NovelToon NovelToon
Pernikahan Perawan Tua

Pernikahan Perawan Tua

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Beda Usia / Wanita Karir / Diam-Diam Cinta / Dijodohkan Orang Tua / Berondong
Popularitas:30.3k
Nilai: 5
Nama Author: Franciarie

"Pantesan jadi perawan tua, kaku banget, sih!"

Komentar senada sudah menjadi makanan harian Prita. Tapi, Prita nggak punya energi lebih untuk membalas kata-kata jahat itu. Pada akhirnya, Prita selalu diam dan memahami bahwa memang kenyataan sepahit ini. Di usianya yang sudah 35 tahun, pernikahan masih terasa jauh dari bayangan. Jangankan menikah, pacar pun Prita nggak punya.

Tapi, permintaan ayahnya yang sedang sakit kanker, membuat Prita mulai memikirkan pernikahan. Haruskah dia menikah dengan sembarang orang demi melihat sang ayah bahagia di detik-detik terakhir hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Franciarie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tak Layak Dicintai Seindah Ini

"Mbak Prita, kita nikah, ya?" Leo membuang napas melalui mulut, tapi gelisahnya justru makin jelas.

Aku melongo saat mendengar kalimat Leo yang dilempar begitu saja. Aku berkedip cepat memandang lurus, tapi semuanya makin nyata. Leo sedang nggak bercanda.

Ayah yang baru saja pulang dari rumah sakit hari ini, menatap Leo dan aku bergantian. Ibu langsung berhenti membereskan nasi Cia yang berceceran. Tante Maya justru tampak paling antusias. Matanya berbinar seperti anak kecil yang mendengar kabar taman hiburan buka kembali.

Leo duduk di seberangku dengan senyum tenang. Tapi, tangan kanannya mengepal erat di meja. Aku tahu dia gugup. Selama kami semua makan tadi, dia hanya menyentuh makanannya sebentar, lalu kembali diam.

"Mbak Prita?" panggil Leo, suara bass-nya pelan, nyaris nggak terdengar.

Aku menatap piringku yang tinggal separuh. Lidahku kelu. Jantungku seperti lupa cara berdetak normal. Aku ingin menolak. Tapi, tubuhku memberontak untuk menolak. Lalu, entah apa yang merasukiku, aku bicara.

"Kita nikah ... asal Leo nggak keberatan dapet istri yang udah langganan masuk angin dan punya dua adik yang tiap malam rebutan siapa duluan yang mandi tiap pagi."

Sejenak, hening menyelimuti ruang makan. Lalu, Leo tertawa. Suara khasnya menggema, menyebar hangat seperti selimut tipis di pagi buta.

Tante Maya menepuk-nepuk tangannya. "Ya, Allah, akhirnya! Aku udah tunggu-tunggu momen ini sejak Prita kuliah, Lho, Na!"

Ibu langsung berdiri, menangkup pipiku dengan tangan lembutnya. "Mbak Prita, kamu yakin?" tanyanya, seakan sedang memastikan aku akan pergi jauh sendirian.

Aku mengangguk pelan, tapi pasti.

Ayah menatapku dalam. Nggak ada kalimat dari bibirnya, tapi matanya menyampaikan segalanya. Anggukan lemahnya menjelaskan persetujuan, dukungan, dan doa.

Malam itu, kami belum membicarakan detail pernikahan. Tapi, semuanya tahu bahwa keputusan telah dibuat.

Besoknya, udara pagi terasa lebih ringan dari biasanya. Setelah memastikan Tama dan Cia berangkat sekolah, aku duduk di ruang tengah sambil memeluk bantal sofa. Ibu dan Tante Maya sibuk di dapur, bergosip soal katering dan undangan. Sepertinya, mereka sudah merencanakan pesta pernikahan ini sejak sepuluh tahun lalu.

Hari pertama setelah lamaran itu terasa aneh. Aku masih belum terbiasa menyebut Leo sebagai pacar atau tunanganku, apalagi menyadari bahwa pesta pernikahan kami sudah mulai dibicarakan. Rasanya seperti ini hidup orang lain.

Tante Maya menjadi yang paling bersemangat. Pagi-pagi sekali, Tante Maya sudah mengirimkan pesan berisi ide lokasi pernikahan dan daftar wedding organizer yang dia kenal. Padahal, aku belum benar-benar mencerna apa yang sebenarnya terjadi semalam.

Leo muncul dengan jaket denim birunya dan rambut yang sedikit acak setelah membeli buah permintaan maminya. Dia kembali hadir di pagiku, berniat mengantarku bekerja seperti biasa. Tapi, yang mengejutkanku bukan penampilannya yang terlalu santai untuk berangkat kerja, melainkan kalimat pertamanya. "Mbak Prita, aku tahu kemarin itu bukan jawaban 'iya' yang sejujurnya."

Aku menoleh, menahan senyum. "Tapi, gue udah kasih jawaban."

Dia mengangguk. "Aku nggak butuh 'iya' yang sempurna. Aku cuma pengin tahu, apa Mbak Prita bahagia kalau sama aku."

Aku menggigit bibir. "Sejujurnya, gue belum tahu cara berhenti takut, Leo. Ada banyak ketakutan di kepala gue. Tapi, gue juga takut jauh dari lo." Aku menunduk malu, tapi nggak bisa berhenti bicara. "Dua hari kemarin, rasanya hampa banget tanpa bisa lihat lo."

"Berarti, kita tinggal belajar bareng." Leo duduk di sebelahku, nggak menyentuh, tapi cukup dekat hingga aroma parfumnya tercium.

Kami duduk diam selama beberapa detik sebelum suara Ibu dan Tante Maya yang ribut soal warna seragam pengantin membuyarkan momen.

"Baju pernikahannya jangan putih polos, ya! Prita cocoknya krem champagne!" Tante Maya terlihat paling bersemangat dalam mempersiapkan pernikahan ini.

"Maya, kamu masih ingat kan, Prita itu dulu pengen banget resepsi di taman? Kita bisa sewa tempatnya lagi, lho!"

Aku nggak tahu kalau Ibu juga bisa bersemangat banget untuk membuat pesta. Ingatanku melayang pada pembicaraan asal saat aku baru lulus kuliah dulu. Saat itu, Tante Maya memancingku bercerita tentang pernikahan impian.

Aku memang menginginkan pesta terbuka di taman. Aku ingin semua keluarga dan teman-teman dekatku hadir. Suasananya nggak perlu mewah, tapi harus hangat dan manis. Nggak perlu ada ritual yang melelahkan, yang penting semua orang bisa ikut bahagia.

Sayangnya, semua keinginan itu terlalu berlebihan untuk direncakanan sekarang. Aku sadar diri bahwa umurku nggak muda lagi. Aku nggak layak mendapatkan pesta yang terlalu mewah. Akad nikah sederhana pun sudah cukup untukku.

“Aku malu, Tante,” ucapku pelan saat akhirnya Tante Maya memandangku dengan senyuman. Kami duduk santai di ruang tamu sambil menyesap teh yang baru saja kuhidangkan. “Aku ini bukan gadis muda lagi. Kita nggak usahlah bikin pesta segala. Cukup akad sederhana, yang penting sah.”

Tante Maya memutar cangkir teh di tangannya, lalu menatapku lembut. “Prita Sayang, kamu ini wanita dewasa yang bertanggung jawab, tangguh, dan … sangat Tante sayangi. Apa kamu pikir anakku jatuh cinta sama sembarang orang?”

Aku tertawa kecil dan merasa canggung. “Bukan gitu, Tante. Aku cuma … merasa nggak pantas.”

Tante Maya mengibaskan tangannya. “Kamu pikir aku tega menikahkan anakku dengan cara diam-diam kayak orang yang lagi maling gitu? Itu koruptor yang jelas-jelas jahat dan berdosa aja nggak ada malunya. Kenapa kamu malah malu?” Tante Maya tersenyum hangat. “Nggak ada perempuan yang terlalu tua untuk dihargai. Kamu pantas diperlakukan istimewa, Sayang.”

Leo yang duduk di sebelahku, entah sejak kapan sudah bergeser begitu dekat, mengangguk mantap. “Iya, Mi. Mbak Prita itu pantas dapetin semua hal yang paling manis di dunia ini, termasuk pesta cantik.”

Aku menoleh, tapi Leo malah tersenyum, menatapku dalam. Aku beruntung Leo dan Tante Maya hadir di hidupku. Aku bersyukur merasa dicintai oleh mereka.

Ibu dan Tante Maya kembali heboh dengan rencana pesta pernikahan. Aku dan Leo saling pandang. Lalu, nyaris bersamaan, kami berkata, "Mereka lebih semangat dari kita."

Setelah sengaja kabur dari pembicaraan yang terlalu bersemangat tentang pernikahan, Leo mengantarku kerja. Mobilnya terasa semakin hangat. Ternyata, aku bisa rindu duduk di dalam mobil ini.

"Makasih udah nerima gue, Leo. Makasih udah mau mencintai gue dengan besar banget," ucapku sebelum mobil memasuki pelataran Hantex.

“Mbak Prita juga pantas dicintai seperti ini. Jadi, ayo kita buat pesta impian Mbak Prita. Kita buat keluarga yang bahagia nanti.” Tiba-tiba, Leo mendekat, lalu membungkuk pelan dan mengecup keningku dengan lembut.

Aku terdiam. Seluruh wajahku pasti sudah memerah sampai telinga. Aku, yang katanya dewasa dan tangguh ini, tapi malah seperti remaja baru jatuh cinta. Aku memegangi dadaku, seolah bisa menghentikan detak aneh yang berisik di sana.

Leo menatapku penuh harap, tapi ada sedikit tawa di matanya. “Kamu lucu banget, Mbak Prita. Mukanya merah semua.”

“Udah deh, jangan sok romantis,” gumamku malu-malu.

Beberapa hari setelah lamaran dadakan itu, kami mulai sibuk dengan berbagai persiapan. Tapi, Leo tetap jadi Leo, yang selalu memperhatikan hal kecil, selalu sigap membantu. Dia menjemputku, membawa payung saat hujan, bahkan mengantar makanan ke rumah saat tahu aku belum makan.

Suatu pagi, saat dia datang dengan rambut acak-acakan dan kemeja yang belum dikancingkan sempurna, aku spontan mengomel. “Leo! Rambut kamu kenapa kayak habis dikeroyok angin?”

Leo tertawa. “Mbak Prita marah karena aku jelek, ya?”

“Bukan jelek. Kamu mau ke mana coba tampil berantakan gini?”

Leo langsung berdiri tegap dan membetulkan kerahnya. “Siap, Mbak Prita! Demi kamu, aku siap tampil kayak pangeran tiap hari.”

Aku tertawa, tapi jauh di dalam hati, ada rasa hangat yang sulit dijelaskan. Aku sudah mulai nyaman memarahi Leo. Aku sudah mulai lupa bahwa aku pernah takut untuk jatuh cinta.

Kami mulai berjalan berdampingan, bukan karena kebetulan, tapi karena pilihan. Setiap langkahnya membuatku semakin yakin bahwa aku bisa belajar mencintai tanpa ketakutan lagi.

Tawa kami menyatu. Aku belum pernah sebahagia ini, bahkan saat dulu Raditya dan para mantanku menyatakan cinta.

Tiga hari kemudian, kami sibuk dengan urusan foto prewedding dan fitting baju. Leo tetap mengantar-jemputku seperti biasa ke tempat kerja dan ke mana pun aku mau. Tapi, sekarang setiap antarannya diiringi ciuman singkat di kening atau bisikan gombal yang membuat mukaku merah padam.

Di tengah-tengah semua kebahagiaan ini, aku lupa satu hal penting bahwa hidup selalu punya cara menguji kebahagiaan.

Saat kami sedang memilih desain undangan di ruang tamu, ponsel Leo bergetar. Namanya nggak muncul, hanya nomor nggak dikenal.

"Bentar, ya. Aku angkat sebentar." Leo berdiri sambil menggoyangkan ponselnya.

Aku mengangguk, kembali melihat pilihan huruf yang diajukan oleh vendor. Ada beberapa bentuk yang menarik perhatianku dan membuatku sulit memilih. Tapi, suara Leo dari teras membuatku menoleh.

"Iya, aku ngerti, tapi ini nggak bisa dibahas sekarang. Nanti aja kalau aku udah bisa ketemu langsung."

Nada bicaranya pelan, tapi tegang. Seolah sedang menahan sesuatu yang nggak ingin kudengar.

Aku mulai menebak-nebak pembicaraan Leo dengan orang itu arahnya ke mana. Tapi, pikiranku justru kusut dengan berbagai kemungiinan jelek.

Kenapa dia nggak bisa membahas sekarang? Apa karena ada aku? Kenapa kalau ada aku? Apa aku nggak boleh tahu apa yang akan mereka bicarakan? Memangnya kenapa kalau aku tahu?

Apa pembicaraan itu menyangkut rahasia perusahaan? Tapi, Leo sering menceritakan banyak hal tentang perusahaannya. Sedikit banyak, aku mulai tahu perusahaan Leo itu bergerak di bidang apa. Aku paham kalau Leo sedang sibuk membuat game online yang sudah dia impikan sejak dulu. Aku juga tahu kalau ide game ini sempat dicuri perusahaan lain, tapi Leo bergerak cepat menanganinya.

Lalu, rasahia apa yang nggak boleh aku ketahui sekarang?

Saat dia kembali, aku pura-pura nggak peduli. Tapi, hatiku mencatat semuanya.

Leo duduk lagi, senyum tipisnya kembali. "Tadi siapa?" tanyaku ringan, berusaha biasa.

"Rekan kerja lama," jawabnya singkat. "Nggak penting."

Tapi, sejak itu, aku tahu kalau ada hal yang belum Leo ceritakan. Mungkin saja itu bukan cuma soal kerjaan.

1
Shofia Hadi
tinggalin aja udah dari pada makan hati
Nurjannah Rajja
Iya ada orang yg suka banget bohong, ngutang juga alasannya bohong...tapi kok hidupnya tenang aja ya. Herann...
mimief
elah..otot
kalau lelah istirahat tinggalin
kalau mau bertahan,hajar orangnya. omongin ke leo apa yg mau dan ga mau
buat aku ga masuk diotak ku
yg mau nya sat set 🤣
mimief
mestinya Leo belajar jgn bawa kerjaan kerumah
rumah.. rumah
kerjaan yg ditempat kerja
dan..buat si mba ini. hati hati kadang temen curhat buka celah buat selingkuh
dan yg kau perbuat itu lebih parah dari dira
tutiana
gimana klo mba prita belajar sedikit2 ttg gaming,,, biar ga insecure terus2an
mimief
kau tau..apa yg lebih menyakitkan dari pada omongan,luka fisik yg ditimbulkan dr orang lain.
bukan.. bukan itu semua
yg paling menyakitkan adalah...kita tidak m
bisa memenuhi ekspektasi kita sendiri
itu sebabnya, berdamai lah sama diri sendiri
jangan tekan diri sendiri terlalu keras
ayooo...mulai sayangi diri sendiri
mimief
yah begitulah romantis nya berumah tangga
tapi prit...
kau juga harus belajar bisa mempertahankan diri
orang bertindak sesuai kita bertindak
hargai diri kita terlebih dahulu,MK orang akan segan kepada kita
ga perlu lah kita merasa rendah diri
kalau kita memandang diri kita rendah
maka orang lain akan mudah merendahkan kita
kapanpun, dimana pun
mimief
hiss mami omongan nya nyentil ginjal aku🤣🤣
mimief
wkwkwkwk
kok mami tau si
ihhh aku fans nya mami deh
mimief
ayolah prit
ga perlu kyk gitu banget
setiap orang punya passion masing-masing
kl mang Leo naksir Dira,udah lama mereka jadian
kan gak...
capr capein aj mikir yg gak gak
sryharty
Leo ini bener2 aneh,dulu aja ngejar2 Prita dan dia dulu yg mati2an bantu keluarga Prita
kenapa sekarang jadi berubah yah
apa gara2 ada cinta lama yg bakalan bersemi kembali bersama Dira
dan saat itu kamu bakalan menyesal leo
Franciarie: Anu, sejak sebelum nikah Dira juga udah ada. Itu Dira hadir di pernikahan Prita dan Leo, kok. Kira-kira kenapa Leo jadi berubah, yok? 🤭🤭🤭
total 1 replies
Siti Rofiatin
ceritanya bagus
Franciarie: Terima kasih, Kak ❤
total 1 replies
tutiana
susah kali jd mba prita ini,,,
kalo krisis kepercayaan diri melanda,,, auto nething terus bawaannya
tutiana: kan jd sakit sendiri ya Thor
total 2 replies
tutiana
astaga Thor jd nangis terus ini😭😭😭😭
tutiana
😭😭😭😭😭😭😭
tutiana
😭😭😭😭😭
tutiana
cerita mba prita ini membuat aq menangis di banyak bab 😭
tutiana
keep strong buat semua anak pertama,,,
wiwik
Jangan pesimis dong mbk Prit..Dira sm Leo cuma cocok d dunia bisnis klo prcintaan mbk Prita juara'y..smangatt yaaaa
wiwik
Ayo up Kak..makin pnasaran 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!