Tidak update harian!!
Zalina Asyara, seorang gadis muda yang harus menelan pahit kehidupan setelah ayahnya jatuh bangkrut dan terlihat hutang pada seorang rentenir. Ibunya memilih lari, meninggalkan ayahnya yang sudah jatuh bangkrut itu juga dirinya.
Zalina terpaksa bekerja sebagai pelayan restoran, untuk membantu ayahnya membayar hutang.
Namun, suatu hari, sepasang suami-istri kaya membawa sebuah lamaran pernikahan untuk Zalina.
mereka adalah kenalan lama ayahnya. Dulu, ayahnya pernah membantunya di saat mereka sedang kesulitan. Kini, saatnya mereka datang untuk membalas Budi.
Apakah Zalina akan menyetujui lamaran mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Ratnasari Husein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari pernikahan
"Setiap hari aku bertanya pada diriku sendiri ... apakah aku sedang belajar mencintaimu, atau hanya belajar menerima takdirku..."
- *Zalina Asyar**a*
------
------
"Saya terima nikah dan kawinnya Zalina Asyara binti Reyhan Aditya dengan mas kawin yang tersebut tunai..."
"SAH!!"
Satu kata yang menggema, menandakan bahwa mulai hari ini, detik ini, Kaiden Pradipta, telah resmi menjadi suami Zalina.
Isak tangis haru dan ucapan syukur, terdengar dari para tamu yang hadir. Mereka menyaksikan penyatuan dua insan yang semula begitu asing, kini dipersatukan dalam ikatan suci pernikahan.
Zalina melangkah masuk ke area resepsi, di dampingi oleh Diandra, sahabat setianya. Gaun putih yang dikenakannya tampak begitu anggun, namun tak mampu menyembunyikan kegelisahan yang bersembunyi di balik sorot matanya.
Pesta itu tidak digelar secara mewah. Hanya sebuah pernikahan outdoor sederhana, dengan dekorasi bernuansa hangat dan alami, serta dihadiri oleh puluhan tamu terdekat, sesuai kesepakatan kedua mempelai.
Langit pagi menjelang siang itu tampak cerah, angin segar berhembus pelan, seolah ikut merestui hari bahagia itu. Namun, berbeda dengan suasana di sekitarnya, hati Zalina terasa sunyi.
Langkahnya terhenti sesaat ketika pandangannya bertemu dengan Kaiden yang sudah berdiri di depan. Pria itu tampak tenang, bahkan terlalu tenang untuk seorang pengantin pria. Tidak ada senyum hangat, atau sorot mata bahagia, hanya ekspresi datar yang sulit diartikan.
"Kau tidak apa-apa?" bisik Diandra pelan.
Zalina tersenyum tipis, sekedar untuk menenangkan sahabatnya. "Aku tidak apa-apa."
Mereka kembali melangkah, mendekati pria yang kini telah resmi menjadi suami Zalina. Dalam jarak yang semakin dekat, jantungnya justru berdebar kencang, bukan karena cinta, melainkan karena kini hidupnya akan segara berubah.
Mereka berdiri di podium, untuk pemasangan cincin pernikahan.
Zalina memaksakan dirinya untuk tersenyum, walau Kaiden sendiri terlihat berdiri tegak dengan wajah dinginnya yang kaku.
Dia bahkan tidak bisa berpura-pura untuk tersenyum.
Seorang wanita pembawa cincin, berdiri di samping mereka, menyerahkan sebuah kotak kecil berlapis beludru.
Kaiden lebih dulu mengambil sebuah cincin emas bermata berlian itu. Dengan gerakan tenang dan pasti, ia menyematkannya di jari manis tangan kiri Zalina.
Sentuhan singkat itu terasa dingin, atau mungkin hanya perasaan Zalina yang terlalu beku untuk merasakan kehangatan.
Setelah itu, Zalina juga mengambil cincin satunya yang terlihat lebih sederhana, polos tanpa hiasan. Jemarinya sedikit gemetar, saat ia menggenggam tangan kaiden, lalu perlahan menyematkannya di jari manis pria itu.
Para tamu langsung bertepuk tangan dan bersorak kecil, memenuhi udara dengan kebahagiaan yang seolah-olah utuh.
Namun, ditengah riuhnya perayaan itu, Zalina justru merasa hampa. Ia menatap cincin yang kini melingkar di jarinya. Indah, berkilau dan sempurna. Tapi entah kenapa... terasa begitu berat.
"Cium! Cium!"
Sorakan dari Belinda dan Diandra menggema di udara. Disusul oleh teriakan dari para tamu yang lainnya. Suasana berubah ricuh, hingga membuat Zalina menundukkan wajah karena rasa malu yang tiba-tiba menderanya.
Sementara pria di sampingnya tampak santai, bahkan tidak menunjukkan ekspresi apa pun saat ini. Ia bersikap sangat tenang, seolah hal itu tidak berpengaruh apa-apa baginya.
Namun, tanpa ia duga, Kaiden malah meraih pinggangnya dan membuat tubuh mereka nyaris bertabrakan satu sama lain. Dengan gerakan pelan, Kaiden mendekatkan wajahnya ke arahnya.
Zalina tampak diam dan menelan ludahnya pelan. Ia tidak siap dengan serangan tiba-tiba yang akan dilayangkan oleh Kaiden. Ia memejamkan matanya rapat, tampak pasrah menerimanya.
Detik demi detik berjalan dengan sangat lambat.
Namun, alih-alih sesuatu yang kasar dan mengejutkan, yang ia rasakan justru sentuhan hangat di dahinya. Begitu lembut, nyaris tidak terasa.
Zalina seketika membuka matanya. Kaiden segera menarik tangannya dari pinggang Zalina, lalu berdiri tegak, seolah tidak terjadi apa-apa. Wajah pria itu tetap datar, sulit ditebak, namun sorot matanya menyimpan sesuatu yang tak sempat ia pahami.
"Jangan terlalu tegang," bisiknya pelan. "Aku tidak akan melakukan apa pun yang tidak kau inginkan."
Zalina terdiam.
Kalimat itu terdengar sederhana, tapi entah mengapa justru membuat dadanya berdebar tak menentu. Bukan karena takut, namun karena sesuatu yang membuatnya merasa bingung.
Pria di hadapannya ini, yang menikahinya tanpa cinta, baru saja memberinya batas yang bahkan tidak ia minta.
Dan untuk pertama kalinya sejak hari itu dimulai, Zalina merasa... mungkin, pernikahan ini tidak sepenuhnya akan menjadi mimpi buruk.
Meski begitu, hatinya masih saja dipenuhi oleh rasa gelisah.
🥀🥀🥀
Pesta masih berlangsung hingga sore harinya, walau beberapa kerabat sudah lebih dulu meninggalkan lokasi pesta karena tempat tinggal mereka yang berada di luar kota.
Sementara beberapa sahabat dekat dan para orang tua, masih tampak bersantai menikmati teh sore mereka di meja.
Kedua mempelai sendiri tampak duduk terpisah di meja mereka masing-masing.
Zalina duduk dengan Diandra dan juga Aluna, sekertaris Kaiden. Sementara, suaminya duduk dengan beberapa orang sahabatnya.
Zalina sempat mengernyit ketika melihat seorang pria yang menyandarkan kepalanya di bahu Kaiden.
Namun, ia memilih untuk mengabaikannya, karena ia pikir itu masih hal yang wajar dilakukan oleh teman pria.
Ia bahkan juga sering bersandar di bahu Diandra ketika sedang sedih. Jadi, para pria mungkin juga melakukan hal yang sama, bukan.
Namun, sepertinya Diandra berpikir lain ketika melihatnya.
"Zal." bisiknya pada Zalina.
"Hmm..."
"Kau kenal pria yang menyandarkan kepalanya pada Kaiden itu?" tanyanya terlihat penasaran.
"Tidak. Aku tidak kenal. Memangnya kenapa?" tanya Zalina balik.
"Tidak apa-apa. Aku hanya penasaran." ia lalu terkekeh kecil.
Zalina malah mengernyit heran menatapnya.
Apa wajar bagi pria bisa bersikap seakrab itu dengan pria lain?
Pikiran Diandra seketika dipenuhi tanda tanya. Cara pria itu menyandarkan kepalanya di bahu Kaiden terasa... aneh, terlalu dekat, terlalu nyaman, seolah itu adalah hal yang biasa bagi mereka. Atau... itu hanya perasaan Diandra saja.
Ia mengalihkan pandangannya kembali ke arah Kaiden. Pria itu tampak tenang, tidak menunjukkan penolakan sedikit pun. Lalu beralih ke ekspresi pria disamping Kaiden, sekilas ada ekspresi yang sulit ia artikan.
"Sudah, jangan dipelototi terus. Nanti kau malah naksir padanya." ledek Zalina, setelah melihat sahabatnya itu menatap pria di samping Kaiden dengan tatapan tajam.
"Dasar kau ini..."
Sementara itu, dari balik mejanya, Kaiden melirik sejenak ke arah Zalina yang sedang mengobrol dengan Diandra dan Aluna.
Sesekali terlihat senyum lebar yang mengembang di wajahnya.
"Dia... wanita yang menarik." pria di sebelahnya mulai bicara. "Apa kau akan jatuh cinta dengannya?"
Pria itu kini terlihat menatap Zalina. Tatapannya terlihat dalam dan penuh arti.
Kaiden tidak menjawab, ia malah tersenyum tipis ke arahnya.
"Kau memang sangat sulit untuk dimengerti, Kai."
Tatapan keduanya kembali mengarah ke meja gadis itu.
Zalina yang tertawa lepas, Diandra yang tampak heboh, dan Aluna yang lebih banyak diam, namun sesekali tampak tersenyum tipis.
Suasana yang terlihat hangat dan tanpa beban.
Namun, entah mengapa, Kaiden justru merasa tidak senang. Ia menatap pemandangan itu lebih lama dari seharusnya, rahangnya sedikit mengeras tanpa ia sadari.
Perasaan asing dan... mengganggu.
🥀🥀🥀
Selamat atas pernikahan Kaiden dan Zalina. Apakah pernikahan ini akan berjalan selamanya, atau malah berhenti ditengah jalan?
Tungguin terus ya kelanjutan ceritanya. Dan jangan lupa tinggalkan jejaknya. Biar aku tahu kalau kalian selalu mendukung karya ini. 🫰🤗
ini ya si pria yang merangkul kaiden kemarin ☺ centil juga orangnya...