NovelToon NovelToon
TRAPPED

TRAPPED

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / One Night Stand / Single Mom / Pengantin Pengganti / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:125
Nilai: 5
Nama Author: Ann Rhea

Luz terperangkap dalam pernikahan kontrak yang penuh rahasia dan tekanan keluarga. Kehamilannya yang tak pasti membuatnya harus menghadapi kenyataan pahit seorang diri, sementara Zaren, ayah bayinya, pergi meninggalkannya tanpa penjelasan. Dalam kekacauan itu, Luz berjuang dengan amarah dan keberanian yang tak pernah padam.

Karel, yang awalnya hidup normal dan mencintai wanita, kini harus menghadapi orientasi dan hati yang terluka setelah kehilangan. Hubungannya dengan James penuh rahasia dan pengkhianatan, sementara Mireya, sahabat Luz, menjadi korban kebohongan yang menghancurkan. Di tengah semua itu, hubungan mereka semakin rumit dan penuh konflik.

Di balik rahasia dan pengkhianatan, Luz berdiri teguh. Ia tidak hanya bertahan, tapi melawan dengan caranya sendiri, mencari kebebasan dalam kegelapan yang membelenggunya. Trapped adalah kisah tentang perjuangan, keberanian, dan harapan di tengah gelapnya kehidupan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ann Rhea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HURT

Di saat Karel sudah berjalan lebih dahulu ke mobil. Luz malah berdiri mematung. “Kenapa? Ayo pulang, mau semobil sama gue?”

Setelah membujuknya dengan ribuan kata, akhirnya Luz mau kembali dulu dan nanti akan Karel sendiri yang antarkan dia ke Bandung.

“Gue sama Haikal aja. Kita gak boleh satu mobil, setidaknya kalau salah satunya kecelakaan kita gak akan mati bareng,”

ucapnya datar lalu masuk ke dalam mobil.

Meninggalkan banyak tanya bagi Karel.

Apa maksud dari setiap kata yang dia ucapkan?

Mengapa rasanya seperti sebuah isyarat dari hatinya. Yang membuat Karel keberatan melangkah dan berpikir sepanjang jalan.

Hingga tak terasa sudah sampai di apartemen. Lagi dan lagi dia bersikap tidak kayak biasanya. Ngejar Karel gak pake rem, bawel dan suka main nyosor gitu aja.

Kayak ada yang hilang, mirip robot habis baterai, auto lemot.

“Gue gamau tinggal serumah sama lo untuk sementara waktu. Gue butuh tempat baru dan lebih aman, gak seorang pun yang tahu selain lo, dengan keamanan yang super tinggi.”

Dahi Karel mengerut. “Ada yang salah sama rumah gue? Sempit? Kurang lebar?”

“Harusnya lo seneng, karna gue akhirnya mau pisah rumah sama lo,” katanya cetus dengan wajah jutek.

Karel berpikir sejenak. “Banyak sih tinggal lo maunya gimana? Mau beda bangunan atau satu bangunan?”

“Kalau bisa beda, gue tempatin di tempat lain aja. Gapapa. Setidaknya kalo ada bencana, kita gak akan terluka secara bersamaan.”

“Tunggu.” Langkah Karel terhenti. “Sama sekali gak ngerti, ada apa?”

Luz memencet lift menuju ke lantai tempat tinggal sebelumnya. Ia melangkah masuk di susul Karel. “Kita emang harus pisah rumah demi kenyamanan masing-masing.”

“Enggak, ini gak beres. Lo pundung? Atau gimana....”

Lift pun naik, tubuh Luz hampir goyah, ia refleksi memegang erat tangan Karel. Telapak tangannya dingin, hingga membuat Karel khawatir. Pas mau di lepas pun malah Karel pegang lagi.

“Gapapa pegangan aja.” Tak di sangka, Karel merangkul pinggang Luz agar keseimbangannya tetap terjadi. Sial, jantung Luz jadi berdebar, nafasnya memburu, tenggorokannya kering dan linglung seketika.

“Gue harus segera hapus perasaan ini,” batin Luz, ia meremas ujung bajunya kuat-kuat dengan wajah memerah.

Hingga akhirnya lift berhenti dan pintu terbuka. Luz berjalan lebih dahulu, lututnya lemah dan ia tidak bisa menyembunyikan perasaan gelisah. Sampe ketara banget ada yang dia rasakan tapi berusaha di sembunyikan.

“Oke gue punya penginapan lain yang bisa lo tempatin.” Karel meraih tangan Luz. “Tapi gue gak sebajingan itu ngebiarin lo sendirian dengan perasaan yang lo sendiri gak ngerti.”

Luz terkekeh. “Ya gue mau minta maaf aja, udah bikin lo sama James berantem. Sorry ya? Gue beneran gak bermaksud apapun. Cuman ngetes, ternyata dia secinta itu cuman gue mau ngingetin kalo itu gak menjamin lo jadi satu-satunya yang dia punya. Pada dasarnya manusia itu gak akan pernah ngerasa cukup tau.”

Kenapa rasanya aneh? Karel merasa kehilangan Luz yang aneh itu. Ada apa sih?

Dateng ke ruangan apartment, malah langsung berkemas. “Sekarang kita hidup masing-masing aja ya. Gue bawa barang yang perlu dulu, sisanya nyusul.”

“Lo mau kemana?” Karel meratapi punggung Luz yang menjauh.

Dia pergi begitu saja tidak menjawab kemana tujuannya sekarang. Bahkan saat menelepon Haikal, Luz meminta untuk tidak mengikutinya sebelum di minta.

--✿✿✿--

Luz butuh ketenangan batin, menjauhi Karel adalah pilihan terbaik agar ia tidak jatuh cinta padanya semakin jauh. Entah kenapa dia dengan mudah, menggunakan senyumnya mencuri hati Luz seketika.

Pikiran Luz tidak bisa di alihkan begitu saja, ia terus memikirkan Karel sepanjang hari sampai mumet. Di perjalanan tadi naik taksi, bahkan sampai ia melakukan transaksi menyewa apartment. Sekalipun tidak terlewat memikirkannya.

Sesampainya di rumah baru yang akan Luz tempati. Ia sudah mengatur pola, bahkan sandi yang kuat dan sulit. Luz melempar tasnya dan melepas sepatu bahkan pakaian dalam dan merebahkan dirinya terlentang. Semakin Karel sering muncul, semakin tersengal-sengal nafas Luz sekarang.

Dering handphone terus menerus datang. Ia tidak ingin menjawab chat siapapun, jadi mending matiin handphone. Menghilang sejenak dari semua sosial media. Luz ingin mengisolasi dirinya dengan menikmati waktu sendiri. Padahal ia cuman pengen jauh dari Karel dan mengubur perasannya, terus biar bisa jauh dari James.

“Gue bukan sembunyi dari lo, gue sembunyi dari rasa gue sendiri.” Luz berdiri di jendela, meminum susu dan duduk membaca buku paduan pola asuh anak.

Luz juga belajar banyak hal sendirian. Termasuk mencari nama yang cocok untuknya nanti. Sesekali ia akan datang ke tempat tinggal Karel, hanya untuk melihatnya baik-baik saja. Kadang rindu suasana rumah itu, aroma khasnya dan pemandangannya. Padahal baru saja sehari pergi.

--✿✿✿--

Rumah ini tanpa Luz rasanya kosong. Seperti ada yang kurang, harusnya Karel seneng, tapi terasa ia kehilangan suara di hidupnya. Dia memang menyeramkan, tapi suaranya seperti nyanyian yang indah. Mengetuk ruangan kosong menjadi hangat tanpa Karel sadari. Dia memang tidak mengisi hati Karel, tapi telah mengisi hari-harinya yang sunyi dan kesepian.

Suara tawa, tingkah aneh. Permintaan di luar batas. Karel... benar-benar kesepian. Mana dia menghilang begitu saja. Saat Karel tengah duduk diam, tidak bergairah bekerja karna adiknya hilang. Elena melakukan panggilan suara, dimana dua minggu sebelum hari perkiraan lahir, Luz akan ke Washington.

“Kapan Mama berhubungan sama dia?” Karel berdiri, terkejut dan senang.

“Barusan, dia abis jawab pesan Mama. Jadi kamu anterin ya nanti, jangan lupa nyusul kalau udah free,” katanya di iringi kekehan hangat. “Mama denger mau ngadain gender reveal ya? Seru pasti, tapi Mama gak bisa hadir.”

“Gapapa Ma, jaga kesehatan aja ya.”

Tapi bohong. Saat hari gender reveal di adakan, tepatnya 3 hari setelah itu, Elena datang memberikan kejutan. Di saat hati Karel sudah di porak-porandakan karna di tinggal satu persatu orang di sisinya.

Mana undangan acara itu datang, dimana dirinya bukan sebagai keluarga inti melainkan seperti orang asing. Itu yang bikin Karel kepikiran kalau dirinya tidak bisa di tepati.

Acara itu berjalan dengan lancar. Balon berwarna hitam di lepas ke udara. Penuh canda dan tawa. Devan si paling heboh disana. Dia menyempatkan diri datang mewakili keluarganya yang semuanya tidak bisa hadir. Cuman ada yang aneh, Luz lebih kalem apa emang energinya habis?

Karel memberanikan diri bertanya. “Kasih tau gue, dimana sekarang lo tinggal? Ada mama, kalo kita gak serumah bisa di tanyain,” bisiknya khawatir.

Luz masih belum sepenuhnya melepaskan perasaan yang baru muncul itu tapi ia akan berusaha. Sampai Karel biasa saja lagi seperti di awal. “Alamatnya udah gue kirim,” ucapnya datar lalu menutup handphone usai mengirimkan alamat.

Tak lama dering handphone Karel berbunyi. Di cek benar, tahunya tidak jauh dari kantor. “Gue telepon semua resepsionis kok gak ada yang tau?”

“Sengaja, demi privasi. Kalo malam ini gue nginep di rumah lo emang gapapa?”

“Ya gapapakan lo istri gue juga.”

Sudut bibir Luz berkedut. Kenapa kata-kata Karel semanis madu? Pipi Luz jadi merona.

“Cuman boongan.”

“Ahaha tumben pasrah gitu biasanya galak.”

“Kangen ya?” tanya Luz.

Enteng banget Karel mengangguk. “Iya, Dek.”

Jangan bilang ini halusinasi Luz? Karna kepalanya langsung oleng. Untungnya Karel sigap menahan. Makin gila Luz kalau begini mah, Karel cakep amat makin hari. Tolong siapapun bikin Luz sadar, Karel gak normal.

Biar gak keliatan gugup banget di depan semua orang.

Luz berbisik dengan nada khasnya. “Kan kalo gue ganas lagi, lo takut?”

Merinding sebadan-badan, Karel langsung menjauh. “Ih selametin hamba ya Tuhan.”

Luz tertawa. “Hu gitu aja takut.”

“Icikiwir, mau punya anak bujang lu!” ledek Devan yang bawa makanan banyak. “Oh ya katanya mau ke Bandung?”

“Ntar sore, nebeng ye. Mau kangen-kangenan sama mama,” kata Luz di iringi cengiran.

Devan mengacungkan jempol dan mengusap kepala Luz. Namanya ke adik sendiri ya sayanglah. “Sehat-sehat aja ya lancar semuanya. Gue mau cari janda dulu.”

“Janda mulu lu pikirin. Noh temen gue bening gak mau lu godain?”

Devan melirik sekitar. “Yang mana? Bingung gue, bening semuanya. Cailah madep.”

“Dasar mata keranjang.”

--✿✿✿--

Selesai acara, Luz sudah berpamitan untuk ikut pulang bersama Devan. Entah kenapa pengen banget pulang cepet-cepet. Elena menyayangkan kepulangannya, tapi nyuruh jangan lama dan harus istirahat jangan melakukan perjalanan jauh terus.

“Iya Ma gak lama, cuman mau jenguk mama disana abis itu ikut Mama,” kata Luz lalu berpelukan dengan Elena.

Elena mengelus pipi Luz dengan pelan dan perutnya. “Gih jaga diri baik-baik ya. Selamat sampai tujuan. Karel anterin gih, jangan maen hape terus.”

Karel tersadar, usia membalas kerjaan dan James. “Duh kayaknya gak bisa Ma, aku ada urusan.”

“Gapapa kok, aku udah sama kakak juga, jadi duluan ya Ma.” Luz kembali berpelukan dan lanjut pergi bersama Devan.

Di jalan mereka berbincang kalau Devan mendengar Minawari dan Erwin sempat bertengkar beberapa hari yang lalu. Terus Minawari mulai mogok makan paling dikit.

“Gue takut Kak.” Luz meremas jemarinya, perasannya tidak enak.

Devan meliriknya heran. “Ada apa? Lo tau sesuatu?”

Luz mengangguk, matanya mulai berair. “Gue rasa ini masalah yang sama. Ayah punya keluarga lain dari istri keduanya.”

“What?!” Devan hampir mengerem mendadak. “Speechless kok bisa? Lu tau dark mana?”

Luz menelan ludahnya sendiri. “Ya gue tau karna gue kenal orang-orangnya juga. Tapi gue diem gamau bikin mama sedih kalo emang ayah masih perlakukan mama. Bingung Kak maafin gue jangan marah. Situasinya kacau, rumit dan susah di cerna. Gue mau keluarga kita utuh, terus akur. Tapi gue juga sedih mama di boongin, gue rasa mama udah tau juga.”

Oke Devan mengerti. Ia mengelus baju Luz, untuk tidak bertindak kasar. “Jangan banyak pikiran, inget lu lagi hamil. Bentar lagi jadi ibu, harus sehat.”

Saat berhenti di lampu merah. Bebingah menelepon ke Devan. Devan sambungkan ke earphone. “Napa Bi? Nitip oleh-oleh? Kagak ada, nih bocahnya sekalian aja gue bawa balik, buat oleh-oleh.”

“B-bukan, Mas. I-ibu meninggal.”

Semula Devan yang santai dan adem, tiba-tiba berubah sangat. “Kok bisa?!”

“Ya bisa, Mas, kan kita manusia. Bisa—“

“Bukan itu anjir gimana ceritanya? Emak gue itu jangan ngadi-ngadi sia kalo ngomong. Yang bener ah kocak.”

“Serius, Ibu lagi tidur siang tadi ngantuk katanya pas saya bangunin buat minum obat. Udah goyang semua dan saya panggil tetangga, ternyata Ibu udah gak ada.”

...--To Be Continued--

...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!