Apa salahnya dengan tubuh Aku yang gendut ini?
Apakah Aku pernah mengambil makanan kalian?
TIDAK PERNAH
Lantas Mengapa Kalian membully Aku?
Bahkan Kalian sampai memberikan nama julukan kepada Aku DinDut yang artinya Dinda Gendut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sudah Atau Belum??
"Dia hanya membalas pesan buka perasaan, dia hanya perhatian bukan berarti dia sayang, dan dia hanya ingin berteman bukan lebih, jadi sadar diri ya dan jangan berharap terlalu tinggi."
Betapa malunya Dinda saat memegang kepalanya ternyata helem Kang Ojol masih terpasang di atas kepalanya.
Ah rasanya aku ingin menghilang dari muka bumi ini
Dengan perasaan malu Dinda membalikkan badanya lalu dia melangkah terburu-buru menuju ke arah gerbang sekolah.Sementara itu Arlan terus melihat punggung tubuh Dinda sambil tersenyum.
Setelah mengembalikan helem kepada Kang Ojol , Dinda kembali melangkah meninggalkan tempat tersebut.Dinda melangkah terburu-buru di koridor sekolah.Tiba-tiba saja tubuh Dinda di tabrak oleh seorang Siswa.
Bruuukk Bruuukk Bruuukk
"Aduh."Dinda meringis kesakitan sambil memegang keningnya.
Siswa itu yang menabrak mengeser tubuhnya setelah itu dia melengos pergi.
"Hei, tunggu dulu." Dinda membalikkan badannya sambil memanggil si siswa itu.
Siswa yang di panggil Dinda terus saja melangkah tanpa menoleh kebelakang.Dinda merasa kesal dengan siswa tersebut.
"Udah nabrak bukannya minta maaf malah nyelonong pergi." Ketus Dinda.
Suara Dinda terdengar hingga ketelinga si Siswa tersebut, si Siswa itu berhenti melangkah kakinya lalu dia membalikkan badannya.
"Kita impas."Si siswa itu berbicara tanpa rasa bersalah kepada Dinda.
Dinda terdiam saat melihat Si Siswa yang menabrak dirinya ternyata Arlan.
"Berarti kak Arlan sengaja nabrak aku."Ucapan Dinda.
"Itu kamu tahu."Arlan tersenyum culas setelah itu dia kembali membalikkan badannya.Arlan kembali melanjutkan langkah nya menyusuri koridor sekolah.
"Ah benar-benar ngeselin tuh orang, untung saja good looking walaupun minus akhlak nya."Cibir Dinda sambil melihat punggung Arlan.
Setibanya Dinda di depan kelas, dia membuka pintu kelas.Setelah pintu kelas terbuka lebar Dinda mengucapkan salam terlebih dahulu, barulah Dinda melangkah kaki masuk ke dalam kelas.
Dinda sudah berada di dalam kelas, dia meletakkan tas ransel di atas mejanya. Dinda melangkah ke arah pintu kelas, Dinda mengambil sapu yang berada di belakang pintu kelas.Dinda memegang gagang sapu sambil melangkah, Dinda mulai menyapu lantai kelas.
Seorang siswa sudah berdiri di depan jendela kelas, jendela kelas di pasangi kaca yang transparan sehingga bisa melihat keadaan dalam kelas dari kaca jendela. Si Siswa itu melihat Dinda sedang menyapu kolong meja, terlintas sebuah ide di kepala si Siswa.
Dor
Si Siswa itu mengejutkan Dinda sambil memegang bahu.
"Eh dor dor dor."Gagang sapu yang berada di tangan Dinda terlepas, Dinda yang terkejut pun menjadi latah.
Latah adalah reaksi berlebihan yang terjadi ketika seseorang terkejut. Reaksi yang muncul bisa berupa meniru kata-kata yang diucapkan oleh orang lain, mengucapkan kata-kata vulgar, atau melakukan gerakan tertentu. Kondisi ini biasanya muncul tanpa disadari oleh orang yang latah.
"Hahahaha."Si Siswa itu tertawa, dia merasa senang sebab idenya mengejutkan Dinda berhasil.Sehingga Dinda pun menjadi latah.
"Astaga-naga, ternyata kamu.Kamu ngagetin aku saja." Dinda memutar tubuhnya, sehingga dia bisa melihat Si. Siswa yang berdiri di hadapan nya ternyata Gustaf.
"Sengaja." Gustaf melangkah pergi menuju tempat duduknya.
Dinda kembali membalikkan badannya lalu dia mengambil gagang sapu yang terjatuh di lantai kelas.Gagang sapu sudah berada di tangannya lalu dia kembali menyapu lantai kelas.Gustaf sedang melangkah tiba-tiba berhenti melangkah, saat dia melihat sebelah sepatu nya talinya terlepas.
Ah pakai lepas segala tali sepatu
Gustaf pun berjongkok setelah itu dia mengikat tali sepatu yang terlepas.
"Akhirnya selesai juga."Gustaf melihat tali sepatu yang sudah terikat di sepatunya.
Gustaf melihat lantai kelas yang dia pijak, masih terdapat pasir yang di lantai itu.Gustaf bangkit dari jongkok nya, lalu dia menoleh ke arah Dinda.
"Apa lantai yang sebelah sini sudah kamu sapu?"Tanya Gustaf.
"Sudah, kenapa memang nya?"Dinda berhenti menyapu lantai lalu dia menoleh ke arah Gustaf.
"Kamu gimana sih nyapunya?di sini itu masih ada pasir nih." Ucapan Gustaf.
"Mana sini aku tengok?" Dinda melangkah sambil memegang gagang sapu.
"Nih kamu lihat sendiri."Jari telunjuk Gustaf menujuk ke arah lantai yang sedang di pijak olehnya.
"Ternyata masih ada pasir." Dinda melihat ke arah lantai yang di pijak Gustaf terdapat pasir.
"Maka nya kalau nyapu itu yang bersih."Ketus Gustaf.
"Kamu geser dulu biar aku sapu."Dinda menyuruh Gustaf untuk bergeser dari tempatnya berdiri.
Gustaf melangkah maju beberapa langkah mendekati tempat duduknya.Dinda pun mulai menyapu lantai yang ada pasir.Gustaf menarik bangku lalu dia duduk di bangku itu.
Gustaf melepaskan tas ransel yang berada di punggung nya, dia meletakkan tas di atas mejanya.Gustaf kembali menoleh ke arah Dinda sedang menyapu lantai tetapi di tempat yang berbeda.Kedua Mata Gustaf begitu jeli sekali dia melihat masih ada pasir di lantai yang sudah di sapu oleh Dinda.
"Di sebelah situ belum bersih masih ada pasir."Ucapan Gustaf.
"Eh, iya."Dinda menoleh ke arah lantai yang sudah di sapunya ternyata di sana masih terdapat pasir.
"Kalau nyapu itu harus bersih kalau gak nantik suami kamu brewokan." Gustaf berdiri dari tempat duduknya lalu dia menghampiri Dinda.
"Kata siapa?"Dinda berhenti menyapu lalu dia menoleh ke arah Gustaf sudah berdiri di sampingnya.
"Emakku."Gustaf melengos pergi meninggalkan kelas.
Dinda sudah selesai menyapu seluruh kelas, satu persatu teman sekelas mulai berdatangan masuk ke dalam kelas.Dinda kembali meletakkan sapu di belakang pintu kelas.Dinda merasa kebelet mau buang air kecil sehingga dia melangkah terburu-buru ke arah kamar mandi sekolah.
Dinda sudah berada di depan pintu kamar mandi sekolah, pintu kamar mandi sekolah tertutup.Dia memegang knalpot pintu kamar mandi sekolah, lalu doa mendorong pintu kamar mandi sekolah.
Ternyata di kunci
Dinda tidak bisa membuka pintu kamar mandi karena pintu kamar mandi sekolah terkunci dari dalam.Dinda mengetuk pintu kamar mandi sekolah.
"Siapa di dalam?" Tanya Dinda.
"Kamu nanya bertanya-tanya."Suara seorang siswi yang berada dalam kamar mandi, dia berbicara sambil meniru Dilan Cemet.
"Kamu ngapain di dalam?" Tanya Dinda.
"Makan."Jawab Si Siswi.
"Ckckckck jorok bisa-bisanya makan di dalam kamar mandi." Gerutu Dinda.
"Lah, kok bilang aku jorok sih.Pertanyaan kamu aja itu yang gak berbobot.Udah jelas-jelas orang kalau di dalam kamar mandi itu kalau gak buang air kecil maka buang air besar, jadi kamu gak perlu bertanya lagi."Jelas Siswi yang berada dalam kamar mandi.
"Kamu sudah atau belum?" Tanya Dinda.
~ Bersambung ~