Ryana menikah dengan Dipta Narendra karena dijodohkan. Cinta tumbuh seiring berjalannya waktu.
Sampai pada suatu malam, Ryana merasakan seseorang naik ke atas tempat tidurnya. Ia mengira sosok tersebut adalah Dipta, suaminya. Mereka menghabiskan malam yang panas.
Malam telah berlalu, Ryana terbangun dari tidurnya dan mendapati lelaki yang tidur di sampingnya bukan lah suaminya, melainkan Barra Kakak iparnya.
Karena kesalahan yang telah mereka perbuat, Ryana dan Barra sepakat untuk melupakan malam itu.
Tidak mudah bagi Barra untuk melupakan malam panasnya dengan Ryana. Ia selalu teringat oleh Adik iparnya itu.
Barra selalu mendekati Ryana, tapi wanita itu selalu menghindar dan menjaga jarak dengan Barra.
Ryana menghormati Dipta sebagai suaminya, walaupun ia selalu mendapatkan perlakuan kasar dari Dipta dan Barra lah yang selalu membela Ryana.
Sampai pada akhirnya Ryana mengetahui perselingkuhan antara Suaminya dan wanita lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faustina Maretta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Lelaki itu melangkah mendekati Sinta yang sedari tadi mematung. Wanita itu menjadi salah tingkah bertemu dengan mantan pacarnya.
"Bagaimana kabsrmu?" tanya Anthony.
"Ba-baik, bagaimana denganmu?" Sinta bertanya balik.
"Aku juga baik, bolehkan aku bertanya kabar tentang anak kita?" tanya Anthony lagi.
Saat Sinta ingin menjawab, Febby menghampiri Sinta dan wanita itu mengalihkan pembicaraan. Dia mengenalkan Anthony kepada Febby.
"Ini menantu saya, Febby," ucap Sinta.
Anthony dan Febby saling berjabat tangan dan saling bertukar nama. Sinta juga mengatakan kepada Febby bahwa Anthony adalah teman seangkatan dulu. Mereka bertiga berbincang bersama sambil menikmati acara di sana.
***
Mobil Dipta parkir di dekat bangunan sebuah apartemen. Dia turun dari mobilnya dan tampak memegang ponsel yang di tempelkan di telinga kanannya. Setelah itu dia melangkah memasuki area gedung apartemen.
Di sana, Dipta memasuki lift dan memencet lantai dua belas. Dia berjalan di sebuah lorong sembari matanya seperti mencari sesuatu. Setelah menemukan nomor apartemen yang ia cari, dia mengetuk pintu itu.
"Come in,"
Dipta melangkah masuk mengikuti orang di depannya.
"Do you want to drink? Like something?" sosok itu adalah Isabella, Dipta menemui Isabella di apartemennya.
"Just water, mineral water," sahut Dipta.
Kedatangan Dipta kali ini ia ingin berterima kasih oleh Isabella karena sudah memberikan dia dana untuk perusahaannya. Matanya terus menatap wanita yang sedang mengambilkan dia minuman.
"I just wanna say thank you," ucap Dipta.
"That's it? You can call me for that," sahut wanita yang sedang menyamar menjadi Isabella Smith.
"And ... I wanna meet you in person," ucap Dipta.
"Do you miss me?" Isabella tersenyum, matanya menatap Dipta dengan genit.
Dipta tidak bisa menahan dirinya, ia bangkin dan duduk di sebelah Isabella. Wanita yang memakai baju rumahan dengan celana pendek itu seperti sengaja memancing lelaki yang berada di dekatnya itu.
"Can we play?" bisik Dipta tepat di telinga Isabella.
Wajah Dipta telat di depan wajah Isabella mungkin hanya berjarak lima centimeter, lelaki itu kini tidak segan untuk memulai permainan panas mereka. Hanya beberapa menit setelah itu mereka sudah berada di kamar Isabella dan melanjutkan permainan mereka di sana.
***
Barra sedang memeriksa sebuah laporan di bantu oleh Olan, mereka berdua tampak sedang fokus dengan lembaran kertas yang berserakan di meja kerja Barra, sering kali matanya tampak bergantian menatap laptop lalu dengan cepat pindah menatap kertasnya.
"Sudah mengerti kan Bapak Barra?" tanya Olan sembari bangkit berdiri dari sofa yang berada di ruangan Barra.
"Sudah Pak, terima kasih. Kapan saya harus melaporkan semua ini ke Pak Anthony?" tanya Barra.
"Bapak Anthony sedang keluar hari ini, besok mungkin beliau ke kantor," sahut Olan setelah dia pamit untuk keluar ruangan.
****
Anthony mencari kesempatan untuk berbicara berdua dengan Sinta. Dia terus menatap wanita itu dan saat Febby meninggalkannya sendiri, dia mulai melangkah mendekati ibu kandung Barra itu.
"Bisa bicara sebentat?" tanya Anthony yang mengangetkan Sinta.
Sinta menganggukkan kepalanya lalu mengikuti langkah kaki Anthony. Lelaki itu membawa Sinta menuju sebuah lorong yang sepi.
"Anthony, sebaiknya kita tidak bertemu lagi. Kenapa kau kembali dari Belanda?" tanya Sinta.
"Karena aku ingin bertemu putra kandungku," sahut Anthony datar.
"Dia sudah bahagia dengan hidupnya sekarang, aku mohon jangan usik keluargaku," pinta Sinta.
Anthony tertawa miring mendengar ucapan mantan kekasihnya itu. Apakah dia tidak berhak untuk menemui anak kandungnya sendiri?
"Beritahu saya siapa namanya?" tanya Anthony, padahal dia sudah tahu dan bertemu dengan putra kandungnya.
"Kau tidak perlu tahu, tolong jangan usik keluarga kami," desis Sinta.
Anthony meregangkan dasi yang mengikat lehernya. Dia sungguh tidak tahan mendengar ucapan dari Sinta.
"Aku tahu kau masih cinta denganku, aku tahu itu," ucap Anthony.
"Jangan bicara omong kosong, cerita kita sudah selesai puluhan tahun yang lalu," ucap Sinta dengan nada gemetar.
Anthony memang cinta pertama Sinta, hubungan mereka tidak bisa berlanjut karena kala itu Anthony adalah pemuda miskin yang berpacaran dengan seorang wanita yang berasal dari keluarga kaya raya. Cinta yang dulu meraka rakit kini menjadi benci yang memendam. Anthony terus bicara omong kosong, dia dengan sengaja mengungkit hubungan mereka yang sudah lalu.
Sinta yang muak dengan omongan Anthony berniat untuk meninggalkannua, namun lelaki itu menarik tangan Sinta yang membuat wanita yang sudah memiliki suami dan dua orang anak itu jatuh ke pelukan mantan kekasihnya.
Anthony dengan cepat mengambil keuntungan dengan mencium bibir mantan kekasihnya itu. Sinta sempat meronta dan mendorong tubuh Anthony, namun lelaki itu tidak melepaskan ciumannya dan malah semakin brutal.
kenapa sih barra lemah banget jadi laki udah tau dipta jahat banget kenapa ngak tegas gitu harusnya dia cari bukti semua kejahatanya dipta dan febby
lagian kenapa barra bisa semudah itu sih memaafkan dipta yg sudah mencelakai ryana
gea penuh misteri