Demi menghindari perjodohan gila dengan rentenir tua pilihan ibu tirinya, Alana nekat menyewa seorang pria asing di pinggir jalan untuk menjadi suami pura-puranya dengan bayaran 5 juta sebulan. Pria itu tampak seperti pengangguran tampan yang sedang butuh tempat sembunyi.
Alana bekerja keras siang malam untuk menghidupi "suami miskinnya" itu. Ia bahkan rela membelikan pria itu kemeja obralan agar terlihat rapi saat menemaninya.
Namun, Alana tidak pernah tahu bahwa pria yang setiap malam tidur di sofa sempit apartemennya adalah Xander, pemimpin kartel mafia paling ditakuti sekaligus CEO triliuner yang kekayaannya tak berseri. Saat keluarga tiri Alana mencoba menginjak-injak hidup gadis itu, mereka tidak sadar bahwa mereka telah membangunkan iblis kejam yang sedang menyamar.
"Siapa pun yang berani menyentuh milikku, bersiaplah kehilangan nyawa." — Xander.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Orang_Cuman_Cerita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Hujan Peluru di Padang Salju
Deru mesin yang membelah badai terdengar semakin memekakkan telinga. Lampu sorot kekuningan dari belasan snowmobile taktis menembus tirai salju yang tebal, meluncur deras bak kawanan serigala besi kelaparan yang mengincar mangsa.
"Menyebar! Berlindung di balik batang pinus besar!" teriak Xander, suaranya menggelegar mengalahkan lolongan angin.
Xander menarik pinggang Alana, melempar tubuh istrinya dengan gerakan terukur ke balik sebuah pohon pinus raksasa. Dua komando Pasukan Bayangan dengan sigap menyeret Dante ke perlindungan batu granit berlapis es, sementara dua lainnya langsung mengambil posisi tiarap dengan senapan serbu termal menyala.
RATATATATATA!
Rentetan peluru kaliber besar dari kubu Rusia seketika merobek keheningan malam. Kulit kayu pinus hancur berhamburan, serpihan es meledak ke udara layaknya pecahan kaca.
"Jangan hancurkan mesin kendaraan mereka!" perintah Xander melalui komunikator telinga. Matanya menajam menatap kilatan peluru di tengah badai. "Kita sedang berjalan kaki. Kita butuh kendaraan itu untuk mencapai pangkalan utara. Tembak pengendaranya saja!"
"Siap, Tuan Besar!"
Pasukan elit Xander tidak membuang peluru dengan percuma. Mereka adalah penembak jitu yang terlatih di neraka. Dengan ketenangan yang mematikan, senapan mereka memuntahkan timah panas yang langsung menembus kaca helm dua pengendara snowmobile terdepan. Kedua kendaraan itu oleng, menabrak tumpukan salju hingga pengendaranya terpental mati.
Namun, jumlah pasukan Volkov terlalu banyak. Mereka mulai menyebar, mencoba mengepung formasi pertahanan Xander dari sisi sayap.
Alana menekan punggungnya ke batang pohon, napasnya memburu kencang. Ia mengintip melalui lensa biru kacamata termalnya. Jarak pandang visual mungkin nol, namun teknologi belator itu menunjukkan kebenaran yang mengerikan. Tiga titik merah sedang mengendap-endap berjalan kaki memutar ke arah batu granit—tepat ke titik buta tempat Dante yang sedang terluka berlindung.
"Dante! Arah jam tiga!" jerit Alana.
Namun rentetan tembakan musuh menenggelamkan suaranya. Dante dan prajurit yang menjaganya sedang sibuk membalas tembakan ke arah depan, tidak menyadari maut yang mendekat dari samping.
Waktu seakan berjalan lambat. Tangan Alana yang gemetar merogoh pinggangnya, menarik pistol Sig Sauer P365 yang diberikan suaminya. Dinginnya gagang pistol menembus sarung tangan kulitnya.
Tarik napas perlahan... buang setengahnya... lalu tahan. Suara bariton Xander kembali bergema di benaknya, menjadi jangkar kewarasannya.
Alana melangkah keluar satu langkah dari perlindungan. Ia mengangkat senjatanya dengan kedua tangan, menyejajarkannya dengan bahu. Melalui lensa termal, ia mengunci titik merah yang paling dekat dengan punggung Dante. Pria Rusia itu baru saja mengangkat senapan serbunya.
DOR! DOR!
Dua tembakan beruntun melesat dari moncong pistol Alana. Hentakan senjata itu terasa mantap. Di balik badai salju, prajurit Rusia itu tersentak ke belakang, peluru Alana menembus celah rompi pelindungnya tepat di dada. Ia ambruk seketika. Dua rekannya yang terkejut langsung mundur mencari perlindungan.
Xander yang melihat kejadian itu dari sudut matanya, menyeringai dengan kebanggaan yang buas. Istrinya adalah seorang ratu yang sesungguhnya.
"Sekarang giliran kita," geram Xander.
Dewa perang klan Leonidas itu melesat keluar dari perlindungannya dengan kecepatan di luar nalar manusia. Alih-alih menembak, ia berlari menyongsong sebuah snowmobile musuh yang melaju kencang ke arahnya. Tepat sebelum kendaraan itu menabraknya, Xander melompat ke udara, mendaratkan tendangan memutar yang brutal tepat ke rahang pengendara Rusia tersebut.
Terdengar bunyi tulang leher patah yang keras. Pengendara itu terpental ke tanah bersalju, sementara Xander mendarat mulus di atas jok snowmobile yang masih melaju, langsung mengambil alih kemudi dengan satu tangan.
"Ambil kendaraan yang tersisa!" teriak Xander pada pasukannya.
Dalam hitungan kurang dari tiga menit, pertarungan jarak dekat yang mematikan itu berhasil diselesaikan. Pasukan Bayangan membantai sisa musuh dan mengamankan tiga snowmobile lainnya yang masih berfungsi sempurna.
Xander memutar arah kendaraannya, melaju mendekati pohon pinus dan mengulurkan tangannya pada Alana.
"Naiklah di belakangku, Penembak Jituku," ucap Xander menembus deru angin badai, matanya menatap Alana dengan kobaran asmara yang membara.
Alana meraih tangan kokoh suaminya, melompat naik ke jok belakang, dan memeluk pinggang Xander erat-erat. Dante yang dibantu oleh prajurit lain juga telah menaiki kendaraan mereka.
"Arah utara! Ke Laut Laptev!" komando Xander.
Keempat snowmobile itu langsung mengaum buas, membelah tumpukan salju tebal, melesat meninggalkan sisa-sisa pasukan Volkov yang terkapar tak bernyawa. Perjalanan mematikan sejauh dua puluh kilometer membelah neraka putih Siberia baru saja memasuki babak akhirnya.
(Bersambung...)