Kelvin, pria dingin dan pewaris perusahaan besar, terpaksa menikahi Denada atas permintaan sang nenek. Awalnya ia menolak karena masih mencintai wanita lain.
Namun setelah hidup bersama, Kelvin mulai tergoda oleh Nada istrinya yang cantik, jahil, dan selalu berhasil membuatnya kehilangan kendali, terutama saat Nada mulai berani menggoda dirinya.
Di tengah pernikahan tanpa cinta, Kelvin perlahan mulai bingung… siapa sebenarnya wanita yang benar-benar ia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21
Sentuhan bibir Nada di lehernya terasa membakar. Kelvin mencengkeram erat kedua sisi pilar ranjang di belakang tubuhnya, hingga urat-urat di lengan kokohnya menonjol tegang. Napasnya memburu berantakan, berkejaran dengan detak jantungnya yang berdentum liar di dalam rongga dada. Seluruh tubuhnya bergetar hebat, mencoba mengerahkan sisa-sisa nalar dan harga dirinya untuk menahan gejolak gairah yang hampir meledak.
"De-nada... hentikan," geram Kelvin, suaranya terdengar sangat serak dan rendah, sarat akan peringatan yang nyaris putus asa. Ia mencoba mendorong bahu ramping Nada menjauh, namun cengkeraman tangannya justru terasa canggung dan tidak bertenaga karena seluruh ototnya melemas akibat pasokan hawa panas yang menyergapnya. "Jangan memancing kemarahanku. Keluar dari kamarku sekarang sebelum aku bertindak kasar padamu!"
Mendengar ancaman suaminya yang sudah berada di ujung tanduk, Nada justru melepaskan sebuah kekehan rendah yang teramat seksi. Ia sama sekali tidak mundur. Sebaliknya, wanita itu justru semakin merapatkan tubuh rampingnya yang polos ke dada bidang Kelvin, membuat lekuk tubuhnya yang indah di balik kain sutra tipis itu menempel sempurna tanpa sekat.
Nada mendongak, menatap lurus ke dalam manik mata hitam Kelvin yang kini telah sepenuhnya dikuasai oleh kabut gairah. Ia mengulurkan kedua tangan rampingnya, melingkarinya dengan santai namun erat di leher kokoh Kelvin, lalu berjinjit agar wajah mereka kembali sejajar.
"Kenapa aku harus keluar dari kamar suamiku sendiri, hm?" bisik Nada tepat di depan bibir Kelvin. Suaranya terdengar begitu lirih, manja, dan sarat akan rayuan yang mematikan. "Kau punya istri dengan tubuh yang sebagus ini di depan matamu, Mas... Lalu kenapa tidak kau coba saja? Kenapa kau harus menyiksa dirimu sendiri demi bayang-bayang wanita lain?"
Nada memajukan wajahnya sedikit lagi, membiarkan ujung hidung mereka saling bersentuhan, mengembuskan napas hangatnya yang beraroma vanila manis yang memabukkan ke bibir Kelvin. "Lepaskan egomu, Kelvin Alexander. Malam ini... akulah milikmu yang nyata."
Setelah bisikan merayu yang menghancurkan sisa-sisa kewarasan itu, Nada tidak memberikan kesempatan lagi bagi Kelvin untuk berpikir. Dengan gerakan yang penuh keberanian dan keanggunan, Nada memiringkan kepalanya dan langsung menempelkan bibir ranumnya di atas bibir tegap Kelvin.
Cup.
Kelvin terbelalak kaku, seluruh tubuhnya menegang seperti tersengat listrik bertegangan tinggi. Namun, Nada tidak berhenti di sana. Ia mulai menggerakkan bibirnya, melumat belahan bibir Kelvin dengan sangat lembut, lambat, namun teramat menuntut dan sensual.
Detik itu juga, indra pengecap Kelvin menangkap rasa yang luar biasa manis dan segar dari bibir istrinya. Rasa manis yang begitu adiktif, jauh lebih memabukkan daripada alkohol mahal yang ia minum di kelab malam tempo hari. Kelembutan dan kehangatan yang diberikan Nada seketika meruntuhkan seluruh tembok pertahanan iman, ego, dan dendam yang selama ini Kelvin agung-agungkan di dalam dadanya. Nama Catalina yang semula ia jaga ketat, kini menguap tak berbekas dari kepalanya, tergantikan sepenuhnya oleh pesona mematikan dari Denada.
Kelvin benar-benar goyah. Nalar sehatnya telah kalah telak oleh naluri lelakinya yang berontak kelaparan.
"Sialan..." umpat Kelvin tertahan di sela ciuman mereka.
Kedua mata Kelvin menggelap total, dipenuhi oleh gairah yang telah mencapai titik didih. Tidak ada lagi penolakan, tidak ada lagi pria angguk yang kaku. Dengan gerakan yang teramat cepat dan posesif, kedua tangan besar Kelvin langsung mencengkeram pinggang ramping Nada dengan kuat, menarik tubuh wanita itu hingga terangkat dan menempel sepenuhnya tanpa ada celah udara yang tersisa di antara mereka.
Kelvin membalikkan posisi mereka dalam satu sentakan kasar, menyudutkan tubuh Nada ke pilar ranjang. Pria itu mulai membalas ciuman Nada—tidak lagi lembut, melainkan jauh lebih brutal, dalam, dan penuh tuntutan yang mendominasi. Kelvin melumat bibir manis Nada dengan rakus, seolah ingin menghabiskan seluruh pasokan napas wanita itu dan mengklaim hak mutlak atas tubuhnya malam ini. Desah tertahan lolos dari sela bibir Nada saat lidah Kelvin mulai menerobos masuk, memperdalam pautan bibir mereka yang semakin panas dan liar. Di bawah temaram lampu kamar, jerat malam yang dipasang oleh Nada akhirnya berhasil mengurung sang CEO seutuhnya ke dalam pusaran gairah yang tak lagi bisa dihentikan.