NovelToon NovelToon
Orang Ketiga

Orang Ketiga

Status: tamat
Genre:Romantis / Contest / Tamat
Popularitas:1.4M
Nilai: 4.9
Nama Author: PaRaS_Sllh

.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PaRaS_Sllh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Extra Part 4~

Keesokan harinya, pada saat Candra dan Desi selesai meeting mereka makan siang bersama di tempat yang sama. Selesai makan, Candra pun membuka pembicaraan.

"Des, bisakah aku ikut ke rumahmu?" tanya Candra.

"untuk apa? Aku tinggal di rumah ayah dan ibu, aku tidak tinggal di rumahku sendiri." jawab Desi.

"aku ingiin minta maaf pada ayah dan ibu secara layak. Sekalipun kamu sudah memaafkanku, namun aku juga membutuhkan maaf dari ayah dan ibu. Meskipun nanti maafku tidak diterima, yang penting aku sudah meminta maaf. Aku gak bisa tenang, aku selalu dihantui rasa bersalah, Des. Aku sadar kalau aku tidak layak untuk dimaafkan mengingat begitu banyaknya keindahan yang telah ku lakukan."kata Candra dengan pasti namun terkesan sendu.

"Aku mohon, Des. Terlepas dari itu, aku ingin bertemu dengan Chris, sekali saja." Candra memohon keoada Desi. Desi terdiam mendengar perkataan Candra.

Lalu Desi berkata"Aku tidak pernah melarangmu untuk menemui Chris, seperti yang ku katakan padamu kemarin. Kamu berhak untuk menemuinya. Jadi, kalau kamu ingin ikut ke rumah, silahkan."

" Terimakasih, Des. "Candra mengucapkan terimakasih dengan wajah yang berbinar. Dan Desi yang mendengar itu hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.

...****************...

Saat itu di ruang tamu rumah orang tua Desi, Candra, Desi, dan kedua orang tua Desi sedang berbincang-bincang di sana. Kalau kalian bertanya Chris dimana? Chris saat ini sedang di kamar.

Di ryang tamu itu, suasananya terasa sangat mencekam, dingin, dan sunyi. Tidak ada satupun diantara mereka berempat yang membuka suara dan memulai percakapan.

"Ayah, Ibu, maksud kedatangan saya ke sini ialah ingin meminta maaf kepada Ayah dan Ibu. Saya ingin minta maaf untuk segala kesalahan yang telah saya perbuat selama ini kepada ayah, ibu dan Desi. Saya minta maaf karena saya membuat putri kalian menderita, karena saya kalian harus menanggung malu dari banyak orang. Karena saya juga Chris harus lahir tanpa seorang ayah, dia tidak bisa tumbuh dan menghabiskan waktunya seperti anak-anak yang lainnya yang memiliki orang tua lengkap. Saya tahu saya bersalah, saya melakukan dosa besar, dan saya sadar akan hal itu. Saya sadar kalau semua kesalahan yang telah saya perbuat kepada kalian kepada kalian dan putri kalian, tidak bisa dimaafkan. Saya tidak masalah jika kalian tidak memaafkan saya, mengingat betapa fatalnya kesalahan saya. Karena yang terpenting, sekarang saya bisa berbicara baik-baik dan meminta maaf secara langsung kepada kalian. Maafkan saya, karena saya persahabatan Ayah dan Ibu dengan orang tua saya hancur. Saya tahu ini terlambat. Maafkan saya Ayah, Ibu."Candra memulai pembicaraa. Dia mengatakan maksud kedatangannya. Dia mengatakannya dengan raut wajah penuh penyesalan.

" kamu itu terlalu pengecut sebagai seorang pria.",Ayah sengaja menjeda perkataannya. Itu sudah membuat Candra menundukkan kepalanya dan dia sadar bahwa dia memang seoarng pengecut.

"Walaupun begitu, kamu tetap datang kesini dan meminta maaf. Saya dan istri saya sudah memaafkan kamu, karena kami sadar kalau kami juga salah disini. Kami terlalu memikirkan hubungan persahabatan kami,sampai-sampai kami tdaka mengerti bagaimana perasaan perasaan kalian. Jujur, sepsrti laki-laki pada umunya, saat ini saya ingin memukuli kamu. Tapi, saya langsung sadar, jika saya memukul kamu, apakah itu akan mengubah keadaan? Sia-sia saya memukul kamu karena keadaan tidak akan berubah. Apakah putri saya bisa menjadi seorang gadis lagi dan tidak memiliki anak? Apakah kebahagiaan putri saya yang telah direnggut akan kembali lagi? Tentu itu tidak akan terjadi. Jika putri saya bisa mengikhlaskan semuanya, kenaoa saya dan istri saya tidak bisa? Maka dari itu kami belajar untuk mengikhlaskan segala yang terjadi, dan membuat masa lalu menjadi pelajaramn buat kami. Kami berusaha untuk berdamai dengan masa lalu. Berdamai dengan masa lalu bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan, tapi dengan kita mau berusaha melakukan itu, maka kita akan bisa menjalani hari-hari kedepannya dengan tenang tanpa harus dihantui oleh perasaan atau apapun yang mengganjal di dalam hati. "lanjut Ayah dengan tersenyum ramah dan bersahabat.

Sewaktu Candra datang ke rumah ini, ia pikir bahwa ia akan disambut dengan amarah atau pukukandrai mantan mertuanya itu. Namun, semua yang dipikirkannya itu tidak benar. Dia bersyukur ternyata dia dimaafkan dan sedikit diberikan wejangan oleh matan ayah mertuanya itu meski tidak secara langusng, taoi perkataannya itu tersirat akan sebuah nasihat. Perkataan ayah tadi menbuat dia merasa terharu dan senang.

"Dan maslaah persahabatn kami dengan orang tua kamu, semuanya sudah kembali normal. Kami sudah berbaikan satu bulan yang lalu. Merrka datang ke rumah ini, dan saat itulah hubungan kami menjadi baik lagi." jelas Bu Maria sambil tersenyum. Candra pun membalas senyuman itu dengan sangat bahagia.

'syukurlah, persahabatan mereka kembali terjalin dengan baik seperti sediakala.'batin Candra.

Lama mereka berbincang-binacang di ruang tamu. Kedua orang tua Desi berbicara tentang persahabatan merrka yang sudah terjalin saat mereka memasuki SMA. Dan sesekali Candra dan Desi tertawa mendengar tingkah konyol orang tua mereka. Lalu, Candra meminta izin untuk berbicara empat mata dengan Desi. Dan orang tua Desi mengizinkannya.

...-------------------------------------------------------------...

Disinilah mereka berdua sekarang, mereka berdua sedang duduk ditaman belakang rumah Desi.

"Terimakasih karena sudah memaafkanku. Terimakasih telah melahirkan dan merawat Chris, terimakasih banyak, Des." Candra mengucapkannya dengan tulus.

"Tuhan saja bisa mengampuni umatnya yang sudah dilumpuri dosa, lalu kenapa aku tak bisa? Disini aku juga salah, kita berdua sama-sama bersalah dan lebih mementingkan ego kita sendiri."balas Desi

" Memang kapan kamu egois? Bahkan kamu selalu mengorbankan kebahagiaan kamu demi orang-orang yang kamu sayangi."jawab Candra setenang mungkin meski dalam hatinya bergemuruh ingin marah atas pernyataan Desi. Dia tidak terima pernyataan Desi itu.

" Aku pergi dan berpisah dari kamu disaat aku sedang mengandung Chris. Aku merasa sangat bodoh setelah aku menyadari dan merenungkan semuanya. Seharusnya, aku pergi dari hidup kamu sebelum aku mengandung, sehingga Chris tidak perlu meresakan apa yang sekarang dia rasakan, Dan keadaannya tidak akan seperti ini. Bukan berarti aku menyesal mengandungnya. Tidak, aku sama sekali tidak pernah menyesal mengandung dan melahirkannya. Tapi aku sadar, tidak ada gunanya menyesali yang sudah terjadi. Mulai saat itu aku mulai mengikhlaskan semuanya dan memutuskan untuk berdamai dengan masa laluku. "jawab Desi. Candra menganggukkan kepalanya pertanda ia mengerti.

" Aku akan bertanggung jawab untuk semua kesalahanku, meski aku gak tahu bagaimana caranya. Tapi, apapun itu caranya aku akan melakukannnya."ucap Candra dengan sungguh-sungguh.

" Kamu bisa mempertanggung jawabkannya. Tapi aku gak tahu kamu akan menerimanya atau tidak."jelas Desi.

" Bagaimana?"tanya Candra bingung

" Kita bisa menjadi partner dalam mengurus Chris. Walau kita orang tua Chris, tapi kita sudah berpisah sekarang. Kita bisa menjadi teman bahkan sahabat bila perlu.,tapi itu akan terjadi jika kamu mau menjadi ayah yang baik untuknya. Kamu adalah ayah kandungnya, sekalipun nantinya aku akan menikah lagi, tapi pada kenyataannya dia akan tetap menjadi keturunan keluarga Wijaya. Karena itu sebabnya aku memberikan kamu kesempatan untuk menebus kesalahan kamu dan bertanggung jawab atasnya."jawab Desi dengan serius.

" Aku akan melakukannya. Ini adalah kesempatan emas bagiku karena aku bisa merawatnya. Terimakasih. Terimakasih banyak Des"kata Candra dengan wajah berseri-seri penuh bahagia.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

2 bulan kemudian...........................

Sejak saat itu, hubungan Candra dan Desi semakin dekat. Bukan hanya mereka, tapi hubungan orang tua mereka juga sudah kembali normal, tak jarang para orang tua itu seringkali bepergian ntah itu keluat kota atau ke desa dan setelah bebrapa hari baru pulang.

Seperti saat ini orang tua mereka sedang berlibur, dan sekarang arang Candra, Desi, dan Chris sedang bermain di ruang tengah rumah orang tua Desi. Mereka bertiga jika dilihat seperti keluarga bahagia. Apalagi saat ini mereka sedang tertawa lepas sambil bermain diatas karpet bulu.

"udahan dulu ya bunda mainnya. Can, jagain Chris ya, aku mau masak dulu." kata Desi pada Candra.

"Aku bantu kamu masak ya."pinta Candra pada Desi sambil menggendong Chris berjalan ke arah Desi.

" kalau kamu bantuin aku masak, terus siapa yang jaga Chris?Dia itu anaknya lasak banget kalau gak ada yang jagain."oceh Desi.

" Udah deh, kamu nggak usah ngomel, aku bisa kok sambil menjaga Chris sambil bantu kamu."Candra mengatakan itu kemudian merangkul bahu Desi sambil tersenyum.

" Dih, sok jadi hot daddy kamu, Can."ejek Desi pada Candra, dan yang diejek hanya terkekeh kecil.

" Atau aku aja yang masak dan kamu yang jagain Chris."usul Candra kemudian memberikan Chris ke gendongan Desi dan langsung menerima dan menggendong Chris.

" Memang kamu bisa masak? Gak yakin aku. Ntar yang ada aku jadi cuci perut karena masakan kamu."remeh Desi. Mendengar itu Candra merasa benar-benar gemas akan Desi. Andai Desi istrinya sudah dipastikan dia akan sangat bahagia dan senang melihat dan mendengar Desi yang mengomel karena wajahnya tampak menggemaskan. Sayangnya dia hanya bisa berandai-andai.

" Kamu gak percaya? "tanya Candra yang sudah memeluk pinggang Desi dari belakang dan menempelkan dagunya dipundak Desi. Dan Desi hanya menggelengkan kepalanya sambil memejamkan matanya, dia merasa geli dan sedikit risih, namun dia merasakan rasa hangat yang belum pernah dirasakannya. Dia hanya terdiam kaku, tidak menolak ataupun menerima karena jujur saja jantungnya rasanya ingin keluar dari dadanya.

"Aku gak akan membuat kamu sakit, Desi sayang. Percayalah."kata Candra sambil menatap Desi dengan tatapan yang tak dapat Desi artikan dan tak lupa disertai senyumnya.

"Terserah kamu, yang penting kamu jagain Chris. Aku mau masak, terserah kamu mau ikut masak atau hanya bantu aja yang penting Chris bisa aman."kata Desi sambil melepaskan rengkuhan tangan Candra dari pinggangnya, kemudian langsung berlari menuju dapur. Di sana Desi berusaha mengontrol detak jantungnya dan mengatur deru nafasnya yang terasa memburu.

Setelah merasa agak tenang, dia langsung berkutat dan berperang dengan alat-alat memasak juga bahan-bahan yang ada di situ.

**********

Candra hanya tersenyum melihat tingkah Desi tapi dia juga merasa tidak enak pada Desi karena telah memeluknya. Namun, yang terjadi tadi murni karena refleks buan karena atas kehendak dirinya sendiri.

"kamu sungguh menggemaskan, Desi. Aku ingin waktu berhenti untuk saat ini, aku masih ingin merasakan suasana seperti ini dimana kita bertiga berkumpul. Aku mencintaimu dan anak kita." gumam Candra dengan lirih dan penuh makna.

Namun Candra segera tersadar dengan pikirannya mendengar suara teriakan Desi dari dapur, dia langsung melangkahkan kakinya dengan cepat tak lupa dengan Chris berada di dalam gendongannya.

Setelah didapur Chris langsung diletakkannya diatas kursi dekat Desi dan Candra berdiri. Saking khawatirnya, dia langsung mengambil jari Desi yang terkena potong pisau, lalu menghisap darahnya kemudian membuangnya. Setelah itu dia mengambil plester dari kotak P3K yang ada diatas kulkas kemudian memasangkannya.

"Terimakasih"ucap Desi dengan sedikit canggung dan Candra menjawab dengan anggukan kepala dan tersenyum canggung.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Selang 1 jam

Kini mereka bertiga tengah makan siang bersama dan sesekali bersenda gurau. Suasananya sudah mencair dan tidak secanggung tadi.

Selesai makan, Desi membereskan meja makan dan membawanya ke wastafel. Tapi saat Desi hendak mencuci piring, tiba-tiba ada tangan yang menghentikan kegiatannya, siapa lagi kalau bukan Candra. Sedangkan Chris duduk anteng di kursi meja makan dengan mainannya.

"Kenapa?"tanya Desi mengernyit bingung

"Aku aja, tangan kamu masih sakit."kata Candra

"Lebay kamu mah. Orang ini cuma luka kecil doang, paling perih dikit."jawab Desi dengan gelengan di kepalanya.

"Aku khawatir. Aku aja yang membersihkan piringnya, kamu duduk aja."balas Candra dengan raut wajah yang memang terlihat khawatir, yang mana malah membuat Desi terkekeh tidak percaya melihat itu.

"Kamu gila ya? Ini luka kecil bukan luka yang serius. Sekarang kamu pilih, biarkan aku membersihkan ini atau kamu pergi dari rumah ini dan jangan pernah muncul lagi dihadapan kami. "Desi mengatakannya dengan ketus dan raut wajah yang sudah kesal setengah mati.

"Oke, oke, aku gak akan larang kamu lagi. Tapi jangan usir aku sampai segitunya ya, aku-"ucapan Candra langsung berhenti kala mendapatkan tatapan tajam dari Desi yang seperti akan menelannya hidup-hidup.

"Jaga Chris."titah Desi tak terbantah dan langsung diiyakan oleh Candra karena takut dengan Desi.

Beberapa menit kemudian, dia sudah selesai mencuci piring dan merapihkan dapur. Kini mereka tengah bersantai di ruang tengah sambil menonton film Upin&Ipin di tv. Dengan Chris di pangkuan Candra dan Desi disamping Candra.

"Ayaaaahhhh.... huwaaaaaa... hiks. hiks "tangis Chris membuat Candra kaget "astaga". Sementara Desi hanya tersenyum simpul dengan tenang, karena dia sudah tahu mengapa Chris seperti itu.

"Des, dia kenapa sih, perasaan dari tadi dia ketawa aja kerjaannya. Lah ini kok tiba-tiba nangis ya?"tanya Candra merasa bingung.

Dasar ayah tidak peka kau Candra

"Dia mau tidur itu. Kamu tidurkanlah dia, tidak susah untuk menidurkannya. Kamu tinggal tepuk-tepuk aja punggungnya tapi dengan lembut. "jawab Desi dan Candra menganggukan kepalanya, kamudian mempraktekkannya. Benar saja, tak lama kemudian Chris langsung tertidur. Candra mencium kening Chris dengan penuh kasih sayang.

"Des, kamu tahu tidak? Aku ingin melamar seseorang tapi aku tidak tahu apakah orang yang akan ku lamar itu akan menerimaku atau tidak. Dia itu merupakan seorang wanita yang kuat, dia wanita yang tegar meski dia sudah berkali-kali disakiti, namun dia tetap bertahan hanya demi orang-orang yang disayanginya. Hingga suatu hari dia memilih pergi dari orang yang telah menyakitinya. "curhat Candra sambil menatap dalam mata Desi, menatapnya dengan tatapan yang susah diartikan.

"Siapa?"tanya Desi dengan gugup. Ditatap seperti itu oleh Candra membuat dia merasa gugup. Lagi, ada sesuatu yang merasa tidak rela mendengar perkataan Candra, tapi, entah apa itu dia juga tidak tahu.

"Kamu"jawab Candra dengan tegas meski setelahnya dia menghela nafas. Mendengar itu Desi kaget sehingga membuat Desi membolakan matanya. Seolah tak percaya dengan apa yang didengarnya.

"Aku?"tunjuknya pada dirinya sendiri

"Iya, kamu. Orang yang aku ceritakan tadi itu adalah kamu. Aku sengaja tidak menyebutkan nama wanita itu tadi, karena aku hanya membuat perumpamaan dirimu. Aku ingin kamu tahu kalau aku sangat mencintaimu. Kapan aku mulai mencintaimu, aku pun tidak tahu. Tapi yang pasti, aku benar-benar merasakan perubahan yang besar sejak kepergian kamu. Perceraian kita berdampak sangat besar terhadapku. Ingatkah kamu saat di pengadilan, dimana saat itu aku memelukmu dengan erat, saat itu aku merasa seakan tidak rela untuk melepaskanmu. Maaf jika harus mengingatkan kembali pada masa lalu. Aku tidak bermaksud untuk mengungkit kembali. Hari-hari yang Ku jalani terasa suram, tak ada warna atau kebahagiaan. Mempertahankan dia disisku saat itu aku teringat perkataanmu, aku selalu berusaha membuatnya bahagia sesuai dengan apa yang kamu katakan. Nyatanya setelah hari itu aku hanya hidup dengan bayanganmu yang selalu berputar-putar di pikiranku. Aku sudah berusaha menyingkirkan semuanya, namun ternyata aku tidak bisa. Semakin hari bayangan itu terasa nyata dan selalu menghantui pikiranku juga hatiku tidak merasakan ketenangan apapun. Hingga suatu hari, aku mulai menyadari perasaanku. Dan saat aku sudah menyadarinya, aku selalu berusaha untuk menghapus dan menghilangan perasaan itu, namun lagi-lagi aku gak bisa dan akhirnya aku hanya pasrah dengan perasaan yang membuat hatiku resah tapi juga merasa hangat..."Candra menggantung perkataannya, dia menatap Desi melihat bagaimana reaksinya. Desi hanya diam membisu mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut Candra.

Candra kemudian mengambil salah satu tangan Desi kemudian menggenggam tangan itu.

"Des aku merindukan kamu dan anak kita. Selama 3 tahun kita berpisah, selama itulah aku merindukan kalian. Percaya atau tidak, aku tidak memaksamu untuk mempercayainya, karena itulah yang sebenarnya. Dan beberapa waktu belakangan sebelum kita bertemu untuk yang pertama kalinya setelah sekian lama, aku hanya bisa meratapi penyesalan, kerinduan dan semua perasaan yang kurasa. Kamu gak perlu jawab apa-apa, kamu cukup dengarkan dan yakinkan hatimu juga pikiranmu. Jangan membuat Chris sebagai alasan untukmu kembali padaku. Aku tidak ingin kamu menderita seperti yang sudah-sudah. Bukankah cinta tidak harus memiliki? Kita masih bisa mengurus Chris seperti orang tua pada umumnya, meski dengan jarak diantara kita. Dengan seperti ini saja sudah cukup bagiku dan membuatku merasa lega. Kumohon jangan memaksakan dirimu."Candra memandang Desi dengan tulus. Desi speechless mendengar perkataan Candra. Kini mata mereka saling menatap satu sama lain. Saling menatap seakan-akan menyiratkan bahwa mereka saling mencintai.

"C--C--Candra... "kata Desi dengan terbata-bata.

"Aku... Aku... "belum selesai Desi berucap, Candra langsung memotong ucapannya.

"Tidak perlu terlalu memaksakan. Aku tahu ini terlalu cepat bagimu, tapi aku hanya ingin mengutarakan saja. Jika kamu sudah ada seseorang yang lain yang bisa membuatmu bahagia dan yang spesial di hatimu, maka katakanlah. Katakanlah padaku agar aku tahu, dan aku akan mempersiapkan hatiku untuk menepis dan menghilangkan rasa ini. Bagiku kebahagiaanmu dan anak kita adalah prioritas utamaku saat ini. Dan maaf untuk semua yang telah aku lakukan kepadamu. Selama ini aku belum bisa menjadi seorang lelaki yang baik untuk kalian."kata Candra dengan penuh cinta.

"Candra aku tak tahu apakah ini cinta atau hanya rasa nyaman semata. Namun, ada hal lain yang merasa tidak terima dengan pernyataanmu yang ingin melamar seorang wanita. Bohong jika tidak ada pengaruh apapun pada diri ini dan hati ini selama kedekatan kita beberapa waktu ini. Ada rasa nyaman dan kehangatan yang menyelimuti hati ini. Aku tidak bisa memastikan apapun, aku juga belum siap untuk membangun sebuah keluarga baru. Aku masih butuh waktu untuk menata diriku dan mempersiapkan diriku untuk menjalankan kehidupan hiruk pikuk rumah tangga. Tapi, tidak ada salahnya jika kita memulai semuanya dari awal. Kita tidak saling mengenal mulai dari awal kita menikah hingga perceraian itu terjadi, kita tidak mengenal satu sama lain. Maka dari itu kita bisa memulainya dari saling mengenal dan membiarkan semuanya mengalir seperti air dan seiring berjalannya waktu. Dan biarkan waktu yang menentukan dan menjawab segalanya."balas Desi dengan penuh makna.

Setelah itu, hanya hening yang menguasai mereka. Candra dan Desi, mereka menatap satu sama lain dengan tatapan dalam dan tatapan itu seperti menyuarakan isi hati diri mereka masing-masing.

Entah ada angin lalu darimana, kini mereka saling berpelukan dengan Chris di pangkuan Candra. Desi menyandarkan kepalanya di dada pria itu, pria yang berstatus sebagai ayah dari anaknya. Candra memberikan sebuah kecupan di kening Desi juga di kening Chris.

Karena merasa agak pegal, Candra melepaskan pelukan Desi dan membaringkan Chris di sofa yang sudah diubah menjadi tempat tidur itu. Setelah menidurkan Chris, Candra mematikan tv, setelah itu ia kembali ke sofa yang semula dia duduki.

Candra kembali menarik Desi ke dalam pelukannya dan Desi juga tak menolak bahkan ia membalas pelukan itu. Kini mereka berdua tengah berbincang-bincang sambil berpelukan. Ntah apa yang mereka perbicangkan hanya mereka saja yang tahu itu. Karena lelah mengobrol akhirnya mereka tertidur dalam posisi seperti itu.

Beberapa jam kemudian......

Mereka terbangun karena ada suara yang mengganggu tidur mereka.

"itu siapa ya?"gumam Desi dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.

"sepertinya itu tetanggamu"jawab Candra

"Tapi, suaranya berasal dari dalam rumah. Masa iya teteangga main nyelonong masuk aja ke rumah orang."balas Desi

"Oh iya, ya"ucap Candra

Hingga sebuah suara mengagetkan mereka. Hingga membuat mereka melepaskan pelukan mereka.

"Wah... Nyaman sekali tidur saling berpelukan hingga tidak sadar kalau ada yang masuk ke rumah. Untung saja ini masih sore, bagaimana kalau sudah malam? Bisa digorok tetangga kalian dan di bawa ke RT. Kamu juga Candra, kamu tidak boleh seperti itu kepada seorang wanita yang bahkan belum menjadi istri kamu, itu bisa menimbulkan fitnah. Kalau kalian sudah merasa nyaman, sudah merasa cinta saling cinta, lebih baik langsung menikah saja daripada menjalani status yang tidak jelas, pada akhirnya menimbulkan fitnah. "omel bu Siska melihat kelakuan anaknya dan mantan menantunya.

"Kami akan menikah disaat kita benar-benar siap untuk menjalani rumah tangga kembali. Kami sudah memutuskan untuk saling mengenal dulu hingga kami sampai ke jenjang pernikahan. Kami ingin menjalani kehidupan berkeluarga seperti pada umumnya, maka dari itu akan memulai semuanya dari awal. "jawab Candra dengan serius dan diangguki oleh Desi.

Para orang tua itu pun diam-diam membenarkan keputusan anak-anak mereka, kemudian tersenyum. Karena menurut mereka itu adalah keputusan yang benar sebelum melangkah ke jenjang berikutnya.

Sore hari itu mereka habiskan dengan mengobrol ringan sambil menikmati teh dan cemilan. Sesekali canda tawa keluar dari mulut mereka. Karena suara mereka yang agak keras membuat Chris terbangun dan menangis.

"Desi permisi dulu ya, mau memandikan Chris. "dan diangguki semua orang

"Aku ikut, Des. Hitung-hitung belajar mengurus anak."ujar Candra dan hanya dibalas gelengan kepala oleh para orang tua itu, sementara Desi hanya berdehem.

...----------------...

Di dalam kamar

Desi sedang memakaikan pakaian Chris yang sudah selesai mandi, sementara Candra hanya duduk di atas ranjang memandangi Chris dan Desi sambil tersenyum.

"Kenapa senyum-senyum kamu? Ada yang lucu?"tanya Desi heran.

"Tidak ada, hanya saja aku merasa senang. Hatiku merasa damai."jawab Candra dan Desi hanya ber-oh ria sebagai tanggapan.

"Des"panggil Candra

"hm"Desi hanya berdehem sebagai jawaban.

"Besok kita jalan ya?"pinta Candra

"Besok kerja kan? Kenapa jalan? Lagian nanti kamu juga pulang kan ke Bekasi."kata Desi.

"Aku rencananya mau ngambil cuti selama sebulan biar bisa semakin dekat lagi dengan kamu dan bisa mengenal dirimu lebih dalam lagi."alasan Candra.

"Pendekatan sih pendekatan, ya tapi gak seperti ini juga. Nanti pekerjaan kamu banyak yang terbengkalai. Kan setiap weekend kamu juga pulang kan? Dan kalau ada tanggal merah kamu ke Bogor juga, kan? Untuk apa terburu-buru, hari masih panjang."jelas Desi dengan senyum. Candra terpaku pada wajah Desi yang tersenyum

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

"Kalian ngapain di kamar, kok lama?"tanya bu Maria

"Memandikan dan memakaikan pakaian Chris sembari mengobrol."Jawab Desi dengan jujur.

"Syukurlah kalian tidak ngapa-ngapain di kamar. Ibu takut kamu di apa-apain sama anak ibu."kata bu Siska sambil melirik anaknya.

"Ibu ngomongnya kok gitu sih? Candra masih tahu batasan, bu. Biar kata Candra cinta, tapi Candra gak akan ngelakuin itu dengan orang yang bukan istri Candra."tutur Candra dengan sebal

"Siapa yang tahu? Kamu kan seorang pria."seakan tak puas melihat wajah sebal putranya itu, Bapak pun kini ikut-ikutan mencela anaknya yang mana membuat Candra semakin kesal.

"Bapak... "kesal Candra karena kedua orang tuanya tidak ada puas-puasanya untuk mencela dirinya.

"Sudah, sudah. Tidak perlu dilanjutkan lagi."kata Bapak menengahi.

"Des, ayo bantu ibu masak biar kita makan malam bersama dulu sebelum mereka pulang."ajak bu Maria

"Iya bu."Desi kemudian langsung menyusul Bu Maria ke dapur untuk memasak.

Kini mereka tengah makan dalam hening, tak ada suara apapun yang keluar kecuali suara Chris yang sesekali merengek.

Setelah selesai makan malam, Candra langsung memasukkan barang-barang orang tuanya ke bagasi mobilnya, kemudian mereka berpamitan.

1
Nofta Putri111
jrang dpt shbat yg baik kyak gitu
Nofta Putri111
sabar ya dess
Dameria Inda Butar-butar
orang kristen tidak boleh poligami...
Elok Pratiwi
males amat melanjutkan baca nya sangat tidak menarik ... banyak drama menderita ujung ujung bersama kembali ... halu amat cerita nya
ajiu jiu
ud di tungguin nihh
Nur atika Saparudding
jijik aku lihat orang rujuk nya
Nur atika Saparudding
mungkin kalau bagi saya tidak usah rujuk lagu karena mantan suaminya celup sana celup sini
Saraswati Wati
janganlah balikan sama candra lelaki tak punya hati
Lienda nasution
gak bagus alur ceritanya Thor untung aq hanya baca sebagian dan akhirnya saja
Heni Yuhaeni
aku pengen nabok si candra, biar kan dia me yesal seumur hidupnya, jngn biarkan dia kembali sama desy
Heni Yuhaeni
masih banyak typo
Heni Yuhaeni
terlalu monoton, g ada tanda seru, koma. jadi bacanya kurang greget, semangat, bagus novelnya, cuma itu kekurangan nya
Sri Wahyuni
emang orang kristen boleh poligami..lieur crta nya
Sri Wahyuni
desi goblog
Setiani
aku tunggu karyamu
Murtini
kayaknya dah pernah baca
millie ❣
Salah loe sdr bego jadi perempuan byk mikir loe udah dijadiin keset masi mikirin org lain g gerak2 ngomong ama ortu loe skg trima akibat loe kan gemes gue loe liat cewe goblok di cerita novel lemah bgt si 😡😡😡
Miss Sgs
seperti cerita melati adi Anyelir
Tining Revi
aku suka ceritamu thor jelas padat dan singkat..
Tining Revi
anggap aja kamu ngekost di rumah suamimu sendiri desi..dari pada kamu makan hati tiap hari ngelihat mereka mesra.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!