Sequel Perfect Man
Landon Bennington yang terkenal bad boy terlibat masalah dan dihukum oleh sang Mommy untuk menjadi relawan di Yayasan Amal milik Neneknya tanpa memakai identitas aslinya. Saat bekerja ia bertemu seorang wanita yang merupakan anak mantan Walikota yang sering mengikuti kegiatan ibunya saat acara amal.
Luna Rowland yang terbiasa hidup mewah bertemu dengan Landon tanpa sengaja dan membuat mereka menjadi dekat, hingga Luna harus melanggar janjinya untuk tidak jatuh cinta pada siapapun karena penyakit yang di deritanya.
Hingga saat identitas Landon terbongkar membuat Luna sangat membenci pria itu dan menghilang dari hidup Lando tanpa jejak. Apakah Landon bisa menemukan kembali Luna yang sangat dicintainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Athaya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 29
"Aku tidak mengerti mengapa kau menanyakan pendapatku." Kata Daisy, sahabatnya ketika mereka makan siang keesokan harinya. "Bukankah kau yang memutuskan hubungan kalian berdua? Apa sekarang kau menyesalinya, Luna?"
Perasaannya tidak tenang sejak kemarin. Pagi tadi ia mendengar dari pembicaraan teman-teman kantornya bahwa Landon akan mengambil alih perusahaan orang tuanya yang berada jauh dipinggiran kota. Luna ingin bertanya langsung pada pria itu apakah berita itu benar, tapi ia tidak melihat kedatangan pria itu di perusahaan sejak mereka bertemu kemarin di lift.
"Kau tahu alasan aku melakukan itu." Balas Luna sembari menatap makanan penutup yang sejak tadi hanya ia lihat.
Daisy menatap wajah muram wanita didepannya sembari menghembuskan nafas pelan. "Jika itu alasannya, mengapa kau harus takut orang lain mengetahui masa lalu dan juga asal usul orang tuamu. Apa kau pikir Landon dan keluarganya akan diam saja?"
"Ini lebih rumit daripada apa yang kau tahu. Aku adalah anak yang dilahirkan tanpa sebuah pernikahan. Aku anak haram yang tidak jelas siapa ayah kandungku." Jawab Luna pelan sambil menutup wajahnya karena air mata keluar tanpa ia sadari.
Daisy bangkit dan berpindah duduk disamping Luna. "Mengapa kau berpikir sampai sejauh itu, Luna. Bukankah ayahmu adalah-
"Pria itu bukan ayahku." Ucap Luna memotong ucapan Daisy dan melihat wanita itu terkejut.
Luna memutuskan mengatakan semuanya kepada Daisy. Mengenai kedatangan adik ibunya dan juga kebenaran tentang ayah kandungnya. Ia juga mengatakan rencana kepindahannya. "Aku mengatakan semuanya hanya padamu, karena kau adalah satu-satunya orang yang bisa ku percaya didunia ini. Terima kasih, Daisy. Kau sudah meluangkan waktumu yang sangat berharga untuk orang seperti diriku."
"Apa yang kau bicarakan. Tentu saja kau sangat berharga bagiku dan juga bagi orang yang mengenalmu. Kau bisa mencari perlindungan pada Landon dan memanfaatkan pria itu. Tidak ada orang lain selain pria itu yang bisa melindungimu, Luna. Dunia ini sangat berbahaya dan kau yang sangat rapuh dan polos ini bisa menjadi santapan orang-orang jahat diluar sana." Daisy berkata sembari memperhatikan wajah Luna yang polos dan tubuh mungilnya.
Luna mencoba mengambil potongan strawberry dan memasukkannya kedalam mulut. Rasa manis bercampur asam membuat ia teringat akan pria itu. "Mana mungkin aku memanfaatkannya. Dia dan keluarganya adalah orang-orang yang mempunyai kedudukan sangat tinggi dikalangan masyarakat. Jika aku memanfaatkannya, mungkin saja aku yang akan menjadi penyebab kehancuran. Terutama bisnis mereka."
"Meski Landon memiliki tempat yang sangat penting dihatiku. Bukan berarti aku bisa menjadikan dia milikku. Adakalanya hal-hal yang kita inginkan tidak selalu kita dapatkan. Cukup jadikan itu sesuatu untuk dikenang," sambung Luna lagi.
Daisy memeluk tubuh Luna yang terlihat gemetar karena berusaha untuk tidak menangis. "Kau bahkan menyimpan cincin pemberian pria itu dan dikalung yang ada di lehermu. Jangan menyiksa dirimu, Luna. Landon sangat mencintaimu dan aku yakin kau akan mendapatkan semua cinta darinya. Keluarga Bennington adalah orang-orang terbuka dan tidak memandang status ataupun masa lalu pasangan mereka."
"Bagaimana kau bisa begitu yakin?" tanya Luna menatap wajah Daisy yang tampak menahan tawanya.
"Tentu saja aku tahu semua kisah cinta keluarga Bennington. Aku sudah bekerja di Bennington foundation sejak aku kecil dan semua orang sering membicarakan kisah cinta tiga Bennington bersaudara. Kau bisa melihat bagaimana tuan Louise menatap istrinya dengan penuh cinta ketika mereka bersama. Begitu juga kedua adik perempuannya." cerita Daisy dengan wajah berseri-seri.
"Kau salah. Menurut ibuku, suami dari aunty Lauren dan juga aunty Lyana adalah pewaris tunggal kaya raya. Bagaimana kau bisa menyamakan hal itu dengan kisahku dan Landon." Jawab Luna. "Bahkan Uncle Darren adalah bos mafia di negaranya. Tentu saja itu hal yang sangat luar biasa."
Mengetahui kebohongan Daisy membuat keduanya tertawa dan sedikit melupakan rasa cemas di hati Luna. Setelah cukup menghabiskan waktu berdua, mereka kembali ke perusahaan. Meski bekerja di Bennington foundation tapi gedung tempat mereka bekerja berbeda.
...****************...
"Kau darimana saja, Luna? Tuan Bennington mencarimu." Ucap salah satu karyawan pria yang bekerja bersamanya.
Luna memandang kearah ruangan milik Landon yang pintunya tertutup dan tirai jendelanya tertutup rapat, menandakan pria itu tidak berada didalam. "Tuan Bennington yang mana maksudmu?"
"Tentu saja tuan Landon." jawab pria itu sembari menatap heran kearah Luna ketika melihat wanita itu dengan cepat menuju ruang kerja pimpinan mereka. "Sepertinya kau sudah membuat masalah."
Tanpa mengetuk pintu, Luna membuka pintu dan masuk kedalam ruang kerja milik Landon. Ia bisa melihat pria itu sedang memasuki barang-barang miliknya dikardus berukuran sedang. "Apa yang sedang kau lakukan?"
Landon menatap sosok Luna ketika wanita itu menerobos masuk kedalam ruang kerjanya dengan tajam. "Bukankah aku yang seharusnya bertanya padamu? Kau menerobos masuk ke ruang kerja bosmu tanpa mengetuk pintu."
Ia bisa melihat Luna gelisah ketika berjalan mendekat padanya. Landon kemudian duduk dikursi dan menatap wajah Luna. Wanita cantik yang berhasil membuat hidupnya kacau karena semua penolakannya yang ia lakukan berulangkali. "Bicaralah, Luna."
"Aku dengar kau akan pindah. Apakah benar?" Tanya Luna sembari menatap wajah Landon.
Apa ini, apa sekarang kau sadar bahwa aku berarti bagimu? Ucap Landon dalam hati. "Bagaimana jika itu benar? Apakah kau senang-
"Mengapa aku harus senang?" Teriak Luna dengan tiba-tiba dan juga kesal ketika pria itu berpikir jahat tentang dirinya. "Mengapa kau tiba-tiba memutuskan untuk pindah?"
"Apa kau tidak tahu atau pura-pura tidak tahu mengapa aku ingin melakukannya?" Tanya Landon lagi sembari berdiri dan meletakkan kedua tangannya dipundak Luna, memaksa wanita itu untuk menatap matanya. "Apa sekarang kau menyesalinya?"
Luna meremas kemeja Landon dengan jemarinya. "Jangan seperti ini. Jangan menjauh dan membuatku merasa bersalah padamu."
"Apa kau senang menyiksaku, Luna?" Tanya Landon dengan kesal ketika mendengar apa yang diucapkan Luna. "Apa kau lupa sudah membuat janji denganku dihadapan Tuhan."
Luna teringat akan kenangan itu dan tiba-tiba menangis, sembari memukul dada Landon. "Tetaplah disini dan jangan pergi. Kau harus berada disini bersamaku. Jika kau pergi ak-
"Luna, hentikan. Orang-orang bisa mendengar tangisanmu." Ucap Landon memotong ucapan Luna yang meneriakinya sambil menangis. Ia kemudian mendekap wanita itu di dadanya. "Kau benar-benar suka berbuat sesuka hatimu. Dasar."
Luna merasakan kehangatan pelukan Landon ditubuhnya. Ini yang ia inginkan dalam hidup, pikirnya sembari melingkari pinggang pria itu dan memeluknya erat. Ia tidak peduli lagi akan semuanya dan ingin memanfaatkan pria ini seperti kata Daisy. "Jangan pergi."
"Rayulah aku." Bisik Landon ditelinga Luna.