Narko tak mengira jika kebahagiaan keluarganya di raih dengan cara yang tidak wajar, ia baru sadar setelah satu persatu saudaranya meninggal sebagai wadal pesugihan sang ayah. Apakah dia bisa melepaskan diri sebagai wadal berikutnya??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Zahra CHAN Gacha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bantuan Pak Urip
Aku berusaha bangun sambil memegangi punggung ku yang terasa sakit.
Bapak menatapku dengan tatapan tajam seperti hendak menelanku hidup-hidup.
Lagi-lagi tak ada seorangpun yang mendengar keributan ini, sepertinya aku harus membiasakan diri untuk menghadapi situasi seperti ini.
Tatapan itu, Ya tatapan mata bapak itu begitu familiar. Mata itu seperti tidak asing bagiku. Aku berjalan mundur menjauhi Bapak, aku tahu akan terjadi sesuatu yang buruk jika aku tetap bersamanya.
Aku tahu aku tidak memiliki kekuatan supranatural untuk bisa menghadapi makhluk astral, tapi setidaknya aku bisa melindungi diriku dari makhluk biadab ini.
Aku harus hidup, aku harus kuat untuk melindungi adik dan bapaku.
Tiba-tiba Bapak berdiri di depanku dan langsung mencekik ku.
Saat aku berusaha untuk melepaskan tangannya, ia menarik tanganku dan memelintirnya hingga aku menjerit kesakitan.
"Arrghhh!!"
Tidak sampai di situ, ia juga melempar ku hingga kepalaku terbentur bibir ranjang.
*Braakkk!!
ku lihat seringai senyum di wajah Bapak. Ia kembali mendekati ku dan menjambak rambutku.
"Kamu pikir bisa melawan ku hah, setelah adik dan bapakmu, aku juga akan membuatmu mati dengan cara yang mengenaskan sama seperti kematian Anggi!"
Tak lama Ku dengar derap langkah kaki mendekat kearah pintu. Pak Urip dan Pak Karim segera masuk dan terkesiap melihat kondisiku.
"Apa yang terjadi?" ucap Pak Karim dengan wajah tegang
Sementara Pak Urip segera menghampiri bapak dan menamparnya.
*Plakkk!!
Seketika bapak jatuh pingsan.
"Kamu tidak apa-apa Mas?" tanya Pak Karim
Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala dan menunjuk kearah Bapak.
"Apa yang terjadi dengan bapakmu?" tanya Pak karim lagi
"Bapak... Bapak...." Aku tak bisa melanjutkan ucapan ku
Aku kemudian lari meninggalkan ruangan itu.
Aku berlari menuju ke halaman belakang rumah. Nafasku tersengal-sengal tak beraturan, Aku berusaha untuk menenangkan diriku. Aku berusaha memukul-mukul dadaku yang terasa sesak.
"Arghhhh!!" aku menjerit sekuat-kuatnya untuk melampiaskan emosiku
Aku bahkan menangis tersedu-sedu setelah itu. Entah kenapa rasanya saat itu aku seperti ditusuk-tusuk ribuan jarum, sakit sekali.
Ya Tuhan, kenapa aku harus mendapatkan cobaan seperti ini. Tidak bisakah keluarga ku hidup tenang sekarang.
Aku tersentak saat seseorang menepuk bahuku. Ku lihat Pak Urip berdiri di belakangku menatapku penuh dengan tatapan wajah cemas.
Ia kemudian mengusap wajahku saat aku berbalik menatapnya. Mulutnya terus bergerak sambil memanjatkan doa.
Sepertinya dia tahu apa yang terjadi denganku, dan hanya dia yang satu-satunya orang yang mengerti keadaanku saat ini.
Ia kemudian memberiku segelas air putih dan mengajakku berbicara.
"Jangan pernah memendam masalah ini seorang diri, ceritakan saja padaku mungkin aku bisa membantumu?" ucapnya membuat ku semakin respect dengannya
"Aku tahu Pak Lik sudah tahu apa yang terjadi dengan keluarga kami. Aku rasa Pak Lik juga tahu apa yang sedang aku pikirkan saat ini?" jawabku
Pak Urip mengangguk, dia memang sudah tahu apa yang terjadi denganku. Namun entah kenapa ia malah bertanya balik padaku.
"Jujur aku sangat kagum padamu, meskipun kau masih muda dan belum tahu apa-apa tapi kau begitu berani dalam kasus ini. Tidak semua orang bisa bertahan sepertimu dalam situasi dan kondisi seperti ini. semua orang pasti akan lari meninggalkan keluarganya saat tahu semuanya akan mati menjadi wadah pesugihan," terang pak Urip
"Peluangmu untuk hidup memang tidak ada tapi aku yakin dengan kegigihan dan keberanianmu kau bisa selamat dari teror ini. Meskipun aku juga belum yakin bisa menyelamatkanmu tapi aku akan berusaha semampuku untuk membantumu?" imbuhnya
Mendengar kata-kata pak Urip rasanya aku seperti mendapatkan kekuatan. Seperti hujan yang menyiram bumi saat musim kemarau, aku mulai merasakan ketenangan dan kesejukan setelah mendengar ucapan dari beliau.
Memang aku tahu kalau pak Urip belum tentu bisa menyelamatkan keluarga kami dari teror makhluk astral itu. Tapi setidaknya ia sudah memberikan kekuatan kepada ku untuk terus bertahan dan berjuang untuk menyelamatkan keluargaku.
ang sekaya apa tumbalnya koq begitu sering,udah kayak orang nyemil/ makan cemilan aja