Book #1 of The Walter Brothers Dia pria, pengacara paling licik di New York. Dia wanita, CEO muda yang kehilangan segalanya dalam satu malam. Satu kasus mempertemukan mereka dengan syarat yang tak masuk akal. Emily Cooper hanya ingin memenangkan kembali hak atas hidupnya. Raphael Walter hanya tertarik pada permainan yang membuat tubuhnya panas. "Aku menangkan kasusmu. Tapi kau harus menghiburku di ranjangku." Dalam dunia penuh siasat, tubuh dan kuasa adalah alat tawar. Tapi ketika menyecap panasnya hasrat, dan tiap sentuhan menjadi candu nikmat, siapa yang sebenarnya dikendalikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Syela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Don’t Do That
Ceysa sudah menanyakan hal yang sama sejak semalam, dan kini, pagi-pagi sekali, wanita itu kembali mengulangnya dengan raut wajah yang dipenuhi rasa penasaran
"Tapi Nona, kenapa lipstikmu bisa tertinggal di kamar hotel Tuan Raphael Walter? Aku sangat yakin itu warna yang sama. Bukankah itu lipstik yang baru saja Nona beli dan pakai kemarin?"
Mendengkus kasar, Emily menahan diri agar tidak melemparkan pena yang tengah ia genggam erat. Ini semua terjadi karena ulah Raphael yang sengaja memancing perkara. Pria licik itu sengaja mengatakannya di depan Ceysa, membuat asistennya ini tidak berhenti mengoceh sepanjang hari. Emily benar-benar kelabakan sendiri dibuatnya.
"Sudah berapa kali kukatakan, Ceysa? Itu bukan milikku," kilah Emily, kembali berbohong demi menutupi kepanikannya sekaligus mulai kehilangan kesabaran. "Bisa saja itu milik wanita lain yang menghabiskan malam bersamanya. Kau bahkan tahu sendiri seperti apa reputasi seorang Raphael Walter, bukan? Mengapa kau justru heran dan meragukan penjelasanku?"
Ceysa yang sejak tadi berdiri di seberang meja Emily, dengan santai mendelik bahu. "Ya walaupun dia punya reputasi seperti itu, tetap saja dia tampan."
Emily mendongak sejenak, menatapnya datar. "Dan sakit jiwa."
"Tak apa, asal tampan."
Tatapan Emily menajam, disusul dengan helaan tak percaya. "Unbelievable..." ucapnya pelan. Ia menutup laptopnya perlahan, lalu menatap Ceysa dari ujung kepala hingga kaki. "Oh, kau terlihat seperti benar-benar berharap bisa bersamanya di ranjang sekarang, Ceysa."
"I wish..." jawab Ceysa cepat dengan wajahnya yang sudah memerah sendiri.
Emily hanya bisa menggeleng, masih syok dengan kelancangan sekretarisnya itu. "Kau butuh pertolongan," katanya akhirnya. Ia menatapnya lekat-lekat, lalu tertawa sekelebat. "Percayalah, setelah kau mengenalnya, kau akan berdoa agar tidak pernah berpikir begitu."
Ceysa membulatkan mata, bingung maksud wanita itu. Namun Emily tak memberinya waktu untuk berkomentar. Di layar laptopnya, wajah seorang associate dari Hamptons muncul dalam panggilan singkat—brief update tentang proyek yang sedang berjalan. Emily mendengarkan sambil memeriksa laporan, mencatat poin penting. Di ujung sana, orang itu berbicara cepat tentang kesiapan lahan, perizinan, dan jadwal survei klien konglomerat besar yang akan datang pagi ini untuk meninjau area calon mansion pribadinya.
Begitu panggilan berakhir, Emily menutup laptop dan menatap Ceysa yang masih berdiri, menunggu jawaban yang lebih memuaskan. "Aku tidak punya waktu membahas lipstik yang bukan milikku, Ceysa. Sekarang, kembali pada kerjamu dan tolong ambilkan berkas kontrak investor, hari ini aku harus terlihat profesional."
Tak lama kemudian, suara ketukan terdengar di pintu ruang kerjanya. Emily menoleh singkat.
"Masuk," katanya cepat.
Seorang staf muda muncul dengan menenteng clipboard di tangan. "Nona Cooper, klien dari New Jersey sudah tiba. Beliau sedang menunggu di lounge area."
Emily langsung menutup laptop, berdiri, dan meraih ponselnya. "Baik. Siapkan helikopter. Kita akan langsung tur ke Hamptons."
"Baik, Nona." Staf itu buru-buru keluar.
Emily menatap bayangan dirinya di cermin besar di sudut ruangan. Ia merapikan rambut, menegakkan postur, lalu memoles ulang lipstik tipis—ironi kecil yang membuatnya mendengus pelan mengingat perdebatan tadi terkait lipstik. Setelah memastikan blazer-nya terpasang sempurna di bahu, ia mengambil clutch kulit hitam di meja.
"Ceysa," panggilnya tanpa menoleh. "Siapkan semua berkas presentasi dan dokumen izin pembangunan. Kita berangkat lima belas menit lagi."
Ceysa menegakkan tubuh, bergegas meraih map dari tumpukan di meja dan mengangguk. "Siap, Nona."
Dengan kaki jenjangnya, Emily melangkah ke arah pintu, aura profesionalnya kian menambah cantik dan seksinya ia ketika berjalan keluar ruangan. Begitu pintu lift terbuka menuju lounge area, Emily melangkah keluar dengan cepat, tak ingin kliennya menunggu lama.
Namun, langkahnya seketika melambat.
Di sana, tepat di sudut ruangan kerjanya, berdiri sosok pria yang sama sekali tidak ingin ia lihat pagi ini. Raphael Walter tengah bersandar santai di dinding. Penampilannya tampak begitu rapi dan berkelas dalam balutan setelan jas potongan terbaik yang melekat sempurna pada tubuh tegapnya—pria itu seolah tahu bahwa dirinya selalu menjadi pusat perhatian di mana pun ia berada, karena kenyataannya memang demikian. Sebuah senyuman sinis yang penuh arti mengembang perlahan di sudut bibirnya tatkala sepasang matanya menangkap kehadiran Emily di ambang pintu.
Emily seketika menghentikan langkah kakinya total. Kontan, tangan kirinya bergerak memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut nyeri. Rasanya ia ingin sekali menjerit saat ini juga, bertanya pada semesta mengapa harus selalu ada pria pengganggu ini yang datang dan mengacaukan awal harinya.
"Selamat pagi, sweetheart," sapa Raphael dengan nada suara rendah yang bergetar seksi. Sepasang netranya bergerak lancang, menelusuri lekuk tubuh Emily dari ujung sepatu hak tingginya hingga ke ikatan rambutnya yang rapi.
Tatapan itu mempertontonkan dengan jelas bagaimana ia selalu terkesima oleh kecantikan wanita di hadapannya. "Kau terlihat... begitu memikat saat sibuk seperti ini. Kau selalu berhasil memancarkan pesona yang membuatku tidak bisa mengalihkan pandangan. Itu bakat alami yang luar biasa."
Raphael mulai menegakkan tubuhnya dan melangkah mendekat dengan perlahan, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana kainnya dengan gestur yang teramat dominan. "Punya waktu sebentar untuk meredam ketegangan di tubuhku, hm?"
Emily berdecak sebal lantas memutar bola matanya dengan raut wajah yang tampak sangat jengah.
"Sayangnya aku tidak punya waktu untuk meladeni egomu pagi-pagi sekali seperti ini," sahut Emily dengan cepat, berusaha sekuat tenaga menahan nada ketus dari suaranya. "Aku memiliki pertemuan yang teramat penting dengan klien, dan—"
Belum sempat Emily menyelesaikan kalimatnya, Raphael sudah bergerak memotong jarak di antara mereka dengan gerakan yang teramat senyap. Memanfaatkan keheningan koridor ruangan yang masih sepi, pria itu menyelinap ke belakang tubuh Emily.
Sebelum Emily sempat berbalik, Raphael mencondongkan tubuh tegapnya ke depan, mengunci pergerakan wanita itu dari belakang. Ia menundukkan kepala, membiarkan bibirnya menyentuh perlahan dan menempel di ceruk leher Emily yang halus, menghirup dalam-dalam aroma parfum manis yang menguar dari sana.
Bersamaan dengan itu, kedua lengan kekar Raphael bergerak naik, memeluk kedua bahu Emily dari belakang dan mengelusnya dengan usapan yang teramat lembut.
Tubuh Emily seketika menegang sempurna akibat sengatan listrik yang menjalar dari sentuhan tersebut. Jantungnya berdegup liar, namun akal sehatnya langsung berteriak waspada.
Dengan gerakan terburu-buru, Emily berusaha melepaskan diri dari kungkungan hangat itu dan mendorong dada Raphael menjauh. "Bisa tidak... jangan bersikap seperti ini di kantorku?" bisik Emily setengah panik, matanya melirik cemas ke arah luar pintu. "Orang-orang di luar bisa berpikiran yang aneh-aneh tentang kita. Sana, menjauh!"
Raphael hanya terkekeh rendah, membiarkan Emily menciptakan sedikit jarak di antara mereka meski matanya tidak lepas mengunci paras cantik yang kini merona menahan kesal.
"Dan... jangan lupa bahwa kasus Andrew masih menunggumu," lanjut Raphael dengan santai, seolah pembicaraan bisnis mereka jauh lebih mendesak dari apa pun. "Kita harus bicara serius, Emily. Kau tidak bisa terus-menerus menghindar dariku. Ingat, reputasimu juga dipertaruhkan dalam masalah besar ini."
"Aku bisa, dan aku akan melakukannya. Tapi tidak bisa sekarang," tegas Emily, merapikan kembali pakaiannya yang sedikit kusut akibat pelukan tadi. "Klienku kali ini bukan orang sembarangan, dan proyek ini bisa menjadi kontrak terbesar yang kuraih sepanjang tahun ini."
Tepat saat Emily selesai bicara, suara bariton yang asing memanggil nama Raphael dari arah belakang lounge.
“Raphael?”
Emily panik 🤣🤣🤣 tenang aja Raphael udah bucin tuh tinggal Emily aja yang harus terima