Mesha tidak pernah menyangka, bahwa beberapa kali menikah, berkali-kali pula ia menjadi janda, karena semua suaminya, meninggal saat malam pertama. Semua ia jalankan demi menuruti keinginan orang tuanya.
Orang tuanya tidak memikirkan bagaimana perasaan Mesha. Yang mereka inginkan, Mesha harus membuktikan bahwa ia bukan perawan tua yang tidak laku-laku.
Namun, karena beberapa pernikahannya yang gagal, secara misterius, malah membuat ia semakin dipandang bagai monster.
Apakah ini sebuah kesialan? Atau kutukan? Bagaimana kehidupan Mesha selanjutnya?
Adakah yang bisa mengubah nasibnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila Al Hasany, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 : Dendam Mulai Menguasai.
Hari sudah semakin sore, semilir angin senja yang kering dan berdebu menerpa. Di sebuah halaman pertokoan, seorang perempuan muda masih berdiri mengamati suasana di dalam toko. Air mukanya terlihat begitu masam. Botol minuman yang tadi digenggam, sudah teronggok di dalam tong sampah sebagai media pelampiasan.
"Aku udah nggak tahan lagi, lihat saja nanti!" sungutnya.
Kemudian gadis itu menyalakan mesin motornya dan pergi dari tempat tersebut.
Di sisi lain, keempat orang hampir bersamaan, keluar dari sebuah toko.
"Ya udah, Mbak-Mbak cantik. Yuyum pulang duluan ya, sama Mas Sakha. Daaah!" Yumna berseru ketika ia sudah duduk di boncengan. Ia tersenyum lebar sambil melambaikan tangan yang masih memegang kipas bulat favoritnya.
Mesha dan Zafia membalas lambaian tangan Yumna. Kemudian, Mesha memeluk lengan Zafia seperti kebiasaannya saat jaman masih sekolah.
"Mau mampir ke rumahku dulu, Fi?" tanya Mesha.
Zafia mengangkat pergelangan tangannya, mengerling pada arloji yang melingkar di sana.
"Aku langsung pulang aja, Sha. Kamu kan juga besok kerja. Perlu istirahat."
"Oke, kalo gitu. Sampai jumpa lain waktu, Fi!" Mesha melepaskan tangan Zafia, saling mencium pipi kiri dan kanan, lalu berjalan menuju trotoar.
"Tunggu, Sha!" Panggilan Zafia menghentikan langkah Mesha.
Gadis cantik itu membalikkan badan.
"Ada apa, Fi?"
Zafia berlari mendekat lalu mengeluarkan sebuah kantong belanjaan berwarna marun.
"Apa ini, Fi?"
"Itu ... Mas Sakha yang membelikan. Buatmu, Sha."
"Ta—tapi, Fi ...."
"Udah. Terima aja, Sha! Aku nggak enak kalo ngebalikin ini."
Mesha mengembuskan napas cepat-cepat.
"Ya sudahlah. Terima kasih, Fi."
"Eh, jangan terima kasih ke aku, Sha. Kan bukan aku yang membelikan."
Mesha tersenyum, lalu berpamitan dan melambaikan tangan pada teman baiknya itu.
Sesampainya di rumah, Mesha membuka kantong belanjaan berwarna marun. Ia begitu terkejut, saat melihat sebuah kemeja berwarna biru langit merk kesukaannya terlipat manis dalam kantong tadi.
Mesha menempelkan kemeja itu di badannya, lalu memandang pantulan diri di depan kaca. Kemeja itu begitu pas. Kulitnya terlihat lebih bersinar.
"Wah, ternyata warna ini bagus juga untukku," gumamnya.
Kemudian, gadis bermata indah itu menarik keluar ponselnya dari dalam tas. Ia menekan sebuah nama dari list kontak di benda kotak tersebut.
Suara khas terdengar dari seberang sana saat panggilan tersambung.
"Ada apa, Mbak?"
"Terima kasih atas kemejanya, Mas," ucap Mesha.
"Oh, itu ... sama-sama, Mbak. Pas kan, Mbak?"
"Iya, Mas."
Kemudian hening menyelimuti kedua orang tersebut.
"Maaf, Mbak. Bukannya saya merendahkan ... tapi, saya cuma ...." Sakha mulai berbicara, memecah kesunyian.
"Nggak apa-apa, Mas. Aku terima pemberian itu, tapi aku nggak bisa memberikan hal lebih, cuma ucapan terima kasih."
"Maksudnya, Mbak?"
Mesha terdiam. Ia ingin mengungkapkan bahwa ia takut Sakha salah paham atas sikapnya. Namun lidahnya begitu kelu. Ia lebih takut lagi kalau kata-katanya bakal menyakiti pria baik hati itu.
"Mbak, Mbak Mesha?" Lagi-lagi Sakha menepis sunyi.
"Eh, ma—maaf, Mas. Nggak ada apa-apa. Sekali lagi terima kasih. Ya sudah, Mas Sakha istirahat aja. Oh iya, masalah laporan, besok kita bicarakan lagi di kantor."
"Oh ... iya. Iya, Mbak. Selamat beristirahat!"
"Mas juga!"
Mesha melemparkan tubuhnya ke atas kasur. Ia berbaring terlentang, menatap langit-langit. Pikirannya begitu kacau balau. Lama kelamaan, ia mulai tertidur.
Mayang masuk ke dalam kamar Mesha. Ia menggelengkan kepala saat melihat putrinya memejamkan mata, tetapi kedua kaki gadis itu menjuntai ke lantai. Dengan lembut, perempuan paruh baya itu menepuk pipi Mesha.
"Nduk, bangun ... ndak ilok tidur jam segini," serunya lembut.
Tak berapa lama kemudian, Mesha membuka mata.
"Iya, Bu."
"Sana, cuci muka dulu! Langit di luar sudah mulai gelap. Jangan lupa bantu ibu menyiapkan makan malam."
Mesha hanya mengangguk untuk membalas perkataan sang ibu.
Setelah membereskan meja makan dan mencuci piring makannya, Mesha kembali ke kamar. Ia mulai mengerjakan beberapa tugas dari kantor yang dibawa pulang. Merasa seperti ada seseorang yang mengawasi, gadis itu memandang sekitar. Namun, kosong. Tidak ada apa-apa, hanya ada dirinya dan setumpuk kertas di hadapan.
Rasa kantuk mulai menyerang Mesha. Padahal, ia masih belum menyelesaikan pekerjaannya. Gadis yang ulet dan rajin sepertinya, lebih memilih menyelesaikan pekerjaan terlebih dulu, ketimbang tidur. Oleh sebab itu, ia memutuskan untuk membuat secangkir kopi hitam pekat. Berhasil! Cairan hitam itu, mampu menghilangkan rasa kantuk.
Tepat pukul sebelas malam, Mesha sudah menyelesaikan tumpukan kertas di hadapannya. Namun aneh, ia malah belum mengantuk. Gadia itu berdiri, meregangkan badan sejenak, lalu berjalan menuju dapur untuk meletakkan cangkir yang kosong.
Malam begitu sunyi, tidak ada suara apa pun. Mesha ke belakang rumah lalu duduk di pinggir kolam. Tempat favoritnya ketika ia merasa bosan, bimbang atau bahkan sedih. Gerakan bola mata gadis itu, mengikuti gerak ikan-ikan yang berenang. Bahkan mengamati sirip dan ekor yang bergerak-gerak.
Mesha terkejut, saat sebuah tangan menepuk pundaknya. Dengan reflek, gadis itu menolehkan wajahnya.
"Kenapa belum tidur, Nduk?" Suara berat khas pria, terdengar dari pria bersarung dan memakai kaos oblong putih kedodoran.
"Belum bisa, Pak. Tadi Echa habis mengerjakan sesuatu. Eh, malah jadi nggak ngantuk."
Kemudian, laki-laki itu duduk di sebelah Mesha.
"Betah kerja di sana, Nduk?" tanya Bagas.
"Ya ... gimana lagi, Pak. Echa sudah memilih, ya harus ditekuni. 'kan?"
"Iya Nduk. Bapak tahu, itu sifat yang bapak suka darimu. Teruslah seperti itu, bertanggung jawab pada apa yang sudah menjadi pilihanmu."
Mesha menganggukkan kepalanya berulang kali.
"Ya sudah. Bapak mau masuk lagi, kamu juga. Jangan kelamaan di luar!"
Lagi-lagi Mesha mengangguk.
Malam semakin larut. Sadar bahwa esok masih mempunyai tanggungan, Mesha memaksa untuk memejamkan matanya. Ia sudah terbaring di atas kasurnya. Gadis itu mulai terlelap saat kokok ayam pertama terdengar.
Mesha bermimpi. Dalam mimpinya, ia sekali lagi melihat sosok yang ia sangka adalah Zay. Hanya saja, ia selalu melihat siluet laki-laki tersebut. Tidak bisa melihat wajahnya. Hal yang membuat ia berpikir bahwa itu Zay, sebuah gelang melingkar di pergelangan sosok itu.
"Zay! Zayyy!" Mesha mulai memanggil-manggil sosok dalam mimpi tersebut. Namun seperti tidak mendengar, sosok itu terus berjalan jauh. Tangan Mesha terus berusaha menggapainya.
Saat Mesha berhasil menggapai sosok itu, ia tercengang. Gadis itu malah mengenali sosok itu sebagai Sakha dengan senyum khasnya.
"Mas Sa—" Yang lebih mengejutkan lagi, wajah itu cepat berganti menjadi wajah laki-laki berkulit pucat, berikat kepala hitam. Mesha mundur ketakutan. Seringai di wajah itu, membuat Mesha semakin ngeri.
"Pergi! Jangan dekati aku!"
Teriakan Mesha membuat Mayang dan Bagas berlari mendekat ke kamarnya.
Mayang menggedor pintu kamar sambil memanggil nama Mesha. Beberapa kali ketukan, tetapi tidak ada jawaban. Hal itu membuat Mayang khawatir. Pada akhirnya, Bagas mendobrak pintu itu.
Mayang melihat Mesha terbaring dengan mata terpejam, tetapi mulutnya terus berteriak. Ia bergegas membangunkan putrinya lalu memeluk gadis tersebut.
"Bangun, Nduk! Bangun!" ucapnya terdengar penuh kekhawatiran.
Bersambung ....
Thanks thor 🙏😘💗