnya bisa-bisa memuncak jika ia dikatakan amatir oleh teman-temannya, apalagi jika seorang kakek tua bangka yang sudah renta-renta, tahu-tahu kakek itu mengejek Ardhias begitu saja. Meski aslinya memang saat ini Ardhias memang amatir, ini kali pertama dia memegang pedang katana.

Ardhias langsung mengayukan pedangnya secara emosi kepada pria tua itu, pria tua itu hanya santai memblok semua serangan Ardhias, terdengar dentangan pedang tunggang langgang dari Ardhias dan semua tangkisan kakek itu. Tak berselang lama, Ardhias langsung kelelahan dengan nafas terengah-engah, ia terduduk bersimpuh sembari menancapkan pedangnya di atas permukaan pasir.

Lalu kini giliran Yuri yang maju melawan kakek itu, Yuri meletakkan pedangnya bagaikan shinai di atas kepala. "Kenjutsu" ucap Yuri sembari melepaskan kalimat, "Men ... do ... kote-"

Yuri mengayunkan pedangnya dengan cepat ke arah kakek itu, berbagai tebasan sudah terayun oleh pedang yang dikendalikan Yuri, hanya saja dengan mudahnya kakek itu menepis serangan dari Yuri seolah-olah hal itu hanya serangan biasa bagi pria tua.

Yuri pun mulai kelelahan, nafasnya kini terengah-engah akibat terlalu banyak melayangkan ayunan sabetan ke arah Kakek itu. Ia akhirnya menghirup nafasnya dalam-dalam sembari memejamkan mata, dan menghembuskannya perlahan, saat itu juga Yuri membuka kelopak matanya berubah menjadi kobaran api kecil berwarna biru.

Pria tua itu tersenyum sinis melihat apa yang terjadi dengan Yuri, seolah pria tua itu mengetahui sesuatu.

Yuri langsung menyerang pria tua itu dengan gerakan yang sangat cepat, sabetan demi sabetan ia ayunkan dengan kecepatan yang tak di duga-duga, Eric dan Ardhias yang melihat hal itu terbelalak kaget melihat kemampuan Yuri.

Dentangan pedang terdengar jelas menggema di halaman cottage yang mereka tempati, hingga membuat Alena, Helvi, dan Gea penasaran mendengar suara dentangan keras itu, mereka bertiga pun keluar dari kamar besar cottage untuk melihatnya.

Sementara itu sang Kakek misterius masih dengan mudah menghalau serangan Yuri, meski kakek itu sudah tua, dia tampak seperti sudah sangat ahli dalam melakukan pertarungan pedang, ia memiliki teknik kegesitannya sendiri untuk menghindari dan menangkis serangan Yuri.

"Kemampuanmu lumayan juga nak ..." ujar pria tua itu membuat Yuri menghentikan serangannya.

Saat Yuri menghentikan serangannya, Eric dan Ardhias heran melihat Yuri yang kini sama sekali tak kelelahan, bahkan nafas terengah-engah pun tidak sama sekali.

Pria tua yang pantas disebut seorang kakek itu mengambil sikap tegap dengan mengacungkan pedangnya ke depan Yuri, menyisakan jarak enam langkah dari berdirinya kakek itu. Kakek itu sepertinya sedang sangat fokus dengan gerakan Yuri.

Yuri pun ingin melanjutkan serangannya, namun terlebih dahulu ia menahan gerakannya, "Sepertinya Kakek itu ingin membicarakan sesuatu," batin Yuri.

"Kalian akan lulus tahap awal jika berhasil merobek lengan ba-." Tutur kakek itu terpotong tiba-tiba ...

Shlashhh ...!!!

Dalam sekejap Eric sudah berada tepat di belakang kakek itu, tubuh Eric miring dengan pedangnya mengacung ke belakang bagaikan samurai yang sudah selesai menyabet musuhnya.

Yuri dan Ardhias terbelalak kaget, mereka tak sadar jika Eric sudah sampai di belakang Kakek itu, dan hal itu juga tidak terlepas dari pandangan Alena, Helvi, dan Gea yang tengah menyaksikan mereka di teras cottage sembari meraut wajah tercengang. Eric menggunakan kekuatan mutannya untuk melampaui batasan kecepatan manusia normal. Namun hal itu membuat yang lain penasaran terhadap Eric, mengapa Eric bisa secepat itu? di antara mereka hanya Yuri yang tau tentang hal itu.

Kakek itu melihat lengan baju kanannya yang sudah tersayat lurus rapi, ia terkekeh pelan setelah menyadari tindakan hal yang Eric lakukan barusan. "Baiklah, tahap awal kalian sudah lulus, sampai jumpa di tahap kedua," ujar kakek itu seketika dirinya menghilang ditelan sebuah gelombang tak kasat mata.

Mereka berenam yang terdiri dari Eric, Ardhias, Yuri, Alena, Helvi, dan Gea meraung tak percaya melihat hal yang baru saja terjadi.

"A-apa ini?" tanya Alena tiba-tiba dirinya jatuh pingsan.

"ALENA ...!!!" teriak Helvi dan Gea berusaha mengangkat temannya itu.

Eric, Yuri, dan Ardhias menoleh ke sumber suara teriakan mereka, terlihat Helvi dan Gea berusaha membopong tubuh Alena.

"Astaga, Alena ..." ucap Ardhias khawatir sembari berlari masuk ke dalam membantu mereka mengangkat kekasihnya itu.

Kini tertinggal Eric dan Yuri yang masih berada di halaman cottage.

"Kamu kenal kakek itu?" tanya Eric penuh tanda tanya pada Yuri.

"I-itu aku gak tau pasti ..." ucap Yuri ragu.

"Dia bilang akan ada tahap kedua, itu berarti kita akan bertemu lagi dengannya ..." ucap Eric meluruskan.

"Iya, kamu benar." Sahut Yuri

Pandangan Eric dan Yuri menjadi larut dalam lamunan menatap pedang yang ada di genggaman mereka masing-masing, tiba-tiba lamunan mereka tersadar saat seorang murid pementasan yang satu sekolah dengan mereka datang membawa kabar baru, "Selamat pagi, Eric, Yuri. Sebentar lagi kapal KM. Black Pearl akan datang, Bu Helena berpesan segera bersiap-siap agar kita semua pulang." Tutur seorang gadis murid pementasan yang satu sekolah dengan mereka di SMA Trisakti.

Eric hanya diam, Yuri lah yang merespon gadis itu, "Baiklah, terimakasih ya ..." ucap Yuri tersenyum ramah.

Gadis itu pun bertunduk sopan sembari melangkahkan kakinya kembali ke arah cottagenya sendiri.

Kini Eric dan Yuri masuk ke dalam cottage mereka untuk memberitahu yang lain bahwa mereka akan segera pulang serta menyiapkan semua barang-barang.

Alena masih belum sadar dari pingsannya, membuat Ardhias menggendong Alena di punggungnya. Sedangkan yang lain membawa barang-barang mereka yang banyak itu. Mereka kini menuju ke dermaga pulau untuk naik ke speedboat kecil milik Ardhias.

Speedboat kecil milik Ardhias berjalan beriringan dengan kapal KM. Black Pearl yang ditumpangi oleh murid-murid pementasan Trisakti dan juga guru-guru yang memandu, termasuk Bu Helena.

Di perjalanan kembali ke dermaga marina ancol, Eric dan teman-temannya sedikit berbincang soal kakek-kakek misterius tadi yang muncul di halaman cottage mereka.

Ardhias yang mengendarai speedboat sambil menatap sepaket pedang katana yang muncul tadi pagi itu langsung ia melontarkan pertanyaan kepada Yuri.

"Yuri ..., apa kamu mengenal kakek itu?" pertanyaan yang sama terlontar seperti Eric beberapa saat yang lalu.

"Sepertinya itu seorang sensei samurai ..." ucap Yuri, membuat yang lainnya tertegun sesaat.

"Tapi Aneh banget gak sih, kakek itu bisa hilang di depan mata kita, aku gak habis pikir ..." ucap Alena yang baru saja sadar beberapa saat yang lalu. Pertanyaan itu juga tertanam di benak Helvi dan Gea yang menyaksikannya secara langsung.

"Intinya kakek itu punya kemampuan supranatural, dia sudah melewati batasan dirinya sendiri. Kita gak akan mengerti tentang hal itu jika kita gak menelaah secara langsung." Ucap Eric menjelaskan, membuat yang lainnya mengangguk paham.

Mereka hanya melanjutkan perjalanan pulang mereka ke arah dermaga marina, setibanya di sana, beberapa murid yang turun dari kapal K.M Black Pearl memutuskan untuk bermain-main sebentar di dunia fantasi ancol, sedangkan beberapa yang lain langsung menaiki bus untuk kembali ke kota axel, begitu juga dengan guru-guru mereka. Pasalnya jika hanya melepaskan murid-murid mereka untuk bermain di ancol, guru mereka tidak akan khawatir takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, berbeda jika halnya saat berada di pulau pantara, hal yang tak diinginkan bisa saja terjadi. Makanya kini para guru langsung pulang ikut menaiki bus dengan murid-murid yang hendak pulang duluan.

Di sisi lain, sebelumnya Ardhias sudah menyuruh supir pribadinya untuk membawa mobil bak besar ke dermaga marina, agar nantinya speedboat milik Ardhias dapat dibawa pulang, Ardhias, Alena, Helvi, dan Gea langsung menaiki mobil besar itu, "Kak Eric dan Yuri ikut kita?" tanya Ardhias menawarkan tumpangan pada Kakak dan saudari angkatnya itu.

"Gausah, Dik. Kami ingin sedikit berkeliling sebentar di sini." Sahut Eric

Ardhias melanjutkan perjalanan mereka berempat pulang, di dalam perjalanan Ardhias terus memperhatikan dua pedang katana yang ada di tangannya, seolah-olah katana itu hidup memanggil-manggil Ardhias seakan berbisik, Ardhias yang mendengar suara-suara itu dibuat semakin penasaran.

Sedangkan di sisi lainnya, Eric dan Yuri berkeliling ancol untuk sedikit refreshing, mereka berdua membeli es krim dan berjalan ke tempat seaworld ancol, yaitu lorong akuarium raksasa yang dipenuhi dengan berbagai ikan kecil dan besar.

Sesekali Eric dan Yuri mengabadikan moment foto dengan berselvi atau juga meminta pada orang lain untuk memfotokan mereka.

Setelah itu Eric dan Yuri duduk di sebuah bangku taman yang ada di ancol, mereka berbincang-bincang ringan, namun tak lama mereka berbincang, Eric langsung membawa topik pembicaraan tentang pedang yang sedari tadi mereka bawa.

"Kenapa aku merasa aneh? aku merasa pedang ini seperti memanggilku." Ucap Eric mengelus pedangnya yang berukiran naga.

"Aku juga merasa gitu," jawab Yuri singkat menatap pedang berukiran elang emas.

"Menurut kamu ada apa sama pedang ini?"

"Itu ... kakek aku pernah cerita, di dunia ini, ada beberapa pedang katana yang memiliki jiwanya sendiri, orang-orang yang yakin akan hal itu, percaya bahwa pedang yang memiliki jiwa jika sewaktu-waktu merenggut nyawa seseorang, jiwa orang yang mati itu akan terjebak di dalam pedang, semakin banyak jiwa yang terjebak, aura yang sangat kuat dari pedang itu akan semakin banyak. Dengan kata lain kekuatan pedang itu semakin kuat," Jelas Yuri yang kembali mengingat-ingat cerita almarhum kakeknya, Natsumi Hiro.

Eric mengangguk paham dengan Yuri, pasalnya pedang yang ia pegang sedari tadi seperti ingin berkomunikasi dengan diri Eric, tapi Eric tak mengerti maksud suara-suara aneh itu, suara aneh itu jika didengar oleh pemiliknya tidak akan terasa menyeramkan, namun hanya membuat batin pemiliknya tenang jika suara-suara itu terdengar.

"Yuri, menurut kamu. Apa aku bisa jadi seorang samurai sejati yang akan mengalahkan Shojo?" tanya Eric merasa sedikit insecure, karena dirinya saat ini sangat minim teknik ilmu berpedang katana.

"Bisa dong, aku bakal bantu kamu jadi kuat kok sayang-" ucap Yuri sontak wajahnya memerah malu, ia menutup mulutnya dengan tangan.

Eric yang mendengar kekasihnya berbicara seperti itu pipinya juga memerah, telinga Eric naik sedikit 0,112 centi.

"Kamu ajarin aku ya sayang ..." ucap Eric lirih, namun terdengar jelas oleh Yuri.

Yuri hanya mengangguk kecil dengan hati berbunga-bunga, matahari pun sudah mulai terbenam di arah barat, Eric memegang tangan kekasihnya Yuri untuk berjalan kaki ke jalan keluar Taman Wisata Ancol.

Dua sileut sepasang kekasih itu pun meninggalkan gerbang utama barat ancol, dan lalu menaiki taksi yang sudah mereka pesan secara online untuk kembali pulang ke kota Axel.

1
Joe Lian
suaranya seperti ka Sensen
Joe Lian: kak IF
total 1 replies
jingga
jelek banget ceritanya dibolak-balik gk karuan
Y. I.
Petualangan seorang remaja dengan kekuatan merealisasikan pikiran dan membalaskan dendamnya sejak kecil.

Baca di "Dangerous Minds" untuk kelanjutannya!

Oh ya, untuk rasa terimakasih nitip promo, saya sudah kasih 15 like dan favorit novel ini. Terimakasih, Thor!
Sejahtera
Semangat Kakak
Sejahtera
Semangat ^^
Sejahtera
Semangat Kakak
Bumi
good
connect official
keren klo di buat film ini
Rei Na
Keren
Samy
ngga nyambung
Samy
ini mungkin cerita inga ingantan masalalu kai yaaa
Samy
ceritanya putus-ngga nyambung sama sekali
Hitagi
wahhh akhirnya tamat, sukses selalu thor.

buat temen2 yang mau baca tulisanku juga mampir yuuk
Sejahtera
Seeeemangat ^_^
Sejahtera
Semangat Kakak ^_^
Sejahtera
Semangat Kakak
煙草×Sebatss🚬
Mantap. Lanjut up dan semoga sehat selalu
煙草×Sebatss🚬
Bagus. Lanjut up terus
煙草×Sebatss🚬
Mantap
煙草×Sebatss🚬
Lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!