Kehidupan seorang pengacara tampan yang sukses dan termuda begitu banyaknya rintangan untuk menghadirkan buah hatinya. Setelah sang istri mengalami keguguran dan hampir meninggal, membuat pria itu trauma untuk memiliki anak lagi.
Dan setelah banyaknya rintangan yang kedua pasangan itu lewati akhirnya Tuhan memberikan buah hati yang tidak terduga. Keluarga Syein begitu lengkap dengan hadirnya penerus keluarga Syein Biglous yang kembar tiga.
Bagaimanakah nasib Jeerewat ketika ia melewati masa-masa kehamilan yang di kelilingi dengan keluarga yang sangat posesif padanya ?
Apakah kehidupan mereka akan tetap bahagia kedepannya atau sebaliknya, silahkan simak cerita ini yah.
Cerita ini adalah lanjutan dari cerita "Istri Seksi Milik Pengacara Tampan".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marina Monalisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Istri Yang Bernasib Sama
Pagi itu Alfy yang sudah tampak bersiap dengan satu koper kecilnya segera melangkah mendekat pada Jee. "Sayang, kau tidak ingin bangun?" tanya Alfy.
Jee masih enggan bersuara beberapa kali tangan Alfy terus menepuk pelan lengan istrinya dan mendaratkan satu kec*pan di kening Jee.
Tubuh wanita itu menggeliat tak karuan seakan tengah berusaha meregangkan otot-otot tubuhnya yang kaku. Matanya pun mengerjap beberapa kali hingga pandangannya benar-benar fokus pada wajah tampan di hadapannya.
"Kau ingin pergi kerja?" Suara serak Jee terdengar masih sangat mengantuk.
Alfy pun tersenyum. "Aku harus keluar Kota hari ini bersama Jac, kau tidak apa-apa kan ku tinggal dua hari?" tutur Alfy yang merasa berat meninggalkan istrinya. Seketika Jee pun terkejut mendengar kabar suaminya yang harus pergi meninggalkannya karena ada pekerjaan penting.
"Mengapa tiba-tiba sekali?" tanyanya menyelidik pada sang suami. Matanya terarah pada koper yang di genggam oleh Alfy.
"Iya tadi subuh aku terbangun dan menerima telfon dari Jac jika ada klien yang harus kita temui di luar Kota, maafkan aku." tutur Alfy merasa berat meninggalkan istirnya setelah sekian lama mereka terus bersama.
Jee yang tanpa suara kini hanya terlihat menganggukkan kepalanya perlahan lalu memeluk erat tubuh suaminya. Alfy merasa sungguh tidak tega saat Jee bertingkah seperti ini. Sangat sulit namun ia harus bisa mengendalikan dirinya.
Alfy membalas pelukan Jee yang sudah begitu mencekik tubuhnya begitu kuat. Tanpa Alfy sadari kini salah satu tangan Jee sudah mengusap ari mata yang tanpa sengaja terjatuh di wajahnya.
"Jaga dirimu dan cepatlah pulang." seru Jee yang melepaskan pelukan itu dari tubuh sang suami.
Alfy yang beberapa kali mendaratkan bibirnya di wajah Jee bergantian menyentuh setiap sisi hingga semua terkena dengan adil barulah ia melepaskan pelukan tangannya dari tubuh Jee.
Jee segera bergegas ke kamar mandi membersihkan wajahnya dan berganti pakaian tanpa mandi lalu mengantar Alfy ke kamar anak mereka. Terlihat ketiga bayi itu sudah wangi dan berbaring dengan tenangnya.
"Anak Papah sudah ada wangi yah." seru Alfy yang sesekali mencuri tatapan pada istrinya.
Ia bisa melihat tatapan yang terselip kristal bening di kedua bola mata itu pada istrinya. Alfy yang selesai mengunjungi ketiga anaknya segera melangkah kembali mendekat pada Jee.
"Kau menangis?" tanyanya lembut.
"Tidak, siapa yang menangis? ayo kita sarapan." ucap Jee yang menarik tangan suaminya dan meminta para pelayan untuk membawa ketiga anaknya ikut mengantar Alfy di depan rumah.
Sarapan pagi itu terlihat Alfy yang sudah tergesah-gesah karena karena mengejar waktu janjinya pada klien. Jac yang sudah menunggu di depan halam rumah tampak tidak di antar oleh sang istri.
Suster Syanin yang enggan melihat kepergian suaminya kini hanya berbaring saja di dalam kamar berusaha menyembunyikan wajahnya yang menangis itu di balik bantal.
"Hah... ada-ada saja suami mau pergi bukannya di antar malah di usir." gerutu Jac yang menatap ke arah tempat tinggalnya yang terlihat dari posisinya saat ini.
Berharap suster Syanin akan datang tiba-tiba, namun sampai saat ini ketika Alfy yang bergantian mendaratkan bibirnya pada ketiga anaknya dan Jee, wanita itu masih saja belum hadir.
"Ada apa, Jac?" tanya Alfy.
"Tidak, Tuan. Silahkan Tuan kita berangkat." tutur Jac mempersilahkan Alfy dan mereka pun segera berlalu melakukan mobil dengan kecepatan sedang.
Nasib Jee dan suster Syanin sama kali ini mereka tampak tidak merelakan kepergian suami mereka. Begitu pun dengan Alfy dan Jac yang merasa begitu berat meninggalkan istri mereka.
Setelah kepergian kedua pria itu, kini Delon yang baru saja tiba di halaman rumah bersama Zeyra dan Zidan tampak begitu hangat. Entah hubungan mereka selalu saja sukses mencuri perhatian setiap orang yang melihatnya.
"Hati-hati yah, ini makan siangmu." seru Zeyra yang menyodorkan rantang yang sudah ia siapkan untuk makan suaminya.
"Papah jangan pulang malam ini yah." pintah Zidan pada Delon.
Mendengar permintaan anaknya Delon mengerutkan dahinya. "Memangnya ada apa? kau tidak ingin Papah di dekatmu yah?" tanya Delon menyelidik pada putranya.
"Iya, Zidan ingin tidur berdua saja sama Mamah. Habis Papah jahat tadi malam." tutur Zidan.
Tuan Reindra dan yang lainnya pun tertawa mendengar perdebatan antara ayah dan anak itu, sementara Zeyra lelah jika mendengar terus kedua pria itu bertengkar.
"Sudah...sudah! pergilah bekerja kau ini selalu ribut saja." pintah Zeyra dengan wajah kesalnya.
Delon yang cemberut menunjuk beberapa kali pipinya. "Apa?" tanya Zeyra tidak mengetahui.
Delon kembali menunjuk pipinya. Nyonya Syein dan Nyonya Flora tertawa menggelengkan kepalanya. "Dia minta kecupanmu, Zeyra." sahut Nyonya Syein terdengar nyaring dan jelas.
Zeyra tercengang tidak percaya dengan permintaan suaminya itu. Tangannya segera meraih punggung tangan suaminya dan mendaratkan bibirnya di sana. "Sudah pergilah! jangan membuatku malu dan tidak sopan di hadapan banyak orang." ucap Zeyra mendorong tubuh suaminya ke dalam mobil.
"Ahahaha kacian deh Papah." ejek Zidan melihat wajah sedih Delon begitu senangnya.
Semua yang menyaksikan tingkah Delon tertawa geli sungguh Zeyra begitu tega pada suaminya. Dengan rasa malas Delon terpaksa berlalu melajukan mobilnya. Zeyra yang hanya menggelengkan kepalanya kini sudah mendekat pada keluarga yang tengah berkumpul di halam rumah itu.
Mereka masuk bersama ke rumah dan duduk berkumpul di ruang tengah. Tidak ada sosok Jee dan suster Syanin di sana.
***
Di perjalanan Alfy dan Jac hanya terdiam dan fokus pada perjalaan mereka. Alfy sesekali mengecek ponselnya takut jika Jee menghubunginya. Namun sampai sejauh ini tidak ada panggilan atau pun pesan dari istrinya itu.
Tanpa Alfy dan Jac tahu masing-masing istri mereka sudah menangis di kamarnya. Jee yang menangis terisak di dalam kamarnya tiba-tiba teringat sosok suster Syanin yang saat ini sama dengannya di tinggal suami bekerja ke luar Kota.
"Sepertinya aku bisa bercerita dengannya, pasti dia juga sedang sedih." gumam Jee dalam hati dan segera bergegas pergi meninggalkan kamarnya.
Suster Syanin yang tengah mengobrak abrik kamarnya seketika terdiam saat mendengar suara ketukan pintu di luar. Wajahnya kembali tersenyum menyangkan jika suaminya akan kembali dan tidak jadi pergi.
"Itu pasti dia, iya suamiku kembali." ucap suster Syanin yang berlari dengan bahagianya tangannya segera membuka pintu.
Senyuman di wajahnya kini kembali hilang saat matanya menatap pada wajah wanita yang tak kalah sembabnya dari dirinya itu.
"Nyonya." ucap suster Syanin.
Jee menatap penuh menyelidik, dari raut wajah wanita itu ia bisa menebak jika mereka kali ini benar adanya tengah merasakan hal yang sama.
"Boleh aku masuk?" tanya Jee yang segera di persilahkan oleh suster Syanin.
dengerin novel ini aja bisa nangis anjai
sedih banget menusuk hati kepergian jee
ya ampunn
jee
plis bikin prart ke 3 jee
bikin sakit keritis dan sembuh kembali aja
gak rela jee meningal ya tuhan