Deanitha elisya merupakan Seorang mahasiswi cantik di salah satu universitas ternama di kotanya. memiliki kecantikan yang nyaris sempurna membuat banyak yang iri hati bahkan merasa tersaingi. namun begitu, Dea begitu biasa ia di sapa, sama sekali tidak peduli, baginya yang terpenting adalah ia segera menyelesaikan pendidikannya agar dapat membanggakan kakak laki-lakinya, yang merupakan satu satunya keluarga yang ia miliki setelah kepergian kedua orang tuanya untuk selamanya.
Brian Jilbert, pria berprofesi sebagai CEO sekaligus pemimpin perusahaan miliknya sendiri. pria yang begitu menyayangi adik sepupunya, rela melakukan apapun demi adik sepupu kesayangannya itu. hingga suatu hari ia sengaja melakukan tindakan yang merugikan seorang gadis, yang dianggap sebagai perusak hubungan asmara adik sepupu kesayangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehamilan simpatik.
"Mana kak Brian???." tanya Tante Lita saat putrinya kembali dari kamar Brian seorang diri.
"Iya sayang, kemana kakak kamu, kenapa dia tidak ikut turun bersama mu????." ibunya Brian pun ikut menimpali saat melihat keponakannya itu kembali seorang diri tanpa putranya.
"Itu mah....Tante....kak brian ketiduran, Lita tidak tega membangunkannya." demi permintaan Brian dengan berat hati Lita terpaksa berdusta pada ibu dan tantenya. gadis yang tidak biasa berdusta tersebut lantas berucap dengan nada terbata, tapi untungnya ibu, ayah, serta tantenya percaya begitu saja dengan ucapannya tanpa banyak bertanya apa apa lagi.
"Sebenarnya kak Brian kenapa sih??? kenapa juga kak Brian menolak pergi ke dokter???." di saat semua orang fokus menyantap makan malamnya masing masing, Lita justru sibuk melamun sembari mengaduk aduk makanan di piringnya.
Berbeda dengan Brian yang kini memaksakan matanya untuk terpejam, di belahan bumi yang berbeda Dea justru disibukkan dengan kegiatan perkuliahannya, sebab saat ini di negara tempat Dea melanjutkan pendidikannya waktu menunjukkan pukul sepuluh pagi waktu setempat.
"Dea, akhir akhir ini aku perhatikan kamu tidak lagi merasakan mual muntah apalagi mengantuk di pagi hari." komentar Sasa yang diam diam memperhatikannya.
"Iya yah." Dea juga baru menyadarinya.
"Apapun alasan dan penyebabnya kita patutnya bersyukur karena dengan begitu Dea tak harus mendapat teguran dari dosen karena tidak fokus dalam belajar." timpal Fana, yang di iyakan oleh Sasa dan juga Dea.
Seperti kata Fana, Dea juga patut bersyukur karena selama kehamilannya yang telah memasuki Minggu ke delapan ia belum pernah mengalami ngidam seperti wanita hamil pada umumnya, sehingga ia tak harus direpotkan dengan keinginan ngidam yang macam macam.
***
Sudah hampir satu bulan Brian berangkat kerja hampir mendekati pukul sembilan pagi padahal biasanya pukul setengah delapan pagi pria itu sudah tiba di perusahaan. Bagaimana tidak, mual muntah yang dialaminya selama sebulan terakhir membuat semuanya berubah seperti itu. Bahkan asisten Bani pun di buat bertanya tanya, apa yang sebenarnya terjadi pada majikannya itu??.
Sama halnya dengan pagi ini, asisten Bani yang tiba sejak pukul tujuh pagi tadi di kediaman Brian, terpaksa harus menunggu.
"Selamat pagi, tuan." Asisten Bani terdengar berseru kala melihat keberadaan Brian yang baru saja menuruni anak tangga.
"Pagi." sahut Brian di sela langkahnya. Brian terus melangkah menuju ke arah mobilnya berada.
"Apa pagi ini saya ada jadwal meeting dengan klien??." tanya Brian pada asisten Bani yang kini tengah membukakan pintu mobil untuknya.
"Sepertinya tidak ada tuan, hanya saja siang ini anda di minta oleh tuan Rio menemani nona Tesa untuk makan siang sekaligus membahas tentang rencana pertunangan anda, tuan." beritahu Asisten Bani.
Helaan napas Brian terdengar memberat saat mendengar kata tunangan yang baru saja diucapkan oleh asisten pribadinya itu. Brian terlihat diam saja seolah enggan merespon ucapan dari Asisten Bani tentang rencana makan siangnya bersama calon istrinya itu.
Di sepanjang perjalanan menuju perusahaan Brian terlihat diam seperti sedang melamun, terbukti ketika mobil yang dikendarai asisten Bani telah tiba di depan gedung Jilbert Group namun Brian belum juga menyadarinya.
"Kita sudah sampai, tuan."
Seruan asisten Bani sekaligus membuyarkan lamunan Brian. Asisten Bani lantas turun dari mobil untuk membukakan pintu mobil untuk Brian.
Brian yang baru saja turun dari mobil lantas mengayunkan langkah memasuki gedung perusahaannya. pemandangan yang hampir setiap hari terjadi, di mana kedatangan Brian selalu menjadi pusat perhatian terutama pegawai wanita yang bekerja di perusahaannya. Satu catatan yang harus di ingat, para pegawai Brian hanya berani menatap kagum pada bosnya mereka tersebut secara diam-diam karena jika sampai ketahuan oleh Brian bisa dipastikan mereka tak akan lagi dipekerjakan di perusahaannya.
Brian terus mengayunkan langkahnya melintasi lobby gedung menuju ke arah lift petinggi perusahaan yang akan mengantarkannya ke lantai teratas di mana ruangannya berada.
Setibanya di ruangan kerjanya, Brian lantas mendaratkan bokongnya di kursi kebesarannya seraya menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. Sementara Asisten Bani, pria itu baru saja pamit kembali ke ruang kerjanya.
"Jika vonis dokter berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium mengatakan kondisi tubuhku dalam keadaan baik baik saja tidak ada masalah, lalu kenapa akhir akhir ini aku sering sekali merasakan mual dan muntah???." batin Brian dengan posisi menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi dengan pandangan jauh menerawang entah kemana.
Di tengah kebingungannya tiba-tiba Brian teringat akan salah seorang sahabat sekampusnya dulu sewaktu menempuh pendidikan di luar negeri, hanya saja keduanya mengambil jurusan berbeda, jika Brian mengambil jurusan di jurusan akutansi bisnis sahabatnya itu justru mengambil jurusan kedokteran. Brian menegakkan tubuhnya lalu kemudian meraih ponsel dari saku jasnya, hendak menghubungi seseorang melalui panggilan video.
Tiga kali deringan, panggilan video Brian pun tersambung dan kini layar ponsel Brian telah menampilkan wajah bule tampan.
"Halo Brian... ada angin apa hingga kau menghubungiku???." ucap pria bule itu dengan menggunakan bahasa asing.
"Aku ingin sedikit bertanya padamu." sama halnya dengan sahabatnya itu, Brian pun menggunakan bahasa asing untuk berkomunikasi dengan sahabatnya yang tak pandai berbahasa Indonesia tersebut.
"Memangnya apa yang ingin kau tanyakan???."
"Menurutmu apa yang menyebabkan seseorang bisa merasakan mual muntah di pagi dan malam hari???." awalnya Brian meragu untuk bertanya, namun jika ia tidak menanyakan kasus yang terjadi padanya tersebut pada Lion , bisa jadi Brian akan terus dilanda kebingungan bahkan mungkin bisa mati penasaran.
"Apa seseorang yang kau maksud itu dirimu???." pertanyaan Lion di jawab Brian dengan anggukan kepala.
"Jika seperti itu sebaiknya kau segera memeriksakan kondisi kesehatan mu ke dokter, lakukan serangkaian pemeriksaan di seluruh bagian tubuh hingga kepalamu dengan begitu kau bisa mengetahui penyebab mual muntah yang kau alami!!!." saran Lion.
"Masalahnya aku sudah melakukan semua apa yang kau katakan barusan dan hasilnya menyatakan jika kondisi kesehatanku baik-baik saja tidak ada satupun yang bermasalah dengan tubuhku." ungkap Brian sesuai dengan hasil pemeriksaan dokter beberapa hari yang lalu.
Sejenak lion terdiam seperti sedang berpikir, pria itu mencoba mempelajari kasus yang dialami oleh sahabatnya itu.
"Biasanya kasus seperti yang kau alami saat ini terjadi pada seorang suami yang istrinya tengah mengandung, dan Kasus seperti ini biasanya di sebut dengan kehamilan simpatik." tutur Lion berdasarkan kasus sebelum sebelumnya yang pernah terjadi selama ia berprofesi sebagai seorang dokter spesialis kandungan.
Brian menarik salah satu sudut bibirnya ke samping hingga menciptakan sebuah seringaian. "bagaimana mungkin aku bisa mengalami kasus seperti yang kau katakan, sementara kau tahu sendiri jika aku ini belum meni_."
Brian tak melanjutkan kalimatnya saat ia tiba-tiba teringat akan sosok Dea, wanita yang pernah melewati malam pa_nas bersamanya.
"Apa mungkin saat ini Dea sedang hamil, tapi jika Dea sampai hamil pasti wanita itu akan menyampaikan kabar itu padaku. Kalaupun ia tidak ingin menyampaikannya padaku, setidaknya saat ini Aristio pasti sudah datang untuk menghajar ku setelah mengetahui kabar kehamilan adiknya." batin Brian.
akhirnya armada di kasih jodoh juga sama Author🤭