Saat menghadiri perayaan kelulusan sang senior, Yurika dengan sengaja pura-pura mabuk dan mengakui perasaannya pada senior yang selama ini ia sukai.
Meski ia tahu bahwa ia harus menahan malu jika senior itu menolaknya, namun setidaknya ia harus menyelesaikan perasaannya.
Lalu.. tanpa di sangka..
"Oke.."
Yurika tak menyangka ia menyetujuinya, namun sesaat kemudian..
"Bisakah kita mengobrol di tempat lain? Ada banyak orang disini.."
Hari itu, saat sang senior mengantarkannya pulang, Yurika akhirnya sadar bahwa ia hanya menjaga martabatnya, tidak mungkin ia menyukai Yurika.
"Sepertinya perasaan ini memang harus berhenti disini.."
Dengan yakin Yurika memblokir seluruh kontak dari pria yang ia sukai.
Namun bagaimana jika ternyata pria itu menyukainya?
"Sial! Apa dia memblokirku setelah menyatakan cinta? Apa ia hanya bercanda?!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Gerson tertawa kecil. "Tapi serius, Yurika memang selalu gadis yang hebat. Dia cerdas, pekerja keras, dan punya kemampuan yang luar biasa. Karena itu aku sampai meminta Austin mengenalkannya dengan beberapa talenta muda yang potensial."
Beibei langsung menoleh ke arah Austin yang duduk dengan santai di samping mereka.
"Ngomong-ngomong, Tuan Austin sudah punya pacar?"
"Belum."
Jawaban Austin singkat sambil membersihkan tangannya dengan tisu antiseptik.
Beibei menghela napas panjang penuh penyesalan.
"Sayang sekali. Pria setampan ini malah masih sendiri. Kalau teman-temanku melihatmu, malam ini aku pasti dipaksa meminta nomor teleponmu."
Gerson langsung menyela. "Lupakan saja. Di sekitar Austin tidak pernah kekurangan wanita. Hanya saja dia memang tidak tertarik pada mereka."
"Serius?" Beibei membelalakkan mata.
"Lalu kenapa belum pacaran?"
"Menurutku hanya ada dua kemungkinan." Gerson mengangkat alis.
"Apa itu?" Beibei menopang dagunya.
"Pertama, dia memang tidak tertarik pada hubungan asmara."
"Dan yang kedua?"
"Ada seseorang yang sudah dia sukai."
Gerson tertawa keras.
"Kelihatannya pengalaman percintaanmu cukup banyak."
Beibei langsung memukul lengannya. "Berhenti mengejekku!"
Setelah itu, Gerson kembali menatap Austin. "Kalau kamu sendiri bagaimana? Yang mana?"
Austin bahkan tidak berniat menanggapi pertanyaan itu. Baginya, pembicaraan semacam itu sama sekali tidak menarik.
Untungnya, makanan segera datang dan mengalihkan perhatian semua orang.
Malam itu meja mereka dipenuhi berbagai hidangan mewah.
Ada angsa panggang dengan truffle hitam, bakso udang saus mustard, steak ala Prancis, bebek lotus darah, sup talas daging sapi, serta berbagai dessert yang disukai para wanita.
Sepanjang makan malam, Yurika lebih banyak diam. Perhatiannya hampir sepenuhnya tertuju pada makanan.
Harus diakui, restoran yang dipilih Gerson memang luar biasa. Semua hidangan terasa sempurna.
Austin yang duduk di sampingnya tanpa sengaja memperhatikan cara gadis itu makan.
Pipi Yurika sedikit menggembung saat mengunyah, membuatnya tampak seperti tupai kecil yang sedang menyimpan makanan.
Tatapan Austin bergerak pelan. Ia melihat Yurika diam-diam melirik sepiring bakso udang mustard yang berada cukup jauh dari jangkauannya.
Namun gadis itu tampak ragu untuk mengambilnya.
"Aku bantu." Suara rendah Austin terdengar tiba-tiba.
Sebelum Yurika sempat bereaksi, pria itu sudah mengambil sumpit saji dan memindahkan beberapa bakso udang ke mangkuknya.
Yurika berkedip. "Terima kasih."
Aroma mustard yang kuat langsung menyengat hidungnya. Ia menggigit satu bakso perlahan.
Detik berikutnya, rasa pedas yang tajam langsung menyeruak hingga ke rongga hidungnya.
Mata Yurika langsung memerah. Ujung hidungnya ikut berwarna merah muda. Air mata hampir keluar dari sudut matanya sehingga ia buru-buru mengipasi wajahnya dengan tangan.
Melihat semua orang menatap ke arahnya, Yurika tertawa malu.
"Pedas sekali ternyata." Suara tawa rendah terdengar dari samping.
Austin menoleh dan melihat ekspresi gadis itu yang panik.
Lengkungan tipis muncul di sudut bibirnya. Matanya yang biasanya dingin tampak sedikit melembut.
Sementara itu, Beibei mengamati mereka berdua diam-diam. Entah kenapa ia merasa ada sesuatu yang aneh. Namun ia tidak tahu tepatnya apa.
Beberapa saat kemudian, Yurika berdiri. "Aku ke kamar kecil sebentar."
Setelah mendapat petunjuk arah dari pelayan, ia berjalan keluar ruangan. Baru beberapa langkah, sebuah suara penuh keterkejutan memanggilnya.
"Yurika?"
Yurika berhenti lalu menoleh, saat melihat sosok di belakangnya, ekspresinya sedikit berubah.
Itu adalah Dean.
Sejak percakapan terakhir mereka melalui WeChat mengenai perpisahan, keduanya hampir tidak pernah berhubungan lagi.
Mereka bahkan sudah saling menghapus kontak. Yurika sama sekali tidak menyangka akan bertemu dengannya di sini.
yg banyak atuhhhh kak othor update babnya 😁😁
lanjuuutttt 💪💪💪💪👍
yg banyaaakkkk banyaaakkkk 😁👍
ada mantan yg lagi sok pamer bang Austin... berasa dia cwo yg paling diminati para kaum hawa🤣🤣🤣🤣
padahal kesuksesan dia karna domplengan cwe dengan status anak manager. baru manager dah berasa CEO 🤣🤣🤣🤣🤣
gemesss liat pasangan ini
aku yg cengengesan 🤣🤣
kok aku loh yg malah jadinya baperan 😁😁😁
modus mu austin😄😄
makanya kali suka yonthe poin aja
gasssssssss
ntar Embay cwo lain murka lagi😁😁😁
🤭
terlalu kaku🙏