Dodik Aksara Bintara Bangga. Calon pewaris Maha Dewi Group yang mewarisi lebih dari sebagian saham di sana.
Suatu hari, Dodik mengetahui kebenaran orang tuanya yang tersembunyi selama bertahun-tahun. Karena marah, ia kabur dari rumah. Tanpa sengaja, ia tidur bersama seorang perempuan--
Ini hanya tidur! Tidur dalam artian sebenarnya, bukan khusus. Namun, warga desa malah memaksanya menikahi perempuan, yang tak lain adalah anak Pak RT.
Kehidupan Dodik berubah 180 derajat. Tinggal di desa, dikelilingi sapi, dan ibu mertua yang menyebalkan ....
Bagaimanakah kisah kehidupan Dodik selanjutnya?
Instagram: @citragtw_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Citra Gtw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Raja Tanpa Singgasana
“*Ada lima ekor sapi di kandang. Kamu harus memberikannya makan setiap pagi,” jawab Bu RT.
Dodik langsung bangun. “Apa maksud Ibu aku harus mencari rumput?!” serunya.
“Iya,” jawab Bu RT.
“Kenapa aku harus melakukan pekerjaan keras? Sepanjang hidupku, orang lainlah yang bekerja keras untuk keluargaku,” tolak Dodik.
“Kalau gitu pergilah ke keluargamu karena keluarga ini hanya berisi orang-orang yang bekerja keras!” Bu RT malah setuju.
“Apa Ibu pikir aku enggak bisa ngelakuin itu?” tantang Dodik.
“Kalau gitu pergilah!” Bu RT tidak peduli.
Dodik mengepalkan erat kedua tangannya. Kemudian langsung pergi ke kamar. Aku benar-benar akan pergi hari ini! serunya bertekad dalam hati*.
Dodik mengingat perkataannya kemarin. Sepanjang malam dia merutuki dirinya sendiri. Kini dia bahkan mengacak-acak keras rambutnya. Seharusnya aku enggak bilang gitu, rengeknya dalam hati.
Dodik menyesali perkataannya kemarin. Seharusnya dia tidak bertingkah seangkuh itu jika akhirnya kalah. Kini dia bahkan mengenakan kaus milik Pak RT yang dianggapnya polos, kusam, dan longgar—lebih tepatnya tidak layak.
Dodik memerhatikan dirinya dalam pantulan kaca. Dia benar-benar tidak terlihat tampan dengan penampilannya sekarang. Rasanya Dodik ingin menutup wajahnya rapat-rapat dan mengunci dirinya di ujung kamar. Sayangnya Dodik masih harus menjalankan kewajibannya sebagai menantu yang baik: mencari rumput untuk sapi.
Dodik pun keluar. Rupanya Citra sudah ada di depan rumah dengan mengenakan celana longgar dan kaus lusuh berlengan panjang. Sedangkan rambutnya tergelung tidak rapi. Melihat Citra seperti ini, Dodik tidak yakin kalau Citra adalah perempuan sama yang dilihatnya begitu cantik beberapa hari lalu.
“Apa kamu bisa mengendarai sepeda?” tanya Citra. Dia menunjuk sepeda motor tinggi berwarna merah milik Pak RT yang ada di sebelahnya.
“Kenapa?” sahut Dodik.
“Mungkin sepeda ini enggak sebagus milik orang-orang kaya seperti di sinetron, tapi sepeda ini yang paling bagus nomer dua kok, di desa ini. Kupikir kamu yang akan mengendarainya,” jelas Citra.
“Meski orang kaya bisa membeli apa pun, kenapa kami harus membeli barang tidak berguna?” sahut Dodik.
“Ba-barang tidak berguna?” Citra keheranan.
“Iyalah. Mengendarai sepeda itu capek, panas, polusi lagi. Kalau kami bisa duduk tenang di dalam mobil yang dingin dan tertutup polusi, kenapa kami harus menggunakan sepeda?” jelas Dodik.
“Oh … maksudmu kamu enggak bisa mengendarai sepeda?” simpul Citra.
“Kenapa aku mendengarnya sebagai ejekan?” sewot Dodik.
Kini Citra tersenyum jail. “Ya enggaklah. Mana berani istrimu yang lugu ini mengejekmu,” jawab Citra.
Dodik menyipitkan matanya. Dia tidak terlihat lugu dengan wajahnya sekarang. Dia benar-benar rubah betina.
“Karena kamu enggak bisa nyetir sepeda, jadi istrimu ini yang akan berada di depan, dan suamiku yang duduk di belakang,” tambah Citra.
“Enggak mau! Aku enggak mau naik sepeda mana pun!” tegas Dodik.
“Lalu apa kamu mau berjalan dengan memikul rumput seperti orang lainnya?” tanya Citra dengan berkedip-kedip dan memasang wajah imut.
Dibanding imut, Citra malah terlihat menyebalkan.
“Kalau gitu carilah mobil,” titah Dodik seperti raja tanpa singgasana.
“Lebar jalan bahkan tidak sampai semeter. Apalagi saat memasuki hutan, jangankan mobil, kita bahkan kesulitan melangkah,” sahut Citra.
Ah, sial! Kenapa semua begitu sulit di pedesaan? Sepertinya aku harus merombak seluruh hutan di sini dan mendirikan beberapa bangunan hotel, dumel Dodik dalam hati.
ga jelas2 ceritanya
pusing bacanya ceritanya TDK berkembang itu dan itu lagi di bolak balik