Bagaimana kalau tubuh laki-laki seorang pembunuh bayaran berakhir di tubuh perempuan yang tidak ia kenal. Bagaimana kisahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erika Ponpon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29
Cahaya temaram kamar hotel hanya menerangi sebagian wajah Hazel yang tengah menatap layar tabletnya. Radit baru saja masuk setelah menerima panggilan dari jaringan informasinya.
“Nyonya, saya sudah dapat profilnya.”ujar Radit padanya.
Hazel menoleh, lalu menurunkan tabletnya ke meja.
“Siapa dia?”
Radit menyerahkan selembar dokumen cetak. Di bagian atasnya tertulis tegas.
KALINGGA LUDVIG – CEO KCorp International Holdings.
Hazel membaca cepat. Baris demi baris membuat alisnya meninggi.
“Investor besar. Konsorsium multinasional… dan,” ia berhenti sejenak, menatap Radit dengan sorot mencurigakan, “pernah masuk dalam daftar kandidat merger Salendra Group tiga tahun lalu.”
Radit mengangguk.
“Batal. Karena dia nggak pernah menunjukkan minat langsung.”
Hazel meletakkan dokumen itu dengan pelan, lalu menatap ke luar jendela. Kota J tampak terang, tapi benaknya sedang bergelombang.
Setelah diam beberapa detik, Hazel bertanya lirih namun tajam,
“Radit… menurutmu, dia tahu siapa kita?”
Radit menatap Hazel, ekspresinya berubah waspada.
“Mungkin saja. Kalingga bukan orang biasa. Dia dikenal sangat selektif soal siapa yang dia dekati.”
Hazel mengangguk pelan.
“Itu yang aku pikirkan. Dua kali dia muncul, dan dua-duanya terasa terlalu kebetulan. Kalau dia benar-benar tahu siapa aku… dan masih memilih muncul dengan cara itu…”
Ia menarik napas panjang, rahangnya mengeras.
“…berarti dia sedang bermain.”
Radit mencondongkan tubuh.
“Mau saya pasang pengamanan tambahan?”
Hazel menggeleng.”Tidak perlu Radit kita lihat dulu saja.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam mulai larut. Hazel berdiri di balkon kamar hotelnya, memandangi kerlip lampu kota seperti sedang membaca peta pikiran lawannya. Angin malam membelai rambutnya, tapi pikirannya tetap tertuju pada satu nama Kalingga Ludvig.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.
“Pertemuan tanpa sengaja, dua kali. Boleh jadi semesta sedang menyusun bab baru. Mau kita coba lihat akhirnya?”
—K
Hazel menyipitkan mata. Senyum kecil muncul di sudut bibirnya. Bukan senyum senang—tapi lebih mirip seperti pemain catur yang baru menyadari pion lawannya mulai bergerak.
Ia langsung mengetik balasan.
“Permainan yang dimulai dengan tabrakan, biasanya berakhir dengan benturan lebih besar. Siapkah kamu?”
Balasan datang tak sampai satu menit.
“Aku tidak takut jatuh. Asal yang membuatku jatuh, layak.”
Hazel menatap layar ponselnya beberapa detik. Dia menoleh sekilas ke arah kamar tempat Radit berada dan bergumam pelan, “Dia tahu siapa aku.”
Keesokan harinya…
Hazel menghadiri jamuan bisnis ringan di salah satu ballroom hotel tempatnya menginap. Beberapa tokoh penting industri hadir—pebisnis, investor, dan pemilik media. Ruangan penuh senyum diplomatis, percakapan ringan, dan tatapan penuh strategi.
Dan di tengah keramaian itu… seseorang berjalan masuk dengan percaya diri.
Kalingga Ludvig.
Ia tampak berbeda dari kesan arogannya kemarin. Kali ini ia memakai setelan formal kelabu gelap, rambutnya disisir rapi, wajahnya tenang dan penuh kontrol.
Matanya langsung mengunci pandangan pada Hazel dari kejauhan.
Hazel tidak terkejut. Dia justru melangkah ke arahnya lebih dulu. Mereka bertemu di tengah ruangan seperti dua pejuang yang akan mulai duel.
“Hazel Salendra,” sapa Kalingga, suaranya rendah namun jelas. “Akhirnya kita bertemu… tanpa tabrakan.”
Hazel tersenyum tipis. “Saya mulai curiga, tabrakan itu bagian dari strategi, Pak Ludvig.”
Kalingga membalas dengan tatapan menyelidik. “Kalau saya bilang bukan, apakah kamu percaya?”
Hazel tak menjawab. Ia hanya mengangkat alis, lalu menyodorkan tangannya dengan anggun. “Hazel. CEO Salendra Group. Sepertinya kita memang harus bicara.”
Kalingga menjabat tangannya, genggamannya hangat tapi mantap. “Kalingga. CEO KCorp. Dan ya, kita akan bicara… banyak.”
Dari kejauhan, Radit mengamati interaksi mereka dengan ekspresi tegang. Sementara Adhvan—yang berdiri di sisi lain ruangan—berbisik pelan ke dirinya sendiri,
“Ini bukan cuma urusan bisnis… ini duel antara dua pemimpin. Dan mungkin juga… dua kutub yang saling tarik.”gumam Radit.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di Tempat yang Jauh – Sebuah Kafe Kecil
Hujan rintik membasahi kaca jendela sebuah kafe kecil di sudut kota. Raga duduk sendirian di pojok ruangan, kemeja birunya terlihat kusut, dan rambutnya sedikit berantakan. Di depan laptopnya terbuka beberapa laman lowongan kerja—semuanya sudah ia lamar, belum satu pun yang membalas.
Ponselnya berbunyi. Lagi-lagi dari ibunya.
Mama:
“Ragaaa, mama butuh uang buat arisan. Mama malu sama teman-teman sosialita mama kalau mama belum bayar, dan mereka belum tahu kalau kamu sudah bukan direktur lagi Raga.”
Raga menghembuskan napas panjang, menutup mata sejenak menahan emosi. Tangannya refleks meraih cangkir kopi yang kini sudah dingin.
Belum sempat dia menjawab, muncul lagi notifikasi dari Elora, istrinya yang kini tengah mengandung anak mereka.
Elora:
“Sayang, aku mual banget hari ini… uang belanja habis. Bisa ditransfer sekarang? Aku butuh beli vitamin buat si kecil.”
Raga mengepalkan tangan. Ia tahu kalau saja Elora tidak menggodanya pasti tak akan seperti ini nasibnya, Tapi tekanan hidup saat ini membuat emosinya mudah meledak.
Dengan suara pelan namun getir, dia bergumam:
“Sialan… semua ini karena lo, Hazel.”
Wajah Hazel melintas di kepalanya—tenang, dingin, penuh kendali. Dulu ia mencintainya, atau setidaknya menginginkan apa yang dimiliki wanita itu: kekuasaan, kekayaan, pengaruh.
Dan sekarang?
Hazel mencampakkannya. Mencoret namanya dari jajaran direktur Salendra Group. Menghancurkan reputasinya. Membiarkannya jatuh dari langit ke tanah tanpa empati sedikit pun.
“Lo pikir hidup gue akan baik-baik aja setelah lo bikin gue kayak gini?” desis Raga sambil menatap layar laptopnya.
“Lo mungkin masih berdiri di puncak, Hazel. Tapi gue gak akan diam.”
Tangannya mengklik folder bernama “Salendra Confidential”—berkas-berkas lama yang sempat ia salin diam-diam sebelum dipecat.
Matanya menyipit. Rahangnya mengeras.
“Kalau gue gak bisa dapet kembali hidup gue, gue pastikan lo juga kehilangan punya lo.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Lampu kamar hanya menyala setengah, menyorot wajah Elora yang duduk di tepi ranjang. Rambutnya berantakan, mata sembab, dan tangan gemetar memegang ponsel yang sudah retak di ujungnya. Ia baru saja usai bertengkar hebat—lagi.
Tangisnya sudah kering. Yang tersisa hanya amarah yang mendidih pelan tapi pasti.
“Gue pikir bakal hidup enak… setelah rebut lo dari Hazel…,” gumamnya lirih, namun penuh kebencian.
Matanya menatap tajam ke dinding, seolah bayangan Hazel terpampang di sana.
“Ternyata semua omong kosong!” suaranya meninggi, nyaris menjerit. “Gue tinggal di rumah mertua yang nyolot, makan pakai uang sisa, suami gue pengangguran, dan gue… hamil!”
Elora berdiri mendadak, melangkah maju dengan nafas tersengal, lalu menendang kursi rias kecil di sudut kamar. Kursi itu terlempar dan membentur lemari dengan keras. Bunyi benturan itu tak membuatnya berhenti.
“Semua ini salah Hazel!” teriaknya penuh dendam. “Kalau aja dia gak bikin Raga stress, gak nyiksa dia dengan pekerjaan dan tuntutan, dia gak bakal nyari pelarian ke gue! Kalau Raga gak terus godain gue, gue gak akan hidup seperti ini mending dulu gue nyari pria tua yang kaya raya bukan Raga”
Ia meremas bantal dengan kasar.
“Gue capek hidup kayak gini. Tapi Hazel… dia malah hidup enak, jalan pakai heels mahal, ngopi di hotel, tetap kelihatan sempurna!”
Tatapannya berubah dingin. Sangat dingin.
“Dia gak boleh bahagia, sementara gue jatuh kayak gini. Gue hancur, Hazel. Tapi lo harus tahu… gue akan bikin hidup lo porak-poranda.”
Dengan tangan bergetar, Elora membuka ponselnya. Ia menatap layar beberapa detik sebelum membuka kontak lama—nomor seorang wartawan gosip langganan yang pernah dipakai Hazel untuk promosi brand beberapa tahun lalu.
Jari-jarinya mengetik cepat.
“Saya punya info panas soal Hazel Salendra. Mau?”
Pesan terkirim.
Elora menatap layar ponsel dengan senyum tipis yang getir.
“Hazel bersiaplah untuk menangis hahaha.”
Setres!!
udah ngerbut raga dari Hazel eh tapi malah bagus dong baj•ngan sama lacu•r sama sama cocok jadi satu
manuk diobral nang cangkeme wong wedok gak nggenah..
eh apa msh aktif jd pembunuh bayaran Thor?
koq gak pernah liat aksinya lagi..?