NovelToon NovelToon
Stempel Tua Penyelamat Duda Ganteng

Stempel Tua Penyelamat Duda Ganteng

Status: tamat
Genre:Duda / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Trauma masa lalu / Tamat
Popularitas:573
Nilai: 5
Nama Author: DeeSCe

Cuti untuk menjual rumah warisan berubah menjadi awal kisah yang tak pernah dibayangkan Honami Yukari. Setelah menemukan kembali koleksi stempel peninggalan kakeknya, ia justru dipertemukan dengan seorang pria misterius yang nyaris kehilangan nyawa. Anehnya, pria itu tidak ingin diselamatkan. Sejak hari itu, setiap stempel mulai menjadi saksi perjalanan mereka menyembuhkan luka, membuka masa lalu, dan menemukan arti pulang yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeeSCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MIMPI BURUK DAN RAHASIA AKIRA

Dalam lelapnya, kesadaran Akira terseret masuk ke dalam labirin kegelapan. Ia mendapati dirinya sedang berlari tanpa arah di dalam sebuah terowongan gelap yang pengap. Langkah kakinya beradu dengan dinginnya lantai semen, memicu gema yang memantulkan suara-suara masa lalu yang terus memburunya.

"Tidak usah memasak! Kau lemah, Akira! Kau tidak bisa memuaskan ku!"

Suara lengkingan Haruka mencambuk telinganya, disusul oleh gema suara sahabat dekatnya yang terdengar penuh penyesalan. "Dia bukan wanita yang baik... Percayalah padaku!"

Belum sempat Akira memproses rasa sakit itu, suara berat dan penuh amarah milik sang ayah menggelegar dari langit-langit terowongan. "Bagaimana bisa kalian bercerai?! Mau ditaruh di mana wajah Ayah?!"

Di ujung keputusasaan itu, sayup-sayup terdengar suara lembut ibunya yang menangis ratu. "Pulanglah, Nak... Pulang..."

Akira terus berlari, mencoba menggapai cahaya di ujung terowongan. Namun, begitu kakinya berhasil melangkah keluar, tanah di bawahnya mendadak runtuh. Tubuhnya terjun bebas, jatuh terhempas masuk ke dalam aliran sungai berbatu yang sangat dingin. Air sungai langsung menelan tubuhnya. Dada Akira terasa sesak yang luar biasa. Dalam kegelapan air, ia mencoba menggapai apa pun untuk bertahan hidup, namun tubuhnya terus tenggelam ke dasar.

Tepat ketika ia hampir menyerah pada rasa sesak itu, sebuah teriakan melengking memecah keheningan air.

"Akira-san...! Akira-san...! Selasar samping!!!"

*Gasps!*

Mata Akira langsung terbuka lebar. Tubuhnya tersentak di atas futon dengan napas yang memburu hebat. Jantungnya berdetak kencang bagaigenderang perang, dan seluruh tubuhnya dibanjiri oleh cucuran keringat dingin hingga membuat baju tidurnya basah kuyup.

Mimpi buruk itu lagi.

Akira perlahan mendudukkan tubuhnya di atas futon, mencengkeram dadanya yang masih terasa agak sesak. Di luar, suara rintik hujan yang lebat terdengar menghantam atap rumah. Ia melirik jam dinding yang menunjukkan pukul dua dini hari.

Dengan langkah gontai, Akira berjalan ke dapur untuk meneguk segelas air dingin demi menenangkan sarafnya yang tegang. Saat berjalan kembali menuju kamarnya, langkahnya terhenti di depan kamar Yukari. Ia menggeser sedikit pintu geser tersebut, memastikan gadis itu sedang tertidur pulas tanpa gangguan mimpi buruk seperti dirinya semalam. Setelah melihat Yukari aman, Akira menutupnya kembali dengan sangat pelan, lalu kembali ke kamarnya untuk melepas baju tidurnya yang basah dan mencoba memejamkan mata tanpa mengenakan atasan.

***

Keesokan paginya, langit sudah terang benderang. Di halaman samping, Yukari sedang sibuk menjemur handuk bersih. Sesekali, matanya melirik ke arah dapur yang tampak sepi. Biasanya, jam segini Akira sudah selesai mandi dan sibuk membuatkan sarapan untuk mereka.

Merasa ada yang tidak beres, Yukari meletakkan jemurannya lalu melangkah masuk ke dalam rumah. Ia berjalan menuju kamar Akira dan mengetuk pintu kayunya pelan. "Akira-san?"

Tidak ada sahutan dari dalam.

Yukari memberanikan diri menggeser pintu kamar tersebut. Di dalam, ia melihat Akira masih tertidur di atas futonnya. Namun, tidurnya tampak sangat gelisah. Alis pria itu bertaut rapat, dan tubuhnya yang kekar tanpa balutan baju itu tampak dipenuhi bulir keringat. Akira sesekali bergumam aneh dalam tidurnya.

Yukari berjalan mendekat, lalu duduk berlutut di dekat kepala Akira. Merasa khawatir, ia mengulurkan tangannya dan menyentuh lembut pipi Akira yang terasa dingin oleh keringat. "Sepertinya dia bermimpi buruk..." gumam Yukari pelan.

Tepat saat sentuhan dingin jemari Yukari mendarat di kulitnya, Akira mendadak terbangun. Napasnya tersedak hebat dan tubuhnya tersentak ke atas, persis seperti orang yang kehabisan oksigen setelah tenggelam.

Yukari terperanjat kaget, langsung menarik tangannya kembali. "Akira-san...!"

Akira menatap nanar ke sekeliling kamar dengan mata memerah. Begitu pandangannya terkunci pada sosok Yukari yang duduk di dekatnya, embusan napas lega yang panjang perlahan keluar dari mulutnya.

"Ah... mimpi itu lagi..." gumam Akira lirih. Ia duduk tegak dengan rambut yang berantakan, mencoba mengatur napasnya yang masih memburu. "Selamat pagi, Yukari-san."

Yukari memiringkan kepalanya, menatap lekat-lekat gurat kelelahan di wajah pria itu. "Akira-san, kau bermimpi buruk?"

Ujung bibir Akira terangkat kecil, membentuk senyuman pahit sembari mengangguk lemah. "Ya... Semakin lama, mimpi itu justru semakin sering datang."

Akira kemudian meraih kaos bersih yang tergeletak di dekatnya, lalu memakainya dengan cepat untuk menutupi tubuhnya. "Tapi kau tidak perlu khawatir, Yukari-san. Ini hanya bunga tidur," sambungnya, mencoba terdengar tegar.

Yukari hanya mengangguk pelan, walau matanya tidak bisa berbohong kalau dia ikut merasakan kesedihan Akira.

Akira bangkit berdiri, lalu mulai melipat dan mengangkat futon tempat tidurnya. "Aku akan menjemur ini dulu ke luar. Basah karena keringat dingin," pamitnya.

Melihat Akira yang tampak kepayahan, Yukari tidak tinggal diam. Ia segera membantu mengangkat selimut tebal milik Akira, lalu mengekor di belakang pria itu menuju halaman belakang rumah.

Selama proses menjemur futon di bawah terik matahari pagi, Akira tampak sangat serius. Wajah jantannya terlihat muram dan ia sama sekali tidak mengeluarkan sepatah kata pun.

Yukari yang tidak tahan melihat keheningan itu akhirnya membuka suara sambil ikut menata selimut di bilah bambu. "Kau bermimpi tentang apa, Akira-san?"

Akira hanya melirik sekilas ke arah Yukari melalui sudut matanya, lalu kembali terdiam.

"Kau sampai semuram ini..." Yukari melangkah mendekat, lalu mengulurkan tangannya untuk menyentuh lembut lengan tegap Akira, mencoba menyalurkan kekuatan. "Kau sedang tidak baik-baik saja, Akira-san."

Sentuhan di lengannya membuat pertahanan Akira runtuh. Ia menghentikan kegiatannya, lalu berbalik dan menatap Yukari dengan pandangan yang sangat serius sekaligus rapuh.

Beberapa saat kemudian, keduanya sudah duduk berdampingan di atas kursi panjang kayu yang terletak di halaman belakang, menghadap ke arah kebun yang asri.

"Aku sudah terlalu sering memimpikan hal ini," buka Akira dengan suara rendah, pandangannya lurus menatap kosong ke depan. "Aku berlari di dalam terowongan yang gelap gulita... dan pelarianku selalu berakhir dengan terjun bebas ke dalam sungai berarus deras." Akira mengepalkan kedua tangannya di atas lutut hingga urat-urat tangannya menonjol. "Aku tidak tahan dengan suara-suara yang bergema di dalam terowongan itu."

Yukari menoleh penuh, mendengarkan dengan saksama. "Suara? Apa yang kau dengar, Akira-san?"

Akira menelan ludahnya yang terasa kelat. "Aku mendengar hinaan Haruka yang menyebutku pria lemah... ucapan kecewa dari sahabat dekatku... dan suara Ayah yang menggelegar marah karena perceraian itu." Akira menjeda kalimatnya cukup lama, napasnya terasa berat saat ingatan itu berputar kembali. "Dan... suara Ibu yang menangis memintaku untuk pulang."

Yukari memandang Akira dari samping. Di balik wajah tegas pria itu, kini terpancar raut kesedihan yang mendalam, rasa kecewa pada keadaan, sekaligus rasa kerinduan yang teramat sangat pada kehangatan rumah yang telah hilang.

Merasakan kepedihan yang luar biasa dari pria yang telah merawatnya, tubuh Yukari bergerak berbalik, menghadap penuh ke arah Akira. "Abaikan suara Haruka, Akira-san. Dia tidak berhak menghakimimu," ucap Yukari lembut namun tegas. "Tapi... bagaimana kalau kau mencoba menghubungi Ayah dan Ibumu? Atau mungkin sahabatmu itu, Akira-san?"

Akira tampak terkejut mendengar saran tersebut. Wajahnya menegang seketika. "Tidak."

"Kenapa?" tanya Yukari polos.

"Tidak, Yukari-san... Aku..." Akira menjeda kalimatnya, meremas jemarinya sendiri dengan gelisah. "Sudah dua tahun penuh aku sama sekali tidak menghubungi mereka. Orang tuaku... maupun sahabatku."

Yukari tersentak kaget di tempat duduknya. "Dua tahun? Kenapa, Akira-san?"

Akira terdiam cukup lama, memandangi kepalan tangannya sebelum akhirnya mengunci pandangannya tepat pada sepasang mata bulat Yukari. "Karena perceraian itu, Yukari-san. Orang tuaku merasa persahabatan lama mereka dengan keluarga Haruka menjadi retak dan hancur karena perceraian kami. Ayah tidak mau menerimaku, beliau langsung murka tanpa mau mendengar satu pun alasanku."

Yukari mengangguk paham, merasakan ketidakadilan yang dialami pria di depannya. "Lalu... sahabatmu? Apa alasanmu tidak menghubungi mereka?"

Akira mengembuskan napas panjang yang terasa sangat berat, bahunya merosot turun. "Aku malu..." lirihnya. Matanya menatap Yukari dengan tatapan yang sarat akan penyesalan terdalam. "Aku tidak punya nyali untuk mengakui kalau aku salah, Yukari-san. Aku salah karena dulu tidak pernah mau mendengar peringatan mereka tentang bagaimana tabiat asli Haruka."

Angin pagi berembus perlahan menerpa wajah keduanya, menggoyangkan dedaunan di halaman belakang seolah ikut berempati pada takdir rumit mereka.

Yukari tertegun. Ia tahu persis apa yang sedang dirasakan oleh Akira saat ini. Rasa bersalah, rasa malu, Yukari juga pernah berada di posisi hancur seperti ini karena hiroshi.

"Akira-san... bagaimana kalau kita mencobanya sekali saja?" tanya Yukari lembut, mencoba membujuknya perlahan.

Akira menatap Yukari sesaat, namun rasa takut akan penolakan membuat pria itu langsung memalingkan wajahnya ke arah lain. "Tidak, Yukari-san. Mungkin... bukan hari ini."

"Tapi kita tidak akan pernah tahu kalau belum dicoba, bukan?" tekan Yukari, tidak mau menyerah untuk menyembuhkan pria penolongnya. "Bisa jadi, selama dua tahun ini mereka sebenarnya juga sedang mencarimu dan menunggumu pulang."

"Tidak mungkin, Yukari-san! Ayah sudah terlanjur kecewa!"

Suara Akira mendadak naik satu oktav, memutus kalimat Yukari dengan nada yang bergetar hebat. Pria itu melepas sedikit kegelisahan dan amarah yang selama dua tahun ini ia kunci rapat di dalam dadanya.

"Beliau lebih memilih menjaga perasaan sahabatnya dibandingkan mendengarkan darah dagingnya sendiri! Selama ini aku memilih diam! Aku tidak bisa menceritakan seburuk apa kelakuan Haruka di belakangku karena wanita itu adalah anak dari sahabat karib Ayah!" Akira terengah-engah, dadanya naik turun selagi emosinya tumpah.

"Mau aku katakan apa pun, yang disalahkan tetaplah aku! Aku dicap bersalah karena tidak bisa menghamili Haruka, tidak bisa memberikan cucu untuk keluarga besar... Padahal Haruka sendiri yang menolak disentuh olehku karena dia berselingkuh dengan pria lain...!"

Yukari terdiam, tidak menyela letupan amarah itu. Ia menatap Akira memberikan pria itu waktu dan ruang untuk menumpahkan seluruh emosi yang selama ini menyiksa.

1
Putri Ayu/PqxxyZ
Halo kak... mari kita saling dukung dalam berkarya 😊😊
Putri Ayu/PqxxyZ: sama aja kak 😄 baru coba coba di sini
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!