Bagi Alice Gracellyn, hidup adalah tentang kerja keras dan utang budi. Ia dipaksa menjadi tulang punggung keluarga pamannya yang serakah, dengan dalih membalas jasa karena telah menampungnya sejak yatim piatu. Namun, Alice tidak pernah tahu bahwa paman yang ia hormati adalah dalang di balik kematian orang tuanya demi merebut harta, termasuk rumah yang saat ini mereka tinggali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By.DarkRose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji Makan Malam yang Ingkar
Aroma gurih kaldu daging sapi yang dimasak perlahan dengan rempah-rempah khas Italia merebak, memenuhi setiap sudut dapur utama mansion.
Asap tipis membubung dari panci tembaga besar, mengepul hangat di bawah cahaya lampu gantung yang terang.
Sejak pukul empat sore, area dapur yang biasanya hanya diisi oleh koki profesional itu tampak lebih hidup.
Alice berdiri di depan meja marmer, mengenakan celemek linen berwarna krem di atas gaun katun longgarnya.
Rambut ikal cokelat mudanya dicepol berantakan ke atas, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajahnya yang tampak sedikit lelah namun memancarkan binar tekad yang kuat.
Kedua tangannya yang mungil tampak sibuk memotong sayuran dengan hati-hati.
"Nona Alice, biar saya saja yang melanjutkan memotong wortelnya. Nona sedang hamil muda, tidak boleh berdiri terlalu lama," ucap Mbok Nem dengan nada cemas, berdiri di samping Alice sembari memegang nampan perak.
Alice menoleh dan mengulas senyum tipis, menggeleng pelan.
"Tidak apa-apa, Mbok. Aku justru ingin melakukannya. Jika aku hanya berdiam diri di kamar, pikiranku malah akan ke mana-mana. Stres itu tidak baik untuk bayiku, bukan?"
Mbok Nem terdiam, matanya menatap Alice dengan pandangan penuh rasa iba yang mendalam.
Seluruh pelayan di mansion ini tidak buta. Mereka semua tahu bahwa sejak kedatangan Viona dan anak laki-laki itu dua hari lalu, suasana di mansion berubah drastis.
Elvano yang semula bertingkah seperti suami siaga yang berlebihan, perlahan-lahan mulai menarik diri.
Pria itu lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah atau mengunci diri di ruang kerja hingga pagi.
Memasak adalah cara Alice untuk melarikan diri dari rasa cemas yang perlahan mulai menggerogoti kewarasannya.
Ia ingin membuktikan pada dirinya sendiri dan kepada Elvano, bahwa ia adalah wanita yang nyata di sini, wanita yang sedang membawa masa depan klan Salvatore di rahimnya.
Satu jam yang lalu, Elvano sempat menghubunginya melalui telepon rumah.
Suara bariton pria itu terdengar sangat lelah di seberang sana, namun ia memberikan sebuah janji yang sempat membuat runtuhan es di hati Alice mencair kembali.
"Masaklah apa yang kau inginkan, Alice. Aku akan menyelesaikan urusan pelabuhan ini lebih cepat dan pulang sebelum jam tujuh malam. Kita akan makan malam bersama," ucap Elvano saat itu.
Janji manis itu menjadi asupan energi instan bagi Alice.
Dengan bantuan Mbok Nem dan Tari, ia menyiapkan menu Stufato di Manzo, rebusan daging sapi tradisional Italia yang pernah Elvano ceritakan sebagai makanan masa kecil favoritnya di Milan.
Alice memasaknya dengan penuh ketelitian, memastikan setiap takaran bumbu meresap sempurna, persis seperti rasa cinta dan harapan yang sedang ia pertaruhkan malam ini.
Waktu terus merambat maju tanpa permisi.
Jam dinding antik berangka romawi di ruang makan utama berdentang pelan, menunjukkan pukul delapan malam.
Seluruh hidangan telah ditata dengan sangat rapi di atas meja panjang berbahan kayu mahoni.
Lilin-lilin aromaterapi telah dinyalakan, memancarkan cahaya temaram yang romantis.
Dua piring porselen terbaik telah diletakkan saling berhadapan.
Alice duduk di salah satu kursi berlengan, melipat kedua tangannya di atas pangkuan.
Sepasang matanya yang sayu terus menatap lurus ke arah pintu masuk utama, telinganya dipasang tajam-tajam, berharap mendengar deru mobil sport milik Elvano memecah keheningan halaman depan.
Satu jam berlalu lagi. Kini jam menunjukan Pukul sembilan malam.
Lilin-lilin di atas meja mulai meleleh, menyisakan gundukan lilin cair yang kehilangan bentuknya.
Asap hangat dari rebusan daging sapi di dalam mangkuk keramik tidak lagi mengepul.
Lapisan lemak tipis mulai membeku di permukaan kuah, menandakan bahwa makanan yang dimasak dengan usaha berjam-jam itu kini telah mendingin, sedingin udara malam yang menusuk pori-pori kulit Alice.
"Nona Alice..." Tari berbisik pelan dari sudut ruangan, melirik jam dinding dengan cemas.
"Apakah Nona ingin saya menghangatkan makanannya kembali di dapur? Ini sudah jam sembilan lewat, Nona belum makan sebutir nasi pun sejak siang. Ingat janin di perut Nona..."
Alice tersenyum getir, menggeleng lemah tanpa mengalihkan pandangannya dari pintu yang masih tertutup rapat.
"Tidak perlu, Tari. Sebentar lagi Tuan Elvano pasti pulang. Jalur menuju mansion dari pusat kota memang sering macet di jam-jam seperti ini. Aku akan menunggunya."
Di dalam hatinya, Alice tahu ia sedang membohongi dirinya sendiri.
Seorang Elvano tidak pernah tertahan oleh macet.
Jika pria itu ingin pulang, sirine pengawal mafianya akan membelah jalanan kota dalam hitungan menit.
Hanya ada satu hal di dunia ini yang bisa menahan langkah Elvano yaitu keputusannya sendiri.
DRRTT... DRRTT...
Suara getaran ponsel di atas meja makan marmer terdengar begitu nyaring, memecah kesunyian malam yang mencekam.
Alice tersentak, tubuhnya menegak seketika. Dengan tangan yang gemetar antara rasa lapar dan kecemasan yang membuncah, ia langsung meraih ponsel tersebut.
Sebuah pesan singkat masuk dari nomor Elvano.
Tidak ada panggilan suara, hanya barisan teks berlatar hitam yang begitu dingin saat dibaca oleh manik hazel Alice.
Elvano: Alice, jangan menungguku untuk makan malam. Aku tidak bisa pulang ke mansion malam ini. Kenzo tiba-tiba mengalami demam tinggi akibat syok dan komplikasi asma sehabis dari Swiss. Dia sekarang dirawat di rumah sakit klan dan terus menangis memanggil namaku. Aku harus menemaninya di sini sampai kondisinya stabil. Makanlah dan segera tidur, jangan keras kepala.
DEG.
Ponsel di tangan Alice perlahan meluncur jatuh ke atas meja, menimbulkan suara benturan kecil yang seolah-olah menjadi penanda runtuhnya harapan terakhir wanita itu malam ini.
Dada Alice terasa begitu sesak, seolah pasokan oksigen di ruang makan mewah itu telah lenyap sepenuhnya.
Rasa sakit yang teramat tajam, pekat, dan menghancurkan seketika menjalar dari ulu hatinya menuju air mata yang kini tak terbendung lagi mengalir membasahi pipinya yang memerah karena sembab.
Kekecewaan pertama ini terasa begitu menyakitkan. Kata-kata di dalam pesan itu adalah bukti nyata bahwa prioritas Elvano telah bergeser.
Janji manis untuk makan malam bersama, perhatian berlebihan pada kandungannya, dan lamaran resmi yang baru berumur beberapa hari...semuanya mendadak hilang dan kalah oleh tangisan seorang anak berumur tujuh tahun yang diklaim sebagai darah daging masa lalunya.
Alice menatap kosong ke arah mangkuk berisi Stufato di Manzo yang telah mendingin sempurna di hadapannya.
Kerja kerasnya di dapur selama berjam-jam, rasa mual yang ia tahan demi memasak makanan kesukaan pria itu, kini terasa seperti sebuah lelucon yang sia-sia dan memuakkan.
"Nona Alice..." Mbok Nem melangkah mendekat, matanya berkaca-kaca melihat tubuh ringkih Alice yang mulai bergetar hebat akibat isak tangis yang tertahan.
Tanpa memedulikan batasan status pelayan, wanita tua itu langsung berlutut di samping kursi Alice, mengusap punggung tangan Alice yang terasa sedingin es.
"Mbok..." suara Alice pecah, terdengar begitu parau dan rapuh. Ia membekap mulutnya sendiri, mencoba menahan tangisan yang kian menderu di dadanya.
"Makanan yang kumasak... sudah dingin. Dia... dia tidak akan pernah memakannya, Mbok."
"Nona, tolong jangan seperti ini. Nona harus kuat demi bayi di dalam perut Nona," tangis Mbok Nem ikut pecah, meratapi nasib malang wanita yang kini harus terjebak di tengah pusaran masa lalu Bos Besarnya.
Alice perlahan membawa tangannya turun, mencengkeram kain gaunnya tepat di atas perut ratanya dengan sangat erat.
Di tengah isak tangisnya yang memilukan di ruang makan yang sunyi itu, Alice menyadari satu hal yang teramat kejam.
Malam ini, sikap acuh Elvano bukan lagi sekadar ketakutannya, melainkan sebuah realitas baru yang siap mencabik-cabik sisa hati yang baru saja ia serahkan pada sang mafia.
hey elvano kmana insting mafia mu🤣🤣🤣
sebel elvano gak peka banget sm taktik licik ulat bulu viona😔🤔
ibu nya aja gak setia, pasti ada rencana jahat nih🤔🤔🤔