Orion terperanjat, Putri (8 tahun), anak semata wayangnya tiba-tiba saja membawa seorang wanita yang akan menjadi ibu sambungnya sendiri. Sudah lebih dari 7 tahun Orion penyandang status sebagai duda pasca di tinggalkan untuk selamanya oleh istrinya tercinta.
Apakah Orion akan menikahi wanita yang di bawakan oleh putrinya setelah anak itu terus saja merengek-rengek ingin memiliki seorang ibu sama seperti anak lain seusianya? Atau, dia telah memiliki calon ibu sambung lain untuk sang putri?
Di baca perbab jangan lupa like ya, Reader.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reni t, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ISUP bab 29
"Tidak, jangaaaan!" sahut Orion dengan nada suara lantang membuat David yang juga berada di sana seketika menggelengkan kepalanya seraya terkekeh.
'Beruntung Tania memiliki suami seperti Orion. Udah kaya, tampan, bucin lagi. Kamu memang pantas mendapatkan laki-laki seperti dia, Tania. Kamu berhak bahagia, dan sebagai sepupu kamu saya ikut senang kamu di cintai secara ugal-ugalan oleh pria ini, tapi sebenarnya ada apa? Kenapa mereka bertengkar seperti ini?' batin David seraya menatap wajah Tania dan suaminya secara bergantian.
"Stop! Aku bilang stop, Mas Orion. Astaga!" decak Tania seraya mengusap wajahnya kasar, "Lebih baik kamu kembali ke kamar, kasihan Ibu sendirian, Mas," pinta Tania.
"Benar juga, Astaga! Kenapa saya sampai ngelupain Ibu," decak Orion seketika mengusap wajahnya kasar.
Orion merasa tidak habis pikir dengan kelakuannya sendiri. Mengapa dirinya hanya memikirkan perasaannya sendiri, padahal ada sang ibu yang saat ini sedang membutuhkan dukungan darinya? Benar apa yang baru saja diucapkan oleh istrinya ini, apa dirinya sebucin itu kepada Tania hingga dia melupakan ibunya sendiri?
"Kembalilah ke kamar, Mas. Aku ingin sendiri, beri aku waktu sebentar saja," lirih Tania, nada suaranya mulai melemah.
"Tapi kamu harus berjanji akan kembali dan kamu gak akan pernah ninggalin Mas dan Putri?" tanya Orion seketika dilanda rasa dilema, "Mas akan memberi kamu waktu untuk menenangkan diri, Mas akan membiarkan kamu sendiri untuk mengontrol emosi kamu. Mas tau tak mudah untuk kamu menerima semua ini, tapi Mas benar-benar berharap kamu dapat memaafkan semua kesalahan Ibu."
Tania hanya menganggukkan kepalanya samar juga tersenyum hambar. Dia menatap wajah suaminya sekejap lalu memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Mas pergi dulu, sayang. Mas tunggu kamu di rumah," pamit Orion dan lagi-lagi hanya di jawab dengan anggukkan kecil oleh istrinya.
* * *
Ceklek!
Pintu ruangan pun di buka. Orion masuk ke dalam ruangan VVIP di mana sang ibu di rawat saat ini. Diana dengan di temani oleh Putri dan asisten rumah tangganya sontak menoleh dan menatap ke arah pintu.
"Mommy mana, Dad? Ko Mommy gak balik lagi ke sini?" tanya Putri seraya menatap ke arah belakang tubuh sang ayah, "Mommy gak ikut sama Daddy?"
"Eu ... Mommy Tania dia--" Orion menahan ucapannya, mencoba untuk mencari alasan yang tepat agar putrinya tidak merasa kecewa, "Mommy Tania pulang duluan, Put. Iya, anu ... beliau lelah katanya," jawab Orion terbata-bata.
"Oh begitu rupanya. Ya udah gak apa-apa, biar Mommy Tania istirahat di rumah," jawab Putri seraya tersenyum kecil, "Oma gak apa-apa 'kan di temani sama aku dan Bibi?" tanya Putri mengalihkan pandangan matanya kepada sang Nenek.
Diana bergeming, dia sama sekali tidak menanggapi ucapan cucunya. Ke dua matanya nampak menatap langit-langit kamar melayangkan tatapan kosong, pikiran wanita paruh baya itu pun melayang entah ke mana. Wajahnya Diana kian pucat membuat Orion dan Putri merasa khawatir.
"Oma, ko malah bengong kayak gitu? Apa ada yang sakit? Kepala Oma masih sakit?" tanya Putri menatap wajah sang nenek dengan tatapan mata sayu.
Diana masih diam seribu bahasa.
"Putri sayang, Daddy lapar sekali. Boleh, Daddy minta tolong belikan makanan ke depan? Di depan sana ada Restoran Padang lo," pinta Orion yang sebenarnya hanya alasan saja, "Bi, antarkan Putri ke depan ya. Belikan saya 3 nasi bungkus." Orion mengalihkan pandangan matanya kepada Bibi dan segera di jawab dengan anggukan patuh oleh asisten rumah tangganya itu.
"Boleh, Daddy mau makan apa? Uangnya mana?" tanya Putri seraya mengulurkan telapak tangannya.
Orion merogoh saku celana lalu meraih dompet dari dalam sana. Dia pun mengeluarkan beberapa lembar uang kertas lalu memberikannya kepada Putri.
"Oke, aku ke depan dulu ya," pamit Putri diikuti oleh Bibi di belakangnya.
Sepeninggal mereka berdua, Orion mendekati sang Ibu. Dia pun mendekatkan wajahnya tepat di depan di wajah Diana seraya menatap ibundanya dengan tatapan mata sayu.
"Bu, jangan melamun kayak gini. Saya takut melihat Ibu seperti ini," lirih Orion dengan nada suara lembut.
"Di mana menantu Ibu? Tania pasti marah sekali sama Ibu?" jawab Diana dengan nada suara lemah juga tanpa menoleh.
"Tania ada di luar, Bu. Katanya dia hanya ingin menenangkan diri. Walau bagaimana pun Istri saya itu syok setelah tahu hal yang sebenarnya," jawab Orion masih dengan nada suara lembut, "Ibu tidak usah khawatir, Tania memiliki hati seluas samudra. Dia ingin sendiri karena tidak ingin menyakiti perasaan Ibu. Tania bilang kepada saya bahwa dia sayang sama Ibu, tapi dia masih merasa kecewa."
Diana memejamkan ke dua matanya sejenak lalu menoleh dan menatap wajah putranya, "Tania tidak ninggalin kamu, kan? Dia tidak meninggalkan Putri, kan?"
"Ibu tak usah khawatir, dia akan kembali setelah perasaanya tenang. Saya percaya sama dia, jadi Ibu fokus saja dengan kesehatan Ibu, oke?"
Diana menganggukkan kepalanya dengan wajah datar.
"Maksud Oma apa? Mommy Tania mau ninggalin aku sama Daddy? Memangnya kenapa?" tiba-tiba terdengar suara Putri masuk kembali ke dalam ruangan membuat sang ayah dan Neneknya merasa terkejut tentu saja, "Kenapa kalian diam saja? Jawab pertanyaan aku, Dad. Katakan, kenapa Mommy Tania mau ninggalin kita? Nggak, aku gak mau. Pokoknya aku mau mencari Mommy sekarang juga!"
BERSAMBUNG