NovelToon NovelToon
DHAHAR : Jangan Mati Di Rantau Naya

DHAHAR : Jangan Mati Di Rantau Naya

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:408
Nilai: 5
Nama Author: Mia AR-F

Ini cerita tentang rumah makan yang menu spesialnya, tumbal manusia.
Kabur enggak bisa. Resign taruhannya nyawa.

" Selamat bekerja dirumah makan Dermawan." Seru Pak Dermawan selaku pemilik usaha yang suaranya masih terngiang-ngiang layaknya mimpi buruk yang terus berulang.

Namaku Naya. Umur 21. Anak rantau. Dan inilah kisahku.

_

Tayang : 16 mei 2026
Tamat : 06 juni 2026

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mia AR-F, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14 : Manusia berjiwa iblis

KONTRAKAN RANTI 08:20 WIB

13/09

Matahari udah masuk dari celah jendela garis tipis jatuh ke lantai. Debu-debunya kelihatan terbang pelan. Di dapur kecil, Ranti lagi nuang air panas ke cangkir. Uapnya naik. Teh celup satu. Gulanya setengah sendok. Dia aduk pelan.

Di kasur, Naya mulai gerak. Alisnya ngerut dulu. Terus matanya kebuka pelan. Silau. Dia ngedip dua kali. Langit-langit biru muda yang ngelupas itu hal pertama yang dia lihat.

Kemarin malam dia memang sudah di perbolehkan untuk pulang, Ranti yang mengajak Naya ke kontrakannya.

Naya memakai daster tidur milik Ranti. Baju yang terakhir kali dia pakai entah sudah ada di mana.

"Sudah bangun, Nay?"

Suara Ranti bikin Naya noleh. Butuh sedetik buat inget siapa dia. Tangannya langsung narik selimut ke dada. Napasnya ketahan takut.

"Ini bukan messkan?"

Ranti nyamperin, duduk di pinggir kasur. Nyodorin cangkir teh anget.

"Ini kontrakan aku. Kamu aman di sini." Jawab Ranti yang kurang lebih sudah tahu kondisi Naya dari Salsa yang menjelaskan dari telepon.

Naya duduk pelan. Punggungnya nyender ke tembok. Tangannya gemetar pas nerima cangkir. Panasnya kerasa sampe telapak tangan. Dia hirup uapnya dulu. Baru nyeruput dikit.

"Mbak, tanggal berapa sekarang?" Tanya Naya pelan.

"Tanggal 13." Jawab Ranti.

Naya diam. Matanya liat ke cangkir. Kukunya masih ada sisa kotoran hitam di sela-selanya. Dia gosok pelan ke selimut, tapi nggak hilang.

"Aku... mimpi buruk, Mbak. Panjang banget." Naya bercerita.

Ranti nggak nanya mimpi apa. Dia cuma ngelus punggung tangan Naya. "Mimpi doang, Nay. Sekarang udah pagi. Udah lewat."

Di luar, ada suara ibu-ibu lewat jualan sayur, "Sayur... sayur..."

Naya denger. Matanya berkaca-kaca. Tapi nggak nangis. Cuma napasnya getar.

"Aku laper, Mbak."

Ranti ketawa kecil. Lega. "Nah itu. Tunggu ya. Aku beli bubur. Bubur abang di depan udah lewat belum ya."

Ranti berdiri, beresin rambutnya yang acak-acakan. "Kamu duduk aja. Jangan mikir aneh-aneh. Mau pipis nggak? Kamar mandi di belakang."

Naya ngangguk. "Mau..."

Ranti nuntun Naya berdiri. Kaki Naya lemes. Kayak baru belajar jalan. Selangkah, dua langkah ke pintu belakang.

Di meja, cangkir teh masih setengah. Uapnya udah hilang.

Nggak ada lonceng. Nggak ada garam. Nggak ada gentong.

Cuma teh anget sama suara tukang sayur.

Naya merasa hidup.

Pintu kamar mandi kebuka. Uap tipis keluar. Naya jalan pelan sambil ngeringin rambut pake handuk kecil. Daster tidur Ranti yang tadi udah di ganti. Sekarang pake kaos putih polos, agak kedodoran, sama celana pendek hitam. Wajahnya masih pucat.

Ranti udah nunggu, "Udah segeran? Nih, bubur ayam. Mbak biasa beli."

Naya duduk di kasur. Kakinya dilipat. Dia nerima piring bubur itu. Asepnya masih ngebul. Ada suwiran ayam, bawang goreng, sama kerupuk remas di atasnya. Bau kunyitnya bikin perut Naya bunyi pelan.

"Makasih, Mbak."

Dia nyendok. Pelan. Kunyahnya hati-hati. Baru tiga suap, matanya udah berkaca-kaca lagi. Bukan sedih. Laper. Badannya laper beneran.

Ranti duduk di lantai, nyandar ke kaki kasur. Ngeliatin Naya makan. Nggak ngomong. Cuma ngawasin.

Piring bubur tinggal setengah, Naya naruh sendok. Napasnya panjang.

"Mbak boleh minjam hp? Hpku lg di cash soalnya." Naya meminjam hp Ranti.

Ranti ngangguk. Ngambil HPnya dari atas bantal. Ranti memberikannya setelah membuka sandinya.

"Salsa?"

"Iya, mau nelpon Kak Salsa." Jawab Naya.

Naya menerima hp itu lalu mencari kontak Salsa yang langsung dia hubungi

Tut... tut... tut...

Tak lama.

"Halo?"

Suaranya jauh. Agak kresek-kresek. Tapi jelas itu suara Salsa.

Naya langsung diem sedetik, "Kak?"

'Naya?! Naya ini kamu?! Ya Allah Nay! Kau nih bikin Kakak khawatir aja.'

"Aku mau pulang ke Aceh kak, aku gak mau di sini." Air mata Naya langsung turun. Nggak bersuara. Bahunya naik turun. Ranti sampai menepuk-nepuk bahunya.

Naya akan menceritakan semuanya kepada Salsa namun, tiba-tiba...

TENG!

Naya mendengar suara lonceng menghantam kepalanya, genggaman tangan Naya ke HP itu langsung lepas. Naya meremas rambutnya kuat.

TENG!

"NAYA! NAY??!!" Teriak Ranti benar-benar kaget.

TENG!

Naya jatuh pingsan di atas kasur.

Ranti yang panik mengambil hpnya yang masih terhubung dengan Salsa.

"Sal, jemput aja adekmu! Udah jelas ada yang aneh di rumah makan itu!" Ranti dengan tegas mengatakan.

'Tapi aku aja baru buka toko, masa ku tinggal? Gak mikir kali.'

" Ini adekmu loh! Udah kurus dia di sini! Nyawanya hampir terancam Sal kemarin!" Tegas Ranti lagi.

'Gak bisa ku tinggal tokoku. Dia sendirilah pulang balik ke Aceh. Aku TF ongkos Naya ke kau aja.'

"Oke." Jawab Ranti.

'Aturlah.'

"Aman aja." Balas Ranti lalu panggilan telepon itu pun mati.

"Dikit-dikit pingsan. Apa enggak sakit kepala dia ya?" Tanya Ranti menepuk-nepuk pipi Naya.

"Nanti si Salsa TF aku." Ranti tersenyum lebar lalu meninggalkan Naya yang masih jatuh pingsan di kasur.

_

1 SETENGAH TAHUN LALU.

GUDANG RM DERMAWAN -

23:47 WIB

Lantai tanah basah. Bau kemenyan nyampur amis. Lampu bohlam 5 watt kuning, kedip-kedip. Bayangannya bikin tembok bata kayak gerak.

Di tengah ada bangku kayu pendek. Ember warna hitam penuh air kembang udah siap. Merah kentel. Melati, mawar, kenanga ngambang.

Rosa, 20 tahun. Daster putih lusuh. Tangan diiket ke belakang pake tali tambang. Mulut dilakban coklat sampe pipi ketarik. Lututnya lecet, jatuh pas diseret dari dapur. Mata melek lebar. Napas lewat hidung.

Dinda, 26 tahun. Mandor shift malem. Badannya lebih tinggi. Udah pake kebaya hitam polos. Sanggul kenceng. Tusuk konde perak nancep di rambut.

Dinda narik lengan Rosa. "Ayo, Sa. Lungguho."

Suaranya datar. Kayak nyuruh anak buah ngepel karna Rosa saat itu masih karyawan baru.

Rosa ngelawan. Kaki nendang tanah. Kepala geleng. Lakban bikin dia cuma bisa berteriak, "Mmmph! Mmmph!"

Tali tambang nggigit pergelangan. Kulit sobek. Darah netes.

Dinda nggak sabar. Dia dorong Rosa sampe jatuh. Dengkul Rosa jedug bangku kayu.

Rasa tulang mau patah. Rosa jerit ketahan. "MMMPHHH!"

Dinda jongkok. Ngambil centong kayu dari ember.

Byur...

" Banyu kembang, adus rogo ya..." Dinda membacakan mantra pertama, dan air kembang pertama nyiram kepala Rosa.

Dingin. Bau melati busuk. Kembang nyangkut di rambut, di alis. Air masuk idung. Rosa kelabakan, batuk, lakban bikin batuknya balik ke paru.

Dinda narik rambut Rosa, nadahin kepalanya ke ember. Mau nyelupin.

Byurrr...

"Utang dunyo, ben ra loro ya..."

Bacaan mantra kedua.

Rosa batuk terbahak-bahak jatuh ke lantai tanah, matanya buram melihat dekat kaki Dinda, ada pisau dapur. Gagang kayu. Terlihat sudah karatan.

Rosa ngos-ngosan. Air kembang netes melewati wajahnya.

Dinda melihat Rosa yang terlihat diam nampak memperhatikan sesuatu membuat Dinda langsung melihat kakinya, dan benar saja ada pisau.

Mata Rosa yang sudah lihat lebih awal tadi. Rosa bergerak cepat, namun.. Dinda lebih cepet.

Dinda berjongkok, pisau itu diambil. Diarahin ke leher Rosa.

"Aku sing urip, kowe sing mati!" Teriak Dinda menatap marah.

Rosa beku sedetik saat pisau itu udah menempel di lehernya. Tekanan yang perlahan mengoyaknya.

Sreeet!

Dinda tanpa berpikir panjang menyayat leher Rosa namun sayangnya karena pisaunya terlalu tumpul, tak cukup untuk menyayat lebih dalam.

Perih. Panas. Darah langsung mancur, anget, ngalir ke dalem daster putih yang di pakai Rosa.

Rosa nggak bisa jerit. Cuma bisa "MMMGGGHH!!" Mata melotot. Badan kejang.

Darah masuk mulut lewat pinggir lakban. Asin. Anyir.

Dinda mengangkat pisaunya lagi. Mau nusuk dada Rosa agar mati sekalian.

Saat itu juga, Rosa menggila.

Tali tambang yang memang sudah kendor karna tangan Rosa yang terus berusaha lepas di belakang punggungnya meski rasanya sangat sakit saat menarik tangan kanannya dari sel tali tambang.

Kulitnya sobek, tapi tangan kanannya bebas.

Dinda kaget bukan main.

Sebelum pisau turun ke dada Rosa, Rosa menahan tangan Dinda yang megang pisau.

Terus Rosa gigit.

Kraak!

Gigi Rosa nancep ke daging antara jempol sama telunjuk Dinda. Dalem. Sampe kerasa tulang.

"AAAAGHH!!"

Dinda jerit. Teriakan manusia, bukan mandor. Pisau mental.

Jlangg!

Jatuh ke tanah, deket ember.

Dinda refleks narik tangan. Darah Dinda muncrat ke muka Rosa.

Rosa nggak lepas. Malah ngeludah darah Dinda. Mata Rosa udah bukan mata takut. Mata binatang yang sudah terjepit, dan melakukan segala cara untuk bertahan hidup.

Rosa pake tangan bebas nyobek lakban di mulutnya.

Breeet!

Kulit bibir ikut sobek. Tapi mulut bebas.

"AS*!!" Teriak emosi Rosa yang sudah dia tahan-tahan sedari kemarin.

Baru bisa ngomong. Suaranya serak, kecampur darah.

Dinda megangin tangan yang terluka. Darah netes ke kebaya hitam.

"GIAN TOLONG!!" Teriak Dinda sembari berjalan mundur, kakinya kesandung bangku kayu.

Gian tak datang, entah dimana Gian yang seharusnya ada di gudang juga.

Melihat Rosa yang bangkit, dan matanya terlihat berapi-api.

Bruk.

Dinda jatuh. Kebaya hitam ketarik, lengan robek.

Rosa nyambar pisau di tanah.

Tangannya gemetar. Darah dari leher masih ngocor, netes ke tanah.

TENG!

Suara lonceng di telinga Rosa namun Rosa yang pusing tidak perduli dan hanya memandang tajam Dinda.

Dinda liat pisau di tangan Rosa. Liat darah di leher Rosa.

"Sa... Sa ojo... aku... aku mandormu... aku sing mbok..." Dinda takut dan mulai goyah karna tatapan marah Rosa.

Rosa maju selangkah. Lututnya masih sakit.

TENG!

Suara lonceng mengganggu telinga Rosa lagi tepat di kepalanya. Namun keyakinan Rosa tidak goyah, Rosa malah semakin menggenggam pisau di tangannya, daster putih sudah menjadi merah semua. Saksi nyata bahwa dia hampir di bunuh oleh Dinda tadi.

"Mandor matamu anj!ng!" Teriak Rosa mengangkat pisaunya ke atas lalu mengayunkannya.

Jleb.

Rosa menusuk.

Pisau dapur gagang kayu nancep sampe setengah di perut Dinda.

Dinda kaget. Nggak jerit. Cuma "Hek."

Matanya ngeliat ke bawah. Ngeliat gagang kayu di kebaya hitamnya. Ngeliat tangan Rosa yang masih menusukkan pisaunya lebih dalam.

Darah Dinda langsung ngerembes, item, kentel. Beda sama darah Rosa. Lebih kentel. Lebih amis.

Dinda jatuh ke samping. Kejang-kejang. Tangan meluk perut. Kebaya hitam sudah basah darah. Rosa menarik pisau yang tertancap di perut Dinda, dan pergi

Rosa meninggalkan tubuh Dinda yang ada di kamar mandi. Tangannya sudah berdarah menggenggam pisau siap membunuh siapa saja yang akan menghalangi langkahnya keluar dari gudang belakang rumah makan.

Langkah Rosa terhenti begitu melihat Gian berdiri tepat di pintu gudang.

Rosa mengarahkan pisaunya ke Gian.

"Buka pintunya, Gian. Atau gue bunuh lo sekarang!!" Teriak Rosa.

Gian malah berjalan mendekat, terlihat tak gentar dengan ancaman Rosa.

"Aku tau kamu bunuh, Dinda. Tapi aku enggak halangin itu." Balas Gian terdengar lembut membuat Rosa menjatuhkan pisaunya ke lantai gudang.

"Ikut denganku, Sa. Hidupmu akan berubah, kayak aku." Bisik Gian di telinganya.

_

Rosa kebangun dari flashbacknya. Keringet dingin. Tangannya megang leher namun bekas sayatan di lehernya sudah hilang, kuku tangan, dan kakinya sudah kembali normal tidak menghitam.

Rosa melihat ke meja dimana kebaya hitam sudah dilipat rapi. Kebaya hitam yang semalam dia pakai untuk menumbalkan Abel.

"Aku yang udah memilih takdir ini, menjadi manusia berjiwa iblis."

1
Sarah
Ngakak 😂
Sarah
Suasananya beneran hangat dan akrab banget yah? Biasanya kan seri horor atau thriller selalu ngasih suasana yang udah mencurigakan dan lingkungan orang-orang di sekitar yang sepi, individualis, dll. Tapi ini enggak, jadi makin serem karena yang terlihat aman ternyata ada sesuatu dibaliknya. Apalagi kalau terjadi di dunia nyata. 💀
Menarik sih, kalau ada waktu aku akan lanjut. 👍
Semangattt. 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!