NovelToon NovelToon
Lihat Aku Sekali Saja

Lihat Aku Sekali Saja

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Penyesalan Suami / Bad Boy
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: LaruArun

Bertahun-tahun telah berlalu, namun Esther masih saja tidak bisa melupakan sosok Lian, meskipun ia sudah berkali-kali mencoba dengan menjalin hubungan dengan pria lain.

Semua hubungan itu berjalan baik. Bahkan terlalu baik.

Pria-pria green flag yang diinginkan banyak wanita… semuanya pernah singgah dalam hidup Esther.

Tapi tetap saja, tidak ada yang cukup.
Hingga suatu malam di sebuah bar, sebuah kejadian membuatnya terjebak dalam perasaan dilema yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.

"Moan my name."

"Kak... ahhh—"

Apa yang sebenarnya terjadi malam itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaruArun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29 FRAGILE

Esther duduk bersandar di kepala ranjang setelah pulang dari rumah sakit untuk memeriksa kakinya sekaligus check up kandungannya. Pandangannya lurus ke depan, kosong. Sementara tangannya mengelus perutnya pelan hingga ucapan dokter tadi kembali terngiang di kepalanya.

"Kondisi janin masih baik. Detak jantungnya normal dan pertumbuhannya masih sesuai usia kehamilan. Jadi, jatuh yang waktu itu tidak menyebabkan cedera pada janin." kata dokter kandungan yang menangani Esther sambil melihat catatannya.

"Namun yang saya khawatirkan sekarang adalah kondisi ibunya," lanjut dokter itu yang kini menatap serius ke arah Lian. "Istri Anda mengalami penurunan berat badan yang cukup signifikan, Tuan. Ini bukan sesuatu yang bisa dianggap sepele. Memang pada trimester pertama mual dan muntah adalah hal yang umum, tetapi kalau sampai membuat pasien sulit makan dan berat badannya terus turun, itu harus segera ditangani. Jadi yang harus kita jaga sekarang bukan karena bayinya sedang sakit, melainkan agar kondisi Ibunya tetap cukup kuat untuk mempertahankan kehamilan sampai bulan-bulan berikutnya."

"Dan sebagai suami, Anda seharusnya lebih peka. Jangan hanya menanyakan apakah istri anda sudah makan atau belum. Pastikan dia benar-benar makan. Kalau makanan tertentu membuatnya mual, carikan makanan lain yang bisa dia terima. perhatikan semua asupan nutrisinya dan jangan biarkan dia kelelahan. Karena kehamilan bukan hanya tanggung jawab seorang ibu, tetapi Ayahnya juga memiliki tanggung jawab yang sama."

Suara pintu yang terbuka membuat lamunan Esther buyar. Ia menoleh dan mendapati Lian muncul dengan meja kecil yang di atasnya sudah penuh oleh mangkuk. Setelah mendapat teguran habis-habisan dari dokter karena berat badan Esther turun saat di timbang di rumah sakit tadi, Lian langsung pergi ke supermarket membeli banyak bahan makanan sebelum mereka kembali ke rumah.

"Aku sudah buatkan makanan seperti yang dokter itu katakan tadi, jadi kau harus menghabiskannya supaya aku tidak kena omelannya lagi bulan depan." Lian menyimpan meja itu di atas paha Esther dengan hati-hati.

Esther menatap meja kecil itu dengan takjub karena suaminya itu bukan hanya membuatkannya satu hidangan melainkan tiga. Daging, sayur, ikan dan juga tidak lupa buah dan yogurt juga susu yang kini sudah ada di sebelahnya.

Alih-alih tergoda, Esther justru merasa mual dan perutnya sudah lebih dulu menolak makanan itu masuk ke dalam mulutnya. Refleks ia langsung menutup mulutnya, menggeser meja itu menjauh dari pandangannya.

"Aku tidak mau makan semua ini, kak." tolaknya pelan. Sebenarnya Esther sudah lapar sejak tadi, tapi ia tidak menginginkan semua itu. Ia menginginkan makanan yang lain.

Lian menghela napasnya. Mencoba sabar meskipun sebenarnya ia kesal karena makanan yang sudah ia buat susah payah di tolak mentah-mentah. "Lalu kau mau makan apa?" tanyanya seraya duduk di tepi kasur.

Esther terdiam sejenak memikirkan makanan apa yang ia inginkan saat itu. "Hmmm... Burger dan cola enak. Esther mau makan—"

"Tidak boleh." potong Lian cepat. "Kau mau dokter itu memarahi ku lagi karena kau semakin kurus dan kekurangan gizi lalu aku akan di cap sebagai suami yang tidak peduli pada kesehatan istrinya yang tengah hamil. Begitu, hm?"

Lian mengambil mangkuk berisi brokoli yang ia rebus dan taburi lada bubuk dan sedikit garam. Ia menusuknya satu lalu mengarahkan pada Esther. "Aku tidak mau tahu pokoknya kau harus makan semua ini karena aku sudah memasaknya untukmu."

Esther menjauh sambil menahan tangan Lian yang terus mendekat ke wajahnya. "Tapi aku tidak mau, kak,"

"Makan ini dulu, baru aku belikan burger."

"Janji?"

"Iya."

Esther malahap brokoli itu lalu mengambil garpu itu dari tangan Lian dan melanjutkan memasukkan sisa brokoli yang ada di mangkuk ke dalam mulutnya perlahan. Cukup lama waktu yang diperlukan Esther untuk menghabiskan satu mangkuk kecil brokoli karena caranya mengunyah seperti bayi yang tidak memiliki gigi.

Setelah mangkuk itu kosong Lian mengambil piring berisi daging dan menusuknya sebelum akhirnya ia mengarahkan ke mulut Esther. "Makan juga dagingnya. Kau butuh protein."

Esther menggeleng sambil menutup mulutnya. "Tidak mau, itu masih berdarah-darah, kak." Kepalanya terus mundur hingga membentur kepala ranjang, menjauh dari potongan daging yang mulai mendekat.

Lian menatap potongan daging di tangannya lalu kembali menatap Esther. "Ini bukan darah Esther, ini daging medium rare yang biasa kau makan."

"Aku tidak mau, Kak, baunya... Huek Tidak enak." tolaknya sambil menjauh hingga tubuhnya kini terbaring di kasur.

Lian menegakkan kembali tubuhnya dengan tangan yang masih memegangi piring dan garpu. "Kalau begitu tidak ada taman bermain minggu depan. Rencananya batal!"

Kedua mata Esther melebar. Ia menarik tubuhnya bangkit dan menatap Lian tidak rela. Baru saja ia berhasil membujuk pria itu untuk pergi ke taman bermain karena janjinya semalam yang akan menuruti apapun yang Esther inginkan setelah membuatnya kesakitan.

"Eh tidak bisa begitu. Janji tetaplah janji. Kak Lian sudah janji akan memberiku apapun termasuk pergi—Am."

Lian langsung memasukan potongan daging ke dalam mulut Esther begitu ia melihat mulut wanita itu terbuka saat bicara padanya.

"Telan!"

Esther menggeleng. Tangannya masih menutup mulutnya rapat-rapat, menahan gejolak dari dalam perutnya yang sudah naik untuk mengeluarkan isi perutnya.

"Atau kau mau rencana Minggu depan batal?"

Esther kembali menggeleng. Namun ia juga tidak mau menelan daging yang masih tertahan di mulutnya itu. Rasanya seperti daging mentah yang masih mengeluarkan darah. Dan darah itu kini menyatu dengan liurnya.

"Kalau begitu telan!"

Tanpa mengunyahnya, Esther langsung menelan potongan daging itu susah payah hingga membuat kedua matanya berkaca-kaca karena potongan itu ternyata terlalu besar untuknya. Ia lalu meminta Lian segera memberinya air, tapi pria itu justru memberinya susu putih yang justru malah membuat Esther semakin mual dan tidak kuat hingga—

Huek.

Brokoli dan daging yang tadi Esther paksa masuk kembali keluar bersama susu putih yang kini mengotori lantai, karpet dan juga ujung celana Lian karena ia tidak kuat untuk berlari ke kamar mandi dan akhirnya ia muntah di sisi kasur tepatnya di depan nakas.

"Esther kau—" Rahang Lian mengeras. Matanya menatap Esther, lantai dan celananya dengan penuh kekesalan. Lian benar-benar kehilangan kesabarannya kali ini dan bersiap memaki Esther dengan kata-kata kasar. Namun niat itu urung saat ia mengingat apa yang terjadi semalam dan tadi dan hanya bisa melampiaskan dengan mengepalkan tangannya.

"Maaf... " Esther mengelap bibirnya yang basah tanpa berani menatap Lian.

Lian memejamkan matanya beberapa detik lalu mendengus kasar sebelum akhirnya ia bangkit dan pergi ke dapur mengambil ember dan pel untuk membersihkan semuanya.

"Bisakah sehari saja dia tidak merepotkanku." batin Lian kesal sambil membersihkan muntahan Esther hingga lantai itu bersih mengkilat seperti semula. Ia juga mengambil karpet baru untuk menggantikan karpet yang terkena muntahan Esther.

"Maafkan Esther kak... " lirih Esther sambil menatap Lian yang tengah mengepel lantai. "Esther tidak sengaja. Lagipula Kak Lian yang memaksaku untuk memakan daging itu."

Lian menghentikan aktivitasnya lalu menatap Esther sinis. "Tapi bukan berarti kau bisa muntah disini," jawabnya ketus.

Esther menunduk dalam, kedua tangannya meremas ujung selimut merasa tidak enak karena Lian harus membersihkan kekacauan yang telah ia buat.

Ding dong.

Baik Lian dan Esther menoleh ke arah pintu setelah mendengar suara bel. "Siapa lagi yang datang kemari," geram Lian yang kini berjalan dengan kesal keluar kamar sambil menenteng ember dan pel di tangannya untuk membukakan pintu.

Di depan pintu, empat orang sudah berdiri dengan senyum yang merekah di wajah mereka yang sudah tidak lagi muda. Kedua orang tuanya dan mertuanya datang bersamaan tanpa memberi kabar padanya.

"Mami, papi, Mama, papa... Kalian datang berkunjung bersama?" tanya Lian basa-basi sekaligus menyembunyikan rasa terkejutnya dan juga bingung kenapa mereka semua datang.

"Dimana Esther? Papimu bilang dia sakit, sakit apa?" sahut Margaret yang sudah khawatir. Kepalanya mengintip ke belakang menantunya mencoba melihat ke dalam.

Lian membuka pintu lebar-lebar lalu mempersilakan mereka semua untuk masuk lebih dulu. "Esther sedang istirahat di kamar Ma," jawabnya akhirnya.

Margaret tidak menjawab. Ia langsung berjalan menuju satu-satunya pintu yang ia ingat saat awal datang mengantarkan Esther pindah karena hanya ada satu kamar di apartemen itu.

"Garet, tunggu—" Agam hendak menghentikan istrinya karena merasa tidak enak dengan besannya atas sikapnya yang kurang sopan langsung menerobos masuk. Namun Margaret lebih dulu pergi sambil meneriaki nama putrinya itu.

"Tidak apa, tuan alder, aku juga akan begitu jika putriku sakit." kata Agatha—mami Lian, sambil menepuk bahu Agam lalu menyusul Margaret.

...*****...

Pintu terbuka cukup kencang hingga Esther yang tengah duduk sambil mencoba makan sedikit demi sedikit tersentak kaget.

"Esther... "Margaret berjalan cepat menghampiri Esther dan duduk di tepi kasur "Kau sakit apa, sayang?" Tanyanya sambil menyentuh kedua pipi dan dahi Esther bergantian dengan raut wajah khawatir.

"Sakit?" Esther menatap mamanya bingung. Lalu tak lama kemudian Papa dan mertuanya masuk di ikuti Lian di belakang mereka.

"Lian bilang kau sakit, sayang," seru Margaret sambil menegelus pipi putrinya pelan hingga pandangan Esther kembali terarah pada mamanya. "Sejak kapan kau sakit, hm?"

Esther tidak langsung menjawab. Matanya melirik Lian yang kini berdiri di belakang mamanya, meminta penjelasan kepada pria itu atas apa yang terjadi hingga membuat orang tua mereka datang tiba-tiba.

"Esther?" Panggil Agatha pelan. "Mamamu bertanya padamu, kenapa kau malah menatap suamimu begitu?"

"Se—semalam," jawab Esther gugup. "Esther baru merasakannya semalam."

Agatha mendekat dan menatap Esther dengan tatapan penuh selidik. Seolah wanita itu tengah melihat sesuatu yang ada dalam diri Esther yang tidak seorang pun di ruangan itu sadari hingga membuat jantung Esther berpacu cepat seperti kuda yang baru saja di pecut kasar. Esther memilih mengakhiri tatapnya pada mertuanya karena takut kebohongan terbongkar.

Dalam hatinya Esther merutuki Lian yang sudah menyebarkan berita bohong kepada orang tuanya dan tidak memberitahunya bahwa kedua orang tua mereka akan datang sore itu.

"Esther kau terlihat kurus dari sebelumnya, kau diet atau..." Agatha melirik Lian tajam, "Lian tidak memberimu makan?"

"Maksud mami apa?" Lian tak terima dengan tuduhan dari maminya itu.Ia menunjuk makanan yang masih saja menumpuk di meja kecil di hadapan Esther. "Lihat Mi, Lian sudah memasak makanan untuk Esther tapi dianya saja yang terus menolak dan memuntahkan semua makanan yang Lian buat untuknya."

"Muntah-muntah?" seru Margaret dan Agatha kompak lalu saling menatap di ikuti senyuman yang mendadak merekah di wajah mereka.

"Esther sejak kapan kau muntah-muntah sayang?" tanya Agatha begitu semangat.

"Apa kau merasakan sesuatu?" seru Margaret tak kalah heboh.

Esther terdiam. Matanya melirik Lian sekilas yang baru menyadari bahwa ucapannya barusan menjelaskan tanda-tanda kehamilan awal. Dan kini pria itu justru malah membuang muka dan melimpah semuanya pada Esther.

"Katakan sayang, kenapa kau diam saja?"

"E—Esther sedang diet dan baru muntah-muntah semalam, Ma, Mi," katanya akhirnya membuat kedua bahu Agatha maupun Margaret sontak merosot mendengar jawaban itu. Mereka sudah mengira bahwa Esther tengah mengandung cucu mereka. Tanpa mereka ketahui bahwa sebenarnya cucu yang mereka kira belum ada itu sudah hidup jauh sebelum pernikahan mengingat anak-anak mereka.

...*****...

Esther menatap kertas yang di berikan oleh Mami Agatha padanya tadi. Tiket tiket liburan ke Jepang untuk honeymoon, hadiah darinya untuk Lian dan Esther. Tangan Esther meremas ujung kertas itu sebelum akhirnya ia mengangkat kepalanya untuk menatap Lian yang kembali setelah mengantarkan orang tua mereka pulang.

"Bagaimana ini, kak?" tanya Esther dengan raut wajah panik seolah ia akan menghadapi ujian tanpa belajar besok.

"Apanya?"

"Mami memberiku tiket ke Jepang supaya kita bisa honeymoon, kak."

Lian terdiam beberapa saat lalu dengan entengnya ia menjawab. "Ya sudah kita berangkat saja. Lagipula kau belum pernah ke Jepang kan?"

.

.

.

.

...—Senang rasanya menerima dukung dari kalian dengan like, komen, dan juga subscribe 🤎—...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!