Lingkaran takdir memang penuh misteri. Menyukai ibunya, malah dapat anaknya. Tapi Ken bersyukur mendapatkan putri dari sahabatnya sendiri.
"Apa? Nikah sama Om Ken? Bapak, please dong jangan ngadi-ngadi? Masa iya aku menikah sama om-om?"
"Bapak mohon, Num. Hanya dia yang bapak percaya untuk menjaga kamu? Waktu bapak tidak banyak lagi."
"Maksud bapak apa sih?"
"Bapak divonis mengidap kanker hati. Sudah stadium 4. Jantung bapak juga bermasalah. Bapak mohon penuhi permintaan bapak!"
"Tapi, Pak____!" Hanum menggigit bibirnya sendiri.
"Ken, aku mohon nikahi putriku. Dia masih polos. Masih perawan. Tidak tersentuh lelaki manapun. Aku percaya kamu bisa menjaganya. Waktuku sudah tidak banyak lagi. Aku mohon jagakan dia untukku!"
"Man, kamu akan sembuh. Percayalah!"
"Tidak, Ken. Kanker hati yang aku derita sudah stadium 4. Aku tidak akan pernah bisa sembuh. Tolong penuhi permintaan sahabatmu yang terakhir ini!"
"Tapi_____!"
"Aku mohon _____!"
"Baiklah."
Pengen tahu kelanjutannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahyaning fitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 : Gaya Menungging
Ken mengerahkan seluruh tenaga untuk menahan emosinya setelah mendengar kisah yang diceritakan Hanum. Rahangnya terkatup, sementara tangan kanannya mencengkeram kemudi mobil dengan begitu erat hingga knuckle-nya memutih karena ketegangan. Meskipun emosinya hampir meledak, Ken berjanji pada dirinya bahwa ia akan menyelidiki masalah ini tanpa sepengetahuan Hanum.
"Ayo kita ke rumah sakit sekarang, Hanum!" tegas Ken, wajahnya terlihat tegas dan tegar, namun terdapat kekhawatiran yang tersirat di sudut matanya.
Hanum menatap Ken dengan ekspresi terkejut, tubuhnya yang semula menyentuh jok seolah-olah menarik diri perlahan-lahan.
"Mau ngapain ke rumah sakit?" tanya Hanum, bibirnya bergetar dengan rasa was-was.
"Untuk mengobati tanganmu, Hanum!" balas Ken dengan nada yang memancarkan kepedulian dan keberanian. "Tanganmu sedang berdarah, kita harus segera beri pertolongan pertama agar tidak terinfeksi. Jangan khawatir, aku akan selalu ada untuk menjagamu."
Hanum justru tertawa kecil, "Bie, aku ini hanya terluka kecil. Bahkan lukanya saja hanya sepanjang jari kelingking. Masa mau dibawa ke rumah sakit?"
"Tapi aku khawatir, Sayang!" jawab Ken terlihat begitu perhatian.
"Aku nggak apa-apa, Bie. Semuanya baik-baik saja, Okey!"
"Baiklah, kalau kamu tidak mau. Nanti biar aku obati di rumah!"
"Hemm, aku ingin langsung pulang dan beristirahat, Bie!"
"Ya sudah, ayo kita pulang!"
Ken mengemudikan mobilnya dengan hati-hati menuju apartemen. Dalam perjalanan, matanya sesekali melirik Hanum yang duduk di sampingnya. Wajah Hanum yang kalem itu, seperti oase di tengah kegelisahan, selalu mampu menghantar kedamaian di hati Ken. Terbayang di pikirannya betapa beruntungnya ia memiliki istri sepertinya.
Melihat Hanum tersenyum, hati Ken berbunga-bunga. Dialah wanita yang menjadi penyejuk hatinya dan mengisi hari-harinya dengan kebahagiaan. Apapun yang terjadi di luar sana, Ken selalu merasa bahwa dia memiliki alasan untuk tersenyum lebar, begitu hangat, begitu mengasyikkan, berkat kehadiran Hanum di sisinya.
Tak berselang lama, mobil yang Ken kendarai sampai di parkiran apartemen. Pria itu begitu perhatian membukakan sabuk pengaman dan pintu mobil untuk istrinya. Hanum merasa tersanjung diperlakukan begitu istimewa oleh suaminya. Ia pun semakin yakin, bahwa Ken memang suami yang baik dan bertanggung jawab.
Sampai di dalam apartemen, Ken menyuruh Hanum untuk duduk dulu di sofa. Lalu pria itu masuk ke dalam mengambil sesuatu. Suaminya keluar lagi dengan membawa kotak obat.
"Biar aku obati dulu lukamu. Kalau tidak segera diobati takut infeksi!" ujarnya. Hanum pun menurut, karena jika membantah pun percuma, dia tidak akan menang dengan Ken yang pemaksa.
"Auw, sakit, Bie!" pekik Hanum merasa perih.
"Tahan ya, Sayang. Ini sudah pelan-pelan kok!" ucap Ken, seperti ibu yang sedang meniup luka anaknya.
"Bie, aku bisa sendiri." Ucap Hanum.
"Bisa sendiri bagaimana? Aku olesi obat saja kau sudah memekik kesakitan!"
"Hihihi, tapi itu memang perih, Bie!" Hanum menatap Ken yang sangat telaten mengobati lukanya.
Semenit kemudian, dahi Hanum mengernyit, "Bukankah ini masih jam kantor, Bie?" tanya Hanum dengan wajah menggemaskannya.
"Emmm, aku sudah tidak bekerja di kantor itu." Sahut Ken sambil tersenyum.
Hanum memicingkan matanya, "Maksudnya?"
"Iya. Aku sudah tidak bekerja di kantor itu lagi!"
"Loh, kenapa?"
"Perusahaan itu sudah aku kembalikan pada Uncle Err."
"Uncle Err?" Hanum masih belum paham.
"Kalau ada waktu aku akan memperkenalkan dirimu dengan Uncle Err! Dia adalah adik dari papaku!"
"Ya baiklah. Terserah Hubby saja!"
"Hehehe, kau jangan khawatir. Secepatnya aku akan mencari pekerjaan!" ucap Ken yang langsung membopong tubuh Hanum tanpa persetujuan dari si empunya. Ken membawa Hanum ke kamar.
"Eh, Hubby!" refleks Hanum berteriak saat tubuhnya melayang.
Ken tersenyum, lalu ia mendudukkan kesayangannya itu dipangkuan.
Pria itu mulai menciumi, hingga turun ke dada. Dia bahkan sudah menaikkan dress yang Hanum kenakan.
"Bie!" Hanum merasa geli, tangan besar suaminya sudah menggerayang kemana-mana.
"Aku menginginkannya. Aku butuh energi darimu, Sayang!" ucap Ken, raut wajahnya sudah berubah genit. Hanum tau apa yang sedang diinginkan oleh suaminya sekarang.
Hanum pun hanya pasrah dengan apa yang akan dilakukan suaminya. Bahkan dress-nya sudah dilepas, dan Ken sendiri juga sudah tidak memakai apa-apa. Entah sejak kapan pria itu sudah menelanjangi dirinya sendiri.
"Sudah belum, Bie?" tanya Hanum, karena Ken melepaskan Tarsan begitu saja.
"Belum."
"Kenapa si Tarsan dicabut?"
"Dia ingin ganti posisi!" sahut suaminya, "Aku ingin gaya doggy style!"
Hanum yang awam pengetahuan gaya bercinta, gadis itu hanya menatap heran, "A-apa itu doggy style?"
"Hehehehe, gaya menungging!" kekeh Ken.
"Apaan itu? Memang ada gaya seperti itu?"
"Ada. Sudah jangan banyak tanya. Kau menurut saja."
Hanum pun menurut , sebenarnya ia pun menikmati permainan suaminya. Ken tersenyum melihat Hanum pasrah. Ia pun melanjutkan aksinya.
Untuk adegan selanjutnya author skip ya, karena bulan puasa. Otak Author jadi traveling kemana-mana.
Selama dua jam mereka melakukan penyatuan, berbagai gaya sudah Ken peragakan. Ken sangat piawai memimpin permainan panas tersebut.
Tentu saja ia mahir, karena usianya juga sudah sangat matang. Ia juga sering melakukan itu dengan wanita bayaran. Berbeda dengan Hanum yang hanya pasrah dan menuruti semua keinginan suaminya. Ia masih sangat polos dan lugu, makanya saat Ken menuntunnya untuk mencoba berbagai gaya, dia iya-iya saja.
Setelah merasa puas, Ken mengajak Hanum beristirahat, nafas mereka nampak ngos-ngosan sehabis olahraga berat. Setelah itu, barulah Ken mengajak Hanum mandi bersama.
*
*
*
Selesai mandi, Ken melangkah menuju dapur dengan niat ingin memasakkan makan malam untuk Hanum. Sementara itu, Hanum sendiri baru saja selesai mandi dan tak lama kemudian tertidur pulas di kamar. Ken sengaja membiarkan istrinya beristirahat, karena memang wajah Hanum terlihat kelelahan akibat aktivitas panas tadi.
Di dapur, pria itu sangat piawai dalam mengolah bahan-bahan masakan serta memainkan peralatan memasak yang ada. Gerakannya begitu lincah dan terampil, sama sekali tidak terlihat kaku atau canggung.
"Semoga Hanum suka dengan masakan ini," gumamnya dalam hati sambil tersenyum lembut.
To be continued ....
Hallo Readers kesayangan, Ayo dong kasih author semangat dengan memberikan komentar kalian. Satu atau dua patah kata nggak masalah, yang penting kalian kasih komen.
Dan untuk readers yang sudah kasih bunga dan kopi, Author ucapkan banyak terimakasih. Tak lupa juga author ingatkan untuk kasih ulasan dan kasih rate bintang 5, favorit, dan vote juga. Biar authornya terus semangat ngelanjutin cerita ini.
Terimakasih banyak-banyak yang sudah tap like, semoga rezeki kalian bertambah terus. Aminn..
Yuk kasih komentar kalian biar kita akrab....
Salam hangat dari author...
Muuuuuuuuaaaaaaaccccchhhhhh...