Season 1
Pelangi adalah gadis cantik yang pernah mengalami kepahitan hidup karena perceraian orang tuanya.
Saat ia bertemu Bintang yang bernasib sama dan sering dijadikan bahan olok olok teman temannya karena perceraian kedua orangtuanya menumbuhkan simpati di hatinya.
Rasa simpati itu lambat laun berubah jadi sayang.
Bintang yang merasakan kasih sayang Pelangi berharap Pelangi bisa menjadi ibunya.
Akankah harapan Bintang terwujud?
Season 2
Bintang dan Pink kini telah dewasa. Bintang yang tumbuh besar bersama Pink, sangat menyayanginya.
Akankah Bintang tetap menganggap Pink sebagai adiknya ataukah perasaannya berubah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dwi Rohyati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jadilah Wanitaku!
Siang itu setelah jam sekolah berkahir, Anggi sedang di kelas merapikan barang-barangnya ketika seseorang mendatanginya.
"Terlambat datang ya? Apa karena menunggui kekasih hati yang sedang sakit?"
Anggi kaget karena Reza tiba-tiba sudah berdiri di pintu kelasnya. Ia lalu mempercepat kegiatannya.
"Kenapa terburu-buru? Apa karena sudah rindu?" kembali Reza berkata. Kali ini ia berkata sambil melangkah masuk mendekati Anggi.
"Maaf, ada perlu apa ya Bapak datang ke kelas saya?" tanya Anggi basa basi.
"Apa kau tidak ingin mengetahui sebenarnya apa yang terjadi dengan Langit?"
Anggi diam saja meski sebenarnya ia juga penasaran.
"Melihat karaktermu kau tidak mungkin akan bertanya. Baiklah, aku beritahu saja. Perusahaan Langit diambang kehancuran!" kata Reza dengan nada mengejek.
Anggi kaget. Ia jadi ingat cerita Embun tentang hal yang terjadi 2 tahun yang lalu.
Apakah rekan bisnisnya kembali menyerangnya batin Anggi.
"Apa jika ia bangkrut kau masih akan perhatian padanya? " tanya Reza lagi.
"Apa maksud Bapak? "
Reza tertawa mengejek.
"Kau pikir aku tidak tahu tentang kau dan Langit? "
"Tidak ada apa apa antara aku dan Langit. Permisi Pak saya mau pulang" kata Anggi. Karena ia sudah selesai merapikan barangnya, ia bermaksud meninggalkan kelasnya.
"Kau bisa menyelamatkannya kalau kau mau. " Reza berteriak saat Anggi sudah sampai di pintu kelas. Anggi berhenti sejenak.
Apa maksud Pak Reza.
Lalu ia melanjutkan langkahnya meninggalkan kelasnya.
Reza masih di kelas Anggi. Ia lalu duduk di kursi Anggi.
"Apa yang kau lakukan pada Langit? " kata Mila tiba-tiba. Ia tadi mencuri dengar percakapan Anggi dan Reza.
Reza meliriknya.
"Bukan urusanmu. Dan kau ingat, jangan coba coba menceritakan semuanya pada Anggi, atau keluargamu akan hancur juga" jawab Reza. Ia lalu berdiri meninggalkan Mila.
Mila mengepalkan tangannya menahan marah. Ia ingin menyampaikan pada Anggi bahwa semua yang terjadi pada Langit ada hubungannya dengan Reza. Namun ia tidak punya keberanian karena Reza pasti akan melukai keluarganya.
Sayang sekali. Fisiknya yang sempurna jadi tercela karena perbuatan jahatnya, kata Mila dalam hatinya.
"Tunggu, aku ingin menyerahkan ini. " Mila menyodorkan sebuah surat.
Reza menerimanya dengan penuh tanda tanya.
"Itu surat pengunduran diriku. Seterusnya aku tidak akan mengganggumu. Jadi tolong jangan lukai keluargaku!" Mila berlalu dari hadapan Reza.
...********...
Anggi sudah sampai di paviliun. Ia membersihkan diri dan melakukan sholat ashar.
Bagaimana keadaannya sekarang?
Ting
Anggi mendengar ponselnya berbunyi.
Apa kau sudah memikirkan perkataanku tadi
Anggi membaca pesan dari Reza. Mereka lalu saling berbalas pesan.
^^^Aku bukan pengusaha. Bagaimana aku bisa membantunya^^^
Itu mudah, kau cukup menyetujui persyaratan ku. maka semuanya akan beres.
^^^Aku tidak mengerti?^^^
Kalau kau ingin mengerti, datanglah nanti malam di cafe Prince.
^^^Maaf saya tidak bisa. Jika Bapak berniat baik, kita bicarakan saja sekarang^^^
Lama Anggi menunggu namun tidak ada balasan.
Sementara di tempat lain Reza mengepalkan tangan dengan geram.
Susah sekali membuatmu tunduk heh.
Ia kemudian membalas pesan Anggi.
Anggi sudah akan menaruh ponselnya ketika ponselnya berkedip.
Jadilah wanitaku dan aku akan menolong Langit.
Mata Anggi membola sakit kagetnya membaca pesan dari Reza.
Apa apaan. Menjadi wanitanya, apa maksudnya?
Ia menaruh ponselnya. Lalu ia melangkah ke teras paviliun. Ia duduk di bangku teras.
Anggi ingat cerita Embun. Berbagai pertanyaan muncul di benaknya.
Akankah hal yang sama terulang lagi? Tidak, aku tidak akan mengambil langkah yang sama dengan Embun. Aku pasti bisa menolong Langit dengan cara lain. Itupun kalau memang Langit butuh pertolongan ku. Aku tidak akan membiarkan Reza mengambil keuntungan dari masalah ini.
🍃🍃🍃🍃
Langit bangun dari tidurnya. Saat matanya terbuka, ja tidak mendapati seorangpun disisinya.
Lalu ia mengambil ponselnya mengecek pesan yang masuk serta email yang ia terima.
Ia membaca email dari Toni yang melaporkan keadaan perusahaannya. Sedangkan di ponselnya Toni mengirim pesan menanyakan keberadaannya. Ia juga memeriksa panggilan yang masuk. Toni menelponnya berulang kali.
Toni pasti sangat cemas memikirkanku.
Langit lalu mengetik pesan mengabarkan bahwa dia ada di rumah mamanya. Ia juga berpesan agar Toni tidak mencemaskannya. Dia mengirim pesan itu. Saat ia ingin kembali tidur, pintu kamarnya ada yang membuka.
"Kau sudah bangun? " Bima datang sambil membawa nampan berisi makanan di tangannya.
"Kenapa kau yang mengantar makanan? " tanya Langit heran melihat seorang dokter mengantar makanan.
"Untuk pasien spesial ya harus ada pelayanan yang spesial. " jawab Bima bercanda. "Tadi saat kesini aku berpapasan dengan perawat yang akan mengantar makananmu di depan pintu situ, jadi ya aku ambil saja. Sekalian ku bawa masuk. " lanjutnya.
"Nih, makanlah.! " Bima lalu menaruh makanan itu di atas meja kecil, dan meletakan meja kecil itu di hadapan Langit.
Langit memasukan makanan itu perlahan ke mulutnya.
Bima memandangnya dengan iba.
Merasa dirinya ditatap dengan tatapan iba, Langit berkata.
"Kondisiku mengenaskan, ya? Sakit dan terbaring sendiri di rumah sakit tanpa ada yang menjaga. "
"Makanya, cepat nikah. biar ada yang merawat. "
"Eh nasehati orang. Kayak situ sudah nikah saja. '
balas Langit masih sambil makan.
" Kalau aku beda. Ini pilihanku."
"Maksudmu, kau memilih melajang seumur hidupmu? "
Bima hanya mengangkat bahu menanggapi pertanyaan Langit.
"Ngomong ngomong, gadis yang bersama mama Senja kemarin siapa? "
"Kenapa? Kau tertarik? "
"Sedikit." jawab Bima sambil tersenyum.
"Jangan macam macam. Dia sudah ada yang melamar, "
"Ya... hancurlah harapanku. " kelakar Bima. "Eh beneran ia sudah dilamar orang? "
Langit mengangguk.
"Kok kamu bisa tahu? "
"Ya tahulah, kan aku yang melamarnya. " Langit menjawab tanpa ekspresi. Ia masih saja makan.
Bima kaget. Ia ingin bertanya lagi namun ketukan di pintu mengurungkan niatnya.
"Assalamualaikum! " pintu terbuka dan nampak Anggi masuk bersama Pink dan Bintang.
"Papa! " kedua anak itu langsung menghambur ke arah Langit.
"Eit tunggu papa beresin makanan ini dulu. " ia mengangkat meja kecil berisi makanan yang belum habis ia makan. Menatap Bima mengisyaratkan ia butuh bantuan memindahkannya. Namun Bima pura pura tidak tahu dan ia malah pamit keluar kamar dengan alasan masih ada jadwal praktek.
Alhasil, Anggi yang mendekat dan membantunya menaruh meja dan makanan itu ke tempat lain.
"Kok nggak dihabisin? " Anggi bertanya melihat makanannya masih tersisa cukup banyak.
"Nanti aku makan lagi. Dikit dikit dulu kalau langsung banyak perutku masih nggak enak. "
"Tadi anak anak merengek minta diantar jenguk kamu, jadi aku antar ke sini. "
Langit tersenyum, "Makasih.'
" Papa kok bisa sakit sih? " Bintang bertanya.
"Iya, papa lama nggak pulang. Pulang pulang sakit. " kata Pink. Ia memeluk lengan kanan Langit.
Langit lalu melingkarkan tangan kanannya memeluk kedua anaknya.
" Papa hanya kecapekan.. bentar lagi juga membaik. " katanya sambil mengusap rambut kedua anaknya bergantian.
Mereka terus bercakap cakap melepas kerinduan ayah dan anak.
"Kak kita ke sana yuk! " Pink tiba tiba mengajak Bintang sambil menunjuk ke arah balkon kamar Langit.
"Ayuk." jawab Bintang.
"Kalian mau kemana? " tanya Anggi.
"Mau ke sana tante, mau lihat pemandangan dari atas. " jawab Pink.
Sepeninggal mereka, Anggi ingin menanyakan sesuatu kepada Langit., namun ia ragu ragu.
"Kalau ada yang mau ditanyakan, tanyakan saja. nggak usah dipendam, nanti jerawatan lho, " kata Langit sedikit menggoda Anggi.
"Tapi jangan tersinggung, ya! "
"Ok.. tanyalah! "
"Aku dengar dari Pak Reza, perusahaanmu sedang dalam masalah. Apa itu benar? "
Langit tersenyum.
Reza. Dia tahu. Mungkinkah dia ada hubungannya dengan masalah yang dialami perusahaan ku.
"Begitulah." jawab Langit.
"Apa masalahnya sangat serius? "
"Cukup serius. "
"Langit, kalau kau butuh bantuan ku.. aku bisa membantumu. Kau ingat sepupuku kan. Mungkin dia bisa membantumu. " kata Anggi menawarkan bantuan.
"Baiklah. Sebenarnya tujuan awal aku pulang adalah untuk membicarakan hal ini denganmu. Tapi siapa sangka aku malah sakit. "
"Membicarakan denganku, maksudmu? "
"Begini, ada pengusaha senior yang sanggup membantuku namun ia memberi syarat aku harus menikahi putrinya. Menurutmu bagaimana? "
Anggi bingung ditanya begitu. Ia diam tidak menjawab. Hatinya mendadak sedih.
"Pelangi, aku tanya sekali lagi. Jika aku melamarmu ke ayahmu, apakah kau akan menerimaku? Jawablah! Jawabanmu itu akan membantuku membuat keputusan soal tawaran pengusaha tadi. "
Anggi diam.. jika ia menjadi istri Langit maka akan banyak kesempatan untuk membantunya. Ia punya warisan dari kakeknya yang saat ini dikelola oleh Wahyu. Dan ayahnya, Anggi tahu ayahnya sangat menyayanginya, pasti akan mau membantu.
Anggi mengangguk. Wajahnya merah sekali. Menerima lamaran Langit seperti ini membuatnya sangat malu.
Langit tersenyum senang. Ingin sekali ia memeluk sosok cantik yang berdiri agak jauh di depannya. Namun apa daya, gadis itu memiliki dinding transparan yang membuatnya tidak bisa menyentuhnya dengan mudah.
Bintang dan Pink yang sudah masuk ke kamar itu melihat papanya tersenyum sambil memandang Anggi. Mereka lalu bertanya.
"Papa kok senyum senyum? "
"Iya.. senyum senyum sendiri. Apa papa sudah nggak sakit? " tanya Bintang.
"Papa senyum karena papa bahagia. Sebentar lagi kalian akan punya mama baru. Bagaimana senang nggak? "
Anggi terkejut mendengar perkataan Langit yang to the point seperti itu.
"Senang donk Pa. Mama baru baik nggak pa? " kata Pink.
Sementara Bintang hanya diam. Ia takut jika mama barunya nanti seperti kata teman temannya. Ia hanya ingin Anggi lah yang jadi mamanya.
"Bintang kenapa diam? Bintang nggak suka? ' tanya Langit.
" Pa, kan Bintang pernah bilang ke papa. '
Langit ingat, Bintang pernah memintanya menikahi gurunya.
"Maafkan papa nak, papa nggak bisa memenuhi permintaanmu. " kata Langit dengan penuh penyesalan.
Mata Bintang berkaca kaca. Ia lalu lari ke luar kamar.
"Bintang! " panggil Langit.
"Biar aku susul. " kata Anggi cemas. Ia lalu pergi mengejar Bintang.
mngkin Amelia anak temannya mama senja