NovelToon NovelToon
Menjadi Guru Sihir Putra Mahkota Kerajaan Sihir

Menjadi Guru Sihir Putra Mahkota Kerajaan Sihir

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Romansa Fantasi / Fantasi Wanita
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Irara

Rhea Celeste hanyalah mahasiswi jurusan pendidikan biasa yang malas, sampai sebuah panci listrik meledak dan merenggut nyawanya.

Saat membuka mata, ia terbangun di dunia fantasi sebagai Rhea Celeste lain.

Dia adalah seorang archmage berbakat dan guru sihir putra mahkota Kerajaan Sihir. Tanpa ingatan pemilik tubuh asli, Rhea harus berpura-pura kehilangan ingatan dan mencoba melanjutkan kariernya sebagai guru putra mahkota dengan baik untuk hidup damai.

Namun, kehidupan damainya hanyalah angan-angan setelah mengetahui identitas tersembunyi pemilik tubuh aslinya yang lain.

“Rhea-ku, sayang... Kenapa kau melupakanku? Kekasihmu?”

Seorang pria tampan dari kekaisaran suci mengaku sebagai kekasihnya dan menangis.

Sedangkan di sisi lain, muridnya yang keras kepala, merengek, mengajaknya tinggal.

“Guru! Ayo pulang! Buatkan aku kue ulang tahun!”

Lebih baik tidak ikut campur, atau kedua kekaisaran akan musnah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Buku dari leluhur

Pertanyaan itu sangat tiba-tiba dan langsung menarik perhatian semua orang.

Chorna mengangkat kepala ke arahnya, telinganya bergerak-gerak. Sementara itu, Komandan Louise membuat dirinya berdiri lebih tegap, tampak seperti ksatria yang menunggu laporan penting dari atasan.

Azz menutup mulutnya sejenak. Ia tidak menjawab langsung ya atau tidak. Sebaliknya, ia berbalik bertanya,

“Guru, hidup di kekaisaran ini, adakah posisi yang dapat membuat diri kita tidak diremehkan, selalu didengar permintaannya, selain Kaisar Arcana?”

Suasana menjadi sunyi seketika.

Rhea meremas saputangan di tangannya, menghadapi tatapan muridnya yang tampak tenang.

Pertanyaan ini mengonfirmasi jawaban Azz dengan jelas, bahwa ia memang ingin menjadi Kaisar Arcana berikutnya.

Rhea tidak merespon, akhirnya hanya tersenyum tipis.

Tentu saja, dari awal sebelum bertanya, ia sudah menebak jawabannya.

“Berarti Yang Mulia berniat mengikuti tes pemilihan kandidat Kaisar Arcana awal tahun besok?” tanyanya.

Ia teringat peristiwa yang seharusnya menjadi misi yang harus dilakukan Rhea Celeste di Kekaisaran Arcana—

Mengacaukan acara pemilihan kandidat Kaisar Arcana.

Sekalipun tidak dijelaskan secara tersirat bagaimana ia mengacaukan acara itu, Rhea tiba-tiba memiliki ide jahat dipikirannya.

Bagaimana kalau menculik kandidat pemenangnya?

Rhea hampir tertawa dengan pemikirannya sendiri. Suasana di kekaisaran pasti langsung kacau balau.

Menculik pemenangnya berarti menculik kaisar masa depan, kan?

“Heh.."

Azz menatapnya aneh. “Meskipun tidak memiliki keinginan,” jawab Azz sambil melihat gurunya yang tertawa dengan heran.

“Setiap kerajaan wajib mengirim satu ahli warisnya untuk berpartisipasi,” tambahnya.

“Berarti hampir semua kandidat adalah pewaris takhta di setiap kerajaan?”

Azz mengangguk mengiyakan.

Komandan Louise yang sedari tadi diam mematung ikut bergabung.

“Yang Mulia, saya dengar Anda merupakan kandidat yang paling muda, kan? Kebanyakan kandidat lain sudah berusia tujuh belas tahun lebih. Ini agak tidak adil.”

Mendengar itu, Rhea juga menjadi khawatir. Namun, melihat Azz tetap tidak terpengaruh dan hanya mengangkat bahu, ia menelan kembali kata-kata penghiburan di pikirannya.

“Usia tidak memberi banyak pengaruh. Tes ini murni menguji bakat dan peluang,” kata Azz santai.

“Ini hanya permainan anak-anak,” tambahnya, tampak sombong seolah kemenangan sudah pasti menjadi miliknya.

“Arogan sekali...” Ekspresi Komandan Louise berkerut karena jijik.

Azz meliriknya sinis sebelum kembali menghadap depan, menatap mata Rhea.

“Aku butuh bantuanmu untuk menang, Guru...”

Tanpa putra mahkota mengatakannya, Rhea mengerti. Ia melirik lingkaran di jantung muridnya dan berkata,

“Lingkaranmu masih belum bertambah karena metode mage dan ksatriamu.”

“Ya, sudah dua tahun dan masih stagnan pada awal lingkaran ketiga,” Azz mengakui masalahnya sendiri dengan tenang.

“Aku tahu cara meningkatkannya lebih cepat, tetapi ini butuh bantuanmu, Guru.”

Azz juga melihat ke arah Chorna, yang memberi isyarat bahwa ia juga membutuhkannya.

Sebelumnya Chorna telah memberitahunya, dan Rhea penasaran cara macam apa yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kekuatan itu.

“Bagaimana caranya?” Rhea menatapnya dengan semangat.

Azz tiba-tiba berdiri dari tempatnya duduk dan berkata,

“Kita pindah ke tempat lain. Aku tidak ingin ada orang lain menguping pembicaraan.”

Orang lain yang dimaksud tentu saja Komandan Louise, yang saat ini melotot dengan rasa ingin tahu.

“Yang Mulia! Kenapa saya ditinggal lagi!”

Rhea memandangnya dengan kasihan, tetapi tetap tidak berhenti berjalan mengikuti putra mahkota ke tempat lain.

Perpustakaan bawah tanah.

Rhea berjalan mengikuti di belakang, sementara putra mahkota melangkah di depannya. Ia sesekali melirik ke sekeliling.

Ini adalah perpustakaan di istana utama. Putra mahkota mengatakan bahwa sejak setiap istana memiliki perpustakaannya sendiri, tempat ini sudah tidak digunakan lagi. Karena itu, ia sering memanfaatkannya untuk bersembunyi dan melakukan sesuatu secara rahasia.

Perpustakaan bawah tanah ini jauh lebih luas dari yang ia bayangkan. Rak-rak buku menjulang tinggi hingga hampir menyentuh langit-langit batu, berjajar di sepanjang jalan yang ia lewati, menciptakan lorong-lorong sempit dengan celah yang hanya cukup dilewati dua orang.

Rhea sempat melihat meja penjaga perpustakaan yang kosong, dipenuhi debu di sana-sini. Hal itu menjelaskan bahwa tempat ini sudah sangat lama tidak dirawat maupun digunakan.

Ia terbatuk-batuk karena menghirup udara berdebu, sementara muridnya terus berjalan menuju lorong sempit di antara rak buku.

Sambil menutup mulutnya, Rhea bertanya,

“Yang Mulia, sebenarnya ini tempat persembunyian seperti apa?”

Kini jalan yang mereka lalui semakin sempit. Saking sempitnya, ia harus memiringkan tubuh agar bisa lewat dengan lancar.

“Sebentar,” bisik Azz, tangannya meraih lengan Rhea dan menuntunnya. “Hampir sampai.”

Tidak ada yang bisa ia lakukan selain menurut. Setelah beberapa kali tersangkut di tengah jalan dan harus ditarik paksa oleh Azz, Rhea akhirnya merasakan ruang yang lebih luas setelah beberapa saat.

“Hah… sumpah,” gerutunya. “Saat keluar nanti, aku tidak mau lewat jalan itu lagi.”

Ia melihat dirinya sendiri dan mendapati beberapa bagian gaunnya robek karena tersangkut. Ia berjongkok, memperbaikinya sambil mengatur napas.

Di belakangnya, Chorna datang dengan santai. Ekornya bergoyang-goyang riang, sementara mulutnya terus berseru, “Wah, wah…!”

Melihatnya begitu santai tanpa merasakan penderitaan yang sama, Rhea tiba-tiba berpikir untuk mengubah dirinya menjadi kucing saat keluar dari tempat ini nanti.

Bruk!

Lamunannya terhenti ketika Azz tiba-tiba datang membawa setumpuk buku dari suatu tempat.

“Buku apa itu?” Rhea menarik ujung gaunnya, menghindari debu yang berjatuhan.

“Untuk Guru dan Chorna baca, agar bisa membantuku.”

Azz menepuk tangannya yang berdebu, lalu melirik ke sekeliling. Seolah teringat sesuatu, ia berjalan ke arah kanan dan meraba dinding.

Terdengar suara klik pelan.

Dalam sekejap, cahaya menyala dari setiap sudut.

Tempat itu langsung terang, perlahan mengungkapkan isi ruangan rahasia tersebut.

Rhea menyipit ketika cahaya tiba-tiba menyerbu matanya. Ia mengangkat tangan untuk menghalangi silau. Saat penglihatannya kembali jelas, ia langsung berseru,

“Yang benar saja, Yang Mulia?”

Keheranan Rhea bukan karena melihat sesuatu yang menakjubkan atau penuh sihir.

Justru sebaliknya. Dia melihat sesuatu yang lebih tak terduga.

Rona merah samar muncul di pipi Azz.

“Ini sebenarnya tempat persembunyianku waktu kecil...” Ia tampak sedikit canggung.

Dia mungkin juga lupa kalau dirinya sekarang masih anak kecil. Waktu kecil mana yang ia maksud?

Di hadapannya bukan ruang rahasia berbahaya atau penuh sihir terlarang yang diwarisi oleh leluhur, melainkan sesuatu yang lain.

Rhea berusaha menahan tawanya.

Dia melihat sebuah “laboratorium penggila bunga”.

Atau lebih tepatnya, pabrik parfum rumahan?

Putra mahkota Azz memang dikenal memiliki kegemaran berlebihan terhadap bunga-bunga langka. Kecintaannya itu bahkan sudah dikenal luas oleh rakyatnya. Dari kebun hingga rumah kaca miliknya yang selalu terawat dan dipenuhi berbagai varietas unik, sudah cukup membuktikan bahwa ia benar-benar seorang maniak bunga.

Di rak besar di sudut ruangan, Rhea menemukan deretan botol parfum yang tersusun rapi. Masing-masing memiliki label berbeda, dengan nama dan aroma yang tampaknya unik di setiap barisnya.

Beberapa aromanya bahkan terasa familiar.

Salah satunya begitu mirip dengan parfum favoritnya saat masih di Bumi, membuatnya terdiam sejenak dalam nostalgia.

Azz berdiri di sampingnya, lalu berkata dengan nada enggan,

“Kalau Guru suka… Guru boleh ambil satu.”

Nada itu terdengar seperti seseorang yang dipaksa berbagi harta paling berharganya.

Rhea meliriknya sekilas, lalu melihat putra mahkota mulai membersihkan bunga-bunga kering yang berserakan di lantai menggunakan sihir angin.

Bunga-bunga itu ternyata jauh lebih banyak dari yang terlihat. Setelah dikumpulkan, mereka menumpuk tinggi di sudut ruangan. Seperti gunungan sampah berwarna-warni.

Setelah itu, Azz merapikan alat-alat penyulingan dan menyimpannya ke dalam lemari kayu.

Barulah ia menaruh buku-buku yang dibawanya di atas meja.

Rhea dan Chorna duduk di kursi yang tersedia di sisi kanan dan kiri. Begitu mereka duduk, Azz mendorong dua buku ke arah Rhea dan satu buku ke arah Chorna.

Jika ada yang bertanya apakah naga kecil itu bisa membaca, jawabannya tentu saja bisa.

Rhea menyadari bahwa salah satu buku yang diberikan Azz kepadanya memiliki judul yang sama dengan buku yang diberikan pada Chorna. Sedangkan yang satunya lagi berbeda.

Saat membaca judulnya, ia hampir saja melompat saking terkejutnya.

Buku itu berjudul: Pembentukan Inti Meridian dalam Seni Bela Diri Timur.

Otaknya langsung berputar liar, memikirkan berbagai kemungkinan.

Mengapa ada teknik bela diri timur di dunia sihir yang jelas-jelas berlatar belakang barat?

Saat Rhea masih sibuk mencerna pertanyaan di kepalanya, putra mahkota mulai berbicara.

“Guru pasti menyadari mengapa aku sulit meningkatkan lingkaran sihirku,” ujar Azz dengan nada ringan.

“Sebenarnya, saat mencoba jalur ksatria sebagai seorang mage, aku sudah tahu bahwa hal ini akan memengaruhi peningkatan lingkaran sihirku.”

Jari Azz menunjuk ke buku di tangan Rhea dan Chorna.

“Leluhurku adalah seorang pedagang yang gemar berlayar mengarungi samudra. Buku ini ia bawa dari sebuah benua di sisi timur yang sangat jauh dari sini.”

Ia berhenti sejenak. dan berkata dengan meyakinkan. “Setelah kuteliti, metode dalam buku ini sangat cocok dengan kondisi yang kuinginkan.”

Azz menatap Rhea, seolah menunggu reaksinya.

Namun Rhea masih terpaku pada kata “timur” dan “bela diri”. Ia hanya bisa mengangguk pelan.

“Tapi untuk menggunakan metode ini, aku membutuhkan bantuan Guru dan Chorna sekaligus. Jika salah satunya tidak ada, ini tidak akan berhasil.”

Makna di balik perkataan itu jelas—yang ia butuhkan sebenarnya adalah seorang archmage dan seekor naga ruang-waktu.

Dan kebetulan yang sebenarnya bukan kebetulan, keduanya ada di hadapannya.

“Biar aku baca dulu buku ini,” kata Rhea. “Aku perlu memahaminya.”

Ia menarik napas panjang, lalu membuka buku itu dengan serius. Sementara itu, Chorna sudah membacanya sejak awal, matanya berbinar penuh semangat karena dipercaya.

Tidak butuh waktu dua puluh menit untuk menyelesaikannya. Karena sebagian besar isi buku berupa gambar, hanya sedikit penjelasan tulisan.

Saat menutup buku, Rhea bisa merasakan tatapan dari dua arah.

“Kurasa aku mengerti mengapa metode ini sangat cocok,” katanya pelan.

Azz mengangguk, seolah sudah menduga.

Di sampingnya, Chorna mengibaskan ekornya dengan gelisah. “Tapi Chorna tidak mengerti apa pun! Apa yang butuh bantuan Chorna?!”

Rhea tersenyum, lalu mengelus kepala Chorna yang mulai merajuk.

“Begini, Chorna tidak perlu memikirkannya sekarang. Nanti, kalau kita butuh bantuan sihir Chorna, Kakak Peri dan Azz akan memberi tahu, ya. Mengerti?”

“Oke!” seru Chorna dengan semangat.

Setelah menenangkan Chorna, Rhea kembali menatap Azz.

“Metode ini membutuhkan waktu yang cukup lama dan konsisten, kan?”

Maksudnya adalah, apakah metode ini cukup untuk membuat Azz menang dalam pemilihan Kaisar Arcana yang akan berlangsung lima bulan lagi?

“Meskipun belum selesai sepenuhnya, itu sudah lebih dari cukup untuk memenangkan posisi Kaisar Arcana,” jawab Azz tenang.

Ia sudah memperhitungkan semuanya. Namun Rhea tentu tidak mengetahui itu.

“Yang Mulia… Anda yakin?” Rhea mengerutkan kening. “Bagaimana kalau gagal?”

Ia khawatir, jika muridnya gagal, sebagai gurunya rasa bersalah itu pasti akan menghantamnya tanpa ampun.

Ini bukan sekadar pilihan biasa. Ini menyangkut hidup dan mati.

Seorang regresor yang gagal melangkah sesuai jalannya… berarti gagal dalam hidupnya.

Namun Azz tampaknya tidak sepenuhnya memahami kekhawatiran gurunya.

Ia hanya menatap Rhea dan berkata sekali lagi dengan keyakinan yang tidak tergoyahkan, “Aku yakin, Guru.”

Suaranya tegas. “Yang terpenting, aku menjadi lebih kuat.”

1
Manisaja
Cerita lumayan lambat alurnya tapi bertahap satu persatu. Tokoh utamanya tipe tenang dan gak suka drama dan suka mengamati tiap tindakan tokoh lain dan kebanyakan yang mendorong alur cerita itu malah miridnya si putra mahkota, dan jadi kayak diseret ngikut nyelesain konflik bareng. Tapi suka interaksi karakternya.
Manisaja
Jujur ra sama muridmu asli perhatiannya sampe segitunya g twlalu kelewatan?
Lily air: ini aku cuma nabur benih-benih kasih sayang, kalau gak gitu nanti susah dijadiin cerita romance, kelewatan gimana?
total 1 replies
Manisaja
Nanti kiranya buat adegan dewasa gak kau ra @Lily air ? Seharusnya sudah pro tuh 🧐🤣
Lily air: ka? tolong aku di sini udah tobat ya...(⌒‿⌒) jangan mancing² perkara
total 1 replies
Manisaja
Sudah kuduga /Yawn/Akuh bilang tahan atu
Lily air: apa si kak gak ngerti, aku pusing ;)
total 1 replies
Andi Ilma Apriani
hadiiirrr thooorr
Manisaja
Aku tau dari kebiasaan mu buat sama baca cerita sukanya buat mc lemah gampang sakit atau pingsan padahal latarnya op, aku tahu tapi tolonglah dikendalikan ya ya? gak maksud ngajak berantem aku jangan maragh 🙏🙏 Jangan ngambeg awas
Lily air: ❤️┐(︶▽︶)┌❤️
total 1 replies
Manisaja
Lanjut!!!! Udah lumayan ngalir lancar gak kaku kayak pertams
Manisaja
Keliatan banget ini putra mahkota kalau gak regresi atau reikarnasi juga tingkahnya gak kayak bocah, bener gak dugaanku? 🧐
Lily air: kamu maunya gitu? oke kutulis gitu (¬‿¬ )
total 1 replies
Manisaja
Ulah gurumu itu Yang mulia sihirnya gak bener ngerusak kaca
Manisaja
Bisa sok keren juga dia 🤣
Manisaja
Gilakk pantesan cowo pada takutt tapi pelayan cewe gak diapa apain ya sama dia
Manisaja
Tak kusangka sangka ternyata kejadiaannya kayak ginj
Manisaja
Mi apa to?
Manisaja
Lah iya siapa yang nyangka kalau ngancemnya pake candaan ggak masuk akal?
Manisaja
Sebenarnya gak lucu tapi apa hah? Makan daging bisa nguras energi sihir?? aku baru tahu di sini
Manisaja
Lo Kok di skip gimana ceritanya? Cerita yang diceritain John mana?!!
Manisaja
Lah elah dipotong gini gak jelas iih
Manisaja
Apaan tuh 🧐🧐
Manisaja
Cowo imut
Manisaja
Putra mahkota siapa namanya? Belum disebuttin
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!