Sarah pikir dengan melarikan diri ke tempat terpencil akan membuatnya aman dari orang-orang di masa lalunya. Tapi siapa sangka, pelarian aman itu hanya berlaku untuk beberapa tahun saja.
"Kamu sudah menikah?" tanya pria itu dingin.
"Belum," jawab Sarah tenang.
Pria itu lalu menarik napas dalam sebelum kembali bertanya.
"Lalu... apa kamu punya pacar?"
"Tidak," jawab Sarah lagi.
Raut wajah pria itu seketika berubah. Tidak ada wajah dingin dan intimidasi lagi. Kini ia tersenyum lebar dan tertawa pelan.
"Baguslah," katanya sambil menepuk pelan pundak Sarah. "Sekarang hadapi mereka dulu."
****
Ikuti author di sosmed
Ig : @tulisanmumu
Fb : Mumu Author
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mumu.ai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Hari-hari setelah pertemuan di kedai boba itu kembali berjalan lambat bagi Sarah. Ia menjalani rutinitasnya seperti biasa, bangun pagi, mengajar di sekolah, merapikan berkas administrasi kelas sembilan, lalu pulang ke kamar kosnya saat siang menjelang. Di depan para guru dan murid, Sarah selalu menampilkan wajah profesional yang tenang dan fokus.
Namun, di dalam lubuk hatinya yang terdalam, Sarah tidak bisa membohongi diri sendiri. Ada sebuah ruang kosong yang mendadak terasa hilang dari kesehariannya. Ardhana benar-benar menjaga jarak dengannya.
Pria itu sama sekali tidak ada menghubunginya lewat pesan singkat, tidak ada menelepon, dan tidak pernah lagi terlihat duduk santai menyandarkan tubuh di dekat pagar sekolah untuk menunggunya pulang mengajar. Keheningan yang diciptakan Ardhana justru terasa begitu bising di kepala Sarah, membuatnya diam-diam selalu melirik ke arah luar gerbang setiap kali bel bubaran sekolah berbunyi.
Hingga keesokan harinya, saat Sarah sedang duduk menyendiri di koridor dekat ruang guru sembari membolak-balik buku paket materi, sebuah bayangan tiba-tiba menghalangi cahaya matahari pagi.
“Makanya, siapa suruh kemarin sok jual mahal banget jadi cewek. Sekarang udah nggak ada orangnya, baru kerasa rindu, kan?”
Suara celetukan yang terdengar dengan nada ejekan itu membuat Sarah mendongak cepat. Tini sudah berdiri di depannya sembari berkacak pinggang, menatap Sarah dengan pandangan mata yang sangat penuh selidik.
Sarah langsung membenarkan posisi duduknya dan mendengus pelan, mencoba menyembunyikan keterkejutannya. “Apaan sih, Tin? Datang-datang langsung ngomong ngaco begitu. Siapa juga yang rindu? Sok tahu deh kamu.”
“Halah, Sar! Nggak usah bohong sama aku,” balas Tini cepat. Ia langsung mengambil posisi duduk di sebelah Sarah, menggeser buku paket yang ada di atas bangku beton. “Mata kamu itu nggak bisa nipu tahu. Dari tadi pagi aku perhatiin kamu ngeliatin gerbang luar terus kayak orang lagi nungguin jemputan. Padahal biasanya kamu paling malas kalau disuruh duduk di luar begini.”
“Aku cuma lagi cari angin segar aja, Tin, di dalam ruang guru hawanya gerah banget hari ini,” bantah Sarah tegas, mencoba mencari alasan yang masuk akal demi membela sisa-sisa gengsinya.
Tini memutar bola matanya malas, tidak percaya sedikit pun dengan bantahan dari sahabatnya. Ia mencondongkan badannya sedikit ke arah Sarah, merubah nada suaranya menjadi lebih serius namun tetap santai.
“Sar, dengar ya. Aku ini cuma mau ngingetin kamu sebagai sahabat. Jangan sampai nanti kamu malah menyesal seumur hidup kalau akhirnya Pak Polisi tampan itu beneran milih buat menyerah sama kamu,” ujar Tini penuh penekanan.
Sarah terdiam sejenak, tatapannya beralih menatap ujung sepatunya. “Ya kalau dia menyerah, berarti dia emang nggak beneran serius, Tin. Sesederhana itu, kan?”
“Aduh, Sarah Jaenab! Logika kamu ke mana sih?” Tini menepuk dahinya sendiri karena gemas dengan jalan pikiran Sarah yang terlalu keras kepala. “Kamu pikir memperjuangkan cewek yang tembok pertahanannya setinggi monas kayak kamu itu gampang? Cowok juga punya batas sabar, Sar. Mereka juga butuh dikasih lampu hijau sedikit biar nggak ngerasa kayak berjuang sendirian.”
Sarah tetap memilih untuk diam, enggan membalas rentetan kalimat Tini karena takut rahasia batinnya semakin terbongkar.
Melihat Sarah yang hanya membisu, Tini kembali meluncurkan argumennya yang lebih menukik. “Kamu harus ingat satu hal, Sar. Ardhana itu cakep, badannya tegap, profesinya juga keren jadi polisi. Dia juga masih muda, mapan lagi. Yang pastinya, cewek-cewek di luar sana itu banyak banget yang antre dan suka sama dia! Tuh, contohnya si anak baru kemarin, tiap liat Ardhana matanya hijau mulu, kan? Kalau kamu terus-terusan pasif dan dingin begini, jangan salahkan takdir kalau besok-besok dia beneran gandeng cewek lain ke sekolah ini.”
Rentetan kata-kata Tini kali ini benar-benar terasa seperti hantaman telak yang langsung menusuk ke hulu hati Sarah. Bayangan Ardhana yang tersenyum ramah kepada wanita lain di luar sana mendadak membuat dadanya terasa sangat sesak dan tidak nyaman. Namun, Sarah tetap mempertahankan wajah datarnya, mengunci mulutnya rapat-rapat tanpa memberikan tanggapan apa pun.
Tini menghela napas panjang, merasa lelah karena usahanya untuk menyadarkan sang sahabat sama sekali tidak membuahkan hasil. Ia berdiri dari bangku beton sembari merapikan rok kerjanya.
“Ya sudah deh, kalau dibilangin dari tadi cuma diam aja kayak patung. Aku mau masuk kelas dulu, jam ketiga udah mau mulai. Pikirin baik-baik omongan aku tadi, Sar. Gengsi itu nggak bikin kenyang,” ketus Tini sebelum akhirnya melangkah pergi meninggalkan koridor, menyisakan langkah kakinya yang bergema menjauh.
Setelah kepergian Tini yang mendadak itu, suasana di koridor sekolah itu kembali terasa sepi. Sarah menurunkan buku paket di pangkuannya ke atas bangku, lalu menyandarkan punggungnya pada dinding semen di belakangnya. Kata-kata Tini tentang Ardhana yang bisa saja menyerah dan memilih wanita lain terus-menerus berputar di dalam kepalanya bagaikan kaset rusak, meruntuhkan ketenangannya yang palsu sepanjang minggu ini.
Sarah meremas jemarinya sendiri dengan gelisah. Ada rasa takut yang samar mulai merayap di dalam dadanya, rasa takut kehilangan kesempatan kedua yang sebenarnya sudah berada di depan mata.
Ia membuang pandangannya jauh ke arah gerbang sekolah yang tampak lengang tanpa ada siluet motor kopling merah yang biasanya setia menunggu di sana. Dengan perasaan campur aduk antara kesal, rindu, dan ego yang terluka, Sarah akhirnya mendengus pelan sambil melipat kedua tangannya di dada. Ia bergumam lirih pada angin pagi yang berembus pelan melewati koridor.
“Kalau dia memang beneran suka sama aku… harusnya diperjuangkan lebih keras dong, bukannya malah langsung hilang nggak ada kabar begini setelah ditolak sekali,” gumamnya dengan nada ketus yang menyembunyikan harapan besar di dalam hatinya.
...****************...
Eh Jaenab, apaan yang ditolak sekali. Kamu itu udah nolak berkali-kali, tau 🤧🤧
Double up nih, jempolnya dan juga sesajennya dong 🥰🥰🥲
kalau aku jadi sarah juga bakalan marah..😤😤😤😤
Semoga selalu dalam lindungan Tuhan ya thor