NovelToon NovelToon
Cinta Ditolak Sebab Status

Cinta Ditolak Sebab Status

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:420
Nilai: 5
Nama Author: Bila Official

Aurel, gadis sederhana dari desa Kembang, datang ke Jakarta demi menggantikan ibunya yang sakit. Hidupnya berubah saat ia bekerja di rumah keluarga kaya dan tanpa sengaja terlibat dalam kehidupan Arvano—pria dingin yang tak peduli wanita selain ibunya.

Perasaan yang seharusnya tidak ada— justru tumbuh di antara mereka.

Namun perbedaan status menjadi tembok besar yang memisahkan. Penolakan, penghinaan, dan masa lalu yang tersembunyi mulai menguji hubungan mereka.

Saat semuanya perlahan membaik dan kebahagiaan hampir tergenggam— sesuatu yang tak terduga terjadi.

Aurel menghilang.
Diculik oleh seseorang yang ingin menghancurkan hidupnya.

Dalam keputusan dan waktu yang terus berjalan, Arvano harus memilih—
Menyelamatkan wanita yang ia cintai?
atau kehilangan segalanya untuk kedua kalinya?.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bila Official, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28. Perpisahan

Di lantai atas, tepatnya di kamar yang selama ini ditempati Aurel, suasana jauh lebih menyedihkan. Koper berukuran sedang sudah terletak di dekat pintu. Pakaian dan barang-barang pribadi sudah tersusun rapi di dalamnya.

Karena sejak awal Aurel datang ke rumah ini, ia hanya membawa barang seperlunya. Namun entah kenapa, melihat koper itu membuat dadanya terasa sesak. Aurel berdiri di tengah kamar, menatap sekeliling ruangan yang selama beberapa bulan terakhir menjadi tempatnya beristirahat.

Tempat ia menangis diam-diam saat rindu rumah, tempat ia mengobrol dengan Tara melalui telepon, dan tempat ia tersenyum sendiri saat mengingat Arvano. Dan kini, Ia harus meninggalkan semuanya. Air matanya kembali jatuh, meski sejak tadi Aurel sudah berusaha menghentikannya. Namun semakin ia mencoba tegar, semakin sakit rasanya.

Di luar kamar. Arvano masih berdiri, sejak tadi. Tidak berpindah sedikit pun. Tangannya beberapa kali mengetuk pintu. Namun tidak pernah mendapat jawaban.

"Aurel..." Panggilnya Arvano dengan pelan.

Tidak ada jawaban.

"Aurel, buka pintunya." Tetap tidak ada jawaban.

Arvano mengusap wajahnya frustrasi. Arvano tahu Aurel ada di dalam, dan tahu gadis itu sedang menangis.

Dan itu membuat hatinya terasa seperti diremas. Selama ini Arvano selalu berpikir dirinya bisa melindungi Aurel. Namun hari ini, bahkan tidak mampu mempertahankan Aurel tetap tinggal di rumahnya.

Di dalam kamar Aurel. Ponsel Aurel bergetar. Ia melihat layar. Nama Tara muncul. Tanpa berpikir panjang, Aurel langsung membuka aplikasi pesan. Tangannya sedikit gemetar saat mengetik.

^^^"Tara, bisa jemput aku sekarang?" Aurel.^^^

Beberapa detik kemudian balasan datang.

"Kenapa?" Tara.

^^^"Aku jelasin nanti." Aurel.^^^

"Kamu dimana?" Tara.

^^^"Di rumah Argas." Aurel.^^^

Tara langsung membalas. "Tunggu aku."

Aurel memejamkan mata sesaat. Setidaknya ia tidak sendirian, masih ada Tara. Sahabat yang selalu ada sejak SMA. Sahabat yang tidak pernah meninggalkannya.

Beberapa menit kemudian. Aurel menarik napas panjang, lalu menghapus air matanya. Ia mengangkat koper. Membuka pintu kamar. Tatapannya bertemu dengan Arvano.

Arvano langsung berdiri. Wajahnya terlihat lelah. Matanya merah. Jelas Arvano juga tidak baik-baik saja. Melihat koper di tangan Aurel membuat hati Arvano semakin sakit. "Aurel." Suara Arvano terdengar pelan.

Aurel menunduk, tidak berani menatap terlalu lama. Karena ia tahu. Kalau ia melihat mata Arvano lebih lama lagi, mungkin Aurel akan menangis lagi. "Aku harus pergi."

"Jangan." Jawaban Arvano datang begitu cepat, tanpa berpikir, dan tanpa ragu. "Jangan pergi."

Aurel menggigit bibirnya. "Mas..."

"Aku bisa bicara lagi sama Papa." Ucap Arvano dengan paksaan.

"Tidak." Sahut Aurel.

"Aurel." Paksa lagi Arvano.

"Tidak." Ucap Aurel.

Kali ini Aurel mengangkat wajahnya. Air mata kembali menggenang. "Aku enggak mau bikin keluarga kamu hancur karena aku."

Ucapan Aurel membuat Arvano terdiam. "Aurel..."

"Aku capek." Suara gadis itu bergetar. "Sungguh capek. Setiap hari takut ketahuan, setiap hari takut dianggap orang yang salah dan sekarang semuanya sudah terjadi."

Arvano mengepalkan tangannya. Namun tidak mampu membantah, karena semua yang dikatakan Aurel memang benar.

Mereka berdiri saling memandang beberapa saat. Sebelum akhirnya Aurel berjalan melewati Arvano. Menuju tangga, menuju ruang tamu dan menuju perpisahan yang tidak pernah di inginkan.

Saat Aurel sampai di ruang tamu. Semua orang sudah berada di sana. Indah berdiri lebih dulu. Melihat koper di tangan Aurel. Air mata langsung memenuhi matanya.

"Aurel." Ucap Indah.

Aurel tersenyum tipis. Meski senyum itu terlihat sangat dipaksakan. "Bu."

Indah langsung memeluknya, sangat erat. Seperti seorang ibu yang tidak ingin kehilangan anaknya. "Kamu jangan pergi."

Aurel tidak mampu menjawab. Ia hanya menangis di pelukan Indah.

Feni ikut menangis. "Kalau kamu pergi nanti dapur sepi."

Aurel tertawa kecil di sela tangisnya. "Maaf, Bi."

Feni menggeleng. "Harusnya aku yang minta maaf."

Satrio yang sejak tadi diam juga terlihat sedih, sudah menganggap Aurel seperti keponakannya sendiri. "Jaga diri baik-baik." Ucapnya.

Aurel mengangguk. "Iya, Pak."

Namun satu orang tetap diam, yaitu Bagaskara. Bagaskara duduk di sofa. Tatapannya datar. Meski dalam hatinya sebenarnya sedang bergejolak. Bagaskara melihat semua orang membela Aurel, melihat semua orang sedih. Namun tetap bertahan pada keputusannya. Menurutnya, ini adalah jalan terbaik. Meski menyakitkan.

Aurel menatap ruang tamu untuk terakhir kalinya. Banyak kenangan tersimpan di sana. Pertama kali bertemu Bagaskara, pertama kali berbincang dengan Indah, pertama kali tertawa bersama Feni, dan pertama kali melihat Arvano dari dekat. Semua terjadi di rumah ini.

Rumah yang awalnya hanya tempat bekerja. Namun perlahan berubah menjadi tempat yang terasa seperti rumah kedua. Karena itulah, pergi dari tempat ini terasa begitu menyakitkan.

Aurel menarik koper, lalu membungkuk dengan hormat. "Terima kasih untuk semuanya." Suaranya bergetar dan lanjut bicara. "Terima kasih sudah baik sama saya."

Indah kembali menangis. Feni mengusap matanya. Satrio menundukkan kepalanya. Bahkan Arvano hampir kehilangan kendali dirinya.

Namun Aurel tetap berjalan, selangkah demi selangkah. Menuju pintu utama. Saat pintu terbuka.

Angin siang menyambutnya. Dan di luar sana, sebuah mobil sudah terparkir.

Tara berdiri di sampingnya, begitu melihat Aurel membawa koper. Tara langsung terkejut. "Aurel?" Namun sebelum sempat bertanya. Aurel sudah mendekat. Matanya sembab, wajahnya pucat dan itu sudah cukup menjelaskan bahwa sesuatu yang buruk telah terjadi.

Arvano keluar sampai teras. "Aurel!"

panggilnya.

Aurel berhenti, namun tidak menoleh. Karena ia takut, takut tidak sanggup pergi jika melihat wajah Arvano sekali lagi.

"Kalau kamu pergi..." Suara Arvano terdengar berat.

"...aku akan nyusul."

Aurel menutup matanya. Air mata kembali jatuh. Namun ia tetap tidak menoleh.

Karena kali ini, Aurel harus kuat, dengan bantuan Tara. Koper dimasukkan ke bagasi, lalu mereka masuk ke dalam mobil.

Mobil perlahan meninggalkan rumah keluarga Argas. Rumah yang semakin menjauh di kaca belakang. Aurel terus melihat ke arah belakang, sampai rumah itu benar-benar menghilang dari pandangan. Barulah ia menundukkan kepala dan menangis. Tangisan yang sejak tadi ia tahan, akhirnya pecah.

Tara yang mengemudi hanya bisa melirik sekilas, tidak langsung bertanya. Membiarkan Aurel meluapkan emosinya terlebih dahulu.

Beberapa menit berlalu, barulah Tara membuka suara. "Aurel."

"Hm..." Jawab Aurel yang singkat.

"Kenapa kamu bawa koper?" Tanya Tara.

Aurel menghapus air matanya. "Nanti aku jelasin."

Tara mengernyit. "Ada masalah ya?"

Aurel hanya menatap keluar jendela. Jakarta masih sama Ramai, penuh kendaraan, dan penuh kehidupan.

Namun bagi Aurel. Hari ini terasa sangat berbeda, karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Ia tidak tahu harus pulang ke mana.

Di rumah keluarga Argas. Arvano masih berdiri di teras. Menatap jalan kosong. Mobil Tara sudah lama menghilang. Namun Arvano belum bergerak sedikit pun.

Sementara di dalam rumah. Indah menatap Bagaskara dengan kecewa. Feni dan Satrio hanya diam. Keheningan terasa semakin berat.

Rumah besar Argas terasa begitu kosong, karena seseorang yang selama ini menghidupkan suasana telah pergi.

Sedangkan di dalam mobil. Aurel menggenggam ponselnya erat, tidak menyadari bahwa sebuah pesan baru saja masuk. Pesan dari Arvano. Satu kalimat pendek, namun cukup membuat air matanya jatuh lagi.

"Tunggu aku, Aurel. Aku tidak akan menyerah."

Aurel menatap layar ponselnya lama.

Sementara mobil terus melaju menuju rumah Tara.

Arvano mulai mengambil keputusan besar yang mungkin akan mengubah hubungan dirinya dengan Bagaskara selamanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!