Gia tidak menyangka jika rekan kerjanya tega menaburkan bubuk beracun ke dalam perlengkapan make up-nya sehingga membuat wajahnya yang cantik berubah menjadi penuh koreng busuk dan menjijikkan. Karena hal itu pula Gia dihina dan dijauhi teman-temannya bahkan sampai dipecat dari pekerjaannya.
Setahun kemudian Gia kembali ke perusahaan itu untuk mengembalikan nama baiknya sekaligus membalas orang yang telah menghancurkan wajahnya.
Bagaimana cara Gia memberikan pembalasan yang setimpal kepada orang-orang yang telah menyakitinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nita kinanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Alergi
Rivani mematung hampir tidak bisa bicara. Tubuhnya gemetaran dan wajahnya terlihat pucat. Arnold terlihat sangat marah seperti tahu apa yang telah dia lakukan.
"Van, apa yang telah kamu lakukan hingga membuat Arnold marah seperti itu? Dia marah kepadamu, kan? Bukan marah kepada Gia?" tanya Sumi begitu Arnold pergi dari sana. Dia lebih takut melihat kilatan amarah di mata Arnold daripada kobaran api yang membakar pakaian-pakaian Gia.
"Kalau dia marah kepadaku lalu kenapa pakaian kakak yang dia bakar? Bukan pakaianku?!" kilah Rivani.
"Kalau dia tidak marah kepadamu lalu kenapa dia menatapmu seperti itu?!"
"Mana aku tahu?! Kenapa tadi ibu tidak tanya langsung pada orangnya?!" balas Rivani lalu kembali masuk ke dalam rumah.
Sumi bingung. Yang dia lihat tadi benar, tetapi yang dikatakan Rivani juga benar. Dia menyaksikan sendiri betapa Arnold sangat marah kepada Rivani, tetapi kalau dia marah kepada Rivani kenapa baju-baju Gia yang dibakar?
...* * * * *...
Arnold kembali ke rumah sakit setelah menyelesaikan urusannya di rumah Gia. Tidak lupa dia mampir membeli beberapa potong pakaian untuk baju ganti Gia. Selebihnya nanti dia akan mengajak Gia belanja kalau kulitnya sudah pulih.
Tadinya, Arnold datang ke rumah Sumi hanya untuk membakar pakaian-pakaian Gia agar tidak dia pakai lagi. Dia belum begitu fokus mencari siapa pelakunya, meskipun dia sudah menduga kalau pelakunya pasti orang terdekat Gia, entah Sumi, entah Rivani, yang jelas mereka yang bisa bebas keluar masuk ke kamar Gia. Arnold belum memikirkan hal itu, hingga Rivani kelepasan bicara dan kemudian menyulut emosinya.
"Kamu belum tidur?" tanya Arnold begitu dia masuk dan melihat Gia masih fokus dengan ponselnya.
"Aku baru memberitahu sekretarisku kalau besok aku tidak berangkat kerja dan menyuruh Emir untuk menghandle pekerjaanku sementara," terang Gia lalu meletakkan handphonenya dan menatap Arnold. "Kamu tidak pulang? Nanti Tante Dira mencari mu?"
"No, Mommy masih di Amerika, baru akan pulang besok lusa."
Gia melirik Arnold. "Jadi kamu tadi berbohong padaku, kan? Bukan Tante Dira yang ingin mengajakku makan malam, tetapi kamu?!"
Arnold hanya tersenyum. "Setelah ini kamu akan pulang ke rumah lama mommy. Kamu akan tinggal di sana lagi."
"Kenapa?! Aku bisa pulang ke rumahku. Tidak apa-apa, sungguh."
"Bagaimana kalau racun itu sudah ditaburkan ke tempat tidurmu? Selimutmu? Dan semua yang ada di kamarmu?! Sampai kapanpun aku tidak akan membiarkan kamu menginjak rumah itu lagi!" ujar Arnold tanpa mengatakan apa yang baru saja dia lakukan di rumahnya.
Gia terdiam. "Ah ... Benar juga." Dia tidak berpikir sejauh itu. Jika Rivani bisa senekat ini bukannya tidak mungkin yang dikatakan Arnold itu benar. Tidak sadar Gia mengepalkan tangannya. Dia masih tidak habis pikir bagaimana Rivani bisa setega ini kepadanya. Dan kali ini Gia benar-benar akan membalasnya.
"Lalu barang-barangku bagaimana?" tanya Gia.
"Lupakan barang-barangmu. Nanti kita bisa beli yang baru." Jika perusahaan saja bisa dia beli untuk Gia apalagi kalau hanya barang-barang harian, itu hal sepele.
"Aku jadi terlihat seperti perempuan nakal yang sedang berusaha memoroti kamu."
"Kamu kuras uangku pun aku tidak masalah," balas Arnold santai. Laki-laki ini sudah persis seperti ayahnya ketika merayu wanita pujaannya.
Kembali ke rumah Sumi,
Rivani mulai merasakan panas yang luar biasa di telapak tangan sampai ke lengannya. Tadi dia mengeluarkan pakaian Gia dengan tangan kosong sehingga kemungkinan besar racun-racun itu menempel di tangan dan lengannya.
"Ah ... Sialan. Kenapa panas begini rasanya!" umpat Rivani sambil mengarahkan tangannya ke depan kipas angin di dalam kamarnya dan sesekali meniup-niupnya dengan mulutnya.
Setiap detik rasanya semakin panas hingga Rivani berlari ke kamar mandi untuk membasuh tangannya dengan air. Keluar dari kamar mandi, tangan Rivani terlihat semakin merah dan semakin panas. Lalu Rivani masuk ke kamarnya mengarahkan tangannya ke depan kipas angin, tetapi rasa panasnya tidak berkurang. Lalu Rivani ke kamar mandi lagi, lalu ke kamar lagi, begitu sampai berulang kali. Rivani kesakitan dan juga kebingungan di saat yang bersamaan.
"Kamu kenapa sih, Van? Dari tadi mondar mandir tidak jelas?!" tanya Sumi. Setelah kepergian Arnold tadi langsung kembali mendekam di depan televisi jadi dia melihat Rivani bolak-balik ke kamar mandi.
"Ibu, ini sakit sekali. Aku harus bagaimana?"tanya Rivani putus asa. Akhirnya dia menunjukkan tangannya yang sudah memerah kepada Sumi.
"Ya ampun!!! Kenapa ini?!" pekik Sumi. "Kamu kenapa, Van? Bukankah tadi tidak apa-apa?!"
"Aku juga tidak tahu, Bu. Tiba-tiba saja begini. Ini panas dan sakit," rengek Rivani. Padahal yang dia rasakan ini belum seberapa dibandingkan dengan yang Gia rasakan, tetapi Rivani tidak sadar juga. "Antarkan aku ke dokter, Bu. Aku sudah tidak tahan." Rivani mulai menangis kesakitan.
"Iya, iya. Kita ke rumah sakit sekarang!" Lalu kedua orang ini berangkat menuju rumah sakit terdekat. Sampai di rumah sakit Rivani langsung ditangani oleh dokter yang bertugas.
"Aneh, aku juga baru selesai menangani pasien dengan kasus yang sama seperti ini. Apa kalian berhubungan?" tanya dokter yang menangani.
"Apa maksud dokter? Aku tidak mengerti," kata Rivani salah tingkah. Tentu saja dokter itu tidak berbohong. Dia baru saja menangani Gia dengan diagnosa yang sama dengan yang terjadi pada Rivani sekarang.
Melihat Rivani mengelak, dokter itu tidak berbicara lagi.
Selesai di periksa dokter, Rivani dan Sumi pergi ke apotik untuk menebus resep. Rivani tidak disaran untuk rawat inap karena hanya tangan dan lengannya saja yang seperti terbakar, sementara Gia hampir seluruh tubuhnya seperti terbakar jadi harus dirawat intensif.
Tanpa mereka ketahui, dokter yang memeriksa Rivani pergi ke ruangan Gia di rawat setelah selesai memeriksa Rivani.
Setelah menebus obat, Rivani dan Sumi berniat meninggalkan rumah sakit, tetapi Arnold tiba-tiba menghadang mereka. Dokter tadi memberitahu Arnold jika ada pasien dengan diagnosa yang sama dengan Gia. Ini adalah kasus janggal dan langka jadi harus ditindaklanjuti karena itu dokter tersebut sengaja memberitahu Arnold.
"Eh .. Nak Arnold, kenapa ada di sini? Siapa yang sakit?" sapa Sumi terkejut.
"Tanganmu kenapa, Van?" tanya Arnold mengabaikan sapaan dari Sumi. Sekilas Arnold melihat lengan Rivani merah, sama persis seperti yang terjadi pada Gia.
Rivani segera menyembunyikan menyembunyikan tangannya ke belakang. "Ini ... Alergi. Tadi dokter mengatakan ini karena alergi," jawab Rivani takut-takut. Sorot mata Arnold membuatnya tidak berkutik dan hanya berani menatap lantai.
"Alergi? Apa kamu tidak dengar tadi dokter bilang apa? Dia bilang tanganmu itu karena obat keras! Lagian sejak kapan kamu punya alergi?!" ceplos Sumi yang tidak tahu apa-apa.
Direktur biasanya atasannya manager bukan?
Dulu waktu aku bekerja gitu siy..
Direktur Pemasaran membawahi bbrp manager.
🙏🏼🙏🏼
sukses utk karya2 selanjut nya tor...