Kakak laki-lakinya disandera oleh bos gangster karena tidak bisa membayar hutang setelah kalah dalam pemainan judi. Adik perempuannya dijual untuk dinikahkan dengan pria yang sedang koma.
Seperti sebuah kutukan, dia menyebrang dan menjadi adik perempuan itu.
Dan di dalam kisah ini dia bukan protagonisnya. Setelah terbangun dari koma, suaminya mengajukan cerai.
Ketika dia melihat nominal tiga ratus juta yang menjadi harta gono-gini bagiannya. Tanpa nostalgia, dia menandatangani surat perceraian itu dalam satu tarikan nafas.
Saat dia hendak berbalik badan, suaminya yang akan segera menjadi mantan suami itu merobek surat cerai yang baru dia tandatangani dan berkata. "Tiga ratus juta setiap bulan selama kau masih menjadi istriku."
Dengan spontan dia berbalik badan, senyum ribuan watt di wajahnya. "Suamiku~~"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chu Seldom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Milk Tea dan Keserakahan
Selama dua hari Lun Li dan Jiang ran tidak pernah berwajah bagus ketika mereka bertemu. Mereka tidak saling berbicara dan berperang dingin. Keadaan itu berakhir hingga sore ketiga, Jiang Ran pulang bermain dan membawakan dua potong Napoleon cake dari toko dessert selebriti yang mengharuskan pelanggannya mengantri berjam-jam untuk membelinya. Dengan begitu perang dingin diantara mereka resmi berakhir.
"Yiyi kamu tidak akan menyukainya karena ini terlalu manis." ucap Lun Li ketika dia melihat Jiang Yi melirik kuenya lebih dari satu kali. Dia tidak ingin membaginya dengan orang lain, dua potong ini masih kurang baginya.
Jiang Yi yang tidak punya niatan untuk berebut dengan Lun Li dan hanya ingin mengingatkan wanita itu untuk tidak makan terlalu banyak kue sebelum makan siang, akhirnya tidak jadi mengatakannya. Dia mengalihkan pandangannya dan kembali sibuk dengan pekerjaannya.
"Kalau kakak mau, besok aku akan membelinya lagi." Jiang Ran berkata, dia telah melupakan dengas-dengusnya selama dia dibuat berdiri dan mengantri selama satu jam dia udara yang dingin. Dari dulu dia selalu ingin berbagi dessert dengan kakaknya itu tapi Jiang Yi tidak suka makanan manis dan dia selalu ditolak. Melihat kakaknya yang sepertinya juga menginginkan kue Napoleon itu dia tidak untuk mengantri lagi besok pagi.
Jiang Yi ingin menolak kebaikan Jiang Ran karena dia memang tidak menginginkannya, tapi sebelum dia membuka mulutnya Lun Li sudah mendahuluinya. "Besok berangkat lebih pagi dan beli yang banyak."
Jiang Ran tentu tidak pergi keesokan harinya karena dia tahu jika bukan kakaknya yang menginginkannya. Maka hari itu mereka resmi kembali berperang dingin.
"Yiyi lihatlah adikmu, dari siapa dia belajar berkelakuan buruk dan tidak menepati janji. Kalau menjadi kebiasaan bisa-bisa dia tidak akan punya suami." untuk kesekian kalinya Lun Li mengomel hari itu.
Mendengar itu Jiang Yi ingin menjawab jika dia tidak perlu memikirkan masalah pernikahan Jiang Ran, bocah itu masih tujuh belas tahun, masih ada sepuluh tahun lagi sebelum mereka mulai memikirkan untuk menikahkannya. Sekalipun Jiang Ran tidak dapat menikah, mereka juga tidak perlu khawatir karena keluarga Jiang masih mampu untuk menghidupi lima Jiang Ran sampai mereka tua.
Tentu saja Jiang Yi tidak benar-benar mengatakannya, karena apabila dia membantah, omelan Lun Li tidak akan pernah berakhir sampai nanti malam hingga wanita itu tidur.
Untuk menghindari masalah yang lebih rumit dan menyelamatkan telinganya dia hanya bisa mengutus seseorang untuk mengantri kue Napoleon yang Lun Li inginkan.
Lun Li yang mendengarkan pembicaraan Jiang Yi ditelpon, menggeser bokongnya dan mendekati pria itu lalu berkata, "Milk Tea." dia memasang wajah imut sambil mengedipkan matanya genit.
"Apa lagi?" Jiang Yi bertanya, pasti bukan hanya milik tea yang Lun Li inginkan.
Benar saja, begitu mendapatkan persetujuan darinya Lun Li langsung menyebutkan beberapa jenis makanan dan Jiang Yi mengulanginya agar orang yang berada di sebrang mendengarnya dengan jelas dan tidak melupakan atau salah membeli.
"Terimakasih Yiyi~" Lun Li memeluk lengan Jiang Yi.
Jiang Yi hanya, "Mhm." kemudian mengabaikan wanita itu. Tapi dia tidak melepaskan lengannya dari pelukan Lun Li dan membiarkan wanita itu menyandarkan kepalanya di sana.
Jiang Ran yang melihat serangkaian kegiatan dua orang itu ketika dia menuruni tangga merasa merinding dan dia kembali masuk ke dalam kamarnya. Tidak bisakah mereka bersikap normal dan tidak pamer kemesraan di tempat umum.
Berbeda dengan paman Wang yang mengintip dengan kepala nongol dari dapur, paman Wang tersenyum-senyum bahagia. "Tidak lama lagi, ahh, aku harus melaporkan kabar bahagia ini kepada tetua Jiang." kemudian dia mengambil ponselnya dan membuat panggilan itu.
Lun Li dan Jiang Yi tentu tidak mengetahui reaksi berbeda dari dua orang itu, mereka masih menempel satu sama lain sampai asisten Meng datang dengan pesanan Lun Li.
...
Berbanding terbalik dengan keadaan damai di kediaman Jiang.
Di sebuah tea house terkenal yang ada di pusat kota, Yu Jin memutuskan persahabatannya dengan Li Yiru yang sudah berlangsung lebih dari lima belas tahun.
"Pelakor, ******." Itu yang dia lontarkan ketika menampar Li Yiru. Dia sungguh tidak menyangka jika teman yang selalu mendukungnya selama ini ternyata diam-diam juga mengincar Jiang Yi. Bukan hanya itu, Li Yiru bahkan berani memanfaatkannya!
"Sialan, wanita ******." dia sangat marah hingga nafasnya terengah-engah dan dadanya terasa sesak oleh emosi. Dia kemudian meraih teko tanah liat dan menyiramkan isinya ke wajah Li Yiru. Baru kemudian dia merasa puas dan meninggalkan pertemuan.
Beruntungnya air di dalam teko itu bukan air yang baru mendidih, kalau tidak saat ini kulit Li Yiru sudah melepuh. Li Yiru mengusap air diwajahnya dan menatap punggung Yu Jin dengan mata yang menyipit. Dia akan membalas penghinaan hari ini.
Di luar, Yu Jin terus mencoba untuk menghubungi He Jun tapi pria itu tidak mengangkatnya. "He Jun jangan mengabaikanku.." dia bergumam lirih. Setelah mengetahui sifat asli Li Yiru dan mengetahui jika selama ini dia telah diperalat oleh ****** itu, dia menyadari jika obsesinya kepada Jiang Yi harus dihentikan.
Sebenarnya setelah memutuskan pertunangan dan menuruti ayahnya untuk mendekati Jiang Qun, dia sudah tahu jika dia tidak bisa mendapatkan Jiang Yi kembali. Kalau bukan karena cerita konyol Li Yiru yang membuatnya berharap, saat ini hubungannya dengan He Jun tidak akan menjadi seperti ini.
"Haha..." Yu Jin menertawakan kebodohannya. Dia serakah dan sekarang kehilangan semuanya. Sejak kembali dari kediaman Jiang hari itu, ayahnya mengabaikannya, dia juga membawa pulang anak haramnya. Setiap hari kehidupannya di rumah bertambah buruk, bahkan dua hari yang lalu ayahnya menghentikan uang sakunya.
Dia sudah benar-benar membentur tembok dan tidak punya jalan untuk mundur, harapannya tinggal Jiang Yi tapi ternyata semua itu hanya akal-akalan Li Yiru.
Yu Jin menyesal, dia benar-benar menyesal tidak mendengarkan perkataan He Jun dari awal. Mungkin jika dia berhenti lebih awal semuanya tidak akan menjadi begini.
Yu Jin mengusap air mata pada pipinya.
...
Malam itu kecelakaan beruntun terjadi di ruas jalan utama, sebuah mobil mewah menabrak pembatas jalan dan meledak. Beruntungnya tidak ada korban jiwa karena tim penyelamat datang dengan cepat dan evakuasi sukses dilakukan.