NovelToon NovelToon
PESONA LUCIA

PESONA LUCIA

Status: tamat
Genre:Nikahmuda / Hamil di luar nikah / Cinta Terlarang / Tamat
Popularitas:427.2k
Nilai: 5
Nama Author: iraurah

Jika hidup adalah sebuah buku, maka bertemu denganmu adalah bab favorit ku.

Bagaimana jadinya jika perempuan yang tengah hamil mengikuti kegiatan Ospek sebagai Calon Mahasiswa Baru? Banyak lirikan sinis serta desas-desus miring sudah pasti.

Namun tak berlaku ketika dia bertemu Mahasiswa nomor satu, lelaki semester akhir yang justru tertarik pada ibu hamil satu ini.

***

"Kenapa harus aku?" ~Lucia~

"Aku bangga memiliki kamu. Dalam kurang dan lebihmu" ~Fabio~

Instagraam: @iraurah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iraurah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagaimana Akhir Kita?

Bulan pun tiba, menandakan jika petang sudah berganti malam. Namun bulan yang biasanya sebagai pertanda untuk mengajak orang tertidur lain halnya dengan orang yang satu ini, dia justru terbangun ketika matahari sudah terbenam.

Rasa kantuk yang telah hilang berganti dengan rasa lapar yang mengerumuni, Lucia membuka mata perlahan-lahan, kesadaran belum sepenuhnya terkumpul.

Sinar lampu yang berbeda membuat Lucia berangsur-angsur kian menyadari sesuatu.

"Ini.... Dimana?" Gumamnya.

Ia lantas bangun sambil mengedarkan pandangan.

Masih belum tau, Lucia pun berdiri dan keluar dari pintu.

Ah, ternyata apartemen Fabio. Apa tadi itu kamarnya?

Lucia berkeliling mencari dimana lelaki tersebut, di ruang tamu tak ada. Mungkin Fabio sedang di dapur.

"Kakak...."

Fabio menoleh, "Udah bangun? Tidur lagi aja"

"Enggak, jam berapa ini? Aku mau pulang" ujar Lucia dengan suara parau khas bangun tidur.

"Jam enam lebih, yakin mau pulang? Udah malem ini"

"Aku gak boleh tidur di rumah cowok"

"Nanti aku anter, sekarang makan dulu ya"

"Kakak lagi buat apa?" Lucia mendekat.

"Lagi bikin spaghetti, kamu suka gak?"

"Suka, kakak buat sendiri? Katanya gak bisa masak" ingatnya pada perkataan Fabio.

Fabio cekikikan, perempuan memang selalu ingat semua hal.

"Sedikit-sedikit bisalah, sambil liat tutorial di hp. Tapi aku jamin, rasanya bakalan enak!"

Lucia tidak menanggapi lagi, ia duduk di kursi pantry sambil menatap punggung Fabio yang tengah memasak.

Masih tak percaya kini ia berada di kediaman seorang lelaki lajang yang tinggal sendirian, memang tidak sepantasnya ia berada disini, apalagi posisi Lucia sudah memiliki suami. Ya, suami yang di nikahinya hanya karena tanggung jawab semata.

Lucia bukan anak remaja yang terbilang gaul, berada di tempat tinggal laki-laki adalah hal yang baru bagi Lucia, kalau bukan Fabio yang memaksanya mungkin ia tidak akan pernah menginjakkan kaki disini.

"Oh iya, kok aku bisa tidur di kamar kakak sih? Kakak yang pindahin aku?"

"Hehe iya, habisnya kasian liat kamu tidur di sofa. Pasti gak nyaman, gimana kalau jatuh juga?"

"Kakak gendong aku? Padahal bangunin aja"

"Gak tega aku, lagian kalau dibangunin yang ada kamu gak bakal mau"

Lucia mengerutkan bibir mendengar itu, benar sih, kalau ia sadar sudah tentu akan ditolak. Lebih baik minta antar pulang dari pada tidur di kamar laki-laki, namun sayang sudah terlanjur terjadi.

"Spaghetti nya agak pedes, gapapa kan?"

"Iya gapapa"

Suara berisik yang timbul mengisyaratkan jika Fabio sedang sibuk menyiapkan makan malam untuk mereka berdua, Lucia tak mau menganggu, ia dengan sabar menunggu sampai makanan itu siap.

Dua piring di hidangkan Fabio di meja pantry, aroma sedap mengelilingi hidung Lucia, tatanan mie pun nampak sangat rapi, Fabio seakan membuatnya bak ala spaghetti di resto mahal.

"Selamat makan"

"Wangi banget, kayaknya rasanya juga meyakinkan"

"Pasti enak kok, aku udah cicipin sedikit. Coba deh"

Lucia pun mulai mengambil garpu dan melilitkan mie tersebut, tak lupa ia meniup sebentar untuk menghilangkan panas.

Hap!

Satu suapan lolos ke dalam mulutnya, tak ada respon apapun, Lucia langsung melahap kembali suapan yang kedua.

"Gimana, enak?"

"Enak" jawabnya jujur.

"Berapa nilainya dari satu sampe sepuluh?"

"Emm.... Sembilan"

"Kurang satu? Ada yang kurang dari spaghetti ini?" Cukup penasaran karena hasil penilaian tidak maksimal.

"Enggak kok, cuma pingin ngasih sembilan aja gak tau kenapa" ujarnya jujur.

"Hemm... Ya udah berarti enak kan. Habisin, kalau masih kurang aku bikinin lagi"

Dan keduanya pun makan malam bersama, bagi Lucia makan kali ini terasa spesial, selain ada yang menemani masakannya pun hasil jerih payah Fabio, seperti ada bumbu tersendiri yang membuat hidangan itu terasa lezat dan lebih nikmat.

"Cobain" Fabio menyodorkan garpu yang berisi mie kepada Lucia.

"Eh, itu kan punya kakak"

"Udah cobain aja!" Titah Fabio tidak menerima penolakan.

Dengan senang hati Lucia memakannya, tapi rasanya pun sama saja seperti miliknya, tak ada yang beda.

"Nah, kalau gini kan romantis"

"Ihhh kakak!"

"Makan lagi" menyodorkan Lucia yang kedua kali.

"Enggak, buat kakak aja"

"Makan"

"Enggak!"

"Sekaliiiiiii aja"

"Gak mau kakakkk!"

Sambil memalingkan muka Lucia menyembunyikan rona kemerahan yang timbul di kedua pipinya, sudah berapa kali Fabio menggodanya. Dan sialnya, Lucia pun selalu dibuat salah tingkah.

***

Perut kenyang hati pun senang, apalagi kalau di masakin oleh laki-laki tampan seperti orang yang ada di sebelahnya ini.

Lucia bak ratu yang di manja oleh seorang raja, apapun yang dia inginkan selalu di usahakan oleh Fabio, dan sering kali Fabio memberikan sesuatu tanpa Lucia minta.

Disaat hamil besar begini, memang sosok seperti itulah yang Lucia butuh. Tak bisa mengelak, Lucia mengaku dirinya memang membutuhkan Fabio demi kewarasannya saat ini.

"Kak, itu balkon?" Kala menatap jendela besar yang belum tertutup tirai.

"Iya, mau keluar?"

"Emang boleh?"

"Silahkan aja, lagian gak ada apa-apa disana selain liat pemandangan"

"Mau banget kak! Aku kesana ya" Lucia jingkrak-jingkrak.

"Oke, hati-hati. Aku cuci piring dulu"

Lucia membuka pintu balkon, seketika angin malam berhembus dengan kencang. Namun tak menyurutkan Lucia untuk tetap melangkah.

Lucia terkagum-kagum melihat pemandangan dari atas gedung, mulutnya menganga serta matanya membola dengan lebar. Sungguh indah pemandangan kota.

"Cantik banget!"

Lampu-lampu bagaikan bintang yang bersinar dari bawah, belum lagi kendaraan yang berjalan nampak seperti semut yang merayap.

Enak sekali bisa menikmati pemandangan setiap hari, bisa melihat lebih jelas dibandingkan kalau Lucia keluar di rumahnya sendiri. Apalagi kalau diiringi musik pasti Lucia betah terus berada di balkon.

Lucia merentangkan tangannya meresapi angin dari atas sini, akhir pekan ini amatlah menyenangkan, Lucia dibawa berkeliling oleh Fabio dari pagi dan malamnya ia bisa menikmati indahnya kota dari atas gedung tinggi. Sungguh menakjubkan!

"Hahhhhh..... Sejuk banget" menghidup dalam-dalam udara hingga paru-parunya terasa penuh.

Sebuah lengan dari belakang melilit perut Lucia, sampai si empu tersentak kaget.

"Kakak?!"

"Sejuk banget ya disini, kamu suka liatin pemandangan itu?" Tak menghiraukan keluhan Lucia, Fabio tetap memeluk wanita tersebut dari belakang.

Lucia tak bisa mengontrol detak jantungnya, ia sangat gugup dipeluk seperti ini, nafasnya pun ikut tercekat apalagi sedikit saja Lucia menoleh wajah mereka akan langsung berpapasan.

"K-kak....."

"Bulannya juga cerah banget, tapi sayang bintangnya cuma dikit" tukas Fabio, seakan tidak ingin mendengar lanjutan kalimat dari Lucia.

Lucia tak bergeming, ia jadi tidak bisa menikmati panorama seperti semula, dekapan Fabio melenyapkan saraf kefokusan Lucia.

"Semoga hujan turun malam ini"

"Kayaknya enggak, soalnya ada bintang. Bintang pertanda gak akan turun hujan" menunjuk ke arah cahaya kelap-kelip di atas langit.

"Tapi semoga aja tetep turun" kekeuh mendoakan supaya alam menangis.

"Kenapa?"

"Biar kamu gak usah pulang" semakin merapatkan tubuh mereka.

"Kok gitu?? Janganlah.... Aku harus tetep pulang" tak menyangka arti di balik doa yang Fabio panjatkan.

"Ngeyel banget, kalau kiamat juga mau tetep pulang?"

Cubitan diterima Fabio usai berbicara begitu.

"Mau aku cubit lagi nih?" ancamnya.

"Iya iya, gak lagi deh" Fabio mengalah.

Mereka pun kembali menatap ke depan, sibuk dengan pikiran masing-masing, suasana yang mendukung tapi tidak dengan orang-orangnya.

Gerakan tangan Fabio membuat Lucia menunduk, kedua tangan berurat itu menempel di perutnya, mengusap lembut bagian yang terasa mengencang itu.

Hening....

Hening....

Hening....

Nyaman sekali, Lucia pun merasa aneh sebab tak bisa menolak pelukan hangat ini, ditambah elusan tangan Fabio membuat Lucia merasa rileks.

Bisakah waktu dihentikannya sejenak? Mereka tak mau momen ini cepat berlalu.

"Jawab jujur ya Lucia..." seru Fabio membuka suara.

"Apa?" cicitnya membalas.

"Kalau bayi ini udah lahir, apa kamu.... Akan terus menjadi istri lelaki itu?"

Deg!

Kenapa mendadak menanyakan hal itu? Lucia sendiri bingung, sebab ia belum membicarakan soal itu, semua tergantung kondisi dan situasi nanti.

"A-aku.... Aku gak tau, kami belum bahas soal itu"

Fabio mendesah, harapan yang tadinya muncul dalam sekejap layu, bolehkan ia berdoa supaya pernikahan Lucia berakhir nanti? Dosakah ia?

"Kalau suatu saat, dia pingin mempertahankan rumah tangga kalian... Apa kamu mau?"

"Kenapa dia mau mempertahankan rumah tangga sama aku?" Lucia berbalik tanya.

Fabio mengedikkan bahu, "Mungkin aja dia jatuh cinta sama kamu"

Lucia menerawang jauh, entah kenapa Lucia justru takut jika hal itu terjadi. Sekarang saja ia merasa ada di lingkaran setan, Lucia tidak mampu membayangkan kalau suatu saat Ghani tidak mau melepaskannya.

"Itu gak mungkin, dia cuma mencintai Nyonya"

"Gak ada yang gak mungkin, seseorang bisa mencintai dari segi manapun, benci bisa berubah jadi cinta, tau kan istilah itu? Dan yang aku tanyain sekarang adalah, apa kamu mau tetap bertahan bersama dia?"

Aku tidak mau!

Tapi apa ia berhak mengambil sebuah keputusan? Apa yang ia rencanakan selalu putus ditengah jalan, manusia lain selalu memotong tali yang ia gunakan untuk memanjat kemenangan.

"Aku..... Gak mau" lirihnya mengaku.

Mendengar itu ada setitik api yang menyala di dalam jiwa, Fabio mendapat dorongan begitu jawaban Lucia membangunkan harapannya.

"Dan kamu akan membuka hati untuk pria lain?"

"Kenapa kakak nanya itu? Aku mungkin... Perlu waktu"

Benar, tak ada orang yang mau mengulang kisah kelam. Dan untuk membuka lembaran baru ia perlu waktu untuk menghapus trauma yang hampir membuatnya gila.

Selain itu, butuh tahapan yang panjang agar bisa memulai kisah yang aktual. Bersama orang yang kita percayai untuk menjadi teman hidup sampai tua nanti.

Cerita kita memang singkat, tapi kita sama-sama menjadi obat, dan ketika kisah kita tamat, mampu kita bertahan sampai akhir hayat.

"Gimana kalau orang itu aku?"

1
Audrey Chanel
seruuuu mami memang pintar bikin cerita..jd bingung pilih yg mana...tp kalau boleh pilih fabio ya mom🥰🥰🥰 buat lucia
Audrey Chanel
😓kasian lucia⚘️💗😓 fabio pas buat suami tapi gmntuhygdi ono😓
Audrey Chanel
kak aku baca ini sambil nunggu cerita yg masih up
Audrey Chanel: sama³ kakak💗⚘️
total 2 replies
Sandisalbiah
nyatanya Ghani beneran jadi pecundang sejati.. gak di hadapan Jihan, lebih lagi di hadapan Lucia... beneran laki gak bertanggung jawab plus gak berguna...
Sandisalbiah
istrimu sudah minggat, Ghani
Sandisalbiah
nyatanya tetap disini Lucia yg jd korban keegoisan mereka.. sebaik apapun perlakuan mereka tetap gak adil buat Lucia yg di paksa terikat dgn hubungan yg merugikan dirinya, sama sekali gak memihak pdnya.. poor Lucia
Sandisalbiah
obsesi berlebihan si Vino
Eby cantik
jujur aku suka novel karyanya tapi yg Lucia ini aku kurnag srek agak gimna gitu kedua belah pihak abu² gk nemu kebahagian
Sandisalbiah: setuju.. kek ngegantung nasib para tokohnya...
total 1 replies
Heidi Aden
moga ending jihan & ghani juga bahagia thor.. jangan lama2 update ya...
Nila
🥰🥰
Nila
kenapa ???
🥺
Nila
gustiiii Fabio
kalau Fabio sama Lucia aku suka senyum2 sendiri
macam orang gila🤣
Ety Nadhif
tamat deh
Ety Nadhif
🤭🤦
Ety Nadhif
waras ga sih kamu fabio😂😂😂
Ety Nadhif
jangan egois jihan,,,kemaren" kamu yg nyuruh ghani perhatian ma lucia sekarang kaya merasa tersakiti🤦🤦🤦
Ety Nadhif
pa ,,ma anakmu mencintai istri orang,,,,
Ety Nadhif
sedih🥹🥹🥹🥹
Ety Nadhif
kasian lucia hamil besar harus sendiria,,,di sini yg jd penolongnya lucia si fabio tp slh juga kalau harus tidur satu ranja😴🤦
Ety Nadhif
cinta fabio tulus tidak memandang lucia buruk,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!