Musim semi tiba, tapi Xiao An hanya mengeluh. Di dunia kultivator perkasa, ia malah dapat "Sistem" penipu yang memberinya perkamen dan pensil arang—bukan ramuan OP! "Sistem scam!" gerutunya. Ia tak tahu, "sampah" ini akan mengubah takdir keluarga Lin yang bobrok dan kekaisaran di ambang kehancuran. Dia cuma ingin sarapan enak, tapi alam semesta punya rencana yang jauh lebih "artistik" dan... menguntungkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MishiSukki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Bahasa Para Dewa dan Pencerahan
Di tengah kekacauan Ibu Kota yang masih diselimuti asap kehancuran, seorang yang tampak seperti seorang pemuda sangat rupawan bergerak dengan kecepatan kilat. Wajahnya tegas, matanya memancarkan tekad membara, dan aura kepemimpinan yang kuat terpancar darinya. Dia bukan hanya berjalan, melainkan melesat, memimpin barisan.
Tepat di belakangnya, puluhan jenderal berjingkat, menjaga formasi ketat, langkah kaki mereka cepat dan mantap. Mereka semua bersenjata lengkap, siap tempur. Dan di belakang para jenderal, terhamparlah lautan manusia: barisan pasukan yang tak terhitung jumlahnya, bergerak seperti lebah yang mengerubungi sarangnya, disiplin dan bersemangat.
Mereka adalah legiun kekaisaran, diutus untuk misi penting.
Seluruh rombongan besar ini bergerak tanpa henti, meninggalkan reruntuhan istana di belakang mereka. Tujuan mereka jelas: menuju selatan perbatasan kekaisaran, menuju Prefektur Selatan. Kemarahan kaisar telah berubah menjadi perintah tegas, dan kini, kekuatan militer kekaisaran sedang bergerak menuju wilayah yang dulunya dikenal damai.
"Pengajar Kekaisaran, kita menuju perbatasan Cangwan untuk berteleportasi," seorang jenderal brewok berbicara pada pemuda tampan itu, suaranya berat namun penuh hormat.
Pemuda itu, yang kini diketahui sebagai Pengajar Kekaisaran, hanya memainkan kipasnya dengan anggun. Sebuah senyum tipis terukir di bibirnya, dan ia mengangguk pelan, menyetujui rencana itu. Tidak ada keraguan, hanya keyakinan mutlak pada setiap langkah yang diambil. Pasukan di belakang mereka terus bergerak, siap mengikuti ke mana pun Pengajar Kekaisaran memimpin.
Suatu siang yang cerah di bukit perkebunan, matahari bersinar hangat menyinari petak-petak hijau subur milik Xiao An. Setelah selesai menggembalakan sepasang dombanya—yang kini tampak lebih berisi berkat rumput bukit yang berlimpah—Xiao An duduk bersantai di bawah pohon, menikmati angin sepoi-sepoi.
Tak lama kemudian, sebuah sosok yang dikenalnya muncul di cakrawala. Itu adalah Lin Cheng, berjalan cepat dengan ekspresi serius di wajahnya. Di tangannya, Lin Cheng membawa sebuah gulungan perkamen yang familiar: halaman terakhir dari catatan kultivasi Xiao An.
Lin Cheng menyerahkan perkamen itu kepada Xiao An.
"Xiao An, ini tulisan apa?" tanyanya, dahinya berkerut kebingungan.
"Aku tak mengenali abjadnya sama sekali. Ini bukan aksara kekaisaran, bukan juga aksara kuno yang pernah Kakek ajarkan."
Xiao An melihat perkamen itu, lalu tersenyum lebar. Ia mengambilnya, dan tawa kecilnya terdengar renyah di udara bukit.
"Oh, itu!" katanya. "Itu adalah huruf alfabet Latin dari tempat asalku."
Lin Cheng menatapnya penasaran. Xiao An kemudian mulai mengeja huruf-huruf itu satu per satu, jarinya menunjuk pada setiap bentuk di perkamen.
"Ini A," katanya, menunjuk huruf pertama.
"Ini B, C, D..." Dan begitu seterusnya, ia mengeja huruf A sampai Z, memperkenalkan Lin Cheng pada sistem tulisan yang sama sekali asing namun penuh misteri.
Lin Cheng mendengarkan penjelasan Xiao An tentang alfabet Latin dengan takjub luar biasa. Baginya, ini bukan sekadar tulisan asing. Dengan segala kekuatan luar biasa yang terpancar dari catatan kultivasi itu, Lin Cheng spontan berpikir ini adalah abjad dewa, sebuah sistem penulisan yang hanya bisa dimiliki oleh entitas agung.
Dan jika abjadnya adalah milik dewa, maka tulisan di lembar perkamen ini adalah kalimat dewa itu sendiri, instruksi langsung dari alam yang lebih tinggi.
Lin Cheng kini merasa takjub dan gemetar. Sebuah keagungan yang menakutkan, sekaligus harapan yang membakar, menyelimuti dirinya. Dia memandang Xiao An dengan mata penuh rasa hormat yang baru, menyadari bahwa sahabatnya ini mungkin jauh lebih misterius dari yang dia bayangkan.
Lin Cheng yang masih diliputi rasa takjub, menatap perkamen itu lagi, lalu beralih menatap Xiao An.
"Bagaimana... bagaimana cara membacanya?" tanyanya, suaranya nyaris berbisik.
"Apakah ini perlu ritual khusus? Atau... apa pun itu?"
Xiao An tersenyum, matanya memancarkan sedikit nostalgia yang hanya bisa ia pahami sendiri. Ia tidak melihat lagi ke perkamen. Seolah kata-kata itu sudah terukir di benaknya, ia mulai membacakan sebuah puisi klasik dengan intonasi yang lembut namun jelas, sebuah melodi kata-kata yang asing namun menenangkan bagi Lin Cheng:
"Mens sana in corpore sano," Xiao An mengeja dengan lantang, setiap suku kata diucapkan dengan presisi. Kemudian, ia menerjemahkannya dengan senyum tipis.
"Artinya, 'Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat'. Itu adalah salah satu pepatah paling mendasar dari tempat asalku. Intinya, kekuatan sejati tidak hanya berasal dari otot atau Qi, tapi dari keseimbangan antara tubuh dan pikiran."
Mendengar bait puisi "Mens sana in corpore sano" dan terjemahannya dari bibir Xiao An, Lin Cheng seperti kepalanya disambar petir. Bukan petir yang menyakitkan, melainkan sebuah pencerahan yang dahsyat.
Kesemutan seluruh tubuhnya hingga gemetar, sebuah sensasi yang luar biasa menjalari setiap sarafnya. Ia merasa seolah-olah sedang dibaptis oleh mantra agung dari tanah dewa surgawi itu, sebuah keagungan yang tak mampu ditanggung oleh tubuh fananya.
Pandangannya kosong, tubuhnya seperti tak lagi kuat menahan gelombang energi spiritual dan pemahaman yang tiba-tiba membanjirinya. Perlahan, tubuhnya merosot, dan dia roboh, bersimpuh dengan kedua lututnya di tanah.
Keringat deras tumbuh dari pori-pori rambut kepalanya, seperti mata air yang baru ditemukan, mulai membanjiri wajah dan tubuhnya. Lin Cheng gemetar hebat, bukan karena takut, melainkan karena getaran dari sebuah kebenaran universal yang baru saja ia rasakan hingga ke inti jiwanya.
Setiap kata demi kata puisi klasik itu, ketika dibacakan Xiao An untuknya, seolah memiliki kekuatan magis. Kata-kata itu tidak hanya masuk ke telinganya, tetapi juga melekat dan terpatri kuat dalam ingatannya, mengukir jejak yang tak terhapuskan di benaknya.
Lin Cheng tidak hanya mendengar, dia merasakan. Dia mendengar suara gema yang agung dari pikirannya, seolah langit berbicara di kepalanya, sebuah bisikan kebijaksanaan yang melampaui pemahaman manusia.
Dalam kondisi trans itu, Lin Cheng mulai membaca puisi klasik itu berulang-ulang dalam benaknya. Setiap pengulangan memperdalam pemahamannya, memperkuat koneksinya dengan makna di baliknya, dan mengisi dirinya dengan energi baru yang misterius. Keringat masih membanjiri wajahnya, namun kini bukan karena kelelahan, melainkan karena intensitas pengalaman spiritual yang ia alami.
Melihat Lin Cheng yang masih bersimpuh dan terlihat kelelahan dengan keringat membanjiri wajahnya, Mao Yu, dengan senyum usilnya, mulai berkelakar.
"Wah, kamu pasti capek dan kelelahan setelah keras berlatih, ya?" katanya sambil tertawa ringan.
"Sudah, biar aku buatkan mie lagi untuk mengisi tenagamu!"
Tanpa menunggu jawaban, dia berbalik dan berjalan santai menuju pondok. Lin Cheng masih di sana, lututnya menempel di tanah, pandangannya semakin kabur manakala sosok Xiao An—begitu akrab, begitu misterius—semakin jauh dari pandangannya, melangkah menuju pondoknya.
Kekuatan "mantra" yang dahsyat itu, ditambah dengan latihan kerasnya, akhirnya mengambil alih. Tubuhnya yang sudah mencapai batas, kini tak mampu lagi menahan. Dengan sebuah desahan terakhir, dia pingsan, rebah di tanah, tak sadarkan diri di bawah terik matahari siang.