NovelToon NovelToon
Istriku Memiliki Dua Wajah

Istriku Memiliki Dua Wajah

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:814
Nilai: 5
Nama Author: sena himura

Arka tidak pernah menyangka pernikahannya akan runtuh karena sebuah ponsel tersembunyi.
Istrinya yang lembut dan sempurna ternyata menyimpan kehidupan lain yang tidak pernah ia ketahui.
Chat tengah malam. Nama asing. Dan kebohongan kecil yang perlahan berubah menjadi mimpi buruk.
Namun semakin Arka mencari kebenaran… semakin ia sadar bahwa semua orang di sekitarnya menyimpan rahasia.
Karena terkadang— orang yang tidur di sampingmu belum tentu orang yang benar-benar kamu kenal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sena himura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29

BAB 29: JARAK YANG MELEBAR

"Semakin kebenaran terungkap, semakin aku merasa dia menjauh. Bukan dengan berjalan mundur, bukan dengan lari pergi, tapi dengan perubahan halus namun nyata yang tercipta di antara kami. Dulu kami serapat kulit dan kuku, saling menyatu tanpa batas. Tapi malam ini, di tengah puing-puing sandiwara yang runtuh itu, aku merasakan ada ruang kosong yang makin luas terbuka. Jarak yang melebar bukan karena tempat, tapi karena masa lalu, karena dosa, dan karena identitas kami yang ternyata berbeda dunia."

Arka masih duduk di tepi sofa, tangannya masih menyentuh pipi Claire yang basah air mata. Sentuhan itu masih terasa hangat, masih terasa sama seperti ribuan kali ia menyentuhnya dulu. Namun di balik sentuhan itu, ada sesuatu yang berubah. Ada dinding tak kasat mata yang perlahan namun pasti meninggi di antara mereka, memisahkan dua manusia yang dulu mengira mereka adalah satu kesatuan.

Claire perlahan menggeser duduknya sedikit ke samping. Gerakan itu sangat kecil, hampir tak terlihat, tapi bagi Arka yang hafal setiap detil gerak-gerik istrinya, pergeseran itu terasa seolah wanita itu baru saja berjalan sejauh satu kilometer menjauhinya. Wanita itu menundukkan wajahnya, menarik kembali tangannya dari genggaman Arka, lalu melingkarkan lengannya ke tubuh sendiri seolah sedang menahan dingin yang menusuk, meskipun udara di ruangan itu cukup hangat.

"Le..." panggil Arka pelan, hatinya kembali teriris melihat jarak yang mulai terbentuk itu. "Kenapa? Kamu takut padaku sekarang? Padahal aku tidak marah. Aku tidak akan menyakitimu. Kamu sendiri yang bilang, aku satu-satunya orang yang aman buatmu."

Claire menggeleng pelan, bahunya berguncang halus. Ia tidak berani menatap mata Arka lagi. Tatapan yang dulu penuh kasih sayang, penuh kepura-puraan, atau penuh kode rahasia... kini berubah menjadi tatapan orang yang merasa terlalu kotor untuk disentuh, terlalu rendah untuk dihadapi.

"Bukan begitu, Mas..." jawabnya lirih, suaranya terdengar jauh dan hampa. "Bukan aku yang menjauh. Tapi kenyataan yang memisahkan kita. Mas masih melihat aku sebagai Elena, bukan? Mas masih ingat semua momen indah kita. Tapi aku... aku tidak bisa lagi menjadi Elena, Mas. Elena sudah mati sejak lama. Elena hanyalah bayangan yang aku pakai untuk mendekat ke Mas. Dan sekarang... bayangan itu hilang. Yang ada di hadapan Mas sekarang hanyalah Claire Nathania. Wanita yang penuh dosa, wanita yang penuh darah, wanita yang selama dua tahun ini hidupnya hanya berisi kebohongan."

Claire mengangkat wajahnya perlahan, menatap Arka dengan pandangan yang penuh keputusasaan dan kesadaran pahit.

"Bagaimana mungkin aku duduk berdekatan dengan Mas? Bagaimana mungkin aku membiarkan Mas menyentuhku, melihatku, atau bahkan hanya berada di ruangan yang sama denganku... padahal tanganku ini pernah ikut merampas nyawa orang lain? Padahal mulut ini pernah menipu Mas sampai sedemikian rupa? Padahal hatiku ini pernah berniat membunuh Mas sendiri?"

Air mata kembali menetes, kali ini jatuh lebih deras, membasahi gaun indah yang dulu sering dipakai untuk mempesonakan Arka.

"Semakin aku sadar siapa diriku sebenarnya, semakin aku merasa aku tidak pantas berada di dekat Mas. Semakin kebenaran terbuka, semakin jarak di antara kita melebar. Dulu aku bisa merasa dekat, merasa milik Mas, karena aku bersembunyi di balik nama baik, di balik wajah polos, di balik cinta palsu. Tapi sekarang... topeng itu sudah jatuh. Dan di baliknya, tidak ada apa-apa selain kejahatan. Bagaimana mungkin Mas mau dekat dengan kejahatan?"

Arka diam terpaku. Ia merasakan betul apa yang dimaksudkan wanita itu. Ia merasakan jarak itu. Ia merasakan bagaimana cinta yang dulu menyatukan mereka kini berubah menjadi beban berat yang menarik mereka ke arah yang berlawanan. Arka tertahan oleh rasa cinta dan rasa iba yang masih tersisa kuat di dadanya. Sedangkan Claire... Claire ditarik mundur oleh rasa bersalah, rasa malu, dan kesadaran bahwa ia adalah musuh dari segala hal yang Arka percayai dan hargai.

Di seberang meja, Adrian yang sejak tadi diam membisu kini berbicara pelan, suaranya parau dan penuh kepahitan, seolah ia baru saja menyadari hal yang sama.

"Dia benar, Pak Arka..." ucap Adrian tanpa mengangkat kepalanya. "Jarak itu pasti ada. Sejauh apa pun kalian saling mencintai, sebesar apa pun pengertian yang Bapak punya... fakta tetaplah fakta. Bapak adalah pria yang jujur, bersih, hidup dengan aturan dan hati nurani. Sedangkan dia... dia adalah hasil didikanku. Dia adalah buatan tangan kejahatan. Kami tumbuh di dunia yang gelap, Pak. Dunia di mana uang adalah tuhan, di mana nyawa tidak berharga, di mana kebohongan adalah bahasa sehari-hari."

Adrian mengangkat wajahnya, menatap Arka dengan senyum yang menyedihkan.

"Kalian berdua itu seperti air dan minyak, Pak. Bisa saja dicampur, bisa saja bersatu untuk sementara waktu... tapi sifat dasar kalian tetap berbeda. Begitu gangguan hilang, begitu keadaan jadi tenang... kalian akan terpisah kembali. Dia tahu itu. Itu sebabnya dia menjauh. Dia sadar, bahwa meskipun Bapak memaafkan, meskipun Bapak mengerti... dia tidak akan pernah bisa kembali menjadi orang yang sama. Dan Bapak tidak akan pernah bisa menerima masa lalunya sepenuhnya."

Kata-kata Adrian bagai paku yang dipukulkan satu per satu ke dada Arka. Ia menatap Claire yang semakin menyusut di ujung sofa, memeluk dirinya sendiri seolah ingin menghilang. Jarak di antara mereka kini terasa begitu luas, begitu dalam, seolah ada jurang besar yang memisahkan dua dunia yang berbeda sama sekali.

Arka teringat semua hal yang pernah terjadi. Semua rahasia, semua kejahatan, semua darah dan air mata yang menempel pada nama Claire Nathania. Ia teringat bagaimana wanita itu dan Adrian membakar rumah keluarga Wijaya, bagaimana mereka mencuri identitas, bagaimana mereka menghancurkan nyawa orang lain demi keuntungan sendiri.

Dan di sisi lain, ada dirinya. Arka, yang hidup sederhana, yang percaya pada kejujuran, yang menganggap cinta adalah hal paling suci.

Benar kata Adrian. Seberapa pun besar rasa cintanya, seberapa pun dalam rasa pengertiannya... masa lalu itu tetap ada. Noda itu tetap ada. Dan itu menciptakan jarak. Jarak yang melebar setiap kali ia mengingat kenyataan itu.

"Mas..." suara Claire memecah keheningan, suaranya lirih namun tegas. "Mas ingat tidak? Dulu pernah suatu kali Mas bertanya... kenapa aku selalu tidur memunggungi Mas? Kenapa aku selalu menjaga jarak sedikit saja saat berpelukan? Dulu aku bilang aku tidak nyaman. Padahal alasannya lain, Mas. Aku takut. Aku takut kalau Mas terlalu dekat, kalau Mas terlalu menyatu denganku... Mas akan bisa merasakan dosa-dosa yang ada di dalam tubuhku. Aku takut noda hitamku ini menular ke Mas. Aku takut kejahatanku ini merusak kebaikan Mas."

Claire menatap Arka dengan pandangan yang penuh perpisahan.

"Dulu aku bisa menahan jarak itu tetap kecil karena aku punya tujuan. Karena aku harus mendapatkan apa yang aku inginkan. Tapi sekarang... tujuannya sudah hilang. Rahasia sudah terbongkar. Dan jarak itu melebar sendiri, Mas. Semakin aku bicara, semakin aku mengakui kejahatanku... semakin aku merasa jauh dari Mas. Rasanya seperti aku ditarik ke dalam kegelapan, sementara Mas tetap berdiri tegak di bawah cahaya terang. Dan aku tidak berani melangkah mendekat, takut kegelapanku ini memadamkan cahaya Mas."

Arka bangkit berdiri perlahan. Ia melangkah satu langkah mendekat, tapi ia berhenti. Ia tidak maju lagi. Karena ia pun merasakannya. Ia pun sadar bahwa meskipun ia ingin memeluk wanita itu, meskipun ia ingin berkata semuanya akan baik-baik saja... ada sesuatu yang menahannya. Sesuatu yang dingin, sesuatu yang berat, sesuatu yang bernama kenyataan.

Jarak itu nyata.

Jarak itu bukan khayalan.

Jarak itu terbentuk dari ribuan kebohongan, ribuan dosa, ribuan perbedaan yang selama ini ditutupi rapi oleh sandiwara.

"Le..." bisik Arka, suaranya pecah menahan rasa sakit yang baru. "Aku tidak mau jarak ini ada. Aku berusaha menghapusnya. Aku berusaha melompati semua tembok itu. Tapi... tapi aku harus jujur juga. Ada saat di mana aku menatapmu, dan aku tidak lagi melihat Elena. Aku melihat Claire. Dan aku takut. Aku takut pada apa yang kamu lakukan. Aku takut pada apa yang kamu mampu lakukan."

Arka menundukkan pandangannya, air mata menetes ke lantai.

"Itulah sebabnya jarak ini melebar, bukan? Bukan hanya kamu yang merasa tidak pantas... tapi aku juga mulai merasa, bahwa mungkin kita memang tidak ditakdirkan bersatu. Bahwa meskipun cinta itu ada, meskipun perasaan itu nyata... asal-usul kita, jalan hidup kita, dan apa yang ada di balik diri kita... terlalu berbeda, terlalu jauh, dan terlalu sulit untuk disatukan kembali."

Di ruangan itu, keheningan kembali menyelimuti. Tirai sudah turun, sandiwara sudah selesai, kebenaran sudah terungkap. Namun hasil akhirnya bukanlah pelukan bahagia atau keadilan yang tuntas. Hasil akhirnya justru kesadaran pahit: bahwa di balik segala rahasia, ada jarak tak terlihat yang kini melebar menjadi jurang pemisah yang sulit dijembatani.

Claire tersenyum tipis, senyum yang pasrah dan sedih. Ia mengangguk pelan, seolah menerima takdir itu.

"Ya, Mas... Inilah kenyataan yang paling menyakitkan. Bahwa kita bertemu, kita jatuh cinta, kita hidup bersama... hanya untuk akhirnya sadar bahwa kita berasal dari dunia yang berbeda. Dan kebenaran ini... kebenaran inilah yang memisahkan kita selamanya."

Di sudut ruangan, Daniel menghela napas panjang. Ia melihat drama manusia yang jauh lebih rumit daripada sekadar kasus kriminal. Ia melihat dua hati yang saling mencintai, namun terpisah oleh tembok dosa dan masa lalu yang tak bisa dihapus.

Jarak itu kini ada.

Jarak itu melebar.

Dan entah sampai kapan, atau entah apakah akan pernah bisa dipersempit kembali... hanya waktu dan nasib yang akan menjawabnya.

Malam ini, mereka menemukan kebenaran.

Tapi malam ini juga, mereka kehilangan satu sama lain.

— BERSAMBUNG.......

1
Key Kastara
✨🔥😍
MayAyunda
bagus👍
Ana Dww
aku tertarikkk
sena himura: iya,kak😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!