Camelia dan Sbastian dipertemukan dalam situasi yang sangat tidak menyenangkan. Berawal dari niat baik Camelia yang ingin mengembalikan ponsel yang ia temukan di tepi jalan, tapi niat tersebut malah membuatnya harus menanggung banyak kesulitan.
Hingga akhirnya ia membuat sang pemilik ponsel, Sbastian putus dengan tunangannya dan dirinya harus menjadi tunangan sementara.
Siapa sangka benih-benih cinta akhirnya tumbuh di antara mereka. Perjalanan cinta mereka tidak mudah. Semua karena Isabel, mantan tunangan Sbastian. Ia melakukan segala cara untuk memisahkan Camelia dan Sbastian.
Apakah Isabel berhasil?
Apakah Sbastian akan berhenti memperjuangkan cintanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon V Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SBASTIAN KEMBALI
"Bebaaaas! Bagaimana dia bisa bebas? Aku bahkan gak pernah meminta dia untuk dibebaskan! Ini pasti kerjaan Om Bimo, iya 'kan?" teriak Isabel murka saat mengetahui Alvian telah bebas.
"Kok Kamu nyalahin saya, rencana kamu aja yang kurang matang makanya dia bisa bebas. Polisi gak punya cukup bukti untuk terus menahan dia, maka dari itu dia bebaskan," ucap Bimo.
"Tapi kan aku sudah minta Om untuk mengatur semuanya. Bagaimanapun caranya agar si perempuan murahan itu menderita. Kalau sahabatnya itu cuma sebentar ditahan ya gak ada pengaruh apa-apa dong ke dia."
Bimo menatap Isabel dengan tatapan tidak percaya.Bagaimana bisa Isabel bicara seperti itu.
"Hai, Isa, apa kamu bilang tadi? Gak ada pengaruhnya ke dia? Haloooo Isa, kamu baru saja membuat perempuan yang kamu sebut perempuan murahan itu kehilangan tempat tinggalnya. Pereman-pereman yang kamu kirim ke sana itu sudah mengaca-acak tempat tinggalnya, bahkan aku dengar salah satu dari mereka berbuat tidak senonoh kepada perempuan itu. Kamu masih bilang tidak ada pengaruhnya? Waah kamu memang gila! Seandainya ayahmu tahu semua perbuatanmu ini, pasti dia akan marah besar."
"Jangan sampai ayah..."
"Ayah mu akan tahu! Aku akan memberi tahukan semua kepada ayahmu kalau kamu bertindak lebih jauh, Isa!" ucapnya dengan marah lalu pergi meninggalkan Isabel.
"Dasar gak tau terima kasih, semua manusia rendahan wataknya sama. Sok semua," ucapnya dengan kesal.
***
Tok, tok, tok!
"Pak Bos, sudah pagi. Saatnya ke kantor pak." Arman mengetuk kamar Sbastian.
Sbastian membuka pintu kamarnya, saat berhadapan dengan Arman, lagi-lagi Ia melontarkan pertanyaan yang sama, seperti yang dilontarkannya sejak subuh tadi.
"Kamu yakin aku gak macam-macam sama perempuan itu? Atau jangan jangan dia yang macam-macam sama aku?"
"Enggak Pak, Bapak cuma ketiduran, udah itu aja."
"Tapi kenapa kamu gak bangunin aku dan kenapa dia ada di pelukanku waktu aku bangun?" Katanya terlihat bingung dan marah.
Sebenarnya Sbastian terkejut sekali saat mendapati dirinya tengah memeluk seorang gadis berpakaian mini di sebuah sofa, tempat semalam ia menghabiskan waktu dengan Arman dan kedua perempuan kenalan Arman.
Parahnya lagi pakaian wanita itu sedikit terbuka, ia tidak ingat apakah dirinya melakukan hal buruk dengan perempuan itu atau tidak.
"Sebenarnya saya ingin membangunkan Anda, tapi saya lihat Anda tidur pulas sekali dengan headseat menempel di telinga Anda. Saya pikir Anda mendengarkan saya bernyanyi, tapi ternyata--"
"Aah sudah, sudah, kenapa sejak tadi kamu hanya mempermasalahkan headseat itu, padahal ada masalah lain yang lebih genting. Lagi pula siapa yang tahan dengan nyanyianmu dan kedua temanmu itu. Jujur saja Arman, semalam suara kamu itu gak banget," ujar Sbastianlalu beranjak ke dapur untuk mengambil air putih.
"Armaaaan!!" teriaknya.
"Aarggh apalagi sekarang?" desis Arman sembari melangkah ke dapur. "Ya ada apa Pak?"
"Itu apa?" Ujar Sbastian menunjuk bungkus mie instan yang tergeletak di atas meja.
"Itu bungkus mie instan Pak," jawab Arman dengan polos.
"Mana mie nya? Kenapa cuma ada bungkusnya?"
"Mie nya sudah di dalam sini Pak." Arman kembali berkata polos sambil menunjuk perutnya.
"Arrrrgh Arman! Kenapa kamu sembarangan makan makanan aku, hah? Sekarang gimana ini, mienya sudah gak ada."
"Ya ampun Pak cuma mie doang, Pak bos mau saya beliin lagi?"
"Aaah gak usah, di kulkas banyak makanan, kenapa gak makan yang lain aja? Kenapa harus mie ini yang kamu makan," ujarnya kesal lalu mengambil bungkus mie yang tergeletak di atas meja dan memasukannya ke dalam saku kemejanya.
"Maafkan aku Amel, aku gak bisa menjagamu dengan baik," ucap Sbastian sambil mengelus saku kemejanya dan berlalu pergi meninggalkan Arman yang menatapnya dengan bingung.
"Astagaa, Pak bos mulai gila sepertinya. Bungkus mie instan aja diberi nama."
***
"Mel aku balik ya, jaga diri baik baik," ujar Ola sambil memeluk sahabatnya itu dengan erat.
"Iya hati-hati di jalan, ya, trims banget, La, udah dengan suka rela ikutan repot."
"Sama-sama, aku senang kok ikutan repot. 'Kan ada kesayangan," ujarnya sambil melirik ke arah Alvian yang masih sibuk membereskan barang-barang.
"Kamu memang calon ipar yang baik." Camelia menjawab sambil tersenyum memperhatikan arah tatapan Ola.
"Hehe, harus itu! Oh ya kapan kamu balik ke Balikpapan? Kalau kamu balik ke sana kamu gak usah sibuk cari kost, Mel, tinggal bareng aku aja."
"Heeem belum tau, La, di sini masih berantakan gini. Mungkin dua atau tiga hari lagi deh kayanya."
"Tapi kamu pasti balik 'kan, Mel?"
"Iya lah, gak mungkin enggak. Sayang dong kuliahku, lagi pula aku harus balik kerja lagi kan, masa izinku sudah habis," ucap Amel sambil tersenyum.
"Ooh iya, ya, kamu 'kan harus balik kerja. Atasanmu baik ya, kamu dikasih masa tenang, dikasih waktu buat libur cuma karena kamu salah mulu ngelayanin pelanggan."
Camelia tertawa. "Amel gitu loh."
"Ya udah aku balik dulu. Al, Aku balik ya." Ola berteriak ke arah Alvian.
Alvian tersenyum lalu menghampiri Ola dan Camelia.
"Udah mau balik?" tanyanya.
"Iya nih, kapan-kapan aku main ke sini lagi."
"Iya dong, harus itu," jawab Al singkat kemudian menjabat tangan Ola. "Trims ya udah ikutan repot."
"Huft, selalu deh cuma salaman doang," ujar Ola lesu." Al hanya menatap bingung kepada Ola. "Aku maunya tuh begini." Ola melanjutkan lalu memeluk Alvian. Al bingung tapi tidak menolak dan tidak juga menyambut pelukan tersebut.
"Ya sudah, bye." Ola kemudian melepaskan pelukannya lalu berbalik memasuki kendarann roda empatnya.
Camelia melambai hingga kendaraan itu tak lagi nampak olehnya.
"Hai, Alvian yang tampan, kamu beruntung," ujar Camelia
"Beruntung gimana?" tanyanya sambil kembali menghampiri pekerjaannya yang tadi ia tinggalkan.
"Ola!" ujar Camelia mengikuti Alvian dari belakang.
"Kenapa dengan Ola?" tanya Al tak acuh.
"Dia 'kan naksir kamu, Al. Waktu itu kan aku sudah bilang kalau Ola itu naksir kamu. Idih, gak peka banget deh kamu."
"Bukan gak peka, Mel, tapi kan waktu itu aku juga udah bilang kalau aku sudah naksir seseorang. Kamu yang gak peka!" Ujar Alvian.
"Siapa? Hayoo siapa coba? Kamu bahkan gak pernah cerita, ciri-cirinya gimana, namanya siapa, tinggal di mana, terus--"
"Dia anak yatim piatu juga, orangnya cantik banget, rambutnya panjang, selalu dapat beasiswa saat sekolah sampai kuliah karena dia pintar, dia juga kerja sebagai SPG di salah satu Mall besar di Balikpapan." Alvian menjelaskan sambil menatap lurus ke dalam mata Camelia.
"Oh, ya! Waah kayaknya dia cewek yang luar biasa, kapan-kapan kenalin dong ke aku, biar aku yang nilai, dia atau Ola yang lebih baik buat kamu." Katanya bersemangat.
"Kamu beneran minta dikenalin sama dia?" tanya Alvian dengan tatapan tak percaya.
"Iya, emang kenapa? Gak boleh?" tanya Camelia polos.
Alvian hanya menggeleng -gelengkan kepalanya. "Kamu benerhbener ya, Mel. Lola dan gak peka!" ujar Alvian lalu pergi meninggalkan Camelia dengan kesal.
"Hai, Al, mau kemana? Ini belum selesai."
"Mau mandi keramas, panas dekat kamu, Mel." Alvian balas berteriak tanpa menoleh ke arah Camelia. "Dasar jadi cewek kok gak peka banget. Dia bodoh atau polos sih?" gumam Al kesal.
***
Tidak terasa sudah tiga hari berlalu, semenjak kepindahan Camelia dari Balikpapan ke Samarinda. Seharusnya hari ini Camelia kembali ke Balikpapan, tapi keberangkatannya di tunda karena Bu Lastri sedang sakit.
Sedangkan Sbastian, setelah satu minggu berada di kota Tepian tersebut akhirnya pekerjaannya selesai dan akan kembali ke Balikpapan sore ini. Ia sangat antusias karena akhirnya ia akan bertemu dengan Camelianya.
Pria itu bahkan sudah merencanakan akan langsung menuju kediaman Camelia begitu tiba di sana. Maka tidak heran siang ini ia sibuk memerintahkan Arman untuk mencarikannya pakaian santai yang paling trend saat ini. Maklum saja, ia selalu mengenakan kemeja dan Jas, sehingga tidak terlalu paham mengenai fashion pria yang sedang trend saat ini.
Itulah sebabnya ia meminta bantuan pada Arman. Asistennya itu sangat paham tentang fashion terkini, mulai dari pakaian hingga sepatu.
"Hem yang cool, kalau bisa warnanya cerah seperti cream atau putih, dan yang paling kek, kek, aaah kek apa sih namanya?"
"Kekinian, Pak, kekinian!" ujar Arman menyelesaikan kalimat bos muda tersebut.
"Naaah itu dia, Kekinian!" ujarnya bersemangat.
"Kenapa Bapak gak sekalian ikut aja, biar bisa pilih sendiri."
"Gak, Ar, aku capek banget, aku harus tidur siang dulu, biar fresh nanti saat tiba di sana."
"Oooh, ya, ya, saya paham, Pak. Supaya terlihat fresh kan saat ketemu istri bapak, apa mau sekalian saya beliin jamu juga, Pak?
"Jamu?" tanya Sbastian bingung.
"Iya jamu, Pak, biar kuat lemburnya. Hahaha."
"Aaah kamu ini, gak usah kasih saran yang macam-macam, ya. Sudah sana pergi," omel sbastian sambil memelototi asistennya tersebut.
Setelah kepergian Arman, ia mulai membayangkan hal yang tidak-tidak tentang Camelia. Senyum tersungging dari bibirnya. "Yaaa nanti saat sudah menikah dengan Amel, sepertinya aku butuh jamu untuk lembur! Aaah apa yang kupikirkan, gara-gara Arman sialan itu, pikiranku jadi kotor."
Setelah kurang lebih satu jam perjalanan dari kota Samarinda akhirnya Sbastian tiba di Balikpapan. Ia menurunkan Arman di kediamannya kemudian melanjutkan perjalanan seorang diri menuju kediaman Camelia.
Saat sedang dalam perjalanan tidak lupa ia mampir di sebuah toko cendera mata, ia membelikan sebuah boneka beruang kecil untuk Camelia.
Camelia pasti suka boneka itu. Semalaman Ia menonton youtube di ponselnya hingga mengantuk, berusaha mencari tau bagaimana cara memikat hati wanita, ada bermacam macam pilihan. Mulai dari memberikan hadiah dari yang paling murah hingga yang paling mahal.
Sbastian memilih hadiah yang paling sederhana, karena Camelia adalah sosok yang sangat sederhana di matanya.
Boneka itu memiliki kantung pada bagian depannya, maka ia berinisiatif menuliskan sesuatu untuk Camelia yang kemudian diletakannya ke dalam kantung itu.
"Siapa sangka ternyata aku ini romantis juga," ujarnya penuh percaya diri.
Saat tiba di panti, Sbastian menatap bingung pada bangunan yang ada di depannya. Bangunan itu terlihat kosong, pagarnya tertutup dan kursi anak-anak yang biasanya berjejer rapi di halaman depan tidak nampak satu pun.
Ia bergegas turun dari kendaraannya dengan membawa serta boneka yang akan ia berikan kepada Camelia.
Ternyata pagar itu tidak terkunci, Maka ia masuk ke dalam, dan langsung menuju teras bangunan itu. Sbastian mengetuk beberapa kali, tapi tidak ada tanda l-tanda bahwa ada orang di dalamnya.
"Mereka kemana?" tanyanya pada diri sendiri.
Ia kemudian ke halaman belakang, di mana dulu ia pernah bersantai di sana bersama anak-anak panti dan juga Bu Lastri.
Sama halnya dengan halaman depan, halaman belakang pun terlihat kosong. Ayunan dan segala permainan milik anak anak tidak nampak satu pun.
"Aaaah sial, kemana mereka!"
Sbastian lalu mengeluarkan ponsel dari saku celana jeansnya untuk meghubungi Arman.
"Ya Arman, ada tugas untukmu. Cari tahu secepatnya kemana perginya semua penghuni panti Asuhan 'Kasih Bunda'. Aku tidak mau tahu bagaimana pun juga, sebelum malam ini kamu harus sudah mendapat informasi tentang mereka semua." Ia lalu memutuskan panggilannya dan berjalan dengan lesu. Gagal sudah rencananya untuk bertemu dengan Camelia.
Bagaimana bisa dalam waktu satu minggu ia kehilangan Camelianya.
"Ini tidak boleh terjadi, aku pasti akan menemukanmu bagaimanpun caranya."
Saat sedang berjalan kakinya tersandung tempat sampah yang tidak dilihatnya sebelumnya. Dan dari dalam tempat sampah itu terlihat sebuah buku yang tidak asing baginya.
Dia menunduk dan mengambil buku itu, benar dugaannya ternyata buku itu adalah buku yang ia berikan kepada Camelia saat mereka di dalam pesawat.
Sbastian membuka buku itu, foto-foto mereka pun masih terdapat di dalam buku itu.
Ia tersenyum sinis, "Aku pikir aku kehilanganmu, tapi ternyata tidak. Kamu bahkan membuang ini, Amel," ujarnya lirih.
Sbastian kembali mengeluarkan ponselnya. "Halo Arman, batalkan misimu. Perintahku tadi anggap saja tidak pernah ada."
Ia lalu berjalan menuju kendaraannya dan berkendara dengan sangat cepat. Pikirannya kacau, hatinya sakit. Bagaimana bisa Camelia membuang barang pemberiannya. Begitu tidak berharga kah semua kenangan mereka.
"Ternyata cuma aku saja yang mencintainya."
Bersambung...
😊😊😊 selamat membaca..
JANGAN LUPA TINGGALKAN LIKE, KOMEN, & RATE YA..😊 BIAR MAKIN SEMANGAT AUTHOR UP NYA..
TERIMA KASIH...