NovelToon NovelToon
Menyesal Telah Selingkuh

Menyesal Telah Selingkuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Balas Dendam
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: yani 11

Enam tahun pernikahan yang terlihat sempurna ternyata menyimpan luka yang tak pernah diketahui siapa pun.

Selama enam tahun, Alena dan suaminya, Rendra, terus berjuang untuk mendapatkan buah hati. Berbagai cara telah mereka lakukan, mulai dari pengobatan hingga program kehamilan yang menguras tenaga dan air mata.

Namun, hasilnya tetap sama tidak ada tangisan bayi yang hadir di tengah rumah tangga mereka.

Di saat Alena masih berusaha bertahan dan berharap, Rendra justru memilih jalan yang paling menyakitkan.
Ia berselingkuh dengan sekretaris pribadinya sendiri.

Pengkhianatan itu semakin menghancurkan ketika Alena mengetahui bahwa wanita tersebut sedang mengandung anak suaminya.

Dunia Alena seakan runtuh dalam sekejap. Pria yang selama ini dicintainya ternyata telah memberikan semua yang ia impikan kepada wanita lain.

Saat Alena memilih pergi dan membangun hidup baru, Rendra mengira dirinya akan bahagia bersama selingkuhannya. Namun, semakin jauh Alena melangkah, semakin ia menya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yani 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20_Bertemu mantan suami

"Apakah perlu saya jemput ke rumah, Nyonya?" tanya Berry dari balik sambungan telepon.

Nada suaranya terdengar tenang dan profesional, seperti biasanya.

Elvara yang baru saja selesai merapikan rambutnya di depan cermin tersenyum tipis.

"Tidak usah, Berry. Aku akan menyetir sendiri hari ini." Elvara menjawab sambil merapikan kerah blazer hitam yang melekat sempurna di tubuhnya. Senyuman tipis menghiasi bibirnya, sementara tatapannya terlihat penuh keyakinan.

"Yakin, Nyonya?" Berry kembali memastikan. Nada bicaranya terdengar sedikit khawatir.

"Iya. Aku sudah terlalu lama bersembunyi. Sekarang waktunya kembali menghadapi semuanya." Elvara menghela napas pelan. Tatapannya berubah tajam, menyiratkan tekad yang tidak mudah digoyahkan.

"Baik, Nyonya. Saya akan langsung menuju kantor." sahut Berry mantap.

"Sampai bertemu di sana." balas Elvara lembut.

"Baik." jawab Berry singkat.

Sambungan telepon pun terputus.

Elvara mengambil tas kerjanya lalu berjalan keluar rumah.

"Hari ini... aku kembali." gumamnya pelan. Sudut bibirnya terangkat tipis, sementara kedua matanya memancarkan semangat baru.

Satu jam kemudian.

Mobil Elvara berhenti di halaman perusahaan.

Para karyawan yang melihat kedatangannya langsung berdiri.

"Selamat pagi, Bu Elvara."

"Selamat pagi, Bu."

"Selamat datang kembali, Bu." Ucapan mereka terdengar hampir bersamaan. Wajah mereka dipenuhi rasa hormat sekaligus lega melihat sang direktur akhirnya kembali bekerja.

"Pagi semuanya." Elvara tersenyum ramah sambil menganggukkan kepala. Tatapannya menyapu seluruh ruangan dengan penuh wibawa.

"Senang melihat Ibu kembali." ucap salah satu karyawan. Senyumnya mengembang lebar, matanya berbinar penuh antusias.

"Aku juga senang bisa kembali bekerja bersama kalian." Elvara tersenyum hangat. Sorot matanya memancarkan ketulusan yang membuat suasana menjadi lebih nyaman.

Berry segera menghampiri.

"Selamat pagi, Nyonya." sapa Berry hormat sambil sedikit menundukkan kepala.

"Pagi, Berry." jawab Elvara singkat disertai senyum tipis.

"Hari ini jadwal Ibu cukup padat." lapor Berry sambil membuka tablet di tangannya. Wajahnya tampak serius.

"Apa saja?" Elvara bertanya sambil berjalan menuju ruangannya. Wajahnya tampak serius.

"Pukul sembilan ada rapat internal. Jam sebelas ada presentasi dari calon mitra. Setelah makan siang ada penandatanganan kontrak." jelas Berry dengan nada tenang. Matanya sesekali melihat jadwal agar tidak ada yang terlewat.

"Baik." jawab Elvara singkat sambil mengangguk pelan.

Berry membuka map.

"Calon mitra pukul sebelas berasal dari Perusahaan Arsenio Group."ucapnya hati hati, raut wajahnya berubah sedikit cemas.

Langkah Elvara mendadak terhenti.

"Siapa?" tanyanya singkat. Tatapannya berubah datar.

"Arsenio Group, Nyonya." ualng Berry lirih. Ia memperhatikan perubahan ekspresi atasannya.

Elvara hanya terdiam beberapa detik.

"Lanjutkan jadwal." ucapnya tegas.

Berry mengernyit.

"Nyonya... apakah pertemuan itu perlu dibatalkan?" tanyanya penuh kehati hatian. Alisnya bertaut khawatir.

"Tidak." jawab Elvara mantap.

"Baik." sahut Berry sambil menganggukkan kepala.

Elvara kembali melangkah. Wajahnya tetap tenang, seolah nama itu sudah tidak lagi mampu mengguncang hatinya.

Pukul sebelas tepat. Pintu ruang rapat terbuka.

Arsenio masuk bersama beberapa stafnya. Tatapan mereka langsung bertemu. Arsenio tersenyum kecil.

"Sudah lama tidak bertemu, Elvara." Senyumnya terlihat percaya diri, sementara kedua tangannya dimasukkan ke saku celana.

Elvara hanya mengangguk singkat.

"Silakan duduk." ucap Elvara. Nada bicaranya terdengar dingin. Semua orang mulai duduk. Presentasi pun dimulai.

Salah seorang staf Arsenio menjelaskan proposal kerja sama selama hampir tiga puluh menit.

Ruangan menjadi sunyi ketika presentasi selesai.

Berry memandang Elvara.

"Nyonya?" panggil Berry khawatir.

Elvara membuka berkas di depannya.

"Ada beberapa poin yang ingin saya sampaikan." Nada suaranya terdengar tenang, tetapi tegas.

"Tentu." Arsenio tersenyum santai sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi.

"Pertama."

Elvara membalik halaman proposal.

"Laporan keuangan perusahaan Anda tidak stabil selama tiga tahun terakhir." Wajahnya tetap datar tanpa sedikit pun menunjukkan keraguan.

Ruangan langsung hening.

"Kedua. Rasio utang perusahaan Anda terlalu tinggi." lanjutnya

Arsenio masih berusaha tersenyum.

"Itu masih dalam batas wajar." sahut Arsenio santai.

Elvara tidak menghiraukannya.

"Ketiga."

Ia kembali membuka dokumen lain.

"Dua proyek besar Anda mengalami keterlambatan penyelesaian." ucapnya lagi.

Salah satu staf Arsenio mulai terlihat gugup.

"Itu karena faktor eksternal, Bu." balas staf Arsenio.

Elvara menggeleng pelan.

"Sebagai calon mitra, kami tidak hanya menilai alasan. Kami menilai hasil." Jelas Elvara.

Tatapannya tajam menatap seluruh tim di hadapannya. Ruangan kembali sunyi.

Arsenio akhirnya membuka suara.

"Jadi... keputusan Anda?" tanya Arsenio penasaran

Elvara menutup map perlahan.

"Perusahaan kami menolak kerja sama ini." Ucapannya terdengar tegas. Ekspresi wajahnya tetap tenang tanpa sedikit pun keraguan.

Semua orang langsung saling berpandangan.

Berry bahkan sempat menahan napas. Arsenio tersenyum tipis. Namun senyum itu perlahan berubah menjadi sinis.

"Aku tahu alasannya." Ia menyilangkan kedua tangan di depan dada. Tatapannya tidak lepas dari wajah Elvara.

Elvara menatapnya datar.

"Silakan jika ingin menyampaikan pendapat." balas Elvara datar. Wajahnya tetap tenang, seolah tidak terusik sedikitpun.

"Kamu pasti belum move on denganku, Elvara." Arsenio terkekeh pelan. Senyum miring menghiasi bibirnya, sementara sorot matanya penuh rasa percaya diri.

Beberapa staf langsung saling melirik.

Elvara tetap diam.

"Makanya kamu menolak kerja sama ini." lanjut Arsenio. Ia menggeleng pelan sambil tersenyum mengejek.

Berry mengepalkan tangannya.

"Pak Arsenio..." Berry mencoba menyela. Rahangnya mengeras. sementara kedua tangannya mengepal menahan emosi.

Namun Arsenio mengangkat tangan, menghentikan Berry.

"Kamu tolong jangan campur adukkan urusan pribadi dengan pekerjaan." Arsenio menatap Elvara tanpa berkedip. Senyumnya semakin lebar, seolah merasa dirinya benar.

Ruangan terasa semakin tegang. Semua mata kini tertuju kepada Elvara.

Beberapa detik... Tidak ada suara.

Elvara perlahan berdiri dari kursinya. Ia merapikan blazer yang dikenakannya. Lalu menatap Arsenio lurus-lurus.

"Sudah selesai?" tanyanya tenang. Wajahnya terlihat begitu dingin hingga sulit ditebak isi pikirannya.

Arsenio tersenyum.

"Belum." jawab Arsenio singkat. Senyumnya masih bertahan meski mulai terlihat dipaksakan.

"Aku masih ingin mendengar alasanmu." lanjutnya menatap Elvara tajam.

Elvara mengangguk pelan.

"Kalau begitu dengarkan baik-baik." Tatapannya berubah semakin tajam. Nada suaranya rendah, tetapi mampu membuat seluruh ruangan terdiam.

"Aku memang pernah mengenalmu." ucap Elvara

"Benar." sahut Arseni

"Aku juga pernah mencintaimu." lanjutnya

Arsenio tersenyum puas. Namun senyum itu perlahan memudar saat Elvara melanjutkan ucapannya.

"Tapi hari ini..." katanya terpotong. "Aku melihatmu bukan sebagai mantan."

"Bukan juga sebagai seseorang yang pernah hadir dalam hidupku." jelas Elvara

Elvara mengambil proposal itu.

"Lembar demi lembar proposal ini tidak pernah kunilai dengan perasaan." katanya santai

Ia mengangkat dokumen laporan keuangan.

"Yang aku nilai adalah angka." Ia mengangkat laporan proyek. "Yang aku nilai adalah kinerja."

Kemudian ia meletakkan semua dokumen di atas meja.

"Dan hasil akhirnya..." lanjutnya

Elvara menatap Arsenio tanpa berkedip.

"Perusahaanmu memang belum layak menjadi mitra perusahaan kami." Wajahnya tetap tenang, sementara sorot matanya menunjukkan ketegasan seorang pemimpin.

Senyum Arsenio benar-benar menghilang. Rahangnya mengeras.

"Itu alasanmu?" tanya Arsenio. Rahangnya mengeras, senyumnya telah lenyap sepenuhnya.

"Bukan." jawab Elvara singkat sambil kembali duduk. Gerakannya tenang dan anggun.

Elvara kembali duduk.

"Itu fakta." lanjutnya datar.

Ruangan kembali sunyi.

Salah satu staf Arsenio tampak menundukkan kepala karena malu.

Berry hampir tersenyum melihat ekspresi mereka.

Namun tiba-tiba...

Salah seorang sekretaris berlari memasuki ruang rapat.

"Maaf, Bu Elvara!" teriak histeris sekretaris sambil berlari masuk. Nafasnya memburu, wajahnya pucat dipenuhi kepanikan.

Semua orang menoleh.

"Ada masalah besar!" lanjutnya dengan skarang gemetar. Matanya membelalak panik

"Apa yang terjadi?" Elvara langsung berdiri. Keningnya berkerut tajam.

Sekretaris itu menelan ludah.

"Barusan kami mendapat kabar... salah satu proyek terbesar perusahaan mengalami kebocoran data rahasia." jelas sekretaris sambil menelan ludah. Bibirnya bergetar, menunjukkan rasa takut.

Semua orang membelalakkan mata.

Berry langsung maju selangkah.

"Itu tidak mungkin!" seru Berry spontan.

Sekretaris itu mengangguk panik.

"Tim IT baru saja memastikan ada seseorang yang berhasil membobol sistem perusahaan."

Elvara mengepalkan kedua tangannya. Tatapannya berubah tajam.

Sementara itu, Arsenio hanya menyunggingkan senyum tipis yang sulit diartikan.

Melihat senyum itu, Berry mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres.

1
Anne Soraya
lanjut
Ifana
sok²an selingkuh eh ternyata punya jabatan krn istri nya
Sulati Cus
hrsnya g kaget dr awal kan udah tau, istrinya akan mencabut semuanya aneh bgt
Sulati Cus
lah kata nya semua aset di cabut trus di usir kok msh takut 🤔cerita rada nggak nyambung
Sulati Cus
kok gak nyambung udah di usir pdhl🤔msh mencintaimu tp sanggup berkhianat omong kosong👿
sunaryati jarum
Arsenio hanya akan meratapi nasibnya
sunaryati jarum
Hidup dari kekayaan istri saja belagu, selingkuh .Edgar adikmu sudah dewasa dan berumah tangga,sudah bukan tanggung jawab sepenuhnya,namun jika kamu masih merasa itu kewajiban kamu melindunginya baguslah,biar Arsenio tahu siapa yang dikhianatinya.
sunaryati jarum
Sokoor
sunaryati jarum
Kok masih di rumah Elvara
sunaryati jarum
Bukankah Arsenio sudah di usir
sunaryati jarum
Baru mampir semoga suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!