Setelah meninggal karena kelelahan bekerja, Arga terbangun di masa lalu sebagai dirinya yang berusia delapan belas tahun.
Dengan ingatan tentang masa depan, ia bertekad mengubah nasib keluarganya dan menyelamatkan warung kecil yang menjadi sumber penghidupan mereka.
Dimulai dari usaha sederhana di pinggir jalan, Arga melangkah menuju dunia bisnis yang penuh peluang, persaingan, dan pengkhianatan.
Kali ini, ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.
"Jika diberi kesempatan kedua, bisakah sebuah warung kecil melahirkan seorang konglomerat?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Theurgist, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 – Tawaran dari Seberang Jalan
Malam semakin larut.
Sebagian besar rumah di sekitar warung keluarga Arga sudah mematikan lampunya.
Hanya beberapa rumah yang masih terlihat terang.
Warung mereka sendiri sebenarnya hampir tutup.
Namun kedatangan Rudi membuat suasana berubah.
Pemilik minimarket itu duduk dengan tenang di kursi plastik dekat etalase.
Di depannya terdapat segelas teh hangat yang baru dibuat oleh ibu Arga.
Ayah Arga duduk berhadapan dengannya.
Sementara Arga memilih duduk sedikit di samping.
Ia lebih banyak mengamati daripada berbicara.
Karena sejak awal, ia merasa tujuan kedatangan Rudi malam ini bukan sekadar mengobrol.
Dan perasaannya terbukti benar.
"Aku ingin bicara soal peluang bisnis."
Kalimat itu masih menggantung di udara.
Ayah Arga terlihat penasaran.
"Peluang seperti apa?"
Rudi tidak langsung menjawab.
Ia meminum tehnya terlebih dahulu.
Kemudian meletakkan gelas perlahan.
"Beberapa bulan terakhir aku memperhatikan warung ini."
Ayah Arga tertawa kecil.
"Kalau itu aku sudah tahu."
Rudi ikut tersenyum.
"Tidak mungkin tidak memperhatikan. Warung yang dulu sepi sekarang mulai ramai."
Arga memperhatikan ekspresi Rudi.
Tidak ada nada meremehkan.
Tidak ada nada iri.
Justru terdengar seperti pengakuan jujur.
Dan itu membuatnya semakin menghormati pria tersebut.
Rudi melanjutkan.
"Aku juga melihat sesuatu yang menarik."
"Apa itu?" tanya ayahnya.
"Pelanggan kalian."
Ruangan menjadi tenang.
Rudi menunjuk ke arah dapur.
"Gorengan."
Lalu menunjuk ke rak warung.
"Dan cara kalian menarik pelanggan."
Ayah Arga mulai terlihat bingung.
Sementara Arga sudah mulai menebak arah pembicaraan.
Rudi menyandarkan tubuhnya ke kursi.
"Aku ingin menawarkan kerja sama."
Kini semua orang benar-benar fokus.
Kerja sama?
Bahkan Bu Rina yang sedang membereskan dapur berhenti sejenak untuk mendengarkan.
Kerja sama antara warung kecil dan minimarket?
Itu bukan sesuatu yang biasa terjadi.
"Apa bentuk kerja samanya?" tanya Arga untuk pertama kalinya.
Rudi menoleh kepadanya.
Kemudian tersenyum tipis.
"Aku ingin menjual gorengan kalian di minimarket."
Ruangan langsung hening.
Ayah Arga berkedip.
Ibunya terlihat terkejut.
Bu Rina bahkan tanpa sadar mendekat.
Sementara Arga tetap tenang.
Meski sebenarnya ia juga cukup terkejut.
Karena kemungkinan ini belum pernah terlintas di pikirannya.
"Menjual di minimarket?" tanya ayahnya.
Rudi mengangguk.
"Aku sering melihat pelanggan membeli gorengan di sini lalu masuk ke tempatku."
"Itu benar."
"Kenapa mereka harus berjalan ke dua tempat?"
Ayah Arga mulai memahami.
Maksud Rudi cukup sederhana.
Kalau gorengan tersedia di minimarket, pelanggan bisa membeli semuanya di satu tempat.
Ide itu masuk akal.
Sangat masuk akal.
Namun justru karena terlalu masuk akal, Arga menjadi lebih berhati-hati.
"Bagaimana sistemnya?" tanya Arga.
Rudi tampak senang mendengar pertanyaan itu.
Karena menurutnya, itu pertanyaan yang tepat.
"Kalian tetap memproduksi."
"Aku menyediakan tempat."
"Setiap produk yang terjual, kita bagi keuntungan."
Arga terdiam.
Kemudian mulai berpikir.
Di satu sisi, tawaran itu menarik.
Minimarket Rudi memiliki pelanggan lebih banyak.
Lokasinya lebih nyaman.
Jam operasionalnya lebih panjang.
Artinya potensi penjualan bisa meningkat.
Namun di sisi lain, ada risiko.
Besar.
Kalau produksi bertambah terlalu cepat, masalah lama bisa muncul kembali.
Ibunya bisa kewalahan.
Kualitas bisa menurun.
Dan reputasi yang baru mereka bangun bisa rusak.
"Aku tidak minta jawaban sekarang."
Rudi tampaknya menyadari keraguan mereka.
"Pikirkan dulu."
Ayah Arga mengangguk.
"Itu memang perlu dipikirkan."
Setelah beberapa menit berbincang lagi, Rudi akhirnya pamit.
Namun sebelum pergi, ia sempat berkata sesuatu yang membuat Arga berpikir.
"Bisnis bukan cuma soal bersaing."
Ia berdiri lalu merapikan bajunya.
"Kadang-kadang tumbuh bersama lebih menguntungkan."
Kemudian ia berjalan kembali ke minimarketnya.
Meninggalkan keluarga Arga dalam keheningan.
Begitu Rudi pergi, diskusi langsung dimulai.
Ayah Arga tampak cukup antusias.
"Menurutku ini kesempatan bagus."
Ibunya terlihat ragu.
"Kalau kita tidak sanggup?"
"Itu yang harus dipikirkan."
Ayahnya menoleh kepada Arga.
"Kamu bagaimana?"
Semua mata langsung tertuju kepadanya.
Arga tidak langsung menjawab.
Ia mengambil buku catatannya.
Kemudian mulai menulis beberapa poin.
Keuntungan.
Risiko.
Kapasitas produksi.
Dampak jangka panjang.
Kebiasaan yang sudah terbentuk sejak ia kembali ke masa lalu.
Ia tidak ingin membuat keputusan hanya berdasarkan perasaan.
Beberapa menit kemudian, ia mulai berbicara.
"Keuntungannya jelas."
"Apa saja?" tanya Bu Rina.
"Pelanggan lebih banyak."
"Penjualan bisa naik."
"Kita tidak perlu membuka tempat baru."
Semua orang mengangguk.
Kemudian Arga melanjutkan.
"Tapi ada masalah."
"Apa?"
"Kita belum tahu berapa banyak yang akan terjual."
Ruangan kembali sunyi.
Itulah inti persoalannya.
Kalau mereka memproduksi terlalu sedikit, peluang terbuang.
Kalau memproduksi terlalu banyak, makanan bisa tersisa.
Dan gorengan bukan produk yang bisa disimpan lama.
"Kita bisa coba sedikit dulu," kata Bu Rina.
Semua menoleh kepadanya.
Wanita itu tampak sedikit gugup.
Namun tetap melanjutkan.
"Kalau langsung banyak memang berbahaya."
"Tapi kalau hanya sedikit, kita bisa melihat hasilnya."
Arga langsung menyukai ide tersebut.
Karena sesuai dengan prinsip yang selama ini ia pegang.
Uji kecil terlebih dahulu.
Kemudian berkembang secara bertahap.
Bukan langsung mengambil risiko besar.
"Itu masuk akal," katanya.
Ayahnya juga mulai mengangguk.
Diskusi berlangsung hampir satu jam.
Pada akhirnya mereka mencapai kesimpulan sederhana.
Kalau kerja sama itu jadi dilakukan, mereka akan memulai dalam skala kecil.
Sangat kecil.
Hanya untuk menguji pasar.
Bukan untuk mengejar keuntungan besar.
Keesokan harinya, Arga pergi ke sekolah dengan pikiran yang masih dipenuhi berbagai kemungkinan.
Di perjalanan pulang, ia sengaja memperhatikan minimarket Rudi.
Tempat itu memang lebih ramai dibanding warung mereka.
Banyak pelanggan masuk dan keluar setiap saat.
Kalau sebagian kecil saja membeli gorengan, penjualan mereka bisa meningkat cukup banyak.
Namun Arga juga menyadari sesuatu.
Semakin besar usaha, semakin besar pula tanggung jawab.
Selama ini mereka masih bisa mengawasi setiap gorengan yang dibuat.
Kalau produksi meningkat dua kali lipat?
Tiga kali lipat?
Belum tentu semuanya tetap mudah.
Saat sampai di warung, ia melihat beberapa pekerja proyek sedang membeli minuman.
Jumlah mereka semakin banyak dibanding minggu lalu.
Arga memperhatikan transaksi tersebut.
Lalu sebuah pemikiran muncul.
Pekerja proyek.
Pelanggan minimarket.
Pesanan acara.
Pelanggan tetap.
Semua mulai bertambah.
Dan untuk pertama kalinya sejak kembali ke masa lalu, ia mulai melihat sesuatu yang lebih besar.
Warung mereka tidak lagi sekadar bertahan hidup.
Warung itu sedang berkembang.
Perlahan.
Tetapi nyata.
Namun pertumbuhan selalu membawa tantangan baru.
Dan tantangan itu datang lebih cepat dari yang diperkirakan.
Menjelang sore, seorang pekerja proyek yang sering datang ke warung berbicara kepada ayahnya.
"Pak."
"Iya?"
"Minggu depan sebagian jalan depan sini akan ditutup total."
Ayah Arga membeku.
"Apa?"
Pekerja itu mengangguk.
"Katanya untuk tahap berikutnya."
Senyum yang sebelumnya menghiasi wajah ayah Arga perlahan menghilang.
Sementara Arga langsung merasakan firasat buruk.
Karena ia tahu.
Kalau jalan benar-benar ditutup total, dampaknya akan jauh lebih besar daripada sebelumnya.
Dan mungkin, jauh lebih besar daripada yang selama ini mereka perkirakan.