NovelToon NovelToon
PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI

Status: tamat
Genre:Action / Fantasi Timur / Dan budidaya abadi / Budidaya dan Peningkatan / Tamat
Popularitas:27.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: A Lubis

Up setiap jam 8 malam.

Seorang bayi dilahirkan tanpa orang tua dengan berkah api matahari dilengan kanannya.
Dia kemudian ditemukan seorang janda yang merawatnya dengan kasih sayang yang tulus, namun tanpa sadar dia mengeluarkan api yang membakar seluruh rumah yang membuat ibunya meninggal.
Karena itulah dia menjadi pemuda yang jahat dan gemar menghancurkan perguruan diwilayahnya.
Namun seorang guru akhirnya menunjukan jalan kebenaran, dan akhirnya dia dapat mengendalikan api mataharinya.
Namun bersamaan muncul kekuatan besar akan ada kekuatan jahat yang juga terlahir, mampukah dia memenuhi panggilan takdirnya.?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A Lubis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bawahan Yang Setia

Sungsang Geni dan

Mahesa akhirnya menemukan sebuah rumah makan yang terletak cukup jauh dan juga

sedikit kecil, Rumah Makan Bakudo.

Rumah Makan itu hanya

bratap daun ilalang, dengan dinding dari bambu yang dibelah. Meski sederhana,

namun cukup nyaman untuk disinggahi, terbukti banyak orang yang baru saja

keluar dari rumah makan itu.

“Bibi pelayan, berikan

kami makannan, dan arak!” Sungsang Geni menyodorkan 10 keping perak, melihat uang

yang diserahkan Sungsang Geni, pelayan itu mengeryitkan kening, Sungsang Geni

langsung menambah 20 keping perak lagi.

Sungsang Geni menarik

bangku kayu, lalu merebahkan punggungnya dengan lesu, beberapa kali dia menarik

napas dalam-dalam lalu menghembuskan secara perlahan. Huss...

“Katakanlah! Sebenarnya

apa yang terjadi di Kerajaan Tomobok Tebing kemarin malam?” tanya Mahesa, dia

sudah tidak sabar ingin mengetahui masalah apa yang sedang dipikirkan

sahabatnya itu.

“Pangeran Dewangga

bukanlah satu-satunya yang diberi surat perihal lamaran putri Kerajaan Surasena.”

Sungsang Geni berbisik, “Tapi setiap putra mahkota dibawah kekuasaan Kerajaan Surasena,

mendapatkan surat yang sama, aku mengetahuinya karena bertemu dengan Pangeran

Widura dari Pancala, dan Nyai Bidara yang bertugas mengawal pangeran Miksan

Jaya. Apa menurutmu ini tidak cukup aneh?”

“Aneh sekali, tidak

mungkin satu putri menikahi 10 putra mahkota?” jawab Mahesa, dia menggaruk

kepalanya yang tidak gatal. “Mungkin Raja Cakra Mandala, sedang merencanakan

sesuatu, yang sangat rahasia, demi kebaikan Para Putra Mahkota.”

Sungsang Geni mengelus

dagunya. “Semoga saja pikiranmu benar, karena yang aku takutkan adalah,

bagaimana jika Kelelawa...”

“Tuan ini pesanannya?”

tiba-tiba saja pelayan rumah makan datang membawa pesanan, menghentikan ucapan

Sungsang Geni.

“Trima kasih bibi,”

Jawab Sungsang Geni.

Setelah pelayan itu

kembali ketempanya, Mahesa kembali berbisik. “Jadi, apa rencanamu sekarang?”

“Aku akan pergi ke

Surasena sekarang.” Jawab Sungsang Geni.

Mahesa tersedak arak

yang diminumnya, matanya melotot karena tidak percaya mendengar ucapan Sungsang

Geni.

“Apa kau yakin? Lalu

bagaimana caranya?”Mahesa mulai menatap Sungsang Geni dengan rasa penasaran.

“Jubahku ini dinamakan

kilatan Naga, aku bisa terbang secepat kilat, meskipun sebenarnya aku belum

pernah mencobanya.” Sungsang Geni kemudian tersenyum, lalu menuangkaan arak

kedalam gelasnya, “Sial, diamanapun tempatnya, kenapa arak rasanya selalu

pahit.”

“Sebenarnya aku tidak

begitu setuju.” Ucap Mahesa, kemudian menegak arak didalam gelasnya, “Ini arak

yang cukup nikmat.

“Kita masih punya waktu

3 hari lagi sebelum Pangeran Dewangga menginjakan kakinya di Surasana. Sebelum itu

terjadi, bukankah lebih baik aku kesana lebih dahulu? Mengetahui kebenaranya. Jika

ternyata Kerajaan Surasena berniat jahat, kita bisa mencegah Putra Mahkota

Majangkara untuk tidak pergi kesana.” Sungsang Geni menjelaskan.

“Setelah itu menurutmu

apa yang harus kita lakukan?”

“Tentu saja kembali Ke

Majangkara. Lalu kita pikirkan lagi langkah tepat, untuk menyelesaikan masalah

ini.”

“TOLONG TOLONG SAYA!”

seorang pemuda berlari dari dalam hutan, dengan menggendong seorang yang

terluka parah.

Pria itu segera masuk

kedalam toko, “siapapun tolong saya...”

Sungsang Geni segera

menghampiri pemuda itu, “Apa yang terjadi dengan anda?”

Pemuda itu kesulitan

mengatur napasnya yang tersengkal, “Kami telah dirampok, dan dia terluka parah

karena melindungiku.”

“Nyai Bidara?” Sungsang

Geni langsung mengenal wanita yang terluka parah itu, wanita yang bertemu

dengannya dipenginapan Cempaka Putih. “Apakah anda pangeran Miksan Jaya?”

“Betul, apakah tuan

mengenal Nyai Bidara?” Miksan Jaya masih diliputi rasa ketakutan.

“Itu dia, kita habisi

dia sebelum buka suara.” Lima orang pria bertopeng keluar dari dalam hutan

dengan pedang dan golok yang terhunus, semuanya memancarkan aura membunuh.

Mereka merupakan level

pendekar  Pilih tanding, dan seorang lagi hanya kelas tanding.

“Tuan tolong kami...

mereka akan membunuh kami berdua.” Miksan Jaya tiba-tiba saja bersujud dikaki

Sungsang Geni.

“Pangeran apa yang kau

lakukan, tidak pantas anda seperti ni?”. Namun ucapan Sungsang Geni tidak

dihiraukan Miksan Jaya, dia tetap bersujud hingga Sungsang Geni bersedia

membantu dirinya.

“Geni, Biara aku saja!”

Mahesa melangkah keluar rumah makan, “Mereka hanya cecunguk kecil, tidak perlu

kau menarik pedangmu.”

“Minggir! kami tidak

ada urusan dengan dirimu.” Salah seorang pria itu berkata bengis, “Jika tidak,

jangan salahkan kami, jika lehermu terpenggal disini.”

“Jangan banyak bicara,

seranglah aku dengan segenap kemampuan kalian.” Ucap Mahesa.

Salah satu diantara

mereka maju dengan percaya diri, dia melakukan beberapa gerakan, kemudian

bersegera melayangkan goloknya tepat dileher Mahesa.

Ting... golok itu patah

menjadi dua, membuat wajah dibalik topeng seketika menjadi pucat dengan mata

terjelit.

Mahesa tidak menunggu

lama, dia segera mendaratkan kepalan tangannya tepat di ulu hati, membuat orang

itu terpental jauh dan mendarat pada batang pohon. Darah segar keluar dari

mulutnya.

“Sial, Bunuh dia!”

seorang memberi aba-aba kepada temannya, untuk menyerang Mahesa dengan

bersamaan.

Terjadi pertarungan di depan

halaman Rumah Makan. Mahesa terlihat santai menghadapi mereka semua, beberapa

pedang yang mengarah ketubuhnya ditahan hanya dengan jari telunjuknya.

“Orang ini bukan sembarangan,

kita serang dengan jurus terkuat kita!”

Cahaya berkilauan

melesat kearah Mahesa dengan cepat. Terdengar suara ledakan dari tubuh Mahesa. Asap

putih menutupi tubuh Mahesa dari pandangan semua orang.

“Mampus kau!” ucap

salah sat orang bertopeng.

“Kenapa rasanya geli

seperti ini?” tiba-tiba angin kencang menepiskan asap putih yang menutupi

Mahesa. Tubuhnya sama sekali tidak terluka sedikit pun.

Mahesa sekarang mulai

menyerang mereka, mematahkan tangan dan tulang belulang, serta melumpuhkan

aliran tenaga dalam mereka.

Raungan kesakitan

menggema di halaman Rumah Makan, bagaimanapun melumpuhkan aliran tenaga dalam

sama saja dengan membunuh mereka dengan kejam. Setelah ini, mereka semua tidak

akan bisa bertarung lagi.

“Pergilah, aku tidak

akan membunuh kalian!” ucap Mahesa, setelah selesai menghajar orang-orang

bertopeng.

Mereka semua segera

beranjak dengan kesakitan, mencoba sekuat tenaga untuk menjauhi Mahesa.

Hingga akhinya salah

satu dari mereka dihadang Sungsang Geni. “Sebelum kau pergi, ceritakan padaku,

siapa yang menyuruh kalian!”

“Aku tidak akan

menceritakannya, meskipun kalian membunuhku.” Pria itu berkata terbata-bata. “Kami

bukanlah orang yang bisa kau paksa begitu saja, dan kami bukanlah pengecut.”

“Sial, kalau begitu aku

akan menyiksamu!” Tiba-tiba mahesa mematahkan tulang bahunya, membuat pria itu

merintih kesakitan.

“Katakanlah!” bentak

Mahesa.

“Sampai kalian mencabik

tubuhku, aku tidak akan memberi tahu kalian tentang tuanku.” Setelah mengatakan

itu, pria itu segera membungkuk menusuk lehernya sendiri dengan pisau kecil

diujung kakinya.

Darah kental mengucur

deras dari luka dileher orang bertopeng itu.

Melihatnya mata

Sungsang Geni menjadi merah, “Siapa tuannya ini,  sepertinya dia tidak hanya kuat, tapi

memiliki bawahan yang sangat setia.”

Sungsang Geni segera

melesat kedalam hutan, dan benar, semua orang yang dilepaskan Mahesa, bunuh

diri dengan cara yang sama.

“Apa mereka pikir, sebuah nyawa berharga  murah?”

1
merah putih
kemana keris pusaka?
Aufaaaaa
widih autor nak panen kawe😄😄😄
Lily
ada" aja kakek satu ini 🤣🤣🤣
diina acuy
Luar biasa
zayick
mnjijikan
zayick
novel paling menjengkelkan adalah ktika mc lemah trhadap musuh wanita sungguh menjijikan jikapun ada dlam kehidupan nyata dengan senang hati saya membunuh mc macam ini walau dia hamba tuhan palih salih skalipun
Hidayat Dayat
Luar biasa
Hidayat Dayat
Lumayan
ridzuan yusoff
Luar biasa
Sudar Manto
asu
Malim Rieza DiWa
the best one
Yurnalis Yurnalis
pokuslah duly sama mcnya supaya kuat thor
Yurnalis Yurnalis
ini makananya ibis gak ada yg lain
Adian Oe
dari sekian bnyk cerita yg ku baca..ku akui ini yg plin the best..👍👍👍
Andre Oetomo
keren
Beni Nugroho
mantap tetap anti korupsi
Beni Nugroho
wadaow
Beni Nugroho
sabar itu adalah ujian aja
Beni Nugroho
deklarasi yang cukup bersejarah di dalam dunia pernovelan
Beni Nugroho
tukang maut kah dia?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!