NovelToon NovelToon
Skandal Dengan Pacar Bos

Skandal Dengan Pacar Bos

Status: tamat
Genre:Selingkuh / Cinta Terlarang / Percintaan Konglomerat / Kehidupan di Kantor / Tamat
Popularitas:113.6k
Nilai: 5
Nama Author: Gresya Salsabila

"Kau tangan kananku. Apa yang kau lakukan dengan kekasihku?"

"Maaf, Tuan, saya dan Anne saling mencintai. "

Raksa Saskara tak bisa mengelak saat skandalnya diketahui oleh atasan—Nero Morvion. Raksa sadar, segala perbuatan memang ada konsekuensi yang harus diterima, termasuk selingkuh dengan Keanne Syahira Dirgantara—calon tunangan Nero.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gresya Salsabila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Melawan Nero

Asap rokok mengepul dari bibir yang menguarkan aroma alkohol. Entah sudah berapa batang yang diisap habis, sepertinya tak jauh beda dengan jumlah botol vodka yang sudah kosong.

Nero Morvion, lelaki yang sedang kecewa dengan kisah asmaranya, memilih rokok dan alkohol sebagai pelampiasan emosi. Kamar yang biasa menjadi saksi betapa semangatnya dia, kali ini menyaksikan kerapuhan tuannya.

"Anne."

Satu nama kembali disebut oleh Nero. Nama sang kekasih yang ia cintai, tetapi ternyata menghadirkan luka yang paling perih. Tak bisa dijabarkan dengan kata-kata bagaimana kecewanya, dia dikhianati oleh dua orang yang sangat dipercaya. Rasanya Nero menjadi orang paling bodoh sedunia.

"Kalian brengsek!" geram Nero sambil meremas puntung rokok. Tak ia pedulikan meski apinya mengenai telapak tangan dan menyisakan rasa panas.

"Kenapa harus dia, Anne? Kenapa?"

Mata Nero menatap nyalang ke segala arah. Kemudian, tangannya kembali meraih sebotol vodka dan meneguknya dengan penuh emosi.

Walau sudah setengah mabuk, tetapi Nero tak ada niatan untuk berhenti. Dia ingin melupakan kejadian menyakitkan itu meski hanya sejenak dan dengan cara yang salah.

Sampai kemudian, Nero malah tertawa, mengingat pengkhianatan yang amat menyakitkan baginya. Hingga malam terus bergulir menjadi pagi, Nero tak beranjak dari posisi. Dia tetap duduk di sofa, menelungkupkan kepala di meja, di antara puntung rokok dan botol kosong vodka yang berserakan di sana.

_____

"Ahh!"

Hampir tengah hari, Nero baru membuka mata. Itu pun rasanya sangat berat. Kepala pening dan sakit, akibat terlalu banyak minum tadi malam.

Sambil memijit pelipis, Nero bangkit dan berjalan ke kamar mandi dengan sempoyongan. Sesampainya di sana, ia menatap pantulan diri di dalam cermin. Sangat kacau. Kemeja kusut dan kancingnya banyak yang terlepas, rambut berantakan, wajah masam dengan mata merah dan sayu. Jika seperti ini, siapa yang percaya bahwa dia adalah pemilik N&M dan investor di banyak bidang bisnis.

"Kamu membuatku seperti, Anne." Nero berucap pelan. Kepalanya menunduk dan tak mau lagi menatap bayangan diri. Sangat memalukan.

Setelah cukup lama mematung dalam perasaan yang entah, Nero mulai membersihkan diri dan siap-siap pergi ke kantor. Baru pertama kali ini dia kalut sampai mengabaikan pekerjaan.

"Bereskan kamarku! Tidak usah bertanya apa pun!" perintah Nero kepada pelayan.

"Baik, Tuan." Sang pelayan patuh. Ia tak banyak membantah meski sebenarnya sangat yakin bahwa tuannya tidak baik-baik saja.

Sementara itu, Nero langsung pergi tanpa peduli dengan pelayan yang pasti tercengang melihat kondisi kamarnya. Botol kosong vodka tak hanya berserakan, tetapi juga sebagian ada yang pecah. Pun dengan barang-barang lain yang sebelumnya tertata apik di meja, sekarang acak-acakan tak karuan.

Karena hati masih digeluti amarah, Nero memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, dan tak membutuhkan waktu lama bagi dia untuk tiba di kantornya.

"Selamat siang, Tuan."

Sapa beberapa karyawan yang kala itu sedang beristirahat makan siang.

Nero hanya menanggapinya dengan anggukan. Tak ada senyum atau sekadar tatapan ramah, auranya dingin dan menciutkan nyali.

Tak lama kemudian, Nero tiba di ruangannya dan melihat meja kerja Raksa kosong. Entah tadi sempat datang atau tidak. Meja itu memang selalu rapi, jadi Nero tak bisa mengenali.

"Brengsek!" Nero kembali mengumpat. Cukup lama berdiam diri tak membuatnya fokus dengan pekerjaan. Yang ada hanya ingatan tentang Anne terus menari-nari dalam pikiran.

Sampai kemudian, pintu ruangan dibuka dari luar. Nero pun tersadar dari lamunannya. Ia menatap ke arah pintu dan mendapati Raksa sedang berdiri di sana.

"Maaf, saya tidak tahu jika Anda sudah datang." Raksa melangkah masuk, lantas menyodorkan beberapa berkas kepada Nero. "Ini hasil rapat tadi pagi. Dan ini ... laporan perkembangan proyek dari Tuan Sanjaya," sambungnya.

Mata Nero memicing, menatap benci pada Raksa yang malah bersikap biasa seolah tak terjadi apa-apa.

"Kau masih punya muka berdiri di sini?" Nero bangkit dan melangkah mendekati Raksa.

"Saya sudah bertanggung jawab untuk menyelesaikan ini. Soal pekerjaan, saya akan profesional meskipun setelah ini akan dipecat."

"Bagus kalau kamu paham. Seharusnya sebelumnya bertindak, kau pikirkan dulu konsekuensinya. Bagiku ... kau tak lebih dari butiran debu. Aku bisa menghancurkanmu sewaktu-waktu, Raksa!" ucap Nero sambil memasukkan kedua tangan dalam saku celana.

Raksa tersenyum. "Butiran debu memang mudah dihancurkan. Tapi, Anda jangan lupa, Tuan, sekali saja butiran debu masuk ke mata, maka Anda akan merasa perih dan kemudian memejam. Langkah Anda pun akan terhenti."

Nero menatap tajam. Dia tak suka dengan jawaban Raksa.

"Anda memang punya kuasa, bahkan untuk memasukkan nama saya dalam daftar hitam juga bukan hal yang sulit. Tapi, Anda jangan melupakan satu hal. Saya sudah lama mengabdi pada Anda, saya tahu betul bagaimana cara kerja Anda. Saya juga memegang banyak rahasia Anda dan N&M. Sebesar apa pun kekuasaan Anda, tidak akan bisa bertahan lama jika rahasia-rahasia itu mencuat keluar," ucap Raksa.

Dengan cepat, Nero meraih kerah Raksa dan mencengkeramnya dengan kuat, hingga leher Raksa sedikit tercekik.

"Kau mengancamku?"

"Saya tidak mengancam, saya hanya mengingatkan Anda bahwa menghancurkan saya bisa juga menghancurkan Anda sendiri."

Nero diam, tetapi tidak melepaskan cengkeraman.

"Saya tidak berniat mengkhianati Anda, selama Anda juga tidak mencampuradukkan masalah pribadi dan pekerjaan. Saya memang tidak sekuat Anda, tapi saya juga tidak selemah yang Anda pikirkan. Bukankah tempo hari saya juga berhasil meyakinkan Anda bahwa Tuan Chandra adalah pengkhianat sejati? Anda tidak pernah curiga kan kalau di dalam masalah itu ada campur tangan saya untuk membungkam dia? Tuan Nero ... saya juga bisa bertindak di luar kemampuan Anda," sambung Raksa dengan penuh keyakinan. Meski dalam hati ada rasa takut karena lawannya adalah Nero, tetapi sudah kepalang tanggung untuk mundur. Lagi pula, ada Anne yang memang harus diperjuangkan.

"Hanya karena itu kamu sudah bermimpi untuk melawanku? Heh, kita lihat saja, siapa yang akan hancur!" Nero mengeratkan cengkeramannya. "Minta maaf sekarang belum terlambat, Raksa, sebelum kau menyesal dan menangis darah nantinya!"

"Saya hanya mencintai Anne. Sebenarnya saya tidak berniat melawan Anda atau mengkhianati Anda dalam hal bisnis. Tapi, jika Anda yang mengajak demikian, tentunya aku tidak akan diam. Sebagai lelaki, saya akan melindungi wanita saya, memastikan dia baik-baik saja dan merasa aman bersama saya," jawab Raksa dengan tegas.

Nero makin murka. "Kau berani menyebut Anne sebagai wanitamu?"

Raksa tersenyum tipis, seolah tak terusik meski lehernya terasa sakit, bahkan untuk menelan ludah pun sulit.

"Dia memang wanita saya, dan Anda sendiri yang mengantarnya pada saya," ucapnya.

"Bereskan barangmu dan cepat pergi dari sini! Jangan harap aku akan memecatmu dengan hormat. Kau ... akan menanggung akibat dati perbuatanmu, Raksa!" Nero membentak sambil mendorong kasar tubuh Raksa, sampai terhuyung dan nyaris jatuh.

Namun, Raksa tak mempermasalahkan itu. Dia hanya merapikan kembali kemeja yang kusut akibat cengkeraman Nero. Lantas berkata, "Saya akan pergi, Tuan, dan saya siap menanggung segala konsekuensinya."

Usai berkata demikian, Raksa bergegas mengambil barang-barang pribadinya. Mengemasnya dengan cepat menjadi satu kardus.

Sebelum pergi meninggalkan ruangan. Raksa sempat bicara lagi pada Nero.

"Saya akui, ke depannya akan sulit mencari atasan yang royal seperti Anda. Tapi, jangan dipungkiri, Anda juga akan sulit mencari pengganti saya. Anda punya kekuasaan untuk memblokir masa depan saya, tapi saya juga punya rahasia yang bisa menggulingkan posisi Anda. Tuan, sebaiknya Anda juga berpikir dengan matang sebelum bertindak, karena ada banyak resiko yang nantinya akan berbalik pada Anda sendiri. Dan lagi ... lelaki yang sekarang dicintai Anne adalah saya. Anda memaksa bertahan pun belum tentu dia mau, bisa jadi malah membenci. Bukan begitu, Tuan?"

"Kau___"

"Permisi," pungkas Raksa sambil melanjutkan langkahnya, pergi meninggalkan Nero yang masih terbakar amarahnya sendiri.

Bersambung...

1
neni onet
Nero pasti ga nidurin, dia pasti cuma drama dan akhirnya akan benar2 jatuh cinta 😄
neni onet
jangan bilang Raina diperk*s* sama Nero🫣
neni onet
baru kali ini aku mendukung perselingkuhan, bermainlah yang rapi biar reader ga senam jantung 😄
Erni Fitriana
thot keren karyamy😘😘😘😘
Erni Fitriana
paati topeng y thor raina n nerro
Erni Fitriana
aku percaya sama thor...👍🏾👍🏾👍🏾
Erni Fitriana
walahhhh...kenapa raaa???
Erni Fitriana
apakah brtan bisa dipercaya sa????
Erni Fitriana
raksa..salut abang yg sangat cinta n kasih terhadap adiknya...
Erni Fitriana
poor raina.....author baik banget udah mau bikin buku khususan nero-raina...love u author😘😘😘
Erni Fitriana
nero...pada saat raina sadar n sdh pintar..giliran kamu gantian junhkie baluj ngwjar cinta raina...inhat kata" raimon
Erni Fitriana
😔😔😔😔😔😔berasa sedihnya sape ke reader's saaaaa
Erni Fitriana
neroooooooo😡😡😡
Erni Fitriana
thor ceritamu😘😘😘😘😘😘😘😘
Erni Fitriana
sekecil apa ra???
Erni Fitriana
raina😫
Erni Fitriana
jodoh ditangan author raaa
Erni Fitriana
RAINA SAAAAA....RAINAAAAA
Erni Fitriana
aduh raina😖😖😖😖
Erni Fitriana
aduhhhhhhh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!