NovelToon NovelToon
DURI YANG TERSEMBUNYI

DURI YANG TERSEMBUNYI

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:683
Nilai: 5
Nama Author: Meindah88

Aluna Anna harus menelan kenyataan pahit ketika ibunya, Yusi, memaksanya mengakhiri rencana pernikahan dengan pria yang sangat dicintainya, seorang dokter muda bernama Alvaro Alexander. Di balik keputusan itu tersimpan keinginan Yusi yang dianggap lebih penting daripada kebahagiaan putrinya sendiri: ia ingin Alvaro menikahi Elizabets, adik Anna yang hidup dengan keterbatasan fisik, dengan harapan sang dokter dapat merawat dan membantu kesembuhannya.

Keputusan tersebut menghancurkan hati Anna dan Alvaro. Cinta yang telah mereka bangun harus dikorbankan demi tuntutan keluarga dan rasa tanggung jawab. Di tengah luka dan air mata, Anna berusaha menerima nasib yang tidak pernah ia pilih, sementara Alvaro terjebak antara cinta sejatinya dan kewajiban yang dipaksakan kepadanya.
Namun, ketika rahasia demi rahasia mulai terungkap, mereka menyadari bahwa cinta sejati tidak mudah dipisahkan oleh keadaan. Mampukah Anna dan Alvaro memperjuangkan kebahagiaan mereka, atau akankah mereka selamanya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meindah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.17

"Nyonya...Anna tidak ada di kamarnya.

Suara bi Siti menggema sepanjang lorong rumah itu. Napasnya memburu setelah berlari sekuat tenaga dengan wajah memucat, sementara kedua tangannya gemetar hebat.

Yusi yang sedang duduk di ruangan keluarga langsung bangkit. Jantungnya berdegup tak menentu.

" Maksudnya apa, Bi?" Nada Yusi tiba-tiba meninggi.

" Kamar tidur kosong, Nyonya....semuanya kosong."

Tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut, Yusi berlari menuju kamar putri sulungnya, gaunnya ikut terseret tapi ia tak peduli. Bi Siti yang melihat itu sama sekali tak tersentuh, baginya semuanya sudah terlambat.

Sesampainya di depan kamar Anna, langkah Yusi terhenti. Ada sesal di hati atas sikapnya selama ini terhadap Anna.

Pintu kamar terbuka lebar, aroma yang biasanya dipenuhi kesukaan Anna kini terasa begitu sunyi. Lemari pakaian terbuka tanpa sehelai pakaian yang tersisa. Rak buku tampak kosong, meja rias favorit Anna kini hanya menyisakan lapisan tipis.

" Lihat nyonya...tak ada koper, tasnya pun tidak ada.

Dunia Yusi serasa berputar, ia terpaku memandang kamar Anna. Sepi, seolah tak pernah ada penghuni di kamar itu.

" Deg," Yusi benar-benar tidak percaya dengan tindakan putrinya.

" Anna," lirihnya memanggil nama itu.

Tubuhnya limbung, lututnya kehilangan tenaga hingga hampir membuatnya terjatuh.

" Tante, ada apa?"

Tak ada jawaban, Yusi menangis sesenggukan di pelukan calon menantunya. Alvaro mengangkat wajah, tatapannya mencari penjelasan dari orang-orang di sekitar.

Sementara mereka yang berada dalam rumah itu hanya saling berpandangan dengan wajah cemas.

Tatapan Alvaro yang penuh intimidasi terasa seperti ribuan jarum yang menusuk hati Eliz. Kepalanya tertunduk, jemarinya saling meremas hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa bersalah terus menggerogoti nuraninya. Namun, semuanya sudah terlambat. Hari ini, ia telah resmi menjadi tunangan Alvaro. Sebuah posisi yang sejak lama ia impikan. Meski ia tahu, cincin yang melingkar di jari manisnya sama sekali bukan lambang cinta. Alvaro tak pernah memilihnya, tak pernah mengejarnya,  bahkan tak pernah memberikan harapan. Tapi, Eliz tetap percaya, suatu saat nanti ketulusannya akan membuka pintu hati pria itu. Sekalipun hari ini, kebahagiaan dibangun di atas air mata perempuan lain.

" Anna pergi jauh," bisik Yusi dengan suara parau, kalimat itu begitu lirih.

Alvaro terhenyak, ucapan itu terdengar seperti petir yang membelah langit.

" Nyeees..."

Dadanya mendadak sesak, nafasnya tercekat. Darah di wajah seolah menghilang dalam sekejap.

" Tidak mungkin."

Ia melepaskan pelan tubuh Yusi, langkahnya bergegas menuju kamar Anna. Tatapan itu menyapu seluruh ruangan.

"Kosong..."

"Benar-benar kosong," ucap Alvaro, tubuhnya mendadak membeku.

Di atas meja belajar, ia melihat sebuah vas bunga kecil yang telah layu. Namun, yang paling menarik adalah sebuah kotak beludru berwarna biru. Kotak itu dikenalnya, dengan tangan gemetar, ia mengambilnya. Perlahan ia membukanya. Di dalam terdapat cincin yang pernah ia siapkan. Cincin yang seharusnya menjadi lambang awal kehidupan baru mereka.

" Apa...ini keputusanmu?"gumamnya lirih.

Tak terasa, setetes air mata jatuh membasahi punggung tangannya.

" Anna, kamu benar-benar pergi meninggalkanku, meninggalkan semua kenangan yang pernah kita rajut bersama.

Entah mengapa, kepergian Anna saat itu membuat setiap orang yang mengenalnya merasakan sakit yang sama.

"Aku tidak mengkhianatimu, Anna. Aku terjebak dalam permainan papa. Kenapa harus kita yang menanggung semuanya?" Alvaro memegang dada yang semakin nyeri, sementara Eliz yang berdiri di balik pintu kamar mengamatinya. Rasa sakit yang dirasakan Eliz tentu jauh lebih dalam dibanding keduanya. Cintanya kini bertepuk sebelah tangan.

***

Di tempat yang jauh dari rumah itu, sebuah bus antarkota melaju semakin jauh membelah jalan raya.

Di dekat jendela, Anna duduk dengan memeluk ranselnya erat. Matanya sembab akibat terlalu banyak menangis. Ponselnya berulang kali bergetar, nama Alvaro terus muncul di layar.

Satu panggilan

Dua panggilan

Lima panggilan

Hingga berkali-kali panggilan, tak satupun ia angkat. Perlahan Anna mematikan ponselnya. Ia menyandarkan kepala pada kaca jendela. Memandangi langit yang mulai diselimuti awan kelabu.

" Maafkan aku, Alvaro," bisiknya pelan, nyaris tak terdengar.

"Aku memilih pergi agar semuanya bahagia. Eliz lebih membutuhkanmu. Cintailah dan bahagiakan dia. Aku akan belajar melupakanmu. Aku titipkan mama dan Elizabets padamu."

Air mata itu masih mengalir begitu saja, ia sudah berusaha menahannya namun tetap tidak bisa.

Bus itu tetap melaju membawa Anna menjauh dari kota, dari keluarganya dan dari pria yang masih sangat ia cintai. Tanpa ia sadari, kepergiannya bukanlah akhir dari segalanya.

Melainkan awal dari takdir yang akan mengubah hidup mereka untuk selamanya.

Tangan mungil itu meraih kembali ponsel yang terus bergetar tanpa henti.

"Maaf, kisah di antara kita sudah berakhir," ucapnya pelan. Ia memejamkan mata, lalu menarik napas sedalam-dalamnya. Hatinya sudah mantap untuk mengganti nomor yang dulu dibelinya sebelum berangkat.

Anna turun di sebuah kota yang asing baginya. Pandangannya menyapu sekeliling. Mencari sesuatu yang terasa akrab, tetapi tak satu pun wajah dikenalinya. Di tengah hiruk pikuk yang asing, ia hanya mampu menarik nafas pelan, menyadari bahwa dirinya benar-benar sendirian.

Apakah Anna menyesal? Tidak sama sekali, kepergiannya adalah sebuah cara untuk mengobati luka yang semakin perih. Ia mulai bertanya-tanya kepada orang-orang di sana.

" Akhirnya kamu datang, Anna," teman sekampus Anna semasa kuliah bernama Windy ternyata sedari tadi menunggu kedatangannya. Sepertinya, Anan sudah merencanakan kepergiannya jauh hari sebelumnya.

" Orang tua, kamu tidak keberatan kan kalau aku bermalam di rumahmu malam ini?” tanya Anna sedikit cemas.

“Oh... tentu saja tidak. Mama dan ayahku baik banget, Anna. Justru mereka senang aku punya teman yang datang tanpa harus keluar rumah,” sahut Windya sambil tersenyum tipis.

“Aku sangat berterima kasih, Windy. Saat aku sedang kesusahan, kamu mau menolongku,” ucap Anna penuh rasa syukur pada temannya. “Besok aku akan mencari rumah kontrakan, dan aku usahakan tidak jauh dari tempat kerjaku."

“Kamu yakin mau bekerja di rumah sakit itu? Gajinya kecil, Anna.”

“Tidak apa-apa. Yang penting aku bisa memenuhi kebutuhanku selama tinggal di kota besar ini.”

" Aku dengar ayah Alvaro memiliki berbagai Yayasan rumah sakit di berbagai kota. Malah di kota ini juga ada, kenapa kamu tidak mencoba di sana aja, An?" Aku yakin kamu lebih mudah di terima, tinggal hubungan dokter Alvaro kan.

Suara Widya terdengar hanya memberi saran biasa. Namun, setiap kali nama itu keluar dari bibir temannya, seolah jarum yang menusuk jantungnya.

Anna hanya menundukkan kepala, jemarinya menggenggam erat tas yang sejak tadi dibawanya. 

"Terima kasih, Wind. Besok aku sudah mulai masuk kerja. Aku yakin, aku pasti bisa bertahan di rumah sakit tempat aku bekerja. Aku butuh kenyamanan, bukan uang besar atau tekanan dari siapa pun."

1
Novi Tasa
ceritany bgus
Meindah88: Terimakasih..🥰
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!