Sakit tak berdarah dirasakan perempuan bernama Ananta Gayatri Rumi ketika laki-laki yang menjadi suaminya justru mendorongnya pergi. Tidak hanya itu Ananta Gayatri Rumi di ceraikan hanya karena masalah sepele, Laki-laki yang menjadi suaminya kecewa karena saat pulang kerja tidak menemukan istrinya di rumah.
Hanya perihal sepele yang menjadi alasannya.
Saat mengetahui kebenaran yang terjadi. Suaminya itu menyesal, tapi semua tak lagi sama. Talak sudah jatuh.
Tak habis akal, anak kepala desa itu memanfaatkan kedudukannya untuk menjerat istrinya yang sudah terlanjur dijatuhi talak tiga.
Dia memaksa Ananta Gayatri Rumi menikah dengan laki-laki pilihannya, laki-laki yang kerap perempuan itu ajak bicara.
Laki-laki tak sempurna yang akan dijadikan tumbal supaya dia bisa kembali rujuk dengan Ananta Gayatri Rumi.
Lantas siapa sebenarnya laki-laki pilihannya itu?
Benarkah rencananya sesuai dengan keinginannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Yunus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehilangan itu sakit.
Rumi segera dibawa masuk kedalam ruang persalinan karena wanita itu mengalami mulas yang luar biasa. Rumi tidak mengeluh, dia hanya mencengkeram kuat pakaian khususnya, sesekali dia meringis.
Jaya diperbolehkan untuk ikut masuk menemani Rumi. Dibantu beberapa perawat dan seorang dokter, Rumi menjalani proses melahirkan.
Berulang kali Rumi diminta mengejan ketika dia merasakan mulas yang hebat. Berulang kali juga Jaya melihat Rumi berusaha keras untuk mengejan sambil terus menggenggam erat tangannya.
Setelah sekian lama berjuang, dokter mengatakan bahwa kepala bayinya sudah terlihat dan diminta Rumi untuk kembali mengejan lebih kuat, ketika dokter berhasil menarik keluar bayi mereka, Jaya terlihat lega.
Tidak terdengar suara tangisan dari bayi yang baru Rumi lahir kan. Dokter juga langsung memeriksa, tapi Jaya bisa melihat jika sebagian kulit bayinya membiru.
Rumi menangis ketika sang dokter memberikan bayi yang sudah di bedong itu kepadanya. Bayi mungil mereka berjenis kelamin laki-laki. Sangat tampan, mewarisi wajah ayahnya. Rumi mendekap erat sang anak yang tidak bergerak dan bersuara.
Suasana di ruangan persalinan itu sangat sedih. Bahkan perawat serta dokter ikut menitihkan air mata ketika melihat kehancuran hati seorang ibu yang melahirkan anak tak bernyawa. Mereka mengerti jika menjalani masa nifas tanpa bayi itu sangat menyakitkan.
Jaya berusaha berdiri diatas kedua kakinya. Melihat anaknya yang di dekap oleh sang istri, Jaya ingin ikut melebur dalam kesedihannya. Tangannya bergetar ketika mengelus kepala mungil yang tengah bersandar pada dada Rumi. Jaya ikut menundukkan kepalanya dan mulai mengadzani sang anak dengan suara bergetar serta uraian air mata.
Hati siapa yang tak hancur jika mengalami apa yang sedang keduanya alami saat ini. Jaya tidak pernah membayangkan rasa kehilangan hebat seperti ini akan dialaminya kembali. Kini dia hanya akan kuat demi wanita yang tengah menahan semua kesakitannya, wanita yang terus berusaha kuat dimatanya, meski Jaya tahu, Rumi lebih hancur dari dirinya.
Jaya juga ingin meneriakkan kesedihannya melihat istrinya yang tengah memeluk anak mereka. Jaya merasa hatinya hancur, benar-benar hancur.
Tujuh bulan Rumi dan anak mereka terus bersama, Rumi melewati awal yang sulit dan tetap bertahan tapi takdir yang telah memisahkan, Jaya tahu ini sangat berat untuk istrinya. Maka dari itu dia harus kuat untuk Rumi.
Setelah Jaya selesai mengazankan anaknya, dokter kemudian mengambil anak lelaki itu dari dekapan ibunya untuk dibersihkan. Rumi masih terisak. Jaya langsung menunduk dan memeluk Rumi dengan erat.
"Mas sangat berterima kasih untuk perjuangan kamu, dek." ucap Jaya dengan bibir bergetar hebat menahan kesedihannya.
"Kuat, sayang. Kamu harus kuat." bisik Jaya lagi, yang semakin membuat Rumi membenamkan wajahnya dileher Jaya dan menyuarakan tangisnya yang memilukan.
Bukan hanya Rumi dan Jaya yang berduka. Kiai Ahmad Sulaiman beserta istri juga turut larut dalam kesedihan. Begitu diizinkan masuk, Umi Zalianty langsung mendekap tubuh Rumi. Dia seperti mengerti bahwa kehilangan yang dialami Rumi adalah kehilangan yang paling sakit bagi seorang ibu.
"Dek..." Terdengar suara Jaya memanggil istrinya.
Sebelum melerai pelukan Umi Zalianty, Rumi lebih dulu menghapus air matanya. Jaya tahu jika tadi Rumi masih terus menangis.
"Ya, Mas?" Jawab Rumi dengan suara serak.
"Mas mau mempersiapkan segala keperluan untuk pemakaman.."
"Aku ikut!" Rumi bersikeras untuk ikut dalam proses pemakaman anak mereka. Anak lelaki mereka diberi nama Azka Athar Ali
(Azka: paling bersih, Athar: bekas, Ali: terang benderang)
Nama yang indah itu diberikan oleh Jaya untuk anak lelaki yang nantinya akan menjadi pembuka jalan Rumi ke surga.
Karena kondisinya yang belum pulih, Rumi menggunakan kursi roda, dokter memperbolehkan pulang dengan catatan, Rumi harus kontrol setelah tiga hari, atau langsung ke rumah sakit jika terjadi sesuatu yang tak sewajarnya.
Kiai Ahmad Sulaiman juga membisikkan kalimat menguatkan yang beliau tahu tidak akan pernah mengusir sedikitpun kesedihan pada wanita itu, tapi setidaknya Rumi tahu bahwa banyak orang yang menginginkannya untuk kuat dan menerima segala ketentuan sang pencipta.
Hari sudah semakin sore. Ketika Rumi dibantu berdiri dari tempatnya duduk, dua orang tak diundang menerobos masuk.
"Maaf, Pak, Bu. Nyonya besar tidak bisa saya halangi untuk kesini." Lestari muncul dari pintu tak lama setelah Nyonya Sanjaya dan Jenifer masuk.
Ini sudah bukan lagi jam kerja Lestari, tapi wanita muda itu masih belum pulang, justru malah membuntuti dua wanita yang menyusul tuan rumahnya ke rumah sakit.
Lestari memang sangat mengkhawatirkan Rumi dia yang tahu siasat busuk dua wanita jahat itu tidak ingin kecolongan dan sebisa mungkin melindungi nyonyanya yang baik hati.
"Hassan, apa yang terjadi?" reaksi Nyonya Sanjaya jauh dari bayangan Lestari.
Mata wanita itu awas melihat kearah perut menantunya yang telah rata. Pikirannya menerka-nerka apa yang dikeluhkan Rumi tadi pagi itu bukan rekayasa atau sekedar akting?
Belum sempat Jaya menjawab. Dari arah pintu yang terhubung dengan ruangan tersebut keluar dokter yang mendekap tubuh mungil yang telah berbalut kain kafan.
Wanita paruh baya itu membeku. Mendadak segala yang ingin di tanyakan menghilang dari benaknya.
Matanya tertuju pada sang putra yang kini menatapnya nanar.
Ada kemarahan serta ketidak berdayakan dalam satu pandangan. Putranya tampak hancur, putranya tampak seperti tak berdaya. Benarkah Hassan telah kehilangan anaknya?
"Semua sudah diurus, kita bisa langsung ke pemakaman." tutur Umi Zalianty. Mengerti tidak ada yang perlu dilakukan lagi, anak Hassan yang masih suci langsung diantarkan ke pemakaman, tanpa perlu singgah dirumah.
Lestari membekap mulutnya rapat-rapat, tidak menyangka nyonyanya tengah berduka. Lestari menyadari kehancuran Rumi. Dia tidak mungkin akan kuat jika berada diposisi Rumi saat ini. Betapa sedih hatinya melihat orang baik yang harus mengalami ini semua.
Rumi tidak menyangka jika di pemakaman begitu ramai orang-orang yang tak dikenalnya. Sauma dan Zahra, juga turut hadir. Zahra menangis memeluk Rumi yang duduk terdiam di samping makam adiknya.
Hari sudah semakin gelap, Jaya membantu Rumi untuk berdiri. Begitu berat bagi Rumi untuk meninggalkan makam Azka.
"Besok kita kesini lagi ya, Dek." ucap Jaya membantu Rumi berdiri.
Rumi mengangguk. Jaya merangkul Rumi, sementara sebelah tangan Rumi memeluk pinggang Zahra.
Mereka pulang ke kediaman Rumi dan Jaya. Kiai Ahmad Sulaiman dan Umi Zalianty, beserta Zahra bahkan Sauma dan lainnya, mereka ikut juga. Mereka semua seperti ingin terus bersama dan menghibur Rumi.
Sementara di rumah, Rumi hanya menghabiskan waktu didalam kamar bersama dengan Zahra yang tidur di sampingnya. Tadinya Rumi ditemani Sauma dan juga Umi Zalianty tapi karena sudah malam mereka pergi untuk beristirahat.
Rumi memandangi wajah Zahra yang tertidur. Anak lelakinya seharusnya nanti bisa bermain bersama Zahra. Mereka terlihat mirip dari bentuk hidung serta bibirnya. Mereka berdua akan menjadi kekuatan terbesar Rumi dan sang suami menghadapi ujian hidup. Rumi tersenyum membayangkan itu disaat bersamaan air matanya jatuh diantara senyumannya.
"Dek,"
Saya sungguh terharu,
Karya Anda sungguh berkesan 🤍
Gnti nama jadi jaya?