NovelToon NovelToon
Jerat Istri Pengganti Sang Mafia

Jerat Istri Pengganti Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Pengantin Pengganti
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Liza Navy

Ara Milano tidak pernah menyangka satu malam akan mengubah seluruh hidupnya.

Ketika kakaknya menghilang sebelum pernikahan, keluarga Milano tidak memiliki pilihan lain. Demi menjaga perjanjian antara dua keluarga, Ara dipaksa mengenakan gaun pengantin dan menggantikan posisi kakaknya.

Pria yang menunggunya di altar adalah Dante Theo, pewaris keluarga mafia paling berkuasa, yang terkenal dingin, keras, dan tidak mengenal kata kompromi.

Dante tentu tahu wanita yang berdiri di hadapannya bukanlah pengantin yang seharusnya.

Sementara Ara merasa terjerat dalam pernikahan pengganti ini. Bahkan sejak di malam pernikahan, ia berulang kali mencoba kabur. Meskipun pada akhirnya usahanya seperti usaha menjaring angin.

Lama kelamaan keduanya terbiasa dengan kehadiran lainnya. Bagi Dante, gadis itu telah menjadi bagian dari perjanjian yang tidak boleh dilepaskan. Sekalipun harus ia akui, Ara bukan wanita yang mudah dikendalikan. Sayangnya ia juga tidak pernah sanggup kehilangannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liza Navy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29 Pesan Berantai Dari Alessia

Ara masih duduk bersandar di kepala ranjang. Ia telah menyalakan kembali ponselnya. Ponsel itu sekarang berada dalam genggamannya. Matanya terpaku pada satu nama yang baru saja muncul di layar.

## Barusan kau matikan ponselmu? Kenapa? ##

## Ya, kumatikan. Kau terlalu berisik.##

## Kau marah kusebut naif? ##

Ara mengepalkan tangannya. Dadanya terasa sesak. Ada begitu banyak emosi yang datang bersamaan sampai ia sendiri tidak mampu memilah mana yang paling kuat. Marah. Lega. Takut. Bingung. Dan terluka. Bagaimana bisa Alessia berani muncul setelah insiden pernikahan itu. Tapi kakaknya ternyata berani, bahkan jauh lebih berani dari dirinya.

Ara menatap layar ponselnya. Jarinya kembali mengetik.

##Di mana kau?## Pesan terkirim.

Tidak lama kemudian, balasan muncul.

##Tidak jauh darimu.##

Ara langsung mengangkat kepalanya. Tatapannya menyapu seluruh kamar. Ia bergerak menuju jendela. Langkahnya cepat. Ia menyingkap tirai. Di luar hanya ada halaman mansion yang luas. Lampu-lampu taman menyala redup, menciptakan bayangan panjang di antara pepohonan.

Ara menyapukan pandangannya ke kanan dan ke kiri. Tidak ada siapa pun. Tidak ada sosok manusia. Tidak ada mobil. Tidak ada gerakan mencurigakan. Namun jawaban Alessia terus terngiang di kepalanya. "Tidak jauh darimu."

Ara merapatkan tirai. Jantungnya berdetak semakin cepat. Kalau Alessia benar-benar berada di dekat mansion, bagaimana ia bisa masuk? Bagaimana ia bisa mengetahui keberadaannya? Dan sejak kapan Alessia mengamatinya?

Ara kembali menatap ponselnya. Sebuah pesan baru masuk.

##Jangan terlalu percaya pada Dante.##

Ara terdiam.Tangannya mencengkeram ponsel lebih kuat. Dante lagi.

Layar ponsel kembali menyala.

## Kau tidak takut padanya?##

Ara mengernyit. Ia heran dan bingung. Kenapa semua orang berpikir Dante sebagai seseorang yang harus ia takuti?

Memang Dante keras. Memang suaminya itu mengendalikan banyak hal dalam hidupnya. Namun setelah semua yang terjadi beberapa waktu terakhir, Ara mulai melihat sisi lain dari pria itu. Sisi yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Dante memang posesif. Bisa sangat menyebalkan. Terlalu mengatur. Tetapi pria itu juga tidak pernah membiarkannya berada dalam bahaya. Lalu mengapa Alessia mengatakan hal itu? Apakah kakaknya itu hanya ingin memprovokasinya?

Ara mengetik dengan cepat.

##Kenapa aku tidak boleh percaya padanya?##

Sebelum pesan itu sempat terkirim, pesan lain muncul.

## Tidakkah kau ingin tahu alasan sebenarnya kenapa aku melarikan diri dari pernikahan itu.##

Ara membeku. Jarinya berhenti di atas layar. Kalimat itu menghantamnya jauh lebih keras daripada semua pesan sebelumnya. Alasan sebenarnya. Selama ini, Ara hanya mengetahui satu versi cerita. Alessia akan menikah dengan Dante. Alessia melarikan diri. Pernikahan tetap berlangsung. Ara menggantikan kakaknya. Itulah cerita yang selama ini ia hidupi.

Cerita yang sudah begitu sering ia ulang di dalam kepalanya sampai ia menganggapnya sebagai kebenaran mutlak.

Sekarang kakaknya datang dan menyatakan ada kebenaran lain di baliknya. Ternyata—ada sesuatu yang tidak pernah ia ketahui. Sesuatu yang membuat Alessia rela meninggalkan keluarganya dan ambisinya.

Ara menggigit bibir. Ia menghapus pesan yang ingin ia kirim sebelumnya dan mengetik pesan baru.

##Kalau memang ada alasan lain, kenapa kau tidak pernah memberitahuku?##

Pesan itu terkirim. Tidak ada balasan sama sekali. Ara menunggu. Ia menatap layar kosong.

Rasa sakit yang selama ini ia pendam tiba-tiba muncul kembali. Selama ini ia mencoba memahami kepergian Alessia. Mungkin kakaknya takut. Mungkin ia tidak mencintai Dante. Mungkin ia tidak ingin hidup dengan mafia. Mungkin ia egois.

Namun tak pernah sekalipun Ara membayangkan bahwa ada sesuatu yang jauh lebih besar di balik semua itu. Sesuatu yang bahkan membuat Alessia tidak berani mengatakan kebenarannya.

Ara mengusap sudut matanya. Ia benci karena masih merasa terluka. Ia benci karena satu pesan dari Alessia mampu membuat seluruh pertahanannya runtuh.

Dan yang paling ia benci—ia masih ingin bertemu kakaknya. Masih ingin bertanya langsung. Masih ingin mendengar alasan dari mulut Alessia sendiri.

Tiba-tiba—Suara ketukan pintu membuat tubuhnya menegang. Ara tersentak. Ponselnya hampir terjatuh. Ia buru-buru mematikan layar dan menyelipkan ponsel itu ke tangannya.

"Ara?? Kenapa kau kunci pintu kamar kita?"

Ara mengenali suara langkah kaki yang berhenti di depan pintu. Dante. Sepertinya ia tanpa sadar telah mengunci pintu kamarnya. Mungkin saat ia berbalik dari jendela.

Ara menarik napas dalam-dalam. Ia turun dari ranjang dan membuka kuncinya.

"Maaf," katanya lirih.

Dante tidak tersenyum dan tidak marah. Benar-benar wajah tanpa ekspresi. Ia melewati Ara masuk ke dalam kamar.

Pria itu baru saja kembali dari ruang kerjanya. Jasnya sudah dilepas, menyisakan kemeja gelap dengan beberapa kancing bagian atas terbuka. Tatapannya langsung menemukan Ara.

Hanya dalam hitungan detik, ekspresi Dante berubah. Ia menyadari sesuatu. Ara tidak seperti biasanya. Wajahnya sedikit pucat. Bahu sedikit tegang. Dan matanya terlalu cepat menghindar ketika Dante menatapnya.

"Ara."

"Hm?"

"Kau kenapa?"

Ara menggeleng. "Tidak apa-apa."

Dante tidak bergerak. Tatapannya tetap tertuju pada wajah istrinya.

"Kau yakin?"

"Ya."

Dante mengenal Ara cukup baik untuk tahu kapan Ara berbohong. Ia bertanya-tanya apakah perubahan ini ada hubungannya dengan pesan-pesan yang dikirim Alessia. Ia berjalan mendekat.

Ara secara refleks mundur dan menjauhi Dante. Pria itu menghentikan langkahnya. Tatapannya turun ke tangan Ara. Ponsel itu digenggam terlalu erat.

Dante mengangkat alis. "Siapa yang menghubungimu?"

Ara membeku. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Ia tidak menjawab.

Dante kembali menatap matanya."Nomor tak dikenal?"

Ara menggigit bibir.

Dante tidak memaksa Ara untuk menjawabnya. Ia hanya berdiri di hadapannya, menunggu.

"Kenapa kau tiba-tiba pucat?"

"Aku..." Ara kehilangan kata-kata. Apa yang harus ia katakan? Haruskah ia mengaku Alessia telah menghubungi. Tidak. Kalimat itu terlalu berbahaya. Alessia bukan sekadar seseorang dari masa lalu. Dia adalah perempuan yang seharusnya menjadi istri Dante. Perempuan yang menghilang tepat sebelum upacara pernikahan. Perempuan yang membuat Ara masuk ke dalam kehidupan Dante.

Jika Dante mengetahui Alessia yang mengirim pesan, apa yang akan terjadi? Apakah Dante akan mencarinya?Ataukah justru—Dante sebenarnya telah mengetahui sesuatu yang tidak pernah ia ceritakan kepada Ara? Pikiran itu membuat Ara semakin takut.

Dante memperhatikan perubahan ekspresi istrinya.

"Ara." Suara Dante terdengar lebih rendah.

"Siapa yang menghubungimu?"

Ara ingin membuka mulut. Namun tenggorokan nya tercekat. Tidak ada suara yang keluar. Ia ingin bertanya kepada Dante. Tentang Alessia. Tentang apa yang terjadi sebenarnya pada hari pernikahan itu. Tapi ia belum tahu harus mulai dari mana.

Dan sebelum ia mampu menjawab—Ponsel di tangannya bergetar. Ara tersentak. Dante langsung menundukkan pandangan ke layar.

Refleks, Ara menyembunyikan ponselnya di belakang punggung.

"Ara, apa yang kau sembunyikan dariku?" Suara Dante yang dingin menuntut penjelasan. Meskipun sebenarnya Dante sudah menebak siapa yang mengirim pesan barusan.

"Sungguh tidak ada," sahut Ara berlari ke tempat tidur dengan kikuk. Ia membaca notifikasi pesan baru.

##Jangan katakan kepadanya bahwa aku menghubungimu.##

Ia membaca kalimat itu sekali. Lalu segera mematikan ponselnya. Dengan sembarang ia memasukkan ponselnya ke laci paling bawah.

Ara hanya heran bagaimana Alessia tahu Dante ada di dalam kamar. Bahkan Alessia tahu, Ara akan tergoda untuk menceritakan semuanya.

Ara perlahan mengangkat wajah. Dante bergerak mendekati ranjang. Tatapannya tajam. Tapi ia tidak bertanya lagi. Itu cukup melegakan, setidaknya buat Ara. Untuk saat ini, ia belum bisa menceritakan Alessia pada Dante.

Ara melirik Dante melalui ekor matanya. Dante tidak banyak bicara, wajahnya sedingin es kutub utara. Pria itu menarik ujung selimut dan tidur di sampingnya.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!