Penyesalan yang selalu datang terlambat! Carla Magnolia Haines, menyesal meninggalkan suaminya demi pria yang ia pikir mencintainya, ternyata hanya menginginkan warisannya.
Saat ia mati ditangan pria yang ia pikir tulus mencintainya, barulah ia tahu suami kejam dan yang ia anggap terlalu kasar padanya, ternyata pria yang sangat tulus mencintainya.
Apakah waktu bisa diulang? ia ingin mengulang waktu bersama dengan suami kejamnya, dan mendengarkan suami kejamnya itu, dan bahkan akan membiasakan dirinya menerima sikap posesif suaminya padanya.
Aku ingin kembali! bhatin Carla penuh harap saat ia menutup matanya.
Akankah Carla dapat kembali lagi bersama suaminya, untuk mengulang waktu kebersamaan mereka, yang telah terbuang diantara mereka berdua, karena ulah orang ketiga menghancurkan rumah tangga mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KGDan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29.
Selesai membeli jam tangan untuk Alexander, selanjutnya Carla berbelanja pakaian untuk dirinya mengulur waktu pulang.
Ia sengaja melakukannya agar keluarga Ayahnya tidak mencarinya ke kediaman Alford.
Dalam kehidupan ini, ia yang akan menentukan keinginannya, bertemu atau tidak bertemu dengan keluarga Ayahnya tersebut.
"Aku mau coba itu, ini, itu dan itu!" kata Carla kepada pegawai toko pakaian, lalu melangkah ke ruang pas pakaian.
"Silahkan, Nyonya!"
Pegawai toko membawa beberapa stel pakaian, yang telah di pilih Carla ke dalam ruang pas pakaian.
Dengan santai dan tenang, Carla mulai mencoba satu persatu pakaian yang tadi ia pilih.
"Aku mau yang tiga ini saja, yang lainnya tidak mau!" kata Carla setelah ia selesai mencoba pakaian-pakaian mewah itu satu persatu.
"Baik, Nyonya! saya akan kemas dengan baik!" jawab pegawai toko, lalu pergi membawa pakaian yang dipilih untuk di kemas dalam paper bag.
Carla memberikan kartu hitamnya untuk membayar pakaian yang ia beli, setelah itu menerima paper bag yang telah dikemas pegawai toko.
"Biar aku yang bawa, Nyonya!" sopir Carla mengambil alih belanjaan yang akan Carla terima dari pegawai toko.
Carla membiarkan belanjaannya diambil alih sopirnya, "Selesai dari toko ini, kita mampir ke toko tas!" kata Carla memberitahu sopirnya, setelah menerima kembali kartu hitamnya.
"Baik, Nyonya!"
Saat mereka akan melangkah meninggalkan toko, terdengar panggilan masuk ke ponselnya.
Carla tersenyuman melihat nama pemanggil pada ponselnya, "Mereka sepertinya sudah begitu tidak sabaran, ingin segera mendapatkan apa yang mereka inginkan" gumamnya melihat nama Lilian di layar ponselnya.
Carla membiarkan nada panggilan itu terdengar, tanpa berniat ia menerima panggilan itu, sampai dering terakhir panggilan.
Kemudian panggilan itu kembali masuk, baru lah ia mengangkatnya dengan acuh tak acuh.
"Ha.. !"
"Carla! kenapa kamu belum juga datang sampai sekarang?! kami sudah menunggumu sedari tadi! apa kamu memang tidak perduli lagi pada Papa?! Hah?!!"
Belum sempat Carla mengatakan 'Halo', suara kencang Lilian dalam ponselnya terdengar menyemburnya dengan penuh amarah.
Carla semakin menyunggingkan senyumannya, ia dapat membayangkan keluarga Ayahnya itu pasti tiada henti memarahinya sebelum Lilian menghubunginya.
"Carla! kamu dengar tidak?! Papa sekarang perlu di bawa ke rumah sakit! cepat datang, jangan berlama-lama lagi!!!"
Carla menjauhkan ponselnya mendengar suara teriakan Lilian.
"Oh, baik! aku lagi di jalan, sebentar lagi aku akan sampai!" jawab Carla dengan nada yang begitu tenang, lalu memutuskan panggilan setelah selesai ia menjawab Lilian.
Carla nyaris tertawa memikirkan apa yang baru saja ia jawab, "Tunggu kalian saja sampai lumutan, ya?" ucapnya kepada layar ponselnya.
Ia kemudian melanjutkan langkahnya dengan perasaan puas.
Dikehidupan sebelumnya ia begitu polos menuruti apa yang diperintahkan Lilian.
Mendengar Ayahnya terkena musibah, dengan cepat ia pergi dengan perasaan panik dan cemas, tapi siapa sangka tragedi tragis yang menantinya di sana.
Carla mencengkram tali tas tangannya dengan erat memikirkan kejadian, yang ia alami dikehidupan sebelumnya.
Ia masih merasakan sakit hatinya membayangkan, bagaimana keluarga Ayahnya itu menganiayanya sembari tertawa puas, setelah ia menandatangani berkas pengalihan warisan miliknya atas nama Edgar.
Tamparan yang cukup keras diberikan Lilian dan Melda, sampai ia merasakan pipinya berdarah dan bengkak, lalu berlanjut menendangnya dengan kencang, hingga ia merasakan sakit yang luar biasa.
Tangan Carla semakin kuat mencengkram tali tasnya, sampai biku tangannya memutih membayangkan penganiayaan, yang ia rasakan dikehidupan sebelumnya.
Raut wajahnya terlihat semakin dingin, dengan tatapan tajam membayangkan bagaimana kejamnya Ayah kandungnya, beserta Ibu tirinya, dan Lilian serta Edgar menyiksa dirinya.
"Kalian akan merasakan sakitnya pembalasan, yang akan kuberikan kepada kalian satu persatu" bisik Carla menyunggingkan senyuman dingin di sudut bibirnya.
Bersambung.......
tapi Clara nya tak ngeh dari awal🤣🤣🤣🤣🤣
napa terlalu lama nungul ya???