NovelToon NovelToon
Transmigrasi Dunia Novel Menjadi Suami Villain

Transmigrasi Dunia Novel Menjadi Suami Villain

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Sistem / Fantasi Timur / Epik Petualangan / Fantasi / Harem
Popularitas:356.9k
Nilai: 4.8
Nama Author: EGGY ARIYA WINANDA

GENRE: FANTASI, HAREM, ACTION, STRATEGI, PSIKOLOGI, SISTEM, KINGDOM BUILDING.

Wu Xuan, mahasiswa elite Triple Major jurusan bisnis, hukum, dan manajemen, tiba-tiba terlempar ke dunia novel kultivasi yang baru saja ia baca. Namun ia bukan sang protagonis, ataupun Villain, melainkan karakter sampingan yang ditakdirkan mati pada arc pertama.

Dengan bantuan sistem misterius, Wu Xuan mengambil alih tubuh seorang patriark tua yang berada di ambang kematian. Setelah berhasil menerobos ranah, tubuh renta itu berubah menjadi muda, tampan, dan jauh lebih berbahaya.

Mengetahui seluruh alur cerita, Wu Xuan sadar bahwa masa depan dipenuhi monster, pengkhianatan, dan perang besar. Demi bertahan hidup, ia memilih jalan paling aman sekaligus paling gila—

Menikahi wanita yang seharusnya menjadi tunangan putranya sendiri.

Karena wanita itu bukan sekadar calon menantu…

Melainkan villain wanita yang kelak akan menenggelamkan dunia dalam lautan darah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EGGY ARIYA WINANDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penegasan Kasta

Aula Patriark Keluarga Wu malam ini terasa seperti berada di dalam perut monster raksasa yang sedang menahan napas.

Pilar-pilar batu obsidian yang biasanya memantulkan cahaya hangat dari kristal roh, kini tampak menyerap semua kehangatan di dalam ruangan. Dua belas tetua agung klan, kepala mereka tertunduk, bahkan tidak berani bernapas terlalu keras. Perubahan sifat sang Patriark yang terjadi secara tiba-tiba—ditambah dengan aura tekanan dari Ranah Primordial Suci yang memancar secara alami dari tubuhnya—telah mengembalikan keagungan dan ketegasan seorang pemimpin keluarga yang selama ratusan tahun ini telah hilang.

Yan Melin berjalan ke samping singgasana suaminya. Meski wajahnya masih pucat karena ancaman telepati sebelumnya, kebiasaan dan kesombongan yang telah mendarah daging selama ratusan tahun membuatnya secara refleks melangkah menuju singgasana. Selama Wu Xuan berada dalam pengasingan, dan bahkan jauh sebelum itu, Yan Melin selalu duduk di kursi yang berdampingan persis dengan singgasana Patriark. Posisi yang sejajar. Sebuah simbol nyata bahwa Nyonya Utama memiliki kekuasaan yang sama, atau bahkan lebih besar, dari sang Patriark sendiri berkat statusnya sebagai kerabat keluarga kekaisaran.

Namun, tepat ketika kaki berbalut gaun bangsawan Yan Melin hendak melangkah menuju singgasana, sebuah suara yang sangat tenang namun membawa hawa dingin menghentikannya.

"Berhenti."

Yan Melin membeku. Dia menengadah, menatap suaminya yang telah duduk dengan nyaman di atas singgasana, menatap ke Melin dengan mata emas kristal yang memancarkan dominasi tanpa ampun.

"Duduklah di semua kursi masing-masing," perintah Wu Xuan, pandangannya menyapu seluruh ruangan sebelum akhirnya berhenti pada istrinya. "Dan kau, Melin. Kursi permaisurimu ada di bawah sana."

Wu Xuan menunjuk dengan dagunya ke arah sebuah kursi giok putih yang terletak satu tingkat di bawah singgasana utama. Itu adalah kursi yang secara tradisi memang diperuntukkan bagi istri Patriark, sebuah kursi yang sudah ratusan tahun tidak pernah diduduki oleh Yan Melin karena dia selalu memaksa untuk duduk sejajar disamping suaminya.

Wajah Yan Melin memerah karena rasa malu yang membakar. Di hadapan seluruh tetua klan dan dua bawahan rendahan yang berdiri di tengah aula, suaminya baru saja menampar otoritasnya secara terbuka. Dia membuka mulutnya untuk melayangkan protes, mencoba menggunakan sisa-sisa pesona dan arogansinya. "Suamiku... aku selalu duduk—"

"Aku tidak meminta pendapatmu," potong Wu Xuan, suaranya tidak meninggi, namun energi spiritual di sekitarnya beriak, membuat udara di sekitar leher Yan Melin terasa seperti tercekik. "Duduk di kursimu!. Sebelum aku memutuskan kau tidak lagi membutuhkan kursi di ruangan ini."

Ketegasan itu bukan sekadar gertakan. Itu adalah titah seorang raja. Yan Melin menggigit bibir bawahnya hingga nyaris berdarah. Dengan tubuh gemetar menahan amarah dan penghinaan yang luar biasa, dia berbalik dan berjalan menuruni anak tangga, menghempaskan tubuhnya dengan kasar ke kursi permaisuri.

Para tetua yang melihat kejadian itu saling bertukar pandang dalam diam. Jantung mereka berdegup kencang oleh euforia yang disembunyikan. Sang Patriark benar-benar telah kembali. Tirani wanita yang selama ini bertindak sebagai perpanjangan tangan Kekaisaran Yan di dalam Keluarga Wu akhirnya dipatahkan.

Setelah keheningan tercipta, Wu Xuan mengalihkan pandangannya ke tengah aula. Di sana, Wu Guan dan Wu Ling masih berdiri tegak layaknya dua bilah pedang yang menunggu perintah untuk ditarik dari sarungnya.

"Dunia kultivasi adalah dunia yang memuja kejelasan dan kekuatan," Wu Xuan memulai, suaranya bergema menyusuri setiap sudut aula, tenang namun memiliki resonansi yang membuat jiwa setiap pendengarnya bergetar. "Selama ratusan tahun, keluarga ini telah menyimpan sebuah rahasia yang konyol karena rasa takut yang tidak berdasar. Malam ini, kebodohan itu resmi berakhir."

Wu Xuan mencondongkan tubuhnya ke depan, menopang dagu dengan punggung tangannya, menatap lurus ke arah para tetua.

"Guan'er. Ling'er," panggil Wu Xuan.

Kedua pemuda itu mengangkat kepala mereka secara bersamaan.

"Mulai detik ini, status kalian bukan lagi pelayan, bukan lagi bawahan, dan bukan lagi rahasia. Darah yang mengalir di dalam nadi kalian tidak perlu diragukan lagi. Itu adalah esensi murni dari keturunanku," Wu Xuan mendeklarasikan hal itu dengan sangat santai, seolah dia sedang membicarakan cuaca. "Malam ini status kalian berdua adalah anak kandungku."

Pernyataan itu meledak seperti bom petir di dalam aula. Meskipun beberapa tetua sudah lama menduga identitas kedua pemuda itu, mendengarnya dideklarasikan secara resmi dan diakui secara langsung oleh Patriark Wu Xuan adalah hal yang sepenuhnya berbeda.

Namun, reaksi yang paling mengerikan datang dari sisi kiri singgasana.

"KAU GILA?!"

Jeritan melengking merobek udara. Yan Melin berdiri dari kursinya. Kewarasannya hancur, arogansinya sebagai wanita berdarah biru terkoyak sepenuhnya. Penyesalan, kecemburuan, dan rasa terhina karena suaminya tiba-tiba mengakui anak haram di depan matanya membuat aliran Qi di dantiannya menjadi kacau balau.

Tanpa bisa dikendalikan oleh akal sehat, naluri membunuh Yan Melin mengambil alih. Aura Ranah Kuno tahap awal meledak dari tubuh wanita itu. Udara di sekitarnya berubah menjadi merah menyala saat dia memadatkan energi esensi murni ke telapak tangannya, membentuk sebuah pedang energi yang sangat tajam.

Dalam sekejap mata, dia mengayunkan tangannya, menembakkan bilah energi itu langsung menuju leher Wu Guan dan Wu Ling. Serangan itu terlalu cepat bagi dua pemuda yang baru berada di tahap menengah Ranah Roh; mereka bahkan tidak sempat mengangkat tangan untuk menangkis.

Tetapi di hadapan seorang Primordial Suci, serangan seorang Ranah Kuno hanyalah seperti daun kering yang mencoba menentang badai.

Wu Xuan tidak berdiri. Dia bahkan tidak menggeser posisi duduknya. Dia hanya menatap dingin ke arah bilah energi yang melesat itu.

BZZZTT—PRANG!

Satu meter sebelum bilah energi merah itu menyentuh wajah Wu Guan, ruang di depannya terdistorsi. Bilah mematikan itu menabrak dinding udara yang tak terlihat dan langsung hancur berkeping-keping menjadi partikel debu spiritual, menghilang tanpa meninggalkan luka sedikit pun pada kedua pemuda tersebut.

Wu Xuan memutar lehernya pelan ke arah istrinya. Mata emas kristalnya memancarkan kedinginan, kekejaman, dan tirani absolut seorang penguasa mutlak.

"Apa maksudmu, Melin!!"

Suara Wu Xuan tidak keras, namun mengandung tekanan hukum ruang yang langsung menghantam dada Yan Melin.

BAM!

Wanita itu terhuyung mundur, memegangi dadanya yang mendadak sesak seolah baru saja dihantam godam tak kasat mata. Seluruh tetua di ruangan itu langsung menahan napas, menundukkan kepala mereka lebih dalam, tak berani menatap langsung ke arah Patriark yang murka.

"Kau berani mencoba membunuh darah dagingku di hadapanku, di dalam Aula kebesaranku?" Wu Xuan berucap, setiap suku katanya meneteskan bisa yang membekukan darah. "Sepertinya kelonggaranku di masa lalu telah membuatmu lupa membedakan mana suami yang mengalah, dan mana penguasa yang memegang nyawamu."

Yan Melin terengah-engah, wajahnya pucat pasi namun matanya memancarkan ketidakrelaan yang gila. "Mereka hanyalah anak haram! Benih dari rahim kotor seorang pelayan! Bagaimana bisa kau mengakui sampah seperti mereka di aula suci ini?! Wu Shan adalah putra sahmu! Dia adalah pewaris utama!"

Wu Xuan tersenyum, sebuah senyuman miring yang begitu tenang namun mematikan. "Pewaris? Kata itu baru saja kau hancurkan bersama dengan kebodohanmu, Melin."

Dia mengalihkan pandangannya kembali ke seluruh ruangan, memastikan suaranya terdengar hingga ke relung jiwa setiap orang yang hadir.

"Dengarkan baik-baik. Malam ini, aku merombak seluruh struktur hierarki generasi muda Keluarga Wu," titah Wu Xuan. "Status 'Pangeran Mahkota' dan pewaris utama keluarga, mulai detik ini, kuberikan pada Wu Guan. Dia adalah Tuan Muda Pertama. Wu Ling, kau adalah Tuan Muda Kedua."

Wu Xuan kemudian melirik sinis ke arah istrinya. "Sedangkan Wu Shan... bocah dungu yang bahkan tidak bisa membedakan mana kawan dan mana racun di dalam politik, statusnya diturunkan menjadi Tuan Muda Ketiga."

Hening. Sunyi senyap. Hanya detak jantung ngeri yang terdengar di ruangan itu.

"Mulai sekarang," lanjut Wu Xuan, menggunakan taktik politik meritokrasi yang paling kejam namun efektif, "posisi pewaris Keluarga Wu tidak lagi ditentukan oleh siapa ibu yang melahirkan kalian. Posisi Pangeran Mahkota akan terus berubah, bergantung pada satu hal: Kontribusi dan kekuatan kalian untuk keluarga ini. Siapa yang berguna, dia yang memimpin. Siapa yang menjadi sampah, dia akan harus pergi dan mengurus dirinya sendiri."

Keputusan ini adalah sebuah mahakarya strategi. Dengan satu langkah, Wu Xuan menghancurkan hak istimewa jalur darah yang selama ini dikuasai oleh faksi Yan Melin, memicu persaingan internal yang sehat di antara anak-anaknya, dan yang paling penting, mengikat kesetiaan absolut Wu Guan dan Wu Ling padanya.

"TIDAK!" jerit Yan Melin, suaranya pecah dan histeris. Dia mencengkeram lengan kursinya dengan kuku-kukunya yang panjang hingga patah berdarah. "Kau tidak bisa melakukan ini! Dengan pelayan rendahan mana kau tidur di masa lalu?! Aku akan mencabik cabik mereka!! Kau merampas hak mutlak anakku hanya untuk dua anak anjing dari pelayan rendahan?!"

Amarah dan kecemburuan wanita itu telah membuatnya buta. Dia terus meraung, mempertanyakan keputusan suaminya, menantang otoritas sang dewa di hadapan para tetuanya.

Wu Xuan menghela napas tipis. Kesabarannya, yang memang sudah ia rencanakan untuk habis pada titik ini, akhirnya putus.

Mata emas kristalnya menyipit tajam. Tanpa melakukan gerakan fisik apa pun, fondasi Akar Spiritual Air di dalam tubuh Ranah Primordial Suci miliknya bergetar.

Perubahan terjadi dalam sepersekian detik. Suhu di dalam Aula Patriark anjlok hingga jauh di bawah titik beku. Kelembapan di udara tidak membeku menjadi es, melainkan mengembun menjadi kabut putih tebal yang memancarkan tekanan seberat samudra. Udara berembun itu menyelimuti ruangan, mencekik paru-paru setiap kultivator yang bernapas.

Para tetua yang berada di Ranah Kuno langsung jatuh berlutut, wajah mereka membiru saat mencoba meraup energi qi dari udara yang kini terasa seperti cairan kental yang menekan organ dalam mereka.

Yan Melin merasakan tubuhnya ditekan ke bawah oleh gravitasi ribuan kali lipat. Lututnya membentur lantai giok dengan keras. Tulang-tulangnya berderak, merintih di bawah penindasan absolut dari elemen air yang dikendalikan oleh seorang Primordial. Mulut wanita itu terbuka lebar, mencoba menghirup Qi yang tak kunjung masuk, matanya melotot penuh teror.

Di tengah kabut penindasan yang mencekam itu, Wu Xuan perlahan berdiri dari singgasananya.

Bersamaan dengan tubuhnya yang berdiri tegak, kabut putih yang menyesakkan itu lenyap tak berbekas. Udara kembali normal dalam sekejap, menyisakan suara tarikan napas putus asa dari para tetua dan Yan Melin yang terbatuk-batuk di lantai.

Wu Xuan melangkah menuruni anak tangga, berhenti tepat di depan Wu Guan dan Wu Ling. Kedua pemuda itu, meskipun tadi ikut merasakan tekanan yang mengerikan, tetap berdiri tegak, memaksakan tulang mereka agar tidak membungkuk.

"Aku akan mengumumkannya untuk yang terakhir kalinya," suara Wu Xuan terdengar dingin, menembus gendang telinga Yan Melin yang masih bersujud memalukan di lantai. "Mereka berdua adalah darah dagingku. Dan sebagai seorang ayah, serta seorang Patriark... kedua pemuda ini jauh lebih membanggakanku daripada anak manja, bodoh, dan tidak berguna yang selama ini kau besarkan di bawah ketiakmu."

Mendengar kalimat itu, dinding pertahanan mental Wu Guan dan Wu Ling yang selama ini kokoh akhirnya retak.

Sejak kecil, mereka hidup dalam bayang-bayang. Mereka menatap Aula Patriark dari celah jendela paviliun pelayan yang usang. Mereka melihat ayah mereka hanya dari kejauhan, percaya bahwa pria itu membenci mereka karena mereka adalah aib yang merusak citra rumah tangganya. Mereka membenci Wu Xuan, membenci keluarga ini, dan berencana suatu hari nanti untuk menghancurkannya.

Namun malam ini, pria yang mereka pikir pengecut itu berubah menjadi penguasa. Dan hal pertama yang dilakukan oleh dewa ini bukanlah membunuh mereka untuk menutupi jejak masa lalunya. Hal pertama yang dia lakukan adalah berdiri di hadapan mereka, menjadi tameng dari serangan Nyonya Utama, memberikan hak yang sepadan untuk mereka, dan dengan lantang di hadapan seluruh dunia mengatakan bahwa dia bangga pada mereka.

Mata Wu Guan memerah, rahangnya terkatup sangat rapat hingga urat di lehernya menonjol. Wu Ling menundukkan kepalanya, menyembunyikan genangan air mata di sudut matanya. Bagi dua serigala muda yang selalu kelaparan akan pengakuan, kata-kata Wu Xuan malam ini adalah rantai besi yang mengikat kesetiaan dan nyawa mereka secara absolut. Di dalam hati mereka, niat pengkhianatan yang sempat tumbuh telah hancur sepenuhnya, digantikan oleh kesediaan untuk mati demi Ayah yang berdiri di hadapan mereka ini.

Wu Xuan, dengan kalkulasi psikologisnya yang presisi, tahu persis bahwa dia baru saja mendapatkan dua panglima perang masa depan yang tak akan pernah berkhianat.

Sang Patriark kemudian memalingkan wajahnya, menatap lurus ke arah Yan Melin yang masih gemetar di atas lututnya.

"Dan karena kau tidak henti-hentinya menentang keputusanku, mempertanyakan kewenanganku, dan mencoba membunuh darah dagingku..." Wu Xuan memberi jeda sesaat, memastikan setiap suku katanya tertanam di dalam sejarah Keluarga Wu. "...maka ini adalah hierarki kedua yang akan aku ubah."

Mata Yan Melin membulat lebar. Teror akan kehilangan hal yang paling berharga baginya merayap naik ke tenggorokannya. "Tidak... suamiku... kumohon..."

"Mulai detik ini," putus Wu Xuan tanpa keraguan sedikit pun, "statusmu sebagai Permaisuri Duke Keluarga Wu resmi dicabut."

Kata-kata itu menghantam Yan Melin lebih keras dari pada tribulasi petir.

"Gelar, hak, dan otoritasmu di kediaman ini dihapuskan. Statusmu diturunkan, dan mulai malam ini... kau hanyalah seorang Selir."

Ledakan keterkejutan menyapu seluruh aula. Para tetua saling memandang dengan mata terbelalak, nyaris tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar. Berani menurunkan status anak dari permaisuri terdahulu menjadi seorang selir? Ini bukan lagi sekadar menampar wajah Pangeran Mahkota; ini sama dengan meludahi wajah seluruh kekaisaran!

Namun anehnya, di balik keterkejutan yang membeku itu, tidak ada satupun tetua yang melangkah maju untuk memprotes. Diam-diam, hati mereka bersorak kegirangan. Wanita congkak yang selalu menggunakan nama kekaisaran untuk menekan Keluarga Wu ini akhirnya jatuh ke dalam lumpur.

Sementara itu, di belakang Wu Xuan, Wu Guan dan Wu Ling yang tadinya memasang wajah keras kini tak bisa menahan diri. Sebuah senyum sinis dan puas terbentuk di bibir kedua pemuda itu. Wanita yang selama ini menyiksa mereka demi anaknya, yang memerintahkan pelayan untuk mengurangi jatah makanan mereka, kini telah ditendang dari tahtanya.

Keheningan yang mencekam itu tidak dipecahkan oleh suara protes, karena tidak ada yang berani menentang seorang Primordial Suci.

Yan Melin perlahan mengangkat wajahnya. Matanya kosong, riasan cantiknya luntur oleh air mata dan keringat. Penghinaan malam ini terlalu besar. Dia tidak hanya kehilangan statusnya, anaknya kehilangan hak pewarisnya, dan rasa hormat yang selalu ia banggakan hancur berkeping-keping.

Dengan sisa tenaga dan amarah yang meledak dari keputusasaan, Yan Melin berbalik. Dia mengayunkan tangannya, memukulkan energi spiritualnya langsung ke arah kursi permaisuri giok putih yang baru saja ia duduki.

KRAAAKK—DDUARR!

Kursi giok putih itu hancur berkeping-keping, puing-puingnya berserakan di lantai aula. Yan Melin menatap suaminya dengan napas memburu. Ada kebencian yang mendalam di matanya, namun di balik kebencian itu, ada lapisan penyesalan yang sangat pekat dan memilukan. Dia menyesali perselingkuhannya. Dia menyesali arogansinya. Jika saja dia setia, pria dewa di hadapannya ini masih akan memujanya seperti permaisuri tunggal di hatinya. Tapi sekarang, semuanya sudah hancur.

Wu Xuan bahkan tidak berkedip melihat kursi yang hancur itu. Dia menatap Yan Melin dengan ketiadaan emosi, lalu mengalihkan pandangannya kepada para tetua.

"Bagus, Kursi itu sudah tidak kau dibutuhkan lagi," ucap Wu Xuan dengan santai, suaranya memecah ketegangan sisa-sisa amarah istrinya. "Lagipula, besok kursi yang baru akan dikirimkan."

Para tetua mendongak, bingung dengan arah pembicaraan Patriark mereka.

Wu Xuan meletakkan kedua tangannya di belakang punggung, posturnya lurus menantang dunia.

"Besok pagi, siapkan iring-iringan upacara terbaik yang pernah dimiliki oleh Keluarga Wu," titah Wu Xuan, suaranya dipenuhi otoritas yang merajai dunia. "Aku akan menikah dengan Qin Wuyan, putri dari Keluarga Qin. Dan dia, akan secara resmi menempati posisi Nyonya Utama Keluarga Wu yang baru."

Bagaikan batu besar yang dilemparkan ke danau yang tenang, pernyataan itu membuat riak yang tak terbendung. Menikahi gadis yang baru saja dicampakkan oleh putranya sendiri? Ini adalah skandal yang akan mengguncang ibukota hingga ke akar-akarnya!

"Aku harap," Wu Xuan menyipitkan mata emasnya, menebarkan aura bahaya yang membuat aula itu kembali terasa sedingin es. "Tidak ada satu pun dari kalian yang memiliki 'penolakan' mengenai keputusanku."

Para tetua yang telah hidup selama ratusan tahun itu bukanlah orang bodoh. Mereka melihat gambaran besarnya. Patriark mereka tidak hanya menyelamatkan Keluarga Qin untuk menampar wajah Keluarga Lin, tetapi juga sedang menarik garis tegas yang memisahkan Keluarga Wu dari pengaruh anjing-anjing kekaisaran.

Mereka sadar, Keluarga Wu di bawah pimpinan Wu Xuan yang baru ini, bukan lagi keluarga bangsawan yang tunduk pada faksi mana pun. Mereka adalah faksi mereka sendiri. Sebuah faksi yang dipimpin oleh seorang dewa.

Tanpa ragu sedikit pun, Tetua Pertama melangkah maju dan menjatuhkan dirinya ke lantai, bersujud dalam.

"Keputusan Patriark adalah hukum alam bagi kami! Kami mendukung sepenuhnya pernikahan ini!" seru Tetua Pertama dengan suara bergetar karena semangat.

Kesebelas tetua lainnya segera mengikuti, menjatuhkan diri mereka dan bersujud serempak.

"Keluarga Wu menyambut Nyonya Utama yang baru! Semoga keagungan Patriark menyinari keluarga ini selamanya!"

Suara pujian dan kesetiaan dari para tetua menggema membelah malam di dalam aula. Keluarga Wu telah berubah malam ini. Mereka tidak lagi akan dipimpin oleh bayang-bayang Kekaisaran Yan yang menjelma sebagai nyonya arogan di rumah mereka. Mulai detik ini, mereka dipimpin oleh seorang penguasa sejati.

Di tengah gema sorak-sorai kesetiaan itu, Wu Xuan tersenyum tipis. Sebuah senyuman tenang, mematikan, dan penuh perhitungan.

Bersambung...

1
Selarik Syarah
ahkirnya ketemu juga 339
lain kali jgn disembunyikan thor 🤣🤣🤣🤣
EGGY ARIYA WINANDA: 🫡🫡🫡🫡🫡
total 1 replies
Roynaldi Ananda
mantap berkemungkinan si murid akan jadi murid luar dalam
Fajar Fathur rizky
thor ko belum update bab 339
EGGY ARIYA WINANDA: Baru di up, mungkin sebentar lagi🥸👍
total 1 replies
Roynaldi Ananda
kepengen menjitak kening author supaya tambah stres kepalanya
EGGY ARIYA WINANDA: Waduh🥸
total 1 replies
Selarik Syarah
episode 339 sampai 500 hilang
bisa tolong carikan thor 😅
EGGY ARIYA WINANDA: Waduh🥸🥸, kok bisa hilang 🤣🤣
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
ambil semua sumber daya di tempat itu thor
Ratu surgawi
thor kapan wu xuan menikahi Feng nisa
EGGY ARIYA WINANDA: Setelah ekspedisi 🫡👍👍
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
bikin Wuxuan di jurang kekacauan menemukan sumber daya langka yang memperkuat jiwanya sampai tingkat tinggi thor agar Wuxuan bisa menyerang orang yang ranah lebih tinggi dengan jiwanya
Hanif Fr: Wu Xuan sudah tidak punya jiwa
total 1 replies
SR07
wkwkwk, asik nih pada ribut🤣
Ratu surgawi
thorrr tolong jaga kesehatan🙏🙏🙏🙏
EGGY ARIYA WINANDA: Terima kasih 🫡🫡🫡 👍👍
total 1 replies
SR07
serasa naik kendaraan 🤣
EGGY ARIYA WINANDA: Biar asik 🤣🤣🤣
total 1 replies
SR07
ras manusia surgawi nya kenapa ada dua dah
EGGY ARIYA WINANDA: Salah tulis 🫡🫡🫡
total 1 replies
Ratu surgawi
gaskannnnnnnnn🙏🙏🙏🙏🙏
EGGY ARIYA WINANDA: Proses 🫡🫡🫡
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
cepat update bab 335 sampai bab 338
Fajar Fathur rizky
thor bikin nanti ranah kultivasi Wuxuan sudah berada di ranah leluhur berdaulat tingkat tinggi sementara chufan baru ranah kaisar dimensi awal pas mau menantang Wuxuan
Fajar Fathur rizky
thor ko belum update bab 334
EGGY ARIYA WINANDA: Masih review 🫡🫡🫡
total 1 replies
Alank Rahman
aku suka jalan ceritanya semakin menarik dan TDK membosankan
EGGY ARIYA WINANDA: Thank you🫡🫡🫡
total 1 replies
Hadi Hadi
up up up
EGGY ARIYA WINANDA: 🫡🫡🫡 masih review
total 1 replies
Hadi Hadi
good
Hadi Hadi
lama sekali up up up 😍😍😍
EGGY ARIYA WINANDA: Prosess🫡🫡
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!