Karena permintaan terakhir ibunya, Tyasabella Almeera terpaksa menerima kenyataan yang tidak pernah ia inginkan: menikah muda.
Dan lebih parahnya lagi, menikah dengan musuhnya sendiri, Faris Abimanyu Alzavian. Cowok tukang nyolot yang selalu berhasil membuat emosinya naik setiap hari.
"Kenapa harus lo sih?" kesal Tya.
Faris langsung mendelik. "Emangnya gue mau nikah sama lo?"
"Gue juga gak mau."
"Bagus. Berarti kita sepakat."
Tya mendengus. "Sepakat kalau ini ide paling buruk yang pernah ada."
Namun, takdir seolah tidak peduli dengan pendapat mereka. Di tengah kehilangan yang masih terasa, dua remaja keras kepala itu dipaksa menjalani sebuah pernikahan yang tidak pernah mereka pilih sendiri.
Masalahnya, bagaimana jika perlahan mereka mulai menemukan sesuatu yang tidak pernah mereka duga sebelumnya?
Karena terkadang, orang yang paling sering membuat kita kesal justru menjadi orang yang paling sulit dilupakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NdahDhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Jangan-jangan kalian udah...
Pintu kamar mandi terbuka pelan. Tya melangkah keluar sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Kini, ia sudah mengenakan seragam sekolah dengan rapi.
Udara kamar yang sejuk langsung menyambutnya. Tya mengalihkan pandangannya ke arah sofa, seketika dahinya berkerut.
Faris ternyata sudah tertidur lagi. Ia meringkuk di sofa dengan posisi yang tak jauh berbeda dari sebelumnya. Selimut tipis menyelimuti sebagian tubuhnya. Satu tangannya terkulai di samping sofa, sementara nafasnya terdengar teratur.
Tya memicingkan mata. Tatapannya bertahan beberapa saat pada sosok itu. Lalu ia mendengus pelan. "Dasar kebo," gumamnya lirih.
Untung saja Faris tidak mendengarnya. Setelahnya, Tya mengalihkan pandangan dan melangkah keluar kamar.
Koridor lantai dua masih terasa sepi ketika Tya menuruni tangga. Pagi masih sangat dini, sebagian besar penghuni rumah itu mungkin masih terlelap.
Dengan langkah pelan, Tya berjalan menuju ke arah dapur. Entah karena kebiasaan atau merasa tidak enak, kakinya otomatis mengarah ke sana.
Begitu memasuki dapur, Tya sedikit terkejut melihat lampu dapur sudah menyala. Di sana, ibu Faris sedang berdiri di depan meja dapur sambil menyiapkan beberapa bahan makanan.
"Tante?" Panggil Tya pelan.
Ibu Faris menoleh, lalu tersenyum hangat. "Lho, Tya. Udah bangun?"
Tya mengangguk kecil, "Iya, Tante."
"Masih pagi banget lho ini," ujar ibu Faris.
Tya tersenyum tipis, "Memang biasa bangun jam segini, Tan."
Ibu Faris mengangguk mengerti, lalu melanjutkan kembali pekerjaannya. Di rumah itu, memang tidak ada asisten rumah tangga yang tinggal menetap. Sejak dulu, sebagian besar urusan rumah ditangani sendiri olehnya.
Tya memperhatikan sejenak bahan-bahan yang sudah tersusun di atas meja. "Tante lagi bikin sarapan?" Tanyanya.
"Iya," jawab ibu Faris sambil tersenyum. "Mau bikin yang sederhana aja."
Tya terdiam sesaat, lalu melangkah mendekat. "Kalau boleh... Tya bantu ya, Tante?"
Ibu Faris langsung menoleh. Tatapannya tampak sedikit terkejut, lalu perlahan berubah menjadi lembut. "Kamu mau bantu?"
Tya mengangguk kecil, "Iya Tante."
"Kalau gitu, sini," ujar ibu Faris hangat. "Mama senang ada yang nemenin di dapur pagi-pagi begini."
Tya menerima celemek yang diberikan oleh ibu Faris, lalu memakainya dengan rapi.
Ibu Faris memperhatikan Tya diam-diam. Ada rasa hangat yang sulit dijelaskan saat melihat Tya berdiri di dapurnya pagi-pagi begini. Meski masih terlihat canggung dan belum banyak bicara, setidaknya Tya sudah mulai berinteraksi dengannya.
"Lho, Faris mana?" Tanya ibu Faris di sela-sela keheningan.
Tya yang sedang merapikan celemeknya langsung menoleh. "Tidur lagi, Tante."
Ibu Faris yang sedang memotong sayuran langsung berhenti sesaat. "Tidur lagi?"
Tya mengangguk kecil, "Tadi sempat bangun karena alarm Tya. Sempat marah-marah sebentar, terus tidur lagi, Tante."
Jawaban itu membuat ibu Faris memejamkan mata sejenak. Lalu ia menggeleng pelan. "Itu anak..." Gumamnya. "Kebiasaannya bikin Mama geleng-geleng kepala."
Tya segera mengalihkan pandangannya dari ibu Faris. Entah mengapa, membahas Faris rasanya menguras tenaganya.
Tatapan Tya jatuh pada wadah di atas meja dapur. Di dalamnya sudah terdapat beberapa bahan yang tampaknya siap dihaluskan.
"Cabainya semua, Tante?" Tanya Tya sambil menunjuk wadah itu.
Ibu Faris menoleh, mengikuti arah pandang Tya. "Oh, iya. Mama mau bikin sambal."
Tya mengangguk pelan. Tatapannya kembali tertuju pada wadah berisi cabai. "Banyak juga," gumamnya.
Ibu Faris tersenyum kecil. "Soalnya di rumah ini hampir semua suka pedas."
Tya kembali mengangguk. "Tya juga suka pedas, Tante."
"Oh, ya?" Ujar ibu Faris sedikit terkejut, lalu ia terkekeh pelan. "Kalau begitu, nanti gak perlu bikin yang terpisah."
Tya hanya tersenyum tipis sebagai balasan. Setelahnya, ia meraih beberapa bahan yang ada di dekatnya dan mulai membantu menyiapkannya.
Tak lama kemudian, dapur yang semula tenang mulai dipenuhi aroma masakan yang menggugah selera. Meski percakapan di antara mereka tidak terlalu banyak, suasananya terasa nyaman.
Tya membantu sebisanya, sementara ibu Faris mengarahkan atau menjelaskan apa yang perlu dilakukan.
Tak terasa, aktivitas memasak pun akhirnya selesai. Di atas meja, sudah tersaji beberapa piring dan menu untuk sarapan pagi ini.
Seluruh anggota keluarga mulai berkumpul di meja makan. Ayah Faris sudah duduk di kursinya sambil membaca berita dari ponsel.
Tak berselang lama, Faris turun dari lantai dua dengan rambut yang masih sedikit berantakan. Wajahnya tampak lesu, sesekali tangannya mengusap pinggangnya pelan.
Begitu tiba di ruang makan, langkah Faris sempat berhenti sepersekian detik saat melihat Tya sudah duduk di sana. Sementara itu, Tya yang mengangkat pandangan juga menangkap kehadiran Faris.
Tatapan mereka bertemu hanya beberapa detik. Tapi, keduanya sempat melontarkan tatapan tajam seperti biasa. Tanpa sepatah kata pun, mereka sama-sama mengalihkan pandangan.
Faris kemudian menarik kursi dan duduk di tempatnya. Sementara Tya memilih menundukkan kepala, berusaha menyembunyikan rasa canggungnya.
"Ayo, dimakan dulu sebelum dingin," ujar ibu Faris mencairkan suasana.
"Iya Mah," jawab Faris singkat.
"Iya, Tante," sahut Tya pelan.
Suara dentingan sendok yang beradu dengan piring sesekali terdengar. Tya lebih banyak diam, ini adalah sarapan pertamanya di rumah itu.
Tya makan dengan gerakan pelan. Sesekali ia melirik lauk di hadapannya, namun tangannya hanya mengambil seperlunya. Ibu Faris yang duduk di sampingnya, memperhatikan itu diam-diam. Senyum lembut pun terukir di wajahnya.
"Tya," panggil ibu Faris.
Tya mengangkat pandangannya," Iya Tante?"
"Jangan sungkan-sungkan, ya," ujar ibu Faris lembut. "Kalau mau tambah lauk, atau apapun ambil saja."
"Iya Tya," timpal ayah Faris dengan senyum hangat. "Kamu sudah menjadi bagian keluarga ini juga. Anggap saja, ini rumah kamu juga."
Kalimat itu membuat tangan Tya yang hendak meraih gelas berhenti sesaat. Perlahan, tatapannya turun ke piring di hadapannya. Ada rasa hangat yang sulit untuk di jelaskan. Ia menarik nafas pelan, lalu mengangkat kembali pandangannya.
"Iya Om, Tante," jawab Tya lirih disertai senyum lembut. "Terima kasih."
Ibu Faris membalas senyum itu dengan hangat. Lalu mengusap pelan lengan Tya sebelum kembali melanjutkan sarapan.
Di seberang meja, Faris yang sedari tadi memperhatikan interaksi itu hanya menyuap nasi ke mulutnya tanpa bersuara. Tatapannya bergantian mengarah pada kedua orang tuanya, lalu pada Tya.
Baru kemarin Tya datang, tapi perhatian kedua orang tuanya seolah sudah sepenuhnya beralih. Ia hanya menghela nafas pelan sambil kembali menyuap makanannya.
"Gue anak kandung di rumah ini," Batin Faris. "Tapi gue rasa mulai dianaktirikan."
...✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧...
Tya muncul dari lantai dua. Tas sekolah telah bertengger rapi di punggungnya. Tangannya sesekali merapikan tali tas saat menuruni anak tangga dengan langkah pelan.
Namun, baru beberapa anak tangga Tya lewati, Faris melangkah dari belakang dengan langkah lebar hingga lengannya tanpa sengaja menyenggol pundak Tya.
Tya langsung berhenti dan menoleh tajam. "Heh!" Serunya kesal. "Kalau jalan lihat-lihat!"
Faris yang sudah berada satu anak tangga di bawahnya ikut menghentikan langkah. Ia menoleh sekilas dengan wajah datar.
"Cuma kesenggol doang," ujar Faris sambil menaikkan sebelah alis. "Alay lo."
Tya langsung mendelik tidak percaya. Rahangnya mengeras menahan kesal. "Alay?" Ulangnya sinis. "Lo yang jalan kayak dikejar hutang!"
"Terus?" Sahut Faris enteng. "Apa perlu gue bilang, 'Mbak Tya permisi ya, saya mau turun tangga'," ujarnya dengan nada meledek yang menirukan nada bicara wanita. Lalu, ia berdecak pelan, entah apa sebabnya. "Ck!"
Tya langsung mendengus kesal, ia menatap Faris dengan sorot mata tajam. "Gak usah lebay. Rese lo!"
Setelah mengatakan itu, Tya mengalihkan pandangannya dengan kesal. Ia melanjutkan langkah menuruni anak tangga, menuju rak sepatu di dekat pintu masuk.
Dengan gerakan yang sedikit lebih keras dari biasanya, Tya mengambil sepasang sepatunya dan mulai memakainya. Wajahnya masih ditekuk, jelas belum bisa melupakan kejadian beberapa detik yang lalu.
Sementara itu, Faris masih berdiri di dekat tangga. Tatapannya masih mengikuti punggung Tya beberapa saat dengan tatapan tajam sebelum akhirnya kembali berdecak. Tanpa berkata apa-apa lagi, Faris ikut melangkah melewati ruang tamu dan berhenti di depan teras rumah.
Faris kemudian mengeluarkan ponselnya dari saku celana, lalu menekan satu nama di daftar kontak. Tak berapa lama, panggilan pun tersambung.
"BUSET!" Suara Dhyo terdengar dari seberang sana. Faris refleks menjauhkan ponselnya dari telinga.
"Ketua geng akhirnya menghubungi gue juga!" Seru Dhyo. "Gimana rasanya hidup tanpa motor? Berat kan, bro? Akhirnya lo butuh gue juga, haha!"
Faris memejamkan mata sesaat. "Dhyo, jemput gue."
"Nah, ngaku aja kalau lo membutuhkan kehadiran sahabat terbaik lo ini." Jawab Dhyo.
Faris menghela nafas panjang, "Woi, buruan."
Dhyo terkekeh dari seberang telepon. "Siap, bos! Lima menit lagi gue sam-"
Tuut!
Faris langsung mematikan telepon tanpa rasa bersalah sedikit pun. Ia kembali memasukkan ponselnya ke saku celana, lalu mengusap wajahnya kasar.
"Berisik banget," gerutu Faris.
Dari dalam rumah, Tya yang sedang mengikat tali sepatu sempat mendengar sebagian percakapan itu. Ia melirik sekilas ke arah teras, lalu kembali fokus pada sepatunya.
Sekitar lima menit kemudian, suara deru sebuah motor terdengar memasuki halaman rumah. Tya yang baru saja selesai mengikat tali sepatu hanya mengangkat sedikit kepalanya. Alisnya berkerut sesaat, namun ia tidak terlalu memikirkannya. Tangannya kembali merapikan seragam sekolahnya.
Di teras, Faris mengalihkan pandangannya ke arah halaman. Dhyo mematikan mesin motornya, lalu melepas helm yang dikenakannya.
"Woi, Ris!" Seru Dhyo lantang sambil melangkah mendekat. "Udah siap belum?"
Faris mengangguk pelan. "Udah. Berangkat."
Namun, sebelum melangkah menuju motor, Dhyo justru memperhatikan Faris dari kepala hingga kaki. Tatapannya berhenti saat melihat tangan Faris yang terus mengusap pinggangnya pelan.
Dhyo mengernyit, "Kenapa lo?" Tanyanya penasaran.
"Sakit pinggang."
"Hah?" Alis Dhyo sedikit mengernyit.
Belum sempat Faris menjelaskan apa pun, Dhyo tiba-tiba melongok ke dalam rumah. Pandangannya langsung menangkap sosok Tya di sana.
Tya baru saja selesai merapikan seragamnya. Meski tetap terlihat rapi, lingkar mata tipis di bawah matanya masih tampak jelas akibat kurang tidur semalam.
Mata Dhyo langsung membulat. "Tya," gumamnya pelan, lalu ia menoleh cepat ke arah Faris. "Tya udah tinggal di sini?"
Faris berdecak pelan, "Ck, gitulah."
Jawaban singkat itu justru membuat senyum di wajah Dhyo perlahan melebar. Tatapannya bergantian menatap keduanya, sorot matanya berubah penuh rasa curiga.
Faris yang melihat senyum aneh di wajah sahabatnya langsung menyipit. "Kenapa lo senyum-senyum?" Tanyanya curiga.
Dhyo tidak langsung menjawab. Tatapannya kembali menatap Tya dan Faris bergantian. Lalu, ia mendekat dan menurunkan nada suaranya.
"Jangan-jangan," bisik Dhyo pelan. "Kalian udah..."
Kalimat itu sengaja dibiarkan Dhyo menggantung. Faris membelalak, wajahnya langsung berubah tidak percaya.
"WOI! ENGGAK MUNGKIN LAH!" Sangkal Faris cepat.
Suara Faris cukup keras hingga membuat Tya spontan menoleh dari dalam rumah. "Apa?" Tanyanya sambil mengernyit.
Dhyo hanya melirik ke arah Tya dengan mempertahankan senyum penuh arti itu. Tya menangkap ekspresi Dhyo, lalu bergantian menatap Faris yang terlihat kesal.
"Jangan dengerin dia!" Seru Faris.
"Apa-apaan sih?!" Gerutu Tya sebelum akhirnya ikut membalas dengan cepat. "Dih, gak mungkin lah! Najis gue!"
Dua penyangkalan yang keluar terlalu cepat itu justru membuat senyum Dhyo semakin melebar. "Hmm," gumamnya sambil mengangguk-angguk pelan. "Malah kompak, berarti dugaan gue bener?"
Tya menghela nafas panjang sebelum akhirnya melangkah keluar rumah. Wajahnya menunjukkan kekesalan yang belum reda.
Tya berhenti tepat di depan Faris dan Dhyo. Tatapannya bergantian mengarah pada keduanya. Jari telunjuknya terangkat, menunjuk Dhyo dan Faris.
"Kalian berdua sama," ujar Tya datar.
Dhyo mengangkat sebelah alis, "Sama apanya?"
"Sama-sama bikin gue naik tensi!"
Setelah mengatakan itu, Tya langsung berbalik dan melangkah keluar gerbang rumah. Tangannya terangkat, menghentikan sebuah ojek yang kebetulan lewat.
"Ojek, bang!" Seru Tya.
Motor itu berhenti di pinggir jalan. "SMA Harapan ya, bang." Ujar Tya sambil memakai helm.
"Boleh, neng. Silakan." Jawab sang tukang ojek.
Tya segera naik ke jok belakang. Tak lama kemudian, motor itu melaju meninggalkan rumah membawa Tya menuju sekolahnya.
Sementara Faris dan Dhyo masih berdiri di tempat. Faris menghela nafas kasar, tangannya langsung mengacak rambutnya penuh frustasi.
"Sial," gerutu Faris. "Masih pagi udah dibikin kesal sama dua manusia."
Faris menoleh tajam ke arah Dhyo. "Terus lo," ujarnya sambil menunjuk wajah sahabatnya. "Pikiran lo emang udah eror."
Dhyo sama sekali tidak merasa bersalah, ia justru menyeringai lebar. "Lah, salah sendiri. Situasinya mencurigakan."
"Mencurigakan pala lu!"
Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Faris langsung berjalan melewati Dhyo menuju motor yang terparkir di halaman. Kebetulan kuncinya masih menggantung di kontak.
Faris langsung duduk di atas motor, menyalakan mesin. Ia sempat menoleh sekilas ke arah Dhyo. "Pinjem."
"Woi, ben-"
Brumm!
Belum selesai Dhyo menyelesaikan ucapannya, Faris sudah lebih dulu memutar gas. Motor itu melesat meninggalkan rumah.
Dhyo membelalakkan mata, ia spontan berlari sampai ke depan gerbang. "FARIS SIALAN!"
Motor itu semakin menjauh, membuat Dhyo semakin kesal. "MINTA DIJEMPUT, TAPI GUE DI TINGGAL!"
Suara teriakan Dhyo menggema hingga keluar gerbang, sementara Faris sudah melaju tanpa berniat sedikit pun untuk menoleh.
^^^Bersambung...^^^
Tya : Karena lo gak mampu cari cewek kayak gue 🤣🤣🤣
jangan lupa mampir juga ya. ❤️