Setiap kisah cinta mempunyai cerita sendiri, memiliki awal dan akhir yang berbeda, bukan? Setiap pasangan pasti ingin perjalanan cintanya berakhir bahagia,bukan? Tapi... pasti juga akan ada pasangan yang berakhir menyedihkan, iyakan?
Lalu bagaimana akhir dari perjalanan cinta Ketua Tim Basket dan Ratu Es sekolah?
ikuti kisah mereka dalam novel ku yang kedua.
'journey of love'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NurFitriAnisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 Pasang Surut Kehidupan
"Uhuk, uhuk."
Aku dan Reno segera melepas pelukan kami, begitu mendengar suara batuk seseorang.
Ternyata itu Kak Reza, yang sedang mencari aku.
"Eh! Ada Kak Reza, heheh." Ucap Reno.
"Mau sampai kapan?" Tanya Kak Reza.
Aku dan Reno yang mendengar pertanyaan Kak Reza, menunduk malu. Sebab, aku juga tidak menyangka bahwa aku akan berinisiatif memeluk Reno duluan.
"Heheh, jarang Raina punya inisiatif meluk duluan, Kak. Jadi, mau aku tadi sih, selama mungkin." Jawab Reno.
Reno menyadari apa yang di ucapkannya akan membuat dia mendapatkan pukulan dari Kak Reza. Maka, setelah dia mengatakan itu dia bergegas berlindung di belakang ku. Agar Kak Reza tidak bisa memukulnya.
"Heh, kamu bilang apa tadi? Sini, Kak Reza tidak dengar dengan jelas tadi."
"Aku bilang mau meluk Raina selama mungkin Kak." Ucap Reno yang ada di belakang ku.
"Oh, begitu. Boleh saja, asalkan kalian berdua sudah Sah." Ucap Kak Reza.
"Ih, Kak Reza, Raina masih mau sekolah. Belum mau nikah!" Jawab ku langsung.
"Siapa juga bilang kalian harus nikah sekarang? Oh, Kak Reza paham. Kak Reza telpon Ayah dan Ibu dulu suruh mereka siap-siap."
"Ha! Buat apa mereka siap-siap!?"
"Yah, buat nyambut calon mantu. Kan sebentar mau lamaran ke rumah. Iyakan? Adik ipar?" Ucap Kak Reza.
Apa? Lamaran? Kak Reza bilang tadi lamaran? Aku tidak salah dengar, kan? Juga, dia memanggil Reno Adik ipar!
Aku tidak berbicara apapun setelah Kak Reza berkata seperti itu. Aku hanya melihat Reno dan Kak Reza bergantian. Sambil bertanya-tanya apa yang terjadi saat ini. Aku baru saja mendengar penjelasan Reno secara langsung, dan sekarang? Aku mendengar bahwa dia dan keluarganya akan ke rumah kami, untuk melamar ku?
"Hm, benar apa yang di bilang Kak Reza, aku dan keluargaku akan pergi ke rumah mu, besok pagi. Kami akan melakukan apa yang tertunda selama dua tahun ini. Walaupun, kami tahu bahwa ke lulusan masih sangat lama. Tapi, kami tidak ingin apa yang terjadi dua tahun lalu terulang kembali." Jelas Reno.
Aku tersenyum padanya. Aku bingung harus bagaimana menjawabnya. Aku merasa senang, bahagia, terharu, bahkan aku tidak bisa menjelaskan lagi perasaan ku saat ini.
...~~~...
Aku dan Reno kembali ke halaman belakang rumah. Kami, berjalan ke tempat dimana Kak Reza telah duduk dengan Paman Nero dan keluarganya. Aku tidak mendapati Ella dan Angga disana.
"Hmm, sudah dekat aja." Ucap Arini.
"Iyalah, kan calon istri." Ucap Reno.
"Hah! Memang sudah di terima."
"Kalau dia nolak, tadi tidak pe-"
"Paman, Bibi, apa kabar." Aku memotong ucapan Reno.
Aku tahu apa yang akan dia katakan, dia pasti akan bilang pada Arini, bahwa aku bahkan tadi memeluknya duluan. Jadi, tidak mungkin aku tidak menerimanya!
"Alhamdulillah, baik. Nana juga apa kabar, Nak." Paman Nero menanggapi ucapan ku yang mengalihkan pembicaraan Reno dan Arini.
"Maaf, selama ini kami tidak memberikan kabar apa pun padamu. Bibi minta maaf." Ucap Bi Ayu tiba-tiba.
"Bibi, tidak perlu meminta maaf pada Nana. Raina memahami apa yang di lakukan oleh Bibi dan Paman itu semua buat kebaikan Raina sendiri. Jadi, bibi dan paman tidak perlu meminta maaf padaku terus. Jika, kalian seperti itu terus Raina akan marah pada kalian, dan tidak akan berbicara lagi pada kalian." Ucap ku.
Walaupun aku harus sedikit berkata yang kurang sopan pada mereka. Tapi, Aku berbicara seperti itu agar Reno dan Keluarganya tidak lagi terus menerus merasa bersalah padaku.
Setelahnya aku, Kak Reza, Reno dan keluarganya. Berbicara banyak hal, kami mulai menceritakan apa yang telah kami lalui selama dua tahun ini.
Tanpa terasa waktu berlalu dengan cepat. Banyak tamu yang sudah pamit pulang pada Paman Nero dan keluarganya.
Aku dan Kak Reza pun pamit pulang saat semua tamu mereka sudah pulang. "Aku dan Kak Reza hampir seperti pemilik acaranya saja." Pikirku.
Aku dan Kak Reza, kami hanya pulang berdua saja, Ella sudah pulang sejak tadi bersama Angga. Kata Kak Reza tadi, Ibu Ella menelepon katanya Ayah Ella jatuh dari tangga rumahnya, dan sekarang ada di rumah sakit. Karena Waktu belum terlalu larut, aku mengatakan pada Kak Reza agar membawa aku ke rumah sakit dimana ayah Ella berada sekarang.
...~~~...
"Kak Reza pulang saja, aku mungkin akan bermalam disini, menemani Bunda Dinda dan Ella." Ucapku begitu hendak turun dari mobil.
"Eh!? Tapi, besok Reno dan keluarganya akan ke rumah. Bagaimana jika mereka mencari kamu?" Ucap Kak Reza menahanku.
"Yah... bilang aku di rumah sakit temani Ella dan Ibunya. Lagian, mereka kan bilang akan datang di malam hari. Jadi, aku akan pulang besok pagi-pagi, Janji." Jawabku.
"Kalau begitu, Kak Reza ikut kamu masuk saja, sekalian mau jenguk, baru pulang."
...~~~...
Di depan ruang yang bertuliskan UGD (Unit Gawat Darurat) sudah ada Ella dan Ibunya disana, mereka terlihat masih menunggu para dokter yang menangani keluar.
"Assalamu'alaikum, Bunda, La. Sudah berapa lama paman di dalam?" Ucapku.
"Wa'alaikumussalam, Nana. Bunda tidak tahu sudah berapa lama, tapi rasanya sudah puluhan tahun berlalu." Jawab Bunda Dinda dengan suara serak.
"La? Kamu, baik-baik saja?" Ucapku melihat ke arah Ella yang termenung.
Ella melihat ke arahku dan langsung memelukku, dia menangis!
Aku membiarkannya menangis di pelukanku, aku tahu bagaimana rasanya, melihat orang yang kita sayang ada di dalam ruangan itu! Aku pernah merasakannya!
Ella menangis di pelukanku cukup lama, baru kemudian melepaskan pelukannya.
"Bagaimana jika aku menemani kalian disini?" Tanyaku langsung begitu Ella melepas pelukannya.
"Tidak perlu Nak, Kamu dan Ella pulang ke rumah saja, biar Bunda yang menjaga paman disini, Bunda juga sudah menelepon Eca agar kesini." Ucap Bunda Dinda.
Baguslah jika Bunda sudah memberi tahu Kak Eca, maka Bunda tidak akan sendiri menjaga paman dirumah sakit nantinya.
Kak Eca itu adalah Kakak Ella Satu-satunya. Kak Eca seumuran dengan Kak Reza, hanya berbeda beberapa bulan saja.
Awalnya Ella tidak ingin pulang bersama aku, dia ingin tetap disini sampai Ayahnya di pindahkan ke ruang rawat. Cukup lama Bunda menyakinkan Ella agar ingin pulang bersama aku.
Setelah pamit pada Bunda Dinda. Aku, Ella, dan Kak Reza berjalan ke area parkiran rumah sakit. Untung saja Kak Reza ikut dengan aku masuk ke dalam, jadi, kami bisa pulang bersama sekarang.
Sebelum sampai di area rumah sakit, Ella yang sekarang dengan keadaan linglung, tanpa sengaja menabrak seseorang.
Bruk!
"Maaf, Saya terburu-buru." Ucapnya.
"Eh!, Ella, kamu tidak apa-apa, sini Kakak bantu, bagaimana keadaan Ayah sekarang?" Lanjut orang itu.
Yang ternyata Adalah Kak Eca!
...~~~...
🤔 cerita apa ya ku penasaran