Menjadi kaki tangan mafia, tidak menyurutkan peran ganda Mark Robert kali ini.
Duda memiliki anak satu, cantik dan cerdas itu. Tiba-tiba mengejar cinta seorang sekretarisnya. Setelah kegagalan perasaan cintanya atau hanya sekedar tanggung jawab dulu. Apakah Mark akan benar-benar jatuh cinta dan di cintai? Mengingat latar belakang hitam dirinya bukan menyurutkan wanita tidak menyukainya, malah mereka berharap dapat di sentuh pria beranak satu itu.
Selamat membaca kisah tuan Mark Robert sahabatnya Rendi Anggara ya Kak.
Salam hangat dari Herti Bilkis😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herti Bilkis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana
Hai Kak, kasih bintang 5 kak, jangan lupa like, komen yang banyak kak, favoritkan dan vote, Tip juga kak, Selamat membaca kak. Oh iya gabung group chat aku Kak ya, Emot senyum.
Saat Naura dan Iyas tengah berbincang di ruang tamu, lain dengan Mark yang kini berada di kamar mandinya. Ia berendam di beadroom sembari memejamkan kedua matanya. Saat ia menenangkan dirinya memejamkan mata, ia teringat akan wajah sekretarisnya yang lain dari sebelumnya, Mark mengusap wajahnya ketika ia teringat akan sekretaris barunya itu.
"Apa yang sedang aku lakukan? Kenapa aku memikirkan dia gadis bodoh dan juga lemot itu!" gumam Mark mengusap wajahnya lalu duduk di dalam bedroom.
"Tapi dia memang cantik, bahkan sangat cantik!" Mark tersenyum.
Mark tersenyum ketika mengingat saat pertama ia melihat gadis itu keluar dari ruang ganti bersama Grace. Mark menyelesaikan aktivitas mandinya dan ia berdiri di depan cermin sembari tersenyum, mengingat sekretaris barunya itu yang terlihat konyol ketika berada dekat dengannya.
Setelah keluar dari kamar mandi, ia kini bergegas ke ruang ganti, namun Mark tidak menyadari bahwa dirinya mengambil ponselnya yang berada di atas tempat tidurnya, dengan handuk terlilit di pinggangny. Mark duduk di atas tempat tidurnya Iya menopang kakinya dengan sebelah kakinya lagi melakukan panggilan yang tidak juga telah menekan nomor sekretaris barunya itu.
"Kenapa aku malah menelepon dia?" gumam Mark kebingungan dengan apa yang ia lakukan.
Mark melihat handphonenya yang tengah berdiri melakukan panggilan kepada sekretarisnya itu.
"Halo," suara Alea terdengar sedikit serak ketika ia mengangkat panggilan telephonnya.
Mark mengerutkan dahinya, ia sangat penasaran apa yang dilakukan oleh sekretaris barunya itu. Dengan suaranya yang seperti itu.
"Kenapa kamu mengangkatnya?" suara Mark Iya meninggikan suaranya.
Alea terkejut mandengar suara Mark, ia mengangkat sebelah alisnya mendelikan kedua matanya.
'Cih, apaan sih pria kutib ini? Kan dia yang telphone ya aku jawablah!' gerutu batin Alea.
"Maksud Anda, apa ya Tuan?" tanya Alea yang masih belum terbangun dari tidurnya.
"Tidak ada!" balas Mark menutup panggilan teleponnya dan melempar handphonenya di atas tempat tidur ia terdiam tidak mempercayai dengan apa yang ia lakukan menelpon sekretarisnya.
"Apa yang aku lakukan? Kenapa aku menelponnya? Tapi dia sedang apa? Kok suaranya seperti itu?" gerutu Mark terdiam memikirkan tentang sekretaris barunya itu.
Di lain tempat, Alea mengernyitkan dahinya ketika mendapati sambungan telponnya tertutup.
"Apaan sih dia ini! Tiba-tiba jam segini menelphone berteriak di tutup juga! Gak jelas banget. Aaah, aku lelah," gerutu Alea.
Alea yang baru terbangun, kini mencoba untuk tertidur kembali dengan tubuh yang merasa lelah.
****
Saat Mark bangun dari duduknya, ia berhenti sejenak, lalu mengambil kembali handphonenya. Mark menatap ke arah layar ponselnya lalu terdiam, namun ia sangat penasaran dengan apa yang dilakukan oleh sekretaris barunya itu. Mark kini melakukan panggilan telepon lagi masih dengan nama yang sama yaitu Alea.
Alea yang hendak tertidur meraih kembali ponsel yang sempat ia lempar ke sembarang tempat dan kini ia ambil kembali setelah terdengar dering kembali di handphonenya. Mengangkat telphone dari Mark lagi.
"Iya, ada apa ya Tuan?" suaranya yang sedikit serak Alea mengangkat telepon dari Mark.
Mark terdiam dan mengerutkan dahinya ketika ia mendengar suara yang sama dari Alea.
"Tuan, Anda masih di sana?" suara Alea masih terdengar sama, namun terdengar jelas ia bertanya kepada tuannya.
Mark masih terdiam, ia tidak menjawab pertanyaan Alea yang sedari tadi berbicara kepadanya. Namun saat tidak ada jawaban dari Mark, Alea menutup panggilan teleponya.
Mark tampak kesal ketika melihat panggilan teleponnya kini dimatikan oleh Alea.
"Apa-apaan, dia berani sekali menutup panggilan teleponku!" decak Mark.
Mark terdiam, ia semakin kesal melihat layar handphonenya.