NovelToon NovelToon
Pembalasan Seorang ART

Pembalasan Seorang ART

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Imen Firewood

"Kenapa hanya diam berdiri di sana? ... Cepat kesini!" suruh Nyonya Laras, yang sedang duduk santai menyilangkan kakinya sambil bermain menatap ponselnya.

Karena merasa kaget sekaligus panik, Anya sedikit berlari kecil menghampiri wanita yang sedang duduk cantik di sofa panjang itu. Sofa panjang itu mengarahkan pandangan Anya kepada sebuah televisi besar yang terpajang di dinding. Membuat Anya kembali melamun.

Anya jadi tidak fokus, ketika suara Laras ternyata sudah sedari tadi memanggilnya beberapa kali dengan akhir yang kencang dan membuat Anya kaget.

"Hey!"

"Saya bertanya siapa nama mu?! Apakah kamu ingin bekerja di sini atau tidak? Kenapa hanya melamun dari tadi?" tanya Laras dengan bentakan kecil. Membuat anak polos dan lugu di hadapannya menjadi panik.

"Maaf Ibu ... Nama saya, Anya ..." ucapan Anya terpotong. Ketika Laras yang seakan tidak ingin mendengar ucapan Anya, langsung memanggil Bi Inah. Pembantu lain yang sudah cukup lama juga bekerja di keluarga Adiwijaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imen Firewood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 16

Di depan halaman luas, rumah keluarga Adiwijaya.

Tidak terasa, langit panas dari teriknya matahari yang menghiasi rumah keluarga Adiwijaya mulai bergeser. Cahaya panas dan menyilaukan perlahan berubah menjadi sedikit gelap, namun tetap dengan udara sejuk yang menerpa wajah Anya ketika sedang memberi makan kucing peliharaan Bianca.

"Meow ... Meow ... Push," kata Anya dengan nada suaranya yang lucu. Ketika ia sedang berjongkok dan di hampiri kucing kesayangan Bianca yang berjalan mendekati Anya.

"Cepat besar yaa, push ... Aku tidak tahu nama mu, tapi ku harap ... Kita bisa berteman," ucap Anya sambil senyum, ketika berbicara sendiri dengan hewan yang sedang ia beri makan.

Meow~

Kucing itu seakan mengerti ucapan Anya, ia menjawab dengan suara lucunya ketika berada di dekat Anya seperti sekarang.

Burmm ...

Terdengar suara mobil yang berhasil mencuri perhatian Anya. Mobil pribadi dan mewah itu baru saja melewati gerbang, perlahan jalan melewati Anya yang berada jauh dan berhenti tepat di depan rumah kediaman keluarga Adiwijaya.

"Ngapain anak kampung! Itu di sana?" gumam Bianca dari dalam hati ketika melihat Anya dari dalam mobil. Ekspresi Bianca langsung menunjukan ketidak senangannya kepada Anya yang baru saja ia lihat kembali.

Deg!

Suara Tono ketika membuka pintu mobilnya. Ia berjalan bergegas lari kecil untuk membukakan pintu pak Adiwijaya dan Bianca selaku majikannya.

Melihat kucing kesayangan Bianca sedang di beri makan oleh anak kampung seperti Anya, Bianca langsung berlari kecil menghampiri Anya yang sedang berdiri menatapnya.

"Yaa ampun Mochi ... Kenapa kamu berada disini~" ucap Bianca langsung menggendong kucing yang sedang makan di samping Anya. Bianca langsung menatap kesal ke arah Anya di hadapannya.

"Eh, anak kampung!!" bentak Bianca pelan, agar tidak terdengar oleh ayahnya yang masih memperhatikan Bianca. "Ngapain, sih megang-megang kucing gua?! Hah? ..."

"Ini kucing mahal! ... Gaji lu aja nggak cukup buat beli makan dia. Ntar dia bisa ketularan kampungan kaya lu !!!" sambung Bianca meneruskan ocehannya yang sedang memarahi Anya.

"Anu ... Maaf, Non. Saya tidak memegangnya, saya hanya memberi kucing itu makan ..." ujar Anya, memberi penjelasan agar Bianca tidak lagi marah kepadanya.

"Alah ... Alesan! Udah, hus ... Hus !! Pergi sana," seru Bianca, yang tidak ingin berlama-lama bicara dengan anak kampung seperti Anya.

Mendengar ucapan pedas Bianca, Anya tidak lagi bisa berkata apa-apa. Anya berbalik badan dan merasakan sakit hatinya sambil terus berjalan menunduk.

"Anya ..."

Baru saja Anya hendak satu melangkah pergi meninggalkan Bianca, tiba-tiba terdengar suara dari Adiwijaya yang memanggilnya dari depan rumahnya.

Anya menatap bingung kearah majikannya yang berada cukup jauh dari pandangannya. Dengan ragu-ragu dan takut, Anya berusaha pelan menghampiri Adiwijaya. Di ikuti Bianca yang berjalan di belakangnya sambil menggendong kucing kesayangannya.

"Iyaa tuan ... Tuan memanggil saya?" tanya Anya dengan nada yang sangat ramah dan sopan sambil terus menunduk.

Karena apapun yang Anya lakukan sekarang di hadapan Adiwijaya, itu selalu salah di mata Bianca yang sekarang menatap Anya dengan penuh benci.

"Tolong buatkan saya kopi, yaa ... Saya ingin ngopi dulu sebelum makan malam nanti," pinta Adiwijaya, dengan senyum dan ramah bersikap kepada Anya.

Deg!

Jantung Bianca tiba-tiba merasa sesak, ketika melihat ayah tercintanya terlihat begitu peduli kepada anak kampung! Seperti Anya.

"Baik tuan ..." balas Anya, masih terus menunduk karena tidak berani menatap majikannya. Apalagi, di sampingnya ada seorang Bianca yang terus memberi tekanan.

"Yaudah, kalau gitu ... Saya tunggu di meja makan. Saya ingin ganti baju dulu," ucap Adiwijaya, lalu pergi meninggalkan Anya yang masih takut dengan kehadiran Bianca.

Ketika Adiwijaya telah pergi masuk ke dalam rumahnya, terdengar suara pelan yang amat tidak menyukai Anya keluar dari mulut Bianca.

"Cih ..." kata Bianca, langsung pergi mengikuti papihnya berjalan masuk kedalam rumahnya. Tidak lupa, Bianca mengibaskan rambut cantik dan harumnya di depan wajah Anya saat ini.

Ketika kedua majikan Anya sudah pergi, sekarang Anya hendak berjalan melalui pintu belakang rumah keluarga Adiwijaya.

"Anu Anya ... Kalau boleh minta tolong, saya juga ingin kopi, yaa ... Hehe," pinta Tono, yang masih berdiri sejak tadi menunggu para majikannya pada masuk ke dalam rumah.

"Iyaa, pak ... Nggak apa-apa, kok. Nanti saya antar ke posko bapak ..." kata Anya, yang perlahan mulai terbiasa dengan sikap canggungnya kepada para penghuni rumah ini.

"Hehe ... Terimakasih, yaa Anya." balas Tono dengan penuh senyum dan ramah meminta tolong kepada Anya.

"Sama-sama, pak," balas Anya, juga dengan senyum dan sedikit menahan tawanya karena melihat Tono yang seperti merasa tidak enak kepada Anya.

Anya membuatkan kopi untuk pak Adiwijaya terlebih dahulu. Sebelum, membuatkan kopi untuk pak Hartono yang sepertinya juga ingin minum kopi.

Ketika hendak mengantarkan kopi buatannya, ia bertemu dengan Laras yang berpapasan dan memang ingin menghampiri suaminya. "Kopi buat suami saya?" tanya Laras dingin, tanpa ingin berlama-lama melihat Anya.

"Iyaa Nyonya, tadi saya di suruh buatkan ko—"

"Op! ... Saya buru-buru. Gausah di teruskan, nanti saya kena virus. Sini kopinya," pinta Laras tanpa ingin mendengar terusan ucapan Anya. Membawa kopi di tangannya lalu pergi begitu saja berlenggang angkuh.

Punggung dari majikan yang harus setia Anya layani itu perlahan menjauh. Hingga sekarang, Anya sudah mulai cukup terbiasa dengan sikap para majikannya dengan bersabar sambil membuang nafas pendeknya.

"Ini sayang ... Kopinya sudah jadi," kata Laras penuh senyum di wajahnya. Langsung duduk bergabung di samping dengan Adi yang sedang bersantai sambil membaca koran.

Seketika Adi menghentikan bacaannya. Melihat sekilas kalung pemberiannya yang sudah di pakai istrinya, lalu tersenyum. "Makasih, yaa ..."

"Sama-sama," balas Laras, melihat wajah tampan suami di sampingnya, berganti melihat kalungnya, dan kembali menatap lagi.

"Gimana hadiahnya? Kamu suka?" tanya Adi tanpa menoleh. Tetap membaca koran yang setia ia pegang dengan kedua tangannya.

Sebuah senyum merekah tumbuh di bibir Laras, ia benar-benar merasa senang atas hadiah pemberian suaminya kalung mahal ini. "Suka-suka! ... Terimakasih, yaa sayang ..." Laras langsung memeluk lengan suaminya. Bersender di tepian pundak kekar Adiwijaya.

"Aku akan membuat pesta di rumah ini. Untuk menghibur para karyawan perusahaan-ku yang telah bekerja keras, sekaligus untuk merayakan ulang tahun mu," ujar Adiwijaya yang sedang bersantai, tanpa mengalihkan fokusnya membaca koran.

Laras terperanjat bangun dari sandarannya. Melihat wajah suaminya yang baru saja mengatakan hal yang membuatnya kembali menunjukan senyum penuh antusias. "Astaga ... Beneran?" tanya Laras sekali lagi, memastikan ucapan suaminya yang mulai menoleh menatapnya.

"Kapan aku pernah berbohong Laras?" sahutnya jengah, karena merasa Laras tidak mempercayainya. Namun ada sedikit ketegasan di dalamnya yang membuat Laras merasa menjadi tidak enak.

"Hmm, bukan begitu pih ... Aku hanya memastikan," ucap Laras lirih, menampilkan ekspresi sedih di wajahnya karena merasa bersalah dengan ucapannya.

Hembusan nafas pelan keluar dari mulut pria yang berada di hadapan Laras itu, sebelum akhirnya pergi berlalu meninggalkan Laras karena ingin mandi. "Sudahlah, aku ingin mandi ... Siapkan air hangatnya," ucap Adi, berlalu pergi beranjak meninggalkan Laras yang masih menatapnya.

"Apa aku salah bicara?" gumam Laras dalam hati ketika di tinggal suaminya. "Tak apa lah ... Yang penting aku merasa senang!" kata Laras terperanjat berdiri, sedikit loncat karena merasa amat bahagia sebelum akhirnya ia sadar untuk mengisi air hangat suaminya.

"Ekhmm ... Bibi!!!" teriak Laras ketika berdiri, memanggil-manggil Bi Inah untuk menyiapkan air hangat di dalam kamar mandi. "Bi Inah !!!"

1
falea sezi
lanjuttt
Imenfirewood: Waah, terimakasih banyak ya, kak, udah mau membaca cerita ini. Mulai sekarang, ceritanya akan update setiap hari di jam 7 pagi. Pastikan kakak udah follow biar nggak ketinggalan cerita seru dari Anya. Terimakasih~ Luv!
total 1 replies
falea sezi
kpn mereka bangkrut🤣 ngemis klo. perlu sebel q
Imenfirewood: Kamu udah baca sampai sini?
total 1 replies
falea sezi
majikan laknat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!